[Cerpen] Sampai di Seberang Jalan

Di jalanan yang penuh dengan kendaraan roda dua dan empat yang bersliweran, seorang pemuda yang berbadan sedang dengan wajah yang sesaat melihat ke kiri sesaat ke kanan langsung sigap mencari waktu untuk menyebrang jalan. Baginya menyebrang jalan teorinya mudah saja, tidak seperti yang diceritakan panjang lebar teman-teman wanitanya di kelas tadi. Jangan tunggu sampai jalan kosong, walaupun itu cara paling aman dan masih mungkin namun butuh waktu pengorbanan yang panjaaang. Namun, menyebrang juga butuh kehatian-hatian sehingga ini tidak mudah seperti yang terlihat. Set set set, tangan kanannya menganggkat setengah dada sambil agak melambai ke arah kanan. Ia memberi isyarat angkot yang melaju dari sisi kanannya untuk memperlambat jalan.

Swiiiiinnggg, angkot itu tidak memelankan jalannya sama sekali. Pemuda ini bergumam dengan nada agar gusar. “Hmm, yasudahlah”. Sesaat setelah itu jalan menjadi agak lengang, namun ini bukan kondisi yang tepat. Saat kondisi ini, semua kendaraan dipacu pengemudinya dengan cepat sehingga berbahaya jika mengambil keputusan untuk menyebrang. Kalaupun bisa menyebrang, pengemudi motor atau mobil pasti akan “marah-marah” karena mengganggu laju kendaraan mereka. Apalagi kalau sendirian menyebrang.

***

Semenit sudah pemuda itu berdiri di tempat itu. Tujuannya masih sama. Ia ingin ke sebrang jalan itu dan menunggu angkot untuk pulang ke kosannya. Kondisi jalan masih ramai lancar, seperti istilah yang sering didengar dari para penyiar TV saat liputan mudik. Ada seorang nenek-nenek mendekat di samping pemuda itu. Barangkali niat nenek ini sama. Ia ingin menyebrang juga. “Nak, sama-sama nenek ya”. Nenek itu memperjelas pikiran pemuda tadi. “Baik Nek” pemuda itu menjawab singkat sambil tersenyum. Sebenarnya Ia takut mengecewakan nenek itu, mungkin saja nenek itu menyebrang dengannya lebih lama daripada nenek itu menyebrang sendiri. Sebuah pikiran liar yang terlintas.

Dua menit. Pemuda itu langsung mengambil keputusan singkat. Ada celah sedikit di jalanan di hadapannya. Langsung tangan kanannya kembali mengangkat dan melambai ke sisi kanan. Mobil yang melaju dari sisi kanannya lantas memperlambat lajunya, begitu juga dengan kendaraan lain di belakangnya. Aman. Tangan kirinya memegang pundak kiri nenek itu. “Ayo Nek”. Dua orang itu berjalan pelan dan sampai di tengah jalan. Mereka tampak menunggu sesaat dan menuju sampai sebrang jalan dengan selamat. “Makasih ya Nak” ucap neneknya sambil menepuk tangan pemuda itu. Nenek itu kemudian berlalu dan masuk ke jalan gang. Tak lama kemudian angkot yang diinginkan pemuda itu juga datang. Dengan isyarat tangannya yang mengangkat angkot itu berhenti dan Ia masuk. Ia juga segera berlalu dari tempat itu menuju kosannya. Ia juga harus melakukan hal yang sama untuk menyebrang.

***

Hari berikutnya, setelah keluar kuliah, Pemuda itu kembali. Seperti hari-hari biasanya. Ia menyebrang jalan yang sama lagi. Waktunya pun hampir sama. Kalau kemarin Ia menyebrangkan nenek-nenek, hari itu Ia masih nampak sendirian. Jalanan sudah tentu padat seperti biasanya. Tak lama kemudian seorang wanita sebaya dari sebelah kirinya juga terlihat seperti ingin meyebrang jalan namun antara pemuda dan wanita itu tidak ada komunikasi sama sekali. Pemuda ini menoleh pun tidak ke arah wanita itu. Namun wanita itu semakin mendekat ke arahnya. Pemuda itu menyadarinya. Dari yang awalnya berjarak empat meteran hingga satu meter. Pemuda itu langsung merasa ini akan seperti kemarin. Wanita ini ingin mengajak menyeberang bersama. Namun, itu hanya dalam pikirannya saja. Tak lama kemudian mobil semakin padat entah karena ada apa di depan. Tidak seperti biasanya macet di jam-jam segini. Aha, saat macetlah kendaraan padat namun lebih banyak kesempatan untuk nyebrang. Set set set, meliuk-liuk di antara depan dan belakang mobil yang hampir bersentuhan. Sudah disangka wanita tadi juga mengikuti di belakang. Jalur yang diambil pun sama.

Sampai di sebrang memang sepertinya wanita itu tidak ingin berkomunikasi dalam bentuk apapun. Ia langsung berjalan setengah berlari menyusur pinggir jalan dan menghilang. Pemuda itu mengamatinya sambil membeli minuman di pedagang asongan sesampainya di sebrang jalan.

***

Beberapa hari setelah hari itu, Pemuda itu kembali berada di tempat yang sama namun waktu itu lebih pagi dari biasanya. Hari itu satu kuliah jam 11.00 dibatalkan tiba-tiba. Ia langsung ke luar kelas dan memilih pulang. Pemuda itu kembali melewati jalan yang sama dan Ia harus menyebrang lagi. Sebuah rutinitas harian baginya. Ia sampai di pinggir jalan, tempat Ia menyeberang jalan seperti biasanya. Namun kali ini ada dua orang laki-laki yang juga ingin menyeberang jalan, sama sepertinya. Tidak ada yang saling mengharapkan untuk menyebrang bersama. Ia terpaut cukup jauh dengan dua pemuda lain itu, sekitar 10 meteran. Tidak ada yang mencoba saling mendekat. “Ini pertarungan antara laki-laki untuk menyeberang lebih dulu dan tanpa cacat misalnya dimarahi pengguna jalan lain” pikirnya.

Dua orang tadi nampaknya beberapa kali mencoba menyebrang namun balik lagi ke posisi awal karena kendaraan yang melaju cepat. Sementara itu seorang Pemuda ini, dengan segala kemampuan menyeberang jalan yang Ia rasa sudah cukup mumpuni langsung bisa mnegambil celah saat kondisi jalan saat itu. “Dalam pikirannya ini bukan menyeberang jalan seperti hari-hari sebelumnya. Ini pertarungan menyeberang jalan antar laki-laki” gumamnya. Jelas saja Ia langsung tahu kalau ada waktu yang pas namun tipis untuk menyeberang ke seberang jalan lebih dulu dibandingkan dua orang itu. Set set set, akhirnya Ia sampai di seberang jalan dengan cepat dan mulus sementara di seberang sana terlihat dua orang tadi masih menunggu kesempatan mereka. “Yes” dalam pikiran pemuda ini. Dari kejauhan Ia melihat angkot yang biasa dinaiki untuk ke kosannya. Tiba-tiba Hpnya berdering, tangannya langsung merogoh sakunya. Angkot yang diamatinya tadi lewat di hadapannya sementara Ia sibuk membaca pesan di layar HPnya.

SMS dari Rena : ktanya mw ktemu dosen PS jam 1 ini ? kmu dmana ?? dtggu di jurusan y. Ia harus balik lagi ke seberang, ke kampus dan ke jurusannya. “Oh, andai tidak buru-buru. Tentu tidak perlu nyebrang”

sekian

Advertisements

One comment

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s