Aplikasi Habituasi

Pernahkah mengelus-elus kepala kijang dari balik pagar di kawasan Istana Bogor ? Ketika kita memberikan makanan kijang tersebut mendekat dan jika kita sentuh kepalanya sontak mungkin ia akan kaget dan bereaksi spontan. Itu wajar. Coba ulangi lagi, sentuh atau elus-elus dia di tempat yang sama, ia tampak lebih kalem, lebih jinak, lebih santai. Percaya ? Nah setelah itu coba sentuh lagi di bagian lain, ia akan kaget lagi dan jika kita terus menerus melakukannya maka ia akan tenang kembali. Begitulah teorinya. Kita baru saja mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang dimaksud dengan habituasi. Salah satu perilaku dalam dunia hewan dan dikaji di bidang Biologi.

Kita akan coba membahas habituasi dalam persperktif yang lebih aplikatif. Sebelum itu, kita ulangi sejenak pelajaran SMA kita terkait perilaku makhluk hidup. Allah swt. menciptakan semua mahluknya dengan sangat indah dan sempurna. Perilaku pada hewan bisa kita amati mulai tingkat rendah yang bersel satu hingga manusia yang menjadi mahluk paling maju dan modern saat ini. Perilaku yang teramati berkorelasi positif dengan sistem saraf pada hewan tersebut. Dengan kata lain, hewan tingkat rendah akan memiliki perilaku berbeda dengan hewan tingkat tinggi. (wesh, khawatir terlalu Biologi banget dan malah jadi membosankan kita langsung to the point saja). Perilaku terbagi dua menjadi perilaku yang diturunkan secara genetik dan hasil proses belajar. Manusia dengan anugerah sebagai mahkluk yang paling maju saat ini akan banyak berperilaku dengan orientasi belajar (learning). Habituasi termasuk salah satu di dalamnya. Habituasi dapat dikatakan suatu pembiasaan. Suatu hal yang terjadi berulang-ulang atau dengan frekuensi yang tinggi kita alami dapat menghilangkan respon alamiah kita.

Jika pada paragraf pertama modelnya adalah kijang, maka pada paragraf ini kita akan memodelkannya pada manusia. Pernahkah mendengar seorang yang sangat menjaga sholat berjamaahnya di masjid kemudian suatu saat di tidak sholat berjamaah disebabkan hal sepele mengurusi kebun anggurnya yang sedang panen ? Begitu besar penyesalannya hingga mungkin sampai ia akan infakkan kebunnya agar tidak menghalanginya untuk sholat berjamaah. Penyesalan itu adalah respon alamiah yang penting bagi seorang muslim. Respon alamiah itu dapat terbentuk karena pengetahuan atau hasil belajar kita contohnya, “sebaik-baik sholat wajib adalah di masjid”. Oleh karena itu si pengusaha anggur tadi berusaha menjaga betul sholatnya. Respon alamiah yaitu penyesalan ini akan berangsur-angsur menghilang jika perbuatan tersebut Ia lakukan berulang-ulang kali sehingga tidak akan ada beban yang berarti lagi jika selanjutnya ia tidak sholat berjamaah di masjid karena kebunnya atau hal lain. Selanjutnya banyak alasan yang akan kita buat sendiri untuk membenarkan perbuatan kita tersebut. Respon alamiah kita akan betul-betul hilang jika perbuatan itu semakin dibiasakan. Kitaterhabituasi untuk meninggalkan sholat berjamaah.

Bagaimana menghadapinya ? Kita gunakan teori yang sama. Habiatuasi. Kita harus mengkondisikan diri kita dan lingkungan kita agar selalu terbiasa dan akrab dengan hal-hal yang baik. Jika ini sudah kita lakukan maka, hal tadi akan membantu kita dalam meningkatkan respon alamiah kita terhadap hal lain yang bertentangan dengan hal tersebut. Alarm dini. Selanjutnya adalah menghindari dan mengubah hal tersebut. Alarm dini ini penting untuk membentengi diri kita akan tak jauh terperosok dalam kemaksiatan karena membuat kita peka. Wallahu’alam

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s