Menyikapi kampanye negatif menjelang pilpres

Indonesia tak lama lagi menentukan pemimpinnya untuk 5 tahun mendatang. Inilah yang disebut-sebut pesta demokrasi di negara ini yang banyak ditunggu-tunggu. Ditunggu-tunggu siapa ya ? Hehe. Kalo tahun-tahun lalu belum terlalu ngerti untuk hal seperti ini, tahun ini Alhamdulillah sudah agak ngeh. Meski saat saya menulis ini KPU bahkan belum menetapkan secara resmi capres-cawapres yang akan berlaga di 9 Juli nanti, namun kampanye (terutama di media online/ media sosial) tetap saja sudah ngambil start duluan.

Beberapa hari terakhir ini di laman facebook saja sudah hampir penuh postingan-postingan dari berbagai sumber baik yang menampilkan sisi “menarik” bahkan sampai sisi kontroversial dari capres dan cawapres tertentu. Tidak jarang pula yang terang-terangan menyampaikan kampanye negatif kepada pasangan cawapres lain. Sangat disayangkan kampanye-kampanye negatif itu diambil dari tulisan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, dari portal berita yang abal-abal dan sangat tendensius kepada pihak tertentu.

Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan postingan teman-teman di media sosial tentang capres dan cawapres pilihannya sekalipun itu kampanye hitam. Bagi saya, dengan postingan itu bisa menambah khazanah saya tentang calon yang akan berlaga nanti. Agar saya lebih jauh mengenal mereka baik dari sisi terangnya dan sisi gelapnya (kalaupun benar). Namun, mohon maaf saya sudah berkomitmen untuk tidak share link/tautan yang tidak jelas dalam masa kampanye ini (jika saya lakukan, harap sobat ingatkan). Selama itu bersumber dari portal media yang bisa dipertanggungjawabkan ataupun testimoni/ opini pribadi, saya kira sangat baik untuk dijadikan sumber referensi mengenal calon pemimpin kita.

Siapakah mereka yang melakukan kampanye hitam ? 1) Mungkin mereka yang “terlalu cinta” dengan pasangan capres dan cawapresnya masing-masing. 2) Bisa juga mereka yang merasa menampakkan hal-hal baik dari capres-cawapres unggulannya masih kurang ampuh menarik simpati pemilih/publik oleh karena itu dicari juga keburukan calon lain. 3) Atau bisa juga mereka hanya latah, lihat teman share tautan-tautan, mereka bantu-bantu juga haha. 4) Bisa juga karena sudah diserang duluan jadi balas serangan, akhirnya jadi saling serang dan perang-perangan. 5) mereka yang bisa saja mulai panik/cemas karena tokoh yang mereka kagumi memiliki lawan yang mereka anggap lebih tangguh.*

Setiap kandidat pasti punya sisi minus. Bijak saja menilai apakah hal itu krusial atau tidak bagi seorang pemimpin Indonesia ke depannya. Kita tidak akan menemukan yang sempurna, karena memang nyaris tidak pernah ada. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang tepat untuk zamannya dan ini silakan diterjemahkan oleh masing-masing pemilih siapakah yang saat ini tepat untuk memimpin Indonesia.

Saya memang tidak terlalu paham politik, kuliah juga bukan jurusan politik. Tapi di politik tidak ada kawan dan lawan sejati memang bisa dibuktikan. Ketika dulu masih ramai media memberitakan ada salah satu pemimpin blusukan, banyak tokoh-tokoh besar yang menilai itu bukan cara yang efektif dalam menyelesaikan masalah, sekadar pencitraan lah, tidak melakukan perubahaan yang riil lah, mencari popularitas lah dan berbagai macam. Saat ini, ketika kekuatan sudah terkutub menjadi dua, banyak yang dulu mengkritik pedas kini mendadak jadi kawan karib, hehe. Tidak perlu kita bahas kan ya siapa-siapanya hihi.

Apa yang bisa diambil pelajaran dari fenomena diatas ? Bagi saya pelajarannya adalah selalu bersikap objektif pada setiap hal. Jika memang baik katakan saja baik begitupun jika sebaliknya. Jangan kebencian pada suatu kaum (atau streotipe tertentu) mencegah kita untuk adil dalam menilai mereka. Kebaikan itu bersifat universal, bukan kebaikan yang dilakukan oleh golongan tertentu yang hanya dianggap sebagai kebaikan, sedangkan lainnya tidak.

Saya pribadi sangat terkesan dengan Pak Jokowi dengan gaya blusukannya. Saya anggap itu mendobrak tembok besar pemisah antara pemimpin (yang sebenarnya adalah pelayan) dan rakyatnya. Coba saja baca para pemimpin ummat yang dicintai rakyatnya, apakah mengurung dirinya dalam istana yang terpisah dari rakyatnya ? Inilah yang mungkin diterjemahkan dengan kata-kata “Merakyat”. Tidak perlu kehilangan muka jika suatu saat yang kita kritisi bakal menjadi kawan main kita, karena kita selalu bersikap objektif menilai mereka dulu, kini, dan nanti.

Berpihak ? Tidak masalah. Dibalik keberpihakan Anies Baswedan kepada salah satu kandidat, saya menemukan suatu pandangan yang indah dari Beliau “Apapun pilihan kita itu adalah karena kecintaan kita pada Indonesia dan komitmen kita untuk memanjukan bangsa tercinta ini. Dengan begitu pilihan ini tidak boleh menyebabkan permusuhan. Lawan beda dengan musuh. Lawan debat adalah teman berpikir, lawan badminton adalah teman berolah raga. Beda dengan musuh yang akan saling menghabisi, lawan itu akan saling menguatkan — Anies Baswedan”. Bung Fahri Hamzah juga mengingatkan ini adalah ajang “fastabiqul khoirot” yaitu berlomba-lomba dalam kebajikan yang juga bisa digolongkan menjadi Ibadah kepada Allah.

Jangan jadikan perlombaan ini jadi peperangan. Mari berlomba dengan elegan. Menangkan hati pemilih dengan cara-cara yang arif. Yukk !! Masih banyak waktu untuk menelaah calon pemimpin kita. Gunakan dengan sebaik-baiknya, pelajari visi dan misinya, program kerjanya, pandangan-pandangannya. Jadi menjadi orang yang pasif dengan informasi, tapi aktifnya mencari. Saatnya nanti kita akan tentukan pemimpin negeri. NO GOLPUT ya !!

*ditambahkan oleh Sdr Primalita Putri Distina

Advertisements

2 comments

  1. Tulisannya bagus 😀

    Sekadar iseng menambahkan dari pertanyaan ” Siapakah mereka yang melakukan kampanye hitam ?” yaitu mereka yang bisa saja mulai panik/cemas karena tokoh yang mereka kagumi memiliki lawan yang mereka anggap lebih tangguh.. hehe. Cuma pemikiran sekelebat. Karena saya berpikir kalau mereka itu ‘takut’ tersaingi sepertinya..

    Yah..saya juga agak sedikit gerah dengan postingan atau kiriman tautan yang cenderung mendukung salah satu calon dan menghina calon lawan, apalagi sumbernya ga valid, dipertanyakan.. tapi inilah bukti bahwa rakyat Indonesia mungkin saat ini sedang berusaha berpikir lebih kritis, ya..mari berprasangka baik. Soalnya saya yang awalnya mau golput (oops) jadi mikir-mikir lagi,., thanks to them, hihi.

    Cuma, semoga saja ini bukan ajang untuk saling mencari musuh, toh kita punya semoboyan bhinneka tunggal ika, sila ke-3 persatuan Indonesia. Semoga Indonesia menemukan pemimpin yang pas untuk kondisi sekarang ini, dan siapapun yang terpilih Insya Allah yang terbaik 🙂

  2. Makasih Ayim. Setuju sekali, ayo bikin tulisan juga versimu. Tanggung jawab bersama untuk meluruskan dan mencerdaskan saudara kita di luar sana. Tambahan poin yang disarankan, saya izin tambahkan ke tulisannya ya.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s