Sttt, Makanan mempengaruhi komposisi mikroba saluran pencernaan kita lho !!

bacteria2

Perbandingan komposisi mikroba pada saluran pencernaan yang memakan polisakarida tinggi dan lemak dan gula tinggi (sumber : thescienceofnutrition.wordpress.com)

Amerika serikat mungkin dapat disebut sebagai pusat multikulturisme, namun faktanya mikroba yang hidup di saluran perncernaan orang-orang Amerika tidak lebih beragam dibandingkan dengan mereka yang hidup di daerah perdesaan di Malawi dan Venezuela. Itu adalah kesimpulan dari sebuah studi terbaru, yang menemukan pola makan dengan kandungan protein tinggi pada negara-negara barat menyebabkan efek  terhadap mikroba yang ada. Populasi mikroba saluran pencernaan orang Amerika nampaknya lebih teradaptasi dengan makanan asal daging yang tinggi.

Tubuh manusia layaknya bumi yang kita dihuni saat ini. Tubuh kita dihuni oleh 10 kali lebih banyak dari sel tubuh kita sendiri. Populasi mikroba tersebut secara kolektif disebut mikrobioma dan penelitian mengenai hal ini saat ini semakin banyak dilirik oleh para peneliti. Para peneliti telah menemukan peran yang sanagat penting/ krusial dalam mencerna nutrien tertentu dalam makanan dan mengubahnya menjadi bentuk yang dapat digunakan oleh manusia. Komposisi mikrobioma juga diduga berpengaruh pada kerentanan inang (manusia) kepada penyakit tertentu.

Untuk menguji kebenaran hipotesis di atas, pertama kali yang dilakukan oleh peneliti adalah bagaimana komposisi mikroba pada orang dewasa yang sehat. Jeffrey Gordon di Universitas Washington University dan rekannya mengoleksi sampel feses dari 532 orang dari semua kalangan umur, lebih dari etengah dari sampel hidup di Amerika dan sissanya mereka yang hidup di dua desa di Venezuela dan anggota komunitas kampung di Malawi. Sampel feses yang didapatkan kemudian dibekukan, dihaluskan, dan diekstrak DNA-nya. Hasil ekstraksi DNA sampel kemudian disekuen dengan 16S rDNA, ukuran kecil DNA yang umum digunakan untuk mengklasifikasi mikroba. Melalui cara ini dapat diketahui jenis mikroba yang ada di saluran cerna orang-orang tersebut.

Mereka menemukan bahwa mikrobioma pada semua populasi berkembang dengan cara yang hampir sama : bayi yang baru lahir hanya mempunyai sedikit mikroba, namun pada umur tiga tahun keragaman mikrobioma pada dirinya telah sama dengan yang ada pada orang dewasa. “Sama seperti organ tubuh yang lain, mikrobioma juga memerlukan waktu untuk berkembang” ujar Dusko Ehrlich, seorang ahli gentika mikroba di National Institute for Agricultural Research, Paris yang mengkoordinatori proyek di Eropa mengenai asosiasi antara gen mikroba saluran pencernaan dan penyakit pada manusia.

Analisis lain dari hasil penelitian di atas, mikrobioma pada orang dewasa Venezuela dan Malawi ditemukan sama namun jika dibandingkan dengan orang dewasa di Amerika hasilnya sangat berbeda secara signifikan. Orang Amerika memiliki keragaman mikroba yang lebih sedikit dibandingkan dengan orang Venezuela, yaitu hanya sekitar 25% dari populasi normal orang Venezuela saja.

Dengan hasil mensekuening 110 sampel, ditemukan perbedaan dalam gen-gen yang mewakili secara umum mikrobioma dari orang dewasa pada tiga negara tersebut. Alpa-amilase, suatu enzim yang terlibat dalam pemecahan pati, lebih banyak ditemukan pada mikroba dari sampel Malawi dan Venezuela. Mikrobioma orang Amerika mengandung lebih banyak gen yang berperan dalam pemecahan asam amino dan gula sederhana. Peneliti menduga perbedaan yang ditemukan pada ornag Amerika disebabkan oleh konsumsi makanan yang banyak mengandung protein dan gula dibandingkan dengan orang Malawi dan Venezuela yang banyak mengkonsumsi jagung dan singkong.

Sebuah analisis mikrobioma saluran pencernaan pada 33 mamalia oleh Gordon dan kelompoknya (2011) juga menunjukkan mikrobioma berkorelasi dengan makanan (diet). Secara keseluruhan, mikrobioma pada orang Amerindian (orang Venezuela dan Malawi) lebih mirip dengan mikrobioma pada mamalia herbivora, sedangkan mikrobioma pada orang Amerika lebih mirip dengan yang ditemukan pada mamalia karnivora.
Ahli Mikrobiologi dari Universitas California Jonathan Eisen, Davis, membandingkan penelitian ini dengan penjelajahan benua baru di dunia tempo dulu : “Semuanya baru, dan semuanya adalah penemuan”. Namun Ia berpikir masih terlalu dini untuk mengatakan hanya faktor makanan yang menyebabkan adanya keragaman mikrobioma seperti yang telah disampaikan di atas.

David Relman, microbiologist at Stanford University School of Medicine in Palo Alto, California, also cautions against drawing broad conclusions. “Although the current study represents a heroic effort,” he says, “we still have a long way to go before we have a truly global picture of variation in the human microbiome.”

Sumber : http://news.sciencemag.org

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s