Perbaikan Diri dan Pernikahan, Berbasis Subjek atau Objek ?

Setiap Muslim (termasuk saya) harusnya mendamba sebuah pernikahan tanpa diawali dengan jalan bermaksiat kepada Allah (baca : pacaran). Hal yang baik akan baru bernilai baik jika dilakukan dengan cara-cara yang baik, sama halnya dengan persoalan menikah ini. Agar Allah berkenan melimpahkan barakah pada keluarga yang (hendak) kita bangun pada sejak awal kita mulai, sejak pandangan pertama. Selain itu, menghindarkan diri dari ‘tradisi’ pacaran juga sebagai tanda bukti keyakinan kita akan janji Allah dalam Al-Qur’an :

“Wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor dan laki-laki yang kotor hanyalah untuk wanita yang kotor. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik, laki-laki yang baik hanyalah untuk wanita yang baik” (QS An-Nuur 24:26)

Sebegitu tidak yakinkah kita dengan janji Allah tersebut ? Padahal siapa yang lebih tepat janjinya selain Allah SWT. Ikhtiar kita dalam menemukan jodoh yang baik pada dasarnya adalah melakukan perbaikan diri.

Cara berpikir kebanyakan kita masih berbasis objek, yakni dia. Hatinya berkata, “Wah saya harus memperbaiki diri dulu nih. Soalnya kalau nggak, belum pantas mendapatkan dia.” Akibatnya setelah melakukan proses perbaikan diri pun, masih ada pertanyaan, “Bagaimana kita mengukur kita sudah pantas dan siap menikah ? Bagaimana mengukur bahwa kita sudah layak mendapatkan dia ? Dan Bagaimana kita mengukur, bahwa dia juga sesuai dengan kita?”

Perbaikan diri yang sesungguhnya harus berbasis subjek, yakni saya. Hilangkan semua kepedulian dan ketergantungan pada hal-hal diluar saya. Itulah ikhlas. Itulah keikhlasan dalam perbaikan diri, yakni hanya karena Allah semata. Lantas, bagaimana dengan dia ? Tak peduli, ada atau tidak ada dia, saya harus terus melakukan perbaikan diri. Bukan untuk ukur mengukur pantas nggak dapat dia. Apalagi kalau dia terlalu definitif (sudah kita tentukan orangnya). Itu terlalu cetek untuk menjadi tujuan sebuah perbaikan diri yang nantinya adalah proses terus menerus yang juga kita lakukan setelah menikah dan sepanjang hidup.

Kalaupun dia terlanjur definitif, yang kemudian harus dipikirkan adalah Bagaimana saya bisa mempersiapkan pernikahan dengan sukses ? Dengan begitu InsyaAllah saya bisa mendapatkan yang jauh lebih baik daripada dia. Soal siapa yang jauh lebih baik dari dia, tak ada waktu untuk menebak-nebak. Biarlah urusan Allah. Sampai suatu kondisi saat kita serius untuk memproses pernikahan, lalu ada ikhtiar, Dia akan bukakan rahasia itu dengan mudah, InsyaAllah.

“Kalau kita sudah berusaha memperbaiki diri kemudian kita menikah, ternyata kita mendapat jodoh yang tidak sebaik kita, bagaimana ?”

Beberapa jawaban alternatif dari Ust. Salim A Fillah dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta, pertama memang ada kemuliaan yang Allah berikan pada hamba-hambanya berupa ujian melalui pasangan hidup seperti Nabi Nuh, Nabi Luth, dan Asyiah bintu Muzahim. Kedua, mungkin kita telah melakukan perbaikan diri dan itu tampak secara zahir. Tetapi secara batin kita mungkin lebih buruk dari pasangan hidup kita itu, niat kita, keikhlasan kita, dan prasangka-prasangka pada Allah misalnya. Nah kalau ditimbang total, jadinya satu sama. Ketiga, jangan-jangan kita ini hanya merasa baik, tapi sebenarnya parah. Dan ini yang mengkhawatirkan. Ini adalah ketertipuan ghuruur.

Diambil dari buku : Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A Fillah (Hal -39) dan ditambahkan oleh saya sendiri, semoga tidak mengubah makna aslinya.

Advertisements

4 comments

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s