Dari Beijing ke Hefei : Melaju di atas 300 km/jam

Hari-hari di Beijing memang sudah berakhir. Dari tanggal 31 Agustus kami pertama mendarat di Beijing, tanggal 3 September terjadwal kami akan meninggalkan Beijing menuju Hefei, Ibukota Provinsi Anhui. Beijing memang mewakili sisi modern dan tradisional China, dan bila tidak punya waktu dan budget banyak cukup mengunjungi Beijing saja dibandingkan kota lainnya di China. Di Beijing akan beberapa tempat penting yang sangat terkenal seantero dunia seperti Tembok Besar, Summer Palace atau dulu dikenal Forbidden City, Museum Nasional China (diklaim sebagai museum terbesar di dunia lho) dan lapangan bersejarah China Tiananmen Squre yang terpampang foto orang yang sangat “dipuja-puji” (versi bahasa saya-nya) di China, Chaiman Mao atau Mao Zedong. Dia adalah presiden pertama Republik Rakyat China. Berkunjung ke Beijing cukup untuk mengisi memori tentang Old China dan Modern China. Namun, kami masih punya kurang lebih 6 hari lagi di China. Jadi perjalanan ini berlanjut.

Seperti biasa, pagi hari kami sudah mulai akrab dengan morning call kadang bahasa mandarin dan bahasa inggris, intinya “Anda diminta bangun dan sarapan”. Seperti biasa sarapan sudah tersedia dan hari itu kami juga harus check out karena akan meninggalkan Beijing. Oh ya, selama di Beijing kami menginap di Hotel Bei Tai Long, sepertinya di pusat kota sih. Saya kurang paham juga. Sarapan selesai check out selesai dengan la la la la keribetan waktu check out, ada yang handuk kebawa, tas laundry dan sebagainya. Spesial untuk menuju Hefei kami akan menggunakan China Highspeed Railway atau kereta pelurunya China atau kalau saya menyebutnya Shinkansen-nya China (kalau tahu orang China bisa digetok nih, hehe). Setelah semua naik ke dalam bus masing-masing, ternyata ada yang ketinggalan, kami dibagikan bekal untuk makang siang. Miss Vivian, LO selama di China, bilang tidak ada makanan halal selama di kereta jadi ini jadi makanan pengganti makan siang kami. Satu bungkusan putih isinya : air mineral, dua butir telor rebus, roti, dan sebuah pisang. Saya agaknya terharu saat itu. So Sweet. Mereka care dengan makanan halal karena memang mayoritas kami muslim. Mungkin mulai saat itu saya tidak lagi begitu was-was dengan makanan yang disajikan di hari-hari selanjutnya. Dalam benak saya, kemungkinan sangat besar yang disajikan makanan halal. Walaupun halal 100% saya belum bisa pastikan. Karena sudah beranggapan demikian saya jadi sering makan lahap selama di China. Kalau dipikir-pikir di Indonesia pun bisa saja makanan yang dianggap halal, misalnya ayam ternyata tidak halal karena tidak disembelih dengan nama Allah. Nah, kalau seperti itu kan berabe juga. Tentang makanan di China lebih lengkapnya ada di tulisan ini.

100_4246

Lho cerita keretanya kapan ? Maaf maaf, kalau dari judulnya seakan-akan saya akan langsung ngebahas perjalanan kereta cepatnya, eh malah ngalor ngidul ke mana-mana dulu. Oke, saya mulai cerita keretanya deh. Kita sampai di stasiun kereta sekitar pukul 9.30 Waktu setempat. Kereta dari Beijing ke Hefei terjadwal pukul 10.10 dengan kode “penerbangan” kereta G265 melalui pintu 15. Beh, hapalkan saya hal-hal kayak gitu (yaiyalah, orang jadwalnya difoto, hehe). Agaknya kereta disini tepat waktu karena pukul 10.04 kami sudah duduk tenang di kereta setelah riweuh-riweuhnya nyusun bagasi. 10.10 perjalanan dimulai, mulai dari 0 pastinya tidak langsung 300 km per/jam hehe. Kereta membawa kami meninggalkan Beijing namun tidak kenangannya. Kenangannya masih tersimpan rapi.

jakarta to bali beijing to hefeiOh ya, saya belum menyebutkan, jarak antara Beijing – Hefei sekitar satu pulau Jawa atau 1100 km. Berarti secara matematis, dengan jarak demikian dan kecepatan mencapai 300 km/jam bahkan lebih (paling lebihnya sampai 330 km/jam) kami akan sampai di Hefei kurang dari 4 jam kan ? Namun waktu perjalanan kami sekitar 4 jam 20 menit karena keretanya tidak konstan melaju dengan kecepatan maksimal. Oh ya, kabarnya untuk jalur Beijing-Hefei ini baru dibuka 16 Oktober 2012 lho. Wah ternyata baru setahun yang lalu. Selama perjalanan saya banyak tidur, karena adem dan tenang banget. Saya kurang ingat pastinya sampai di Hefei, mungkin 14.20 dan sudah berada di bus lagi pukul 15.00 untuk menuju Hotel.

Sepanjang perjalanan yang dilewati dari Beijing  hingga Hefei banyak sekali pemandangan sawah dan kebun jagung dilalui (mengamati sewaktu belum tidur pulas). Luas sekali, namun jarang saya lihat ada pekerja yang sedang bekerja menggarap ladang itu. Hal yang saya amati ada satu rumah semacam tempat penyimpanan hasil atau mungkin rumah para petani. Jujur saya saya baru menyadari kereta ini berjalan begitu cepat karena melihat pemandangan di luar. Hampir tidak ada goncangan yang berarti, jalanya mulus, bahkan lebih mulus dari pesawat terbang. Wih, andai di Indonesia ada ya, sangat menghemat waktu sekali. Jika Jakarta –Surabaya memakan waktu 12 jam, bayangkan 4 jam lebih saja dari ujung ke ujung pulau jawa, keren nggak tuh ? apalagi ongkosnya bisa murah, hehe, makin mantap. Nah, kabarnya sudah ada isu akan didatangkan (yah ngimpor) kereta cepat dari Jepang untuk memperpendek waktu tempuh Jakarta-Surabaya menjadi hanya 2,5 jam saja. Sangat berharap suatu saat anak bangsa yang menemukan teknologi baru untuk transportasi, bukan hanya bisa “menerima investasi” negara lain. Indonesia Bisa.

Eh, terakhir. Soal harga. Ini sebenarnya tambahan dari saya. Karena kemarin sebagai tamu jadi tinggal beres saja. Tidak ada pesan-pesan tiket, namun jadi nggak tahu harganya juga. Nah, setelah saya coba cari harganya lumayan juga lho. Kita naik kelas ekonomi dengan harga 428 RMB atau sekitar Rp 813200. Wah, mahal juga ya. Itu setengah uang jajan saya selam di China. Kalau pun ada uang kayaknya mikir-mikir lagi untuk naik ini kereta. Hmm, saya juga baru sadar lho itu mahal. Sepertinya orang China pribumi pun belum tentu pernah naik ini kereta karena mahalnya. Tapi, kalau harga kereta cepat yang saya dengar di Jepang juga sebelas dua belas (11 12) lah sama di China ini. Bahkan kadang-kadang kata teman saya, pesawat bisa lebih murah dibandingkan kereta ini. Saya jadi merasa berhutang pada negara. Semoga suatu saat saya bisa membalasnya. Terima Kasih (Rakyat) Indonesia.

beijing-hefei fare

Tulisan terkait lainnya :

 

Advertisements

One comment

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s