Yuk gi ngulat pulak !

Ibna'z 079

Jamur atau kulat  adalah makanan yang akrab bagi masyarakat Belitung. Ini terbukti dengan adanya satu tradisi masyarakat setempat untuk mencari kulat pada suatu musim untuk dijadikan bahan makanan. Jamur sendiri merupakan salah satu bahan pangan bernilai gizi yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia. Ada beberapa spesies jamur yang telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan telah lama dibudidayakan, misalnya Agaricus bisporus, Lentinus edodes, Volvariela volvacea, Auricularia aricula dan Pleurotus ostreatus. Selain itu, masih sangat banyak spesies jamur liar yang tumbuh di alam, belum dibudidayakan tetapi dikonsumsi oleh penduduk sekitar. Diantara jamur liar yang bergizi dan dapat dikonsumsi ada banyak juga yang tidak dapat dimakan (non edible) bahkan beracun. Di dunia terdapat sekitar 10.000 spesies jamur yang diketahui dan kurang lebih 80 spesies di antaranya telah diteliti dan kurang lebih 80 spesies di antaranya telah diteliti sebagai jamur yang dapat dimakan.

Negara-negara Asia Tenggara dengan letak geografisnya di daerah tropik dan keadaan iklim yang lembap serta suhu lingkungan yang kurang lebih sama, masih sangat memungkinkan ditemukan spesies-spesies baru. Pulau Belitung merupakan salah satu wilayah Indonesia terletak antara 1070 35’ BT- 108018’ BT dan 1020 30 LS 03015’ LS. Berdasarkan data meteorologi dan geofisika tahun 1999, secara umum Belitung termasuk kawasan beriklim tropika basah dengan variasi curah hujan 15,4 – 603,6 mm, jumlah hari hujan 6 – 30 hari perbulan. Curah hujan tertinggi pada bulan Oktober, suhu udara rata-rata 24,9 – 26,6 0C dan kelembapan bervariasi antara 79% – 92%. Kondisi iklim dan cuaca diatas sangat berpengaruh pada keanekaragaman yang tinggi pada spesies jamur yang ditumbuh disana.

Konsumsi jamur ‘kulat’ liar oleh masyarakat lokal Belitung sudah terjadi lama, mungkin sudah  saat masyarakat masih memakai sistem ladang pindah (ume). Bahkan, masyarakat Belitung memiliki sebuah tradisi “gi ngulat” dimana orang tua dan anak-anaknya mencari jamur liar di hutan bersama-sama saat musim jamur tiba. Pada saat inilah anak-anak akan diajarkan bagaimana cara memilih jamur yang dapat dimakan dan secara tidak sengaja pengetahuan lokal tentang jamur yang dapat dimakan dan beracun terwariskan secara turun-temurun. Hal yang menarik adalah jika dirunut maka akan didapatkan bahwa pengetahuan tersebut bukanlah hasil penelitian ilmiah, melainkan hanya berdasarkan pengalaman. Jadi jika pengetahuan ini tidak diwariskan, maka informasi tentang keanekaragaman jamur di Belitung khususnya yang dapat dimakan semakin berkurang. Hal ini semakin diperkuat dengan belum adanya metode atau cara untuk menentukan jamur yang bisa dimakan atau tidak.

Tantangan yang sekarang dihadapi dalam pelestarian pengetahuan lokal tentang jamur yang dapat dimakan adalah proses pemindahan nilai-nilai atau pengetahuan. Di zaman modern saat ini, perhatian generasi muda semakin teralihkan dari tradisi dan pengetahuan lokal. Adanya modernisasi budaya dapat menyebabkan hilangnya pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat. Selain itu, sampai saat ini masih belum ada informasi berupa artikel maupun buku yang memberikan informasi tentang jamur yang dapat dimakan di Belitung. Pengetahuan lokal tentang jamur ini sangat penting untuk dilestarikan. Unsur pengetahuan lokal yang masih tradisional ini adalah salah satu kekayaan bangsa yang sangat tak ternilai harganya, karena merupakan sumber bagi pengembangan ide-ide alternatif di masa kini dan menjadi landasan kuat bagi teknologi mutakhir tentang prospek budi dayanya serta pengetahuan kandungan berbagai macam senyawa bioaktif yang bisa ditemukan di masa mendatang.

Saat ini sebanyak empat puluh spesies telah dibudidayakan dan baru 20-an yang dibudidayakan secara komersial, sedangkan yang sudah sampai tahap industri baru lima spesies yaitu Agaricus bisporus A. auricula, Lentinula edodes, Pleurotus ostreatus, dan Volvariella volvacea. Data terbaru menurut Pasaribu ada ratusan spesies jamur yang tergolong bisa dimakan, tetapi di dunia kini hanya sekitar 10 spesies yang telah diusahakan secara komersil, namun hanya enam spesies yang umum dikenal di Indonesia dan telah dikuasai teknologi budi dayanya, sehingga potensial untuk dikembangkan baik dalam menembus pasar global maupun domestik.

Kearifan tradisional atau lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis.  Kearifan lokal bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik di antara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan relasi di antara semua penghuni komunitas ekologis harus dibangun.

Kearifan lokal dapat diartikan sebagai perilaku bijak yang selalu menggunakan akal budi, pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat dalam suatu wilayah geogarafis tertentu. Dalam kearifan lokal ada karya atau tindakan manusia yang sifatnya bersejarah, masih diwarisi masyarakat setempat. Perilaku bijak ini pada umumnya adalah tindakan, kebiasaan, atau tradisi, dan cara-cara masyarakat setempat yang menuntun untuk hidup tentram, damai dan sejahtera. Sudah banyak studi yang menunjukkan bahwa masyarakat adat di Indonesia secara tradisional berhasil menjaga dan memperkaya keanekaragaman hayati karena sebagian besar masyarakat adat masih memiliki sistem-sistem lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam yang diwariskan dan ditumbuhkembangkan terus menerus secara turun temurun.

Advertisements

One comment

  1. Di tempatku (Kalimantan) lebih banyak jamur sawit. Biasanya muncul di balik janjangan sawit setiap hujan turun. Kira2 Fadil tahu apa nama latinnya?

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s