Menjadi Muslim Minoritas

Pernahkah terbayang hidup di suatu daerah yang tidak pernah terdengar adzan padahal tempat itu dihuni oleh banyak orang ? Atau pernahkah menjadi orang yang harus berhati-hati menyantap makanan bukan karena kekurangan makanan ? Pernahkah beribadah di tempat yang seadanya bukan di mushola ataupun Masjid yang besar karena hanya itulah yang disediakan ? Pernahkah tata cara ibadah kita dianggap asing oleh orang lain ?

Barangkali sebagian besar orang Indonesia jarang mengalami hal-hal diatas karena Muslim di Indonesia menjadi kaum mayoritas di antara umat bergagama lainnya. Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia walaupun Islam bukan berasal dari Indonesia melainkan jazirah arab. Dengan kondisi sedemikian rupa, kebanyakan muslim Indonesia dapat melaksanakan perintah agamanya dengan mudah, tanpa tekanan apalagi ancaman sama sekali (kecuali di daerah tertentu, mungkin). Tempat ibadah ummat muslim (Islam place of worship) di sebagian besar tempat di Indonesia sangat banyak di antara pemukiman penduduk maupun perkotaan sehingga sangat mudah menunaikan Sholat walaupun saat safar atau sedang perjalanan.

Kondisi tersebut kadang bertolak belakang dengan saudara muslim kita yang menjadi minoritas misalnya, kasus yang baru terjadi di Myanmar yaitu Muslim Rohingya, Muslim Filipina, Muslim China, dan muslim-muslim minoritas lainnya. Beribadah hanya dapat dilakukan dengan fasilitas seadanya atau bahkan untuk beribadah harus mempertaruhkan nyawa. Apakah lantas kuantitas dan kualitas ibadah mereka juga seadanya ? Belum tentu. Bisa jadi mereka sangat giat melakukan ibadah meski di dalam tekanan atau keterbatasan. Militansi yang terbentuk mungkin bisa berbeda. Kesempatan untuk beribadah yang terbatas cendrung membuat orang memanfaatkan waktu/ kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Bahkan jika dibandingkan dengan muslim Indonesia pada umumnya mungin bisa jadi jauh di bawah mereka.

Merasakan menjadi muslim minoritas memang perlu rasanya untuk men-tarbiyah/ mendidik mental dan ruhiyah kita serta semakin menikmati arti ibadah yang sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s