Rayap Aneh di Kampus IPB

Rayap (termite) merupakan hewan kecil yang kadang terlewat oleh perhatian kita. Hewan ini sering disebut semut putih karena jika dilihat sekilas memang mirip dengan semut. Secara biologi, rayap memiliki kesamaan dengan semut yaitu sama-sama ada dalam kelas Insekta salah satu cirinya adalah memiliki tagmata (pembagian) tubuh menjadi kepala, thoraks, dan abdomen. Serangga sosial ini kemudian terpisah menjadi ordo sendiri yaitu Isoptera (berdasarkan morfologi), dan sekarang sebagian peneliti merevisi tingkat takson tersebut sehingga termasuk ordo Blatodea.

Keanekaragaman rayap di dunia sangat melimpah. Kadang ada karakter morfologi dapat terlihat secara kasat mata jika diperhatikan dengan teliti. Salah satu hal yang menarik dari rayap ‘aneh’ pada gambar diatas adalah rayap kasta prajuritnya memiliki mandibula yang tidak simetri. Hal ini mungkin jauh berbeda jika dibandingkan dengan rayap prajurit Macrotermes. Rayap ‘aneh’ ini termasuk genus Pericapritermes ditemukan secara tidak sengaja di Arboretum Lanskap di dekat pintu gerbang I IPB Darmaga. Genus ini dilaporkan Pribadi et al. (2011) dalam hasil penelitiannya di dataran tinggi Gunung Slamet bahwa jenis rayap ini tidak ditemukan di area pemukiman (1001 dpl), namun justru banyak ditemukan di area hutan lindung (1152 dpl). Di lain tempat, di kampus Universitas Indonesia Depok, Primanda et al. (2003) juga melaporkan rayap ini tidak lagi ditemukan pada eksplorasinya di 72 titik tempat di kampus tersebut. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian seorang mahasiswa tahun 1997 yang masih menemukan rayap ini pada satu titik dari 10 titik pengamatan di kampus tersebut. Apakah rayap ini termasuk rayap yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan ?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, pertanyaan yang terlebih dahulu harus dijawab adalah apakah rayap bisa dijadikan bioindikator ?. Sajap dan Loong (2011) menyebutkan kelimpahan rayap pada hutan yang baru direhabilitasi sangat sedikit kelimpahan jenis dibandingkan hutan yang sudah lebih lama direhabilitasi. Hal ini menunjukkan rayap dapat digunakan sebagai bioindikator yang baik karena sangat peka terhadap kelembapan relatif suatu tempat. Kekayaan jenis rayap juga mempengaruhi adanya keanekaragaman jenis lain pada habitat yang sama. Publikasi mengenai keberadaan genus Pericapritermes saja di suatu tempat dapat dijadikan sebagai bioindikator tunggal belum ada sampai saat ini. Jadi, masih banyak hal yang perlu diteliti, dan mungkinkah rayap aneh ini akan juga hilang dari kampus IPB Darmaga sama seperti kampus UI Depok ?. (MF/13)

Daftar Pustaka

Pribadi T, Raffiudin R, Harahap I S. 2011. Termite community as bioindicator in higland : a case study in eastern slopes of Mount Slamet, Central Java. Biodiversitas 12 : (3) 235-240.

Primanda A, Ischak T.M, Basukriadi A. 2003. Termite species richnes on the      campus of Universuty Indonesia, Depok. Makara Sains 7:1

Sajap A S, Loong C Y. 2011. Termite Assemblages in rehabilitated forest of Bintulu and Serdang, Malaysia. Rehabilitation of Tropical Rainforest Ecosystem, 24-25 October 2011, Kuala Lumpur.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s