Perlunya Pembanding (Edisi Lapang)

foto3

Macrotermes sp. (Dok. Pribadi)

Sebagai seorang pelajar atau peneliti ada saat-saat kita harus terjun ke lapangan untuk mengoleksi langsung spesimen yang akan diteliti.  Beberapa spesimen biasanya diperlukan gambar pada habitat aslinya seperti jamur yang masih menempel pada substrat, sama halnya dengan lumut. Nah, pengalaman yang saya alami ketika kerja di lapangan dan mengambil gambar untuk sampel yang diamati adalah lupa menyertakan pembanding. Awalnya saya kira, ini bukan masalah. Namun setelah diminta menentukan ukuran (misalnya panjang dan lebar) barulah mulai panik dan bingung. Lebih mudahnya saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman di lapangan selama mengikuti mata kuliah Studi Lapang, Dept. Biologi FMIPA IPB, 29 Juni – 1 Juli 2011 kemarin.

Pengalaman yang saya alami seperti ini,  di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) saya dan beberapa orang teman mendapatkan topik studi lapang tentang Keragaman dan Perilaku Rayap di HPGW. Topik tentang keragaman dapat dengan mudah dibayangkan, kita akan mengoleksi sampel dari lapangan, kemudian disimpan di alkohol 70% dan diamati dengan mikroskop stereo nanti di laboratorium. Nah, Bagaimana dengan perilaku ? Perilaku rayap yang kami amati pada saat itu adalah perilaku perbaikan liang kembara pada koloni Nasutitermes sp. arboreal. Metode pengamatan perilaku adalah dengan merekam perilaku selama perbaikan sarang dengan kamera yang diposisikan selalu TETAP dan diusahakan menggunakan tripod (ini penting karena jika kita menggerak-gerakkan posisi kamera saat merekam, akan kesulitan ketika hendak menganalisis gambar atau video tersebut).

Tahap pertama adalah menentukan bagian liang kembara yang ingin kita rusak, kemudian direkam. Setelah terekam, kita sudah bisa merusak liang kembara sesuai panjang yang kita inginkan, misalnya 2 cm. Saat itu, saya lupa untuk membawa alat ukur misalnya penggaris atau dll, serta lupa menyertakan pembanding. Memang pada saat di lapangan kita masih belum merasakan kesulitan, karena umumnya data belum akan diolah sama sekali. Namun, setelah data diolah untuk menentukan ukuran yang sebenarnya dari hasil rekaman maupun gambar (foto) akan sangat susah jika melewatkan hal diatas, yaitu tidak menggunakan alat ukur yang standar dan alat pembanding. Kita akan kesulitan dalam menentukan luasan liang kembara yang telah dirusak diawal, dan luasan liang yang diperbaiki pada menit-menit tertentu. Seandainya digunakan alat ukur misalnya penggaris biasa yang standar, kita bisa menentukan jarak 1 mm dengan tepat dari skala yang ada pada penggaris dan kemudian skala itulah yang kita gunakan untuk mengukur luasan tertentu. Bagaimana kalau penggaris tidak ada namun memakai alat pembanding misalnya koin uang Rp 500 ? Boleh saja, kita ukur koin tersebut dengan penggaris dulu, setalah tahu diameternya kemudian masukkan data diameter tersebut ke gambar. Setelah itu kita juga bisa menentukan luasan lainnya (PENTING : Pada gambar yang sama). Software yang biasa saya gunakan adalah Image J. Cukup simple kan ? namun perlu diperhatikan.

Selamat Mencoba

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s