Demokrasi dan Dakwah ??

Indonesia sebuah Negara dengan dengan 240an juta orang penduduk adalah sebuah negara kebangsaan yang menganut sistem demokrasi dalam penyelenggrakan pemerintahannya. Sebuah dilema di mana 80% penduduknya adalah muslim dan menjadi negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Pandangan muslim Indonesia tentang demokrasi pun jelas beragam ada yang menolaknya dengan keras karena menganggap ini adalah sistem kufur. Ada pula yang menerimanya. Dalam bukunya Anis Matta mengungkapkan “Demokrasi adalah satu pranata yang telah banyak menyihir dunia. Kebebasan adalah isu paling sentral dalam demokrasi. Ada dua sikap ekstrim tentang demokrasi, ada yang begitu memujanya, tetapi di sisi lain ada yang memandang sistem ini sebagai penyebab hancurnya sistem kemanusiaan, keluar dari nash-nash Qur’an dan lain sebagainya. Lantas Bagasimana sebaiknya bersikap terhadap fenomena demokrasi ini ?”. 100_1701

Perbedaan yang mendasar antara demokrasi sekuler dengan konsep politik Islam terletak pada pandangan tentang siapa pemegang kedaulatan. Konsep demokrasi sekuler memerikan pemegang kekuatan tersebut pada rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan, kata mereka. Sementara, dalam konsep politik Islam kedaulatan sepenuhnya di tangan tuhan dan suara Tuhan harus menjadi suara rakyat. Implementasinya adalah, jika hukum dalam demokrasi sekuler merupakan nota kesepahaman bersama yang diproduksi melalui konstitusi, sementara dalam Islam hukum sudah diberikan (given) oleh Allah dan tugas konstitusi adalah merealisasikannya. Perbedaan tersebut sangat mendasar namun titik temu keduanya juga sangat mendasar, yaitu pada konsep partisipasi. Konsep ini memebrikan posisi yang kuat kepada masyarakat terhadap negara dan mengunggulkan akal kolektif atas akal individu. Imam Syahid Hasan Al Banna dalam Majmu’at Rasail : Walaupun demokrasi bukan sistem Islam, tapi inilah sistem politik modern yang lebih dekat dengan Islam. Secara historis dapat dilihat penjajahan Eropa atas dunia Islam, munculnya penguasa-penguasa tiran, pemerintahan militer refresif setelah kemerdekaan telah mematikan potensi ummat secara keseluruhan. Negara-negara imperialis Barat secara sistematis membentuk dan mempertahankan pemerintahan militer di negara-negara Islam untuk tujuan tersebut. Maka, di atas wilayah geografi yang sangat luas, sumber daya alam yang sangat kaya, dan sumber daya manusia yang sangat banyak, kaum muslimin menjadi masyarakat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling terbelakang di dunia. Berangkat dari titik temu pada konsep partisipasi antara Islam sengan demokrasi dan persoalan historis dari potensi ummat yang tidak terberdayakan, dapat disimpulkan : Demokrasi adalah pintu masuk bagi dakwah untuk memberdayakan ummat, kemudian melibatkannya dalam mengelola negaranya sendiri, lalu pada akhirnya memberinya mandat untuk memimpin kembali dirinya sendiri. Partisipasi politik di alam demokrasi, disamping mempunyai akar kebenaran dalam referensi Islam juga mempunyai makna strategis bagi proyek peradaban dalam upaya meretas jalan bagi ummat secara aman dan bebas untuk membangun dirinya sendiri, bahkan memiliki dunianya sendiri.

Ummat muslim tentu harus yakin bahwa Islam adalah satu-satu jalan yang paling benar dan satu-satunya sistem yang sempurna dalam mengatur seluruh sendi kehidupan manusia yang datang dari Allah ‘azza wa jalla.Oleh karena itu, membangun kehidupan yang Islami merupakan cita-cita kaum muslimin dan juga sekaligus sebuah proyek peradaban raksasa. Pekerjaan-pekerjaan dakwah Islam dalam merealisasikan proyek ini harus dilakukan dalam empat tahapan :

Mihwar Tanzhimi. Tahapan membangun sebuag organisasi yang menjadi tulang punggung dakwah yang tentunya harus kuat dan solid karena berperan sebagai kekuatan utama yang mengoperasikan dakwah itu sendiri. Pada tahapan ini adalah tahap pencetak pemimpin-pemimpin ummat yang akan membawa gerbong panjang ummat ini melalui proses pembinaan dan kaderisasi yang sistematis, integral dan waktu yang relatif panjang.Karenanya, kaderisasi atau tarbiyah menjadi mutlak dipelukan yang berperan sebagai mesim pencetak pemimpin-pemimpin ummat.

Mihwar Sya’bi. Pada tahapan ini adalah saat membangun kekuatan pendukung dakwah yaitu basis sosial yang luas dan merata. Kalau organisasi meretas jalan, maka masyarakat yang melaluinya. Kalau para pemimpin melihat ke depan dengan pikiran-pikirannya yang jauh, massa menjangkau ke depan dengan tangan-tangannya yang banyak. Bak gayung bersambut, sebuah kondisi yang diharapkan dalam dakwah terbentuk dimana bertemunya sinergisitas antara pemimpin dan ummatnya.

Mihwar Muasassi. Ini adalah tahapan saat membangun berbagai institusi untuk mewadahi pekerjaan-pekerjaan dakwah di seluruh sektor kehidupan dan di seluruh segmen masyrakat, sosial, ekonomi dan politik. Sudah barang tentu dakwah juga memerlukan sebuah institusi untuk mewadahi bidang politik. Kader-kader dakwah haruslah mampu mengisi struktur yang tersedia di lembaga-lembaga ilmiah, ekonomi, sosial, dan militer. Dengan begitu terbentulah jaringan kader di seluruh industri strategis. Tentu dalam berpolitik bukan hanya basis massa untuk membentuk opini publik saja yang diperlukan, untuk memperoleh legalitas politik di negara maka dakwah ini pun harus memiliki basis institusi.

Mihwar Daulah. Akhirnya dakwah ini harus sampai pada tingkat institusi negara sebab institusi negara dibutuhkan dakwah untuk merealisasikan secara legal dan kuat seluruh kehendak Allah SWT. Inilah mihwar daulah. Negara adalah sarana bukan tujuan. Kebenaran harus penya negara karena kebatilan pun punya negara (Ibnul Qayyim). Melalui institusi negara itulah kita berbicara kepada dunia seperti Rasulallah SAW : “Katakan kepada Heraclius : Masuklah ke dalam Islam supaya Kamu selamat“.

——————————————————————————————————————————————————————–

Materi tulisan diatas diambil dari Buku karangan Anis Matta “Menikmati Demokrasi”. Tulisan ini dibuat saat Jawa Barat tengah hangat dengan isu pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2013-2018. Sebagai warga nonJabar tentu tidak memiliki hak pilih di dalam kesempatan ini, namun alhamdulillah dapat sedikit berpartisipasi. Sejak dapat hak pilih, rasanya belum pernah digunakan sama sekali karena ketika ada pemilu pasti tidak ada di Belitung, hehe.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s