Lampion Terbang “Misterius”

Ramadhan ini Saya dan Abang bikin sensasi dan gempar orang sekampung lho, hihi. Jadi gini nih ceritanya. Malam-malam sekitar minggu ke-2 Ramadhan saya buka foto-foto di harddisk mau kasih tunjuk ke ayah, abang, dan paman-paman koleksi foto cantik lampion terbang atau Sky Lantern waktu Dies Natalies IPB ke -50 tahun kemaren. Saya pribadi memang sudah lama penasaran dengan lampion terbang, “kok bisa terbang ya ?” –Ya iyalah kan namanya lampion terbang Dhil (-_-). ceritanya dimulai dari sini. Setelah malam itu, besoknya saya, abang, dan Ayah berencana buat lampion terbang itu. Bahannya ?? ya sekadar nebak-nebak saja. Saya beli kertas minyak, biasanya kami disini menggunakan kertas ini untuk kertas layang-layang. Bahan bakar ?? Yang penting ada sumber api yang bisa nyala lumayan lama kan ? Nah, saya ada ide untuk naro bahan bakar yang murah meriah. Buat kelapa sawit yang sudah kering. Hehe. Namanya juga eksperimen. Buah kelapa sawit kering ini biasanya digunakan untuk bakar-bakaran karena memang bahannya mudah terbakar.

IMG_7498

Jangan tertipu, Ini sebenarnya nggak terbang. Cuma didorong ke atas aja

Oke, semua sudah ada dan tinggal merangkai. Setelah badan lampion berhasil dirangkai dari bahan : kertas minyak dan kawat hinga berbentuk agak bulat lonjong ke atas. Badan lampion sudah siap, dan sekarang tinggal menajajal apa bisa terbang atau tidak. Saya taruh beberapa biji kelapa sawit kering dan kemudian dibakar. Api yang dihasilkan lumayan gede, sepertinya hampir sama dengan lampion “beneran” yang saya saksikan dulu di kampus. Tapi, lho kok nggak terbang-terbang. Apa masih kurang lama ya ? Setelah beberapa saat ditunggu juga belum terbang juga. Baik. Ini sepertinya GAGAL. Terlalu banyak variabel yang belum diuji penyebab kegagalan itu, salah satunya BAHAN BAKAR. Mungkin bahan bakar yang menghasilkan asap banyak (hasil nyari-nyari di internet). Mungkin kain/perca yang sudah dilumuri minyak tanah bisa menjawab dugaan bahwa lampion baru bisa terbang dengan “bahan bakar yang menghasilkan asap”. Percobaan ini pun ternyata GAGAL. Setelah agak putus asa karena lampion terbang “home-made” tidak bisa terbang. Akhirnya Abang mesen Online dari internet yang akhirnya sampai beberapa hari kemudian.
Taraa, lampion terbang pesanan pun sampai. Nah, lampion ini persis dengan yang saya lihat waktu di kampus dulu. Ya iyalah, orang pas nanya temen yang punya acara di kampus, mereka juga bilang itu mesen juga. Nah, kalau dibandingkan dengan lampion buatan kami sebelumnya apa yang beda ?. SEMUANYA. haha. Ya, memang semuanya.

  • Kertas : kertas yang digunakan bukan jenis kertas minyak (untuk layangan), saya juga tidak tahu pasti jenis kertanya apa.
  • Kawat : kawat yang digunakan untuk membuat lingkaran dan mengikat bahan bakar, ukurannya beda dengan ukuran kawat bangunan, beratnya juga beda. Yang pesenan itu ringan banget.
  • Bahan bakar : Nah ini yang nggak ada mirip-miripnya. Bahan bakar yang digunakan itu sejenis apa ya. Susah mendefinisikannya. Mungkin sejenis parafin atau bahan bakar padat gitu. Di bungkus lampion juga tidak disebutkan detil, cuma digunakan kata “fuel”. Awalnya memang setelah kelapa sawit dan kain perca gagal, saya nyoba nyari parafin di toko-toko di kampung ini, namun hasilnya tidak ada yang jual.

Lampion yang sebenarnya sudah datang dan tidak sabar mau dijajal apa bisa terbang tau nggak. Akhirnya satu lampion terbang harus rela dinyalakan di siang bolong karena penonton sudah tak sabar haha. Memang tidak lama setelah bahan bakar padat dibakar, sedikit-demi sedikit api mulai membesar dan badan lampion mulai menggembung. Akhirnya lampion semakin ringan dan terbang. Terbangnya sampai tinggi *pake banget* karena ditiup angin yang masih kenceng di siang bolong. Aha. Lega. Berarti semua lampion pesenan BISA TERBANG. Tinggal nunggu malam aja, biar waktunya lebih afhdol dan lebih enak dilihat.

IMG_7514

Jadi, apa yang membuat lampion itu bisa terbang ? Nah sekarang kita mulai telaah satu-satu :

  • Kertas Badan Lampion : kami coba buat satu replika dari badan lampion dari kertas minyak (yang sebelumnya digunakan). Bentuk badan lampion diserupakan dengan model lampion yang dipesan. Ini akan diterbangkan dengan bahan bakar “rekayasa baru”. Namun, entah kenapa lampion itu tidak terbang
  • Bahan Bakar Rekayasa. Kemudian kami gunakan bahan bakar hasil temuan ini untuk menerbangkan lampion terbang asli (asli dari beli). Daaaan, terbaaaaang. Tuh kan, pasti ada masalah sama kertas lampion buatan kami.

Karena kertas badan lampion yang dipesen itu memang beda dan susah dicari akhirnya ya sudah, kalau mau main ya beli. Tapi, setelah bahan bakarnya habis (pernah diterbangkan sekali), maka bahan bakar hasil rekayasa kami bisa dipasang dan lampion bisa diterbangkan lagi selama badannya tidak rusak.

Misterius ?? Haha, saya hampir lupa cerita masalah ini. Jadi, lampion terbang masih jarang (bahkan belum pernah) dimainkan di Belitung. Orang Tiong Hoa sekalipun jarang saya lihat main ini waktu acara mereka. Nah, waktu kami main ini di kampung, banyak orang yang tidak tahu  “benda-benda berapi yang terbang malam-malam” itu. Banyak orang yang mengira itu PULONG. Katanya, pulong itu sejenis hantu yang cuma kepala sama jeroannya yang terbang melayang-layang di malam hari, hihihi. Sereeem. Karena banyak yang tidak tahu padahal itu lampion terbang kita, orang kampung yang lihat langsung lari terbirit-birit masuk rumah karena takut sama hantu tersebut. Haha. Ih, tapi serem juga sih kalo hantunya “ngeh” dan merasa eksistensinya terancam gara-gara lampion kita. Pas orang kebanyakan udah familiar sama lampion terbang, eh ternyata itu beneran hantunya gimana ? Bisa-bisa dicuekin itu hantu. Sekian ceritanya. Terima kasih

Advertisements

2 comments

  1. Mas Brow. Bahan Bakar Alternatif selain dari “Lampion yang Pesen”, gak ketemu a solusine.?

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s