Mesir, Masihkah jadi sumber harapan ?

Ada semacam perasaan sedih saat melihat berita “Abdul Fattah Al-sisi Memenangkan pemilu presiden di Mesir”. Dalam pemilu baru-baru ini, Mantan Jendral Sisi mendapatkan hasil yang sangat sangat spektakuler. Ia menang mutlak. 96,9% sedangkan lawannya, Hamdeen Sabahi, hanya mengantongi sekitar 3% suara.  Pemilu yang diselenggarakan selama dua hari 26 dan 27 Mei 2014 dan kemudian disebutkan diperpanjang sehari karena partisipasi pemilih yang rendah. Hingga TPS ditutup pun hanya 47% dari 54 juta pemilih yang mau memberikan suaranya pada pilpres tersebut.

Akan seperti apa Mesir ke depan dengan As-Sisi sebagai presiden ? Ini yang menarik untuk sedikit dibahas.

Presiden Sang Otak Kudeta. As-Sisi adalah Jendaral yang diangkat dan dilantik sendiri oleh presiden Mursi, namun dia pula yang menjadi tokoh utama dari militer yang melakukan “kudeta” terhadap presiden sah negara itu. Sebagian berpendapat kudeta didorong oleh berbagai isu seperti ekonomi, politik, dan ikhwanisasi Mesir. Sebagian pula berpendapat itu memang sudah direncanakan dari sejak dikabarkan Mursi memenangkan pilpres. Kudeta pun terjadi dan Presiden Mursi berhasil digulingkan pada Juli 2013. Tidak peduli seberapa besar massa ikhwanul muslimin menolak keras kudeta, berunjuk rasa berminggu-minggu. Semuanya tidak ada hasil. Hanya korban tewas yang terus menerus bertambah.

Ikhwanul Muslimin diberangus. Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi yang kini sudah dilarang. Pada Maret 2104, 500 orang dijatuhi hukuman mati namun kemudian putusan itu berubah menjadi hanya 37 orang yang dihukum mati, selebihnya diringankan menjadi hukuman seumur hidup. April 2014, pentolan beserta pendukung setianya kembali menerima putusan hukuman mati yaitu 683 orang (termasuk Mohamed Badie, Pemimpin tertinggi Ikhwanul muslimin). Meski putusan ini dikecam banyak pihak termasuk PBB, sepertinya kecil kemungkinan untuk “ditarik” kembali. Terlalu besar niat pemerintah Mesir kini untuk “menghabisi” gerakan/organisasi yang mereka anggap membahayakan stabilitas negara.

Apa itu Ikhwanul Muslimin? kompas[dot]com sudah membuat deskripsi tentang IM dengan cukup apik. Silakan dibaca, Ikhwanul merupakan kelompok agama dan politik yang didirikan atas keyakinan bahwa Islam bukan hanya agama, melainkan juga cara hidup. Kelompok tersebut menganjurkan untuk menjauhi sekularisme dan kembali ke aturan Al Quran sebagai dasar bagi kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara yang sejahtera. Ikhwanul secara resmi sebenarnya menolak penggunaan cara-cara kekerasan dalam pencapaian tujuannya. Namun, cabang-cabang Ikhwanul Muslimin pernah dikaitkan dengan sejumlah serangan yang terjadi di masa lalu. Para pengecam pun menyalahkan kelompok tersebut sebagai pemicu berbagai masalah di tempat lain di Timur Tengah. Banyak yang menganggap perkumpulan itu sebagai cikal bakal dari militan Islamis modern.

Ikhwanul Muslimin telah menjadi bagian dari kancah politik di Mesir selama lebih dari 80 tahun. Kelompok itu dibentuk Hassan al-Banna tahun 1928. Al-Banna dan para pengikutnya awalnya dipersatukan oleh keinginan untuk mengusir Inggris dan menghilangkan pengaruh Barat yang “merusak”. Slogan asli Ikhwanul Muslimin adalah “Islam merupakan solusi”.

Pada tahun-tahun awal berdirinya, kelompok itu berkonsentrasi pada pelayanan agama, pendidikan, dan sosial. Namun semakin lama Ikhwanul Muslimin pindah ke ranah politik dan sering kali melakukan protes terhadap Pemerintah Mesir. Tahun 1940-an, sebuah kelompok sayap bersenjata Ikhwanul Muslimin disalahkan atas serangkaian tindak kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap Perdana Menteri Mesir Mahmud Fahmi, tahun 1948, tak lama setelah ia memerintahkan pembubaran Ikhwanul Muslimin.

Kelompok ini bergerak di bawah tanah pada tahun 1950-an, dan selama beberapa dekade berada di bawah penindasan para penguasa Mesir, menyebabkan banyak anggotanya melarikan diri ke luar negeri, sementara yang lain dipenjara.

Tahun 1980-an, kelompok itu menyatakan mengingkari kekerasan dan berusaha untuk bergabung dengan proses politik arus utama, tetapi dilarang oleh rezim mantan Presiden Mesir, Hosni Mubarak. Meski demikian, Ikhwanul tumbuh sepanjang dekade itu, sebagai bagian dari pertumbuhan di dalam Islam. Invasi pimpinan AS ke Irak tahun 2003 memicu lonjakan dalam keanggotaannya.

Sampai tahun 2011, Ikhwanul Muslimin dianggap ilegal karena undang-undang Mesir melarang semua partai berdasarkan agama. Namun, pada Desember tahun itu, partai politik dari Ikhwanul Muslimin yang dikenal dengan nama Partai Kebebasan dan Keadilan mendominasi dan memenangkan sekitar setengah kursi yang diperebutkan di parlemen.

Kelompok itu awalnya tidak mengajukan calon presiden. Namun akhirnya Muhammad Mursi tampil dan terpilih sebagai presiden dalam pemilihan secara demokratis pertama di Mesir. Mursi berkuasa pada 30 Juni 2012 tetapi sejak itu pula popularitasnya terjerembab.

Pemerintahannya dianggap gagal menjaga ketertiban saat ekonomi ambruk dan kejahatan melonjak, termasuk serangkaian serangan seksual terbuka terhadap perempuan di jalan-jalan Mesir. Kekacauan itu pun mengusir banyak wisatawan dan investor dari negara itu.

Hubungan “mesra” dengan Palestina (Gaza) yang terancam. Saya masih teringat satu pernyataan Presiden Mursi, mungkin kurang lebih seperti ini “Jika Mesir Kuat maka Palestina (juga) Kuat !!”. Kini itu hanya tinggal kenangan, mungkin. Warga Palestina sungguh berharap banyak kepada Presiden Mursi untuk banyak membantu Gaza karena memang Ikhwanul Muslimin dan Hamas memiliki hubungan emosional yang dekat, terutama kebenciannya dengan Zionis Israel. Antara Mesir dan jalur Gaza (Palestina) ada pintu pengharapan warga Gaza yaitu Pintu perbatasan Rafah dan terowongan penghubung untuk mengakses Gaza melalui mesir. Pasca penggulingan Mesir, dikabarkan 80% terowongan ditutup. Bagaimana nasih warga Gaza ?

Mesir, akankah kembali ke kediktatoran ?. Banyak yang mengira proses demokratisasi di berbagai negara mayoritas muslim menjadi salah satu musim semi yang akan berlangsung lama. Wacana “Arab Spring” menggema setelah Mesir dan beberapa negara mayoritas muslim mulai gerah dengan pemerintahan “diktator” yang tidak memiliki sirkulasi kekuasaan yang jelas. Negara mayoritas muslim yang terbentang dari Maroko hingga Indonesia memiliki seorang pemimpin yang berkuasa rata-rata 23 tahun. Mesir yang ingin mendapatkan pemerintahan yang demokratis melalui revolusi 2011 lalu kini akankah menjadi benar-benar demokratis (lagi) ? Kita bisa amati bersama-sama. Berikut 5 karakteristik pemerintahan diktator menurut Dr. Taufik Al-Wa’i : 1) Sewenang-wenang dalam menggunakan kekuasaan. Kekuasaan digenggam oleh beberapa orang tertentu atau beberapa kelompok serta menmbungkan setiap institusi dan organisasi politik lain. 2) Mematikan kekuatan konstitusi sebagai kekuatan politik yang ada. Umumnya mereka mengabaikan undang-undang dan bebas membuat undang-undang baru sebagai alat melayani ajaran penguasa. 3) Mematikan atau mengikat kebebasan masyarakat secara berlebihan. 4) Menguasai daya pengaruh dan keberanian berbagai pihak pengambil keputusan. 5) Mempergunakan sarana-sarana tirani dalam kebijakan politik dan sosial. Untuk poin ketiga, Presiden Mursi menerapkan kebebasan pers pada saat Ia menjabat presiden Mesir dan kemudian banyak pihak yang berpendapat faktor itulah yang justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ketika kudeta dilaksanakan sejumlah media dalam negeri maupun asing, apalagi media yang pro-ikhwanul muslimin sudah mulai diberangus. Pemberitaan banyak terpusat dari sumber media yang dikendalikan pemerintah. Akankah ini terus berlanjut ?

 Memang banyak yang berharap negara-negara muslim berangkulan untuk saling menguatkan dan keluar dari kediktatoran menuju agenda besar bersama. Bukan sedikit yang kecewa melihat Mesir saat ini yang belum tahu kemana akan dibawa oleh presiden barunya. Demokrasi memang bukan sistem Islam, sama sekali bukan. Namun, lihatlah dibandingkan dengan kediktatoran justru demokrasi jauh lebih baik dan lebih ‘ramah’ terhadap kerja-kerja aktivis Islam. Selain itu, dari Mesir kita belajar, Memenangkan Islam dalam politik dan kekuasaan adalah perkerjaan besar, namun membuktikan keberhasilan dan kesuksesan pemerintahan Islam adalh pekerjaan besar selanjutnya. Pernahkah kita curiga bahwa kediktatoran bisa jadi merupakan konspirasi pihak-pihak yang tidak menginginkan negara muslim berkembang, maju, modern, apalagi bersatu ?

Tulisan ini disarikan dari berbagai media : Kompas, Kiblat, BBCIndonesia dan lainnya.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s