Museum Tanjungpandan Belitong

100_1106

Koleksi Pedang Kolonial Belanda


Hah, ngapain ke museum ? Kan museum tempat barang-barang kuno bin jadul (jaman dulu). Tepat sekali. Tapi main ke museum juga sangat perlu terutama bagi anak-anak muda zaman sekarang yang sudah tidak kenal sama budaya dan sejarah bangsanya sendiri. Museum tempat yang tepat untuk belajar sejarah dan memperluas pengetahuan tentang hal-hal terdahulu. Tidak tahu tentang sejarah bangsanya sendiri, rasanya agak-agak gimana gitu ya.

Di Pulau Belitong (atau Belitung dalam tulisan formalnya) ada tiga museum sejarah sebenarnya namun kali ini saya banyak membahas museum di Tanjungpandan salah satu museum yang menarik untuk dikunjungi. Selain murah meriah (namun tidak berhadiah), yang mampir ke museum juga bisa langsung masuk ke koleksi binatangnya alias kebun binatangnya juga. Lho kok bisa ? Kalo yang pernah baca Novel Padang Bulan karya Andrea Hirata pasti langsung “ngeh”. Jadi, museum ini menyatu dengan kebun binatang dan kerap menjadi objek wisata favorit anak sekolahan dasar (SMP dan SMAnya kayaknya udah agak males ke museum) di Belitong. Kalo baru pertama mungkin agak aneh, jadi disarankan untuk datang saja ke tempat ini.

Sedikit bercerita sejarah museum ini,  Museum ini terbentuk atas ide dan gagasan oleh seorang Geologist kebangsaan Belgia bernama Dr. Osberger, pada tahun 1963 (sama dengan tahun berdirinya IPB). Pada masa itu Dr. Osberger sendiri masih bertugas sebagai Geologist di unit penambangan timah, PT. Timah,tbk. Dr. Osberger berkeinginan untuk membuat museum yang isinya khusus menyimpan sejarah penambangan Timah baik yang dikerjakan secara tradisional maupun modern, juga sebagai tempat menyimpan berbagai jenis bebatuan yang ada di Pulau Belitung yang diperoleh selama proses Penambang Timah. Namun setelah sepeninggalan Dr. Osberger, Museum ini dikelola dan diambil alih oleh Pemda setempat tanpa mengubah isi museum. Untuk menambah daya tarik pengunjung ke museum ini, isi museum ditambah kan dengan benda benda sejarah peninggalan kerajaan kerajaan yang pernah berdiri di Pulau Belitung, juga benda benda sejarah peninggalan perang. Selain itu juga untuk menarik minat pengunjung pada bagian belakang bangunan Museum ini, karena halamannya yang luas, dibangun sebuah  Kebun Binatang Mini, yang isi nya beraneka satwa khas Pulau Belitung (sumber : http://www.wisata-budaya-babel.com).

Museum memiliki sekitar 3.000 benda berharga sebagai koleksi yang berasal dari muatan kapal yang tenggelam (BMKT), Untuk keramik saja jumlahnya mencapai kurang lebih 4.000 keping dan keris sekitar 2.000 keping.. Namun dari jumlah tersebut, koleksi yang bisa dipamerkan kurang dari 20 persennya sedangkan sisanya kami simpan di ruang-ruang penyimpanan(sumber : http://www.bangkapos.com). Sebenarnya akan ada museum baru lagi yang akan dibangun di Belitung yaitu Museum Nasional Maritim Belitung. Museum ini rencana akan dibangun dibangun di atas lahan seluas 8,7 hektare di Pantai Penyarean, Kecamatan Sijuk, Belitung. Dana yang dianggarkan untuk pembangunan museum sebesar Rp250 miliar yang merupakan dana dari APBN, APBD dan APBD kabupaten. Salah satu tujuan dibangunnya museum ini adalah sebagai rujukan pembelajaran kebudayaan maritim di tanah air. Tapi walaupun sudah diletakkan batu pertama pembangunan museum ini 9 tahun yang lalu, hingga sekarang belum dibangun-bangun juga lho (sumber : http://www.antaranews.com).

100_1076

Koleksi Keramik Museum Tanjung Pandan, Belitung

Tanggal 24 Januari 2013 saya sempat berkunjung ke museum ini. Lupa terakhir ke tempat ini kapan, mungkin 5 tahun yang lalu. Ada banyak benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan sejarah Belitung dan tentunya pertambangan timah di Belitung. Baru masuk museum ini sudah ada koleksi satwa awetan seperti buaya dan ikan awetan. Ada juga miniatur kapal pengeruk timah kolonial Belanda yang beroperasi di Belitung. Koleksi keramik Cina banyak sekali di museum ini, mulai dari yang masih utuh dan mulus hingga yang hanya kepingan-kepingan. Tapi, sepertinya keramik ini kurang menarik bagi saya, hehe. Entah kenapa ya. Nah, coba belok kiri setelah dari pintu masuk. Anda akan menemukan koleksi senjata tradisional seperti tombak, keris, pedang penjajah belanda dan katana penjajah Jepang. Aha, ini baru menarik perhatian karena baru sadar ada koleksi katana di museum itu. Katana mudah dikenali karena handle-nya sangat khas. Berikut fotonya yang sempat diabadikan lewat kamera digital. Sebenarnya sangat ingin membukanya, lihat apa bilahnya masih mulus dan tajam, tapi ya mana mungkin bisa menyentuh koleksi museum. Alhasil hanya bisa menikmati (sambil ngiler..) dari kaca.

100_1127

Koleksi Katana Pejajah Jepang

Sempat terobsesi membuat katana dari kayu atau disebut bokken (pedang kayu) dua kali dari kayu pelawan dan kayu ulin. Hasilnya seperti gambar di bawah ini. Lumayan bukan ?? Walaupun membuatnya tanpa perhitungan yang jelas dan hanya meniru-niru model katana dari internet saja namun untuk ukuran pemula sudah cukup baik. Kayu pelawan yang digunakan kebetulan masih tergolong muda sehingga saat dibuat menjadi bokken dan kering hasilnya menjadi bengkok. Lain halnya dengan kayu Ulin. Kayu Ulin didapat dari kayu yang sudah terendam sekitar seratus tahun yang lalu (zaman penambangan tradisional timah oleh kuli Cina pada kolonial Belanda). Kayu ini terendam sekitar 10 meter dari permukaan tanah dan biasanya terangkat kembali ke permukaan karena adanya penambangan konvensional yang dilakukan oleh masyrakat kembali 20 tahun akhir-akhir ini. Meskipun sudah sangat tua dan terendam cukup lama dalam tanah namun nampaknya kualitas kayu Ulin ini masih TOP. Terbukti ketika dibentuk menjadi bokken hasilnya masih bagus.

100_0836

Bokken dari kayu Ulin ratusan tahun

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s