Berakhir di Guang Zhou

Hari itu tertanggal 7 September 2013, Sekitar pukul 08.30 kami meninggalkan kota Hefei menuju Hefei Xinqiao Airport. Perjalanan ke Kota terakhir di China akan ditempuh lewat jalur udara dengan maskapai China Southern Airlines. Jadwal penerbangan kami pukul 10.50 namun tidak lama kemudian diumumkan ada delay menjadi 11.10. Sekitar 1 Jam sebelum boarding seluruh rombongan sudah ada di ruang tunggu bandara Xinqiao. Karena jadwal hari itu setiabnya di Guang Zhou kami langsung mengunjungi Universitas Sun Yat-Sen untuk “exchange” dengan mahasiswanya, sejak malam kami sudah mempersiapkan sedikit penampilan untuk hari ini. Memanfaatkan waktu luang akhirnya sebelum boarding kami latihan di ruang tunggu. Kami rencana menampilkan tari saman “semalam”, maksudnya tari saman yang baru dipelajari semalam. Duduk-duduklah kami rapata kemudian sambil bernyanyi kecil dan tangan serta kepala mulai bergerak mengikuti irama. Momen ini sempat jadi pusat perhatian bagi orang China yang kebetulan ada di ruang tunggu. Sementara itu saya sendiri dan dua teman lainnya belajar sedikit gerakan pencak silat untuk pembukaan pertunjukan. Perjalanan udara dari Hefei ke Guang Dong sekitar 2 jam perjalanan. Kami menggunakan maskapai China Southern Airlines. Pesawat lepas landas sekitar 11.30 dan kami sampai pukul 13.30 di Baiyun Airport Guang Dong. Setelah menunggu cukup lama untuk pengklaiman bagasi, kami menuju bis jemputan dari federasi pemuda Guang Dong, katanya sudah di luar. Cukup lama kami berjalan menyusuri bandar Baiyun dan ternyata kondisi kota Guang Zhou saat itu sangat panas. Padahal orang Indonesia adalah orang tropis namun tetap masih mengeluhkan panas ketika keluar dari ruangan bandara. Saya mulai percaya, sebagian kabar saya dengar bahwa negari-negeri subtropik juga punya saat-saat yang sama bahkan lebih panas dibandingkan dengan negeri tropis. “It was really hot, trust me. I did not know exactly the temperature, may be above 35 C. Hotter than Jakarta”. Peluh pun bercucuran.

Ada tiga bus yang terparkir di bagian agak luar bandara dan itulah yang kami tuju. Dengan kondisi semua orang membawa minimal 2 tas, 1 koper besar dan 1 tas ransel maka perjalanan menuju bus tersebut lumayan menguras tenaga. Sesampai di Bus, seorang pemandu tur bis kami di Guang Zhou memperkenakan diri, seingat saya nama panggilannya Liu (saya tidak tahu pasti tulisan latinnya seperti apa). Entah kenapa saya sangat susah sekali mengingat nama orang China, seperti mereka yang aneh dan susah mengingat mendengar nama saya. “even”. Mereka kadang memperkenalkan diri dengan nama “baratnya” mungkin agar lebih mudah diingat. Liu menceritakan sedikit banyak tentang Guang Dong dan juga Guang Zhou selama perjalanan di bis juga menceritakan tentang tempat yang langsung akan kita kunjungi saat itu, Universitas Sun Yat Sen. Ternyata awalnya unversitas itu bukan bernama Sun Yat Sen namun Universitas Guang Dong. Sebagai penghormatan untuk Bapak Demokrasi China itu setelah beliau wafat nama universitas itu diubah menjadi namanya Universitas Sun Yat Sen. Selain itu karena provinsi Guang Dong merupakan tempat kelahirannya. Kampus yang akan kami kunjungi adalah kampus utamanya, karena selain itu ada empat kampus lain yang tersebar di Guang Dong. Liu juga menceritakan bahwa di provinsi Guang Dong, universitas ini menjadi Top Three. Bagi saya pribadi, kunjungan ke universitas di China memang sangat saya nantikan. Banyak universitas di China yang saya kenal saat kompetisi Biologi Sintetik (iGEM) tahun 2012 lalu, kalau di Beijing ada Universitas Peking dan Universitas TsingHua, nah kalau di Guang Dong salah satunya universitas yang akan kami kunjungi ini.

Sangat disayangkan ternyata kunjungan ke Universitas Sun Yat-Sen bukan exchange hanya visit saja tidak sama seperti ke Universitas Anhui. Tidak ada waktu untuk penampilan. Kami hanya dipandu oleh mahasiswa setempat untuk memperkenalkan secara singkat mengenai kampus mereka. Kami dipandu oleh beberapa orang, dua diantaranya yang saya kenal Amber dan Kevin. “Both of them are from clinical medicine faculty”. Kami tiba di pintu selatan kampus dan berjalan menyusuri kampus hingga pintu utara. Di dalam area kampus, keadaannya tidak berbeda jauh dengan kampus-kampus pada umumnya lalu lalang mahasiswa dan mahasiswi di jalan-jalan. Ada pula mahasiswa baru yang mengenakan baju loreng-loreng seperti tentara berjalan dalam barisan teratur menyusuri jalan. Sempat kami menayakan kepada guide, katanya mereka sedang Orientasi dan Perkenalan kampus.

Di sela perjalanan saya menyapa Amber, gadis jurusan kedokteran tingkat dua. Saya menayakan apakah dia tahu atau pernah mendengar tentang kompetisi iGEM. Awalnya dia sempat bingung, lantas menjawab “Ya, saya tahu”. “Oh Great, I met team from this campus last year in HKUST Hongkong on Asia Regional Jamboree”. “Jika tidak keberatan sampaikan salam saya kepada mereka, dan katakan saya pernah mengunjungi kampus mereka”. Di akhir perjalanan saya memberikan kenang-kenangan kepada mereka berdua, satu buku panduan pariwisata Bangka Belitung, pembatas buku yang saya buat sendiri, kartu nama, sebuah koin 500 dan uang 2000. Amber kelihatannya senang menerimanya, dan kemudian menanyakan apakah kami punya uang koin Yuan, karena dia punya banyak. Sebenarnya di dompet juga ada banyak uang 1 Yuan, tapi tidak tega menyebut “punya” karena dia buru-buru mengeluarkan dompet kecil dari tasnya, dan memberi saya koin 1 Yuan dan 1 jiao. Ia juga mengeluarkan uang 100 Yuan (180.000-200.000 IDR) sambil berkata “Sepertinya kalau yang ini terlalu besar, Ia senyum”.  Saya langsung menyodorkan HP kepada Kevin dan Amber sambil berkata “May I know your e-mail ?” dan kemudian mereka menulis e-mail di HP agar saya juga bisa menghubungi. Setelah itu teman-teman dari Indonesia yang lain mulai mengerubuti karena juga ingin membagikan souvenir kepada mereka. Saya berlalu dan berkata dalam hati “It’s time to say Good Bye, See you again (may be) somewhere in the world. Thanks

Hari berikutnya kami mengunjungi Second Children Palace di Guang Zhou. Awalnya saya belum bisa membanyangkan seperti apa tempat yang akan kami kunjungi sewaktu membaca nama tempatnya dari jadwal. Mungkinkah museum anak-anak. Karena hampir setiap kota kami tidak pernah melewatkan kunjungan ke museum. Sekitar pukul 9 kami sampai di tempat tujuan pertama hari itu. Setelah mendengarkan sedikit penjelasan Children Palace adalah tempat pusat kegiatan ekstrakulikuler anak-anak. Berbagai cabang keterampilan ada disana, salah satunya kelas Kung Fu yang kami kunjungi.

Mereka imut-imut sekali. Gerakannya yang salah-salah dibenarkan oleh instruktur. Sedikit informasi yang saya ketahui tentang Children Palace dimiliki pemerintah. Meski untuk ikut kegiatan tidak gratis namun tetap masih ada kesempatan bagi anak tidak mampu untuk tetap ikut dengan program beasiswa. Pada umunya anak-anak sekolah.

Istana anak Guang Zhou ke-2 merupakan istana anak yang dibangun setelah istana akan yang pertama di provinsi Guang Dong. Istana anak merupakan gedung yang meyediakan berbagai macam kegiatan anak-anak meliputi menari, bela diri, musik, kaligrafi, komputer, teater dan lainnya. Kegiatan ini dipandu oleh instruktur yang ahli di bidangnya. Di China, kegiatan seperti ini juga ada di sekolah-sekolah selepas jam pulang sekolah, namun mungkin di istana anak ini pilihan aktivitasnya lebih beragam. Di provinsi Guang Dong sendiri sedang direncanakan untuk dibangun istana anak yang ke-3.

100_4518

 

Delegasi pemuda Indonesia diperkenankan untuk masuk ke istana ini dan melihat kegiatan yang ada di kelas-kelas. Anak-anak saat itu sedang belajar di kelas sesuai dengan minat yang mereka pilih. Di luar ruangan tampak banyak orang tua mereka yang sedang menunggu anak-anaknya selesai mengikuti kursus. Perhatian pemerintah China, khususnya provinsi Guang Dong terhadap anak-anak sangat baik dibuktikan dengan adanya beberapa pusat kegiatan anak yang sangat berperan dalam pengembangan minat dan bakat anak-anak di China. Tempat ini membuat kami berdecak kagum pada China.

Senin 9 September 2013 kami meninggalkan Hotel Bostan Guang Zhou menuju bandara Baiyun Guangzhou dan kembali ke Indonesia. Perjalanan di negeri tirai bambu pun berakhir dan kembali menuju negeri tercinta Indonesia.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s