Ramadhan dan Lebaran 1435 H

Ramadhan 1435 H hampir sepenuhnya dilewati di rumah. Saya mulai puasa tanggal 29 Juni (ikut pemerintah) sementara keluarga di rumah mulai puasa tanggal 28 (ikut Muhammadiyah). Dari awal puasa sampai tanggal 7 Juli saya masih di Bogor, sebenarnya sudah tidak ada yang penting dikerjakan sih di Bogor tapi kalau-kalau ada urusan beasiswa yang masih nyisa makanya saya alokasikan waktu untuk hal itu. Akhirnya tanggal 7 yang ditunggu-tunggu pun datang. Sengaja memang nyari jadwal pulang sebelum tanggal 9 karena memang niatnya mau nyoblos di rumah saja kayak Pileg (Pemilu Legistatif) kemaren. Jadwal penerbangan jam 10 pagi, saya kira-kira kalau berangkat habis sholat subuh bakal pas, nunggu di bandara tidak terlalu lama. Biasanya kalau dari Bogor ke Soekarno Hatta pake Damri dari Baranangsiang itu paling cepat bisa 1 jam lebih dikit. Kalau mau niat istirahat/ tidur di Bis, bisa-bisa belum puas tidur malah udah nyampe di bandara. Nah kalau pas macet jangan ditanya, jangankan tidur, bangun aja nggak enak, badan gemetar karena takut ketinggalan pesawat. Selama bolak-balik Bogor-Belitung kurang lebih 5 tahun, saya punya pengalaman 1 kali ditinggal pesawat, 1 kali ninggalin pesawat (lah, ini gimana ceritanya ??) dan 2 kali hampir ketinggalan. Perjalanan kali ini masuk kategori “hampir ketinggalan”. Jadwal penerbangan saya Senin jam 10, tapi saya malah baru sampai jam 9 di bandara. Nyaris, padahal bawa bagasi gede. Biasanya check-in dengan bagasi akan ditutup 30 menit sebelum penerbangan. Sumpah dah, macet di damri ini bikin nggak enak pikiran banget, duduk nggak enak, mata terus melek ke depan, lihat jalanan yang penuh sesak kendaraan. Oh Indonesia, betapa macetnya. Singkat cerita, akhirnya Alhamdulillah sampai di rumah dengan selamat sekitar pukul 1 siang hari itu juga.

Ramadhan di rumah memang enak, yang biasanya bangun sendiri, nyari makan sahur sendiri sekarang tinggal bangun langsung makan hihi. Kalau masih di Bogor, mengakhirkan makan sahur adalah hal sulit. Kenapa ? Umumnya kami beli sahur di warung dekat Asrama pukul 3. Suatu hari pukul 3 saya datang, hampir semua bahan makanan habis dirampok banyak pesahur lainnya yang datang lebih dulu. Nah setelah itu saya jadi beli sahur kurang dari jam 3, biar bisa milih lauk pauknya. Makanan pun sudah siap sekitar pukul 3 sementara Imsyak baru pukul 4.30. Idealnya memang makan jam 4 agar dapet predikat “mengakhirkan sahur”, tapi perut adalah teman yang tidak bisa diajak kompromi. Tahu aja kalo makanannya udah siap, hehe. Setelah semaleman perut keroncongan dan ia tahu makanan sahaur sudah siap maka godaan untuk makan cepat pun tidak terelakkan. Akhirnya gagallah saya mengakhirkan makan sahur di beberapa hari itu. Di rumah, saya dibangunkan waktu makanan sudah siap sekitar pukul 4 hihi. Jadi, hap langsung ditangkap. Kalau di Bogor masih bisa bangun pagi karena harus berjuang nyari makan sahur sendiri di rumah saya jadi orang yang paling terakhir bangun pas sahur. Hedeuh.

Kami sekeluarga biasanya sholat Isya dan tarawih di Masjid Al-Ihsan Kampung Lalang, tidak jauh dari rumah. Masjid kecil itu biasanya penuh sesak saat Ramadhan. Maklum masjidnya memang kecil. Kalau jamaah sedang banyak-banyaknya udara di dalam juga kadang makin panas. Bagi sebagian, hal tersebut mengganggu konsentrasi sholat, termasuk bagi saya. Ceileh. Nggak nyadar dulu juga kelakuannya gitu. haha. Di kampung kami, selama Ramadhan anak-anak jadi rajin sholat di masjid, walaupun hanya sebagian yang sholat, lainnya sering bikin ribut yang bikin bapak-bapak di shaf depan gusar melihat mereka, haha. Yang rajin dan penurut biasanya ba’da tarawih dan witir mereka langsung tadarrus Al-Quran. Kalau sudah selesai sholat para bapak-bapaknya “naik kereta api” di luar. Naik kereta api itu maksudnya ngerokok dan asapnya ngebul kemana-mana hahaha. Saya nggak tahan jadi ya langsung ngabur ke rumah aja deh.

Waktu memang singkat. Dan Ramadhan pun akan berganti Syawal. Di tempat kami setiap malam ada kue gratisan atau dalam bahasa Belitong disebut Tambul dari para warga yang mendapat giliran untuk “nambul”. Tidak memberatkan kok satu rumah hanya akan kebagian satu kali giliran dalam satu bulan puasa. Nah, kue itu sebenarnya nanti disiapkan untuk anak-anak rajin yang lanjut tadarusan setelah tarawih, Ibu-ibu tangguh yang masih nungguin anaknya ngaji dan bapak-bapaknya yang ngobrol-ngobrol di teras Masjid. Ehmm, suasananya damai tenan. Di malam Takbiran, seperti biasanya warga juga menyumbangkan makanan berat (baca : ketupat, anerka masakan daging, ayam yang “dioper-oper” (baca : dimasak opor), dan kue kering lebaran. Semua hidangan itu disantap setelah acara takbiran dan doa bersama selesai. Malam itu disebut malam Tekeber (diambil dari kata Takbir). Semua orang gembira, semua orang bahagia. Eid Mubarak kan Tiba. Taqabalallahu minna wa minkum.

IMG_7762

IMG_7767

Lebaran memang hari raya yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya oleh seluruh kaum muslimin di Indonesia. Alhamdulillah, tahun ini bisa kembali berlebaran di rumah. Senangnyaa. Tahun ini saya mencermati beberapa hal unik tentang lebaran di Belitung. Bisa jadi sama dengan di daerah lain, tapi tetep bagi saya ini “unik”. Ini dia :

  1. Ketupat – Rendang – Opor – Semur. Mereka adalah 4 sahabat karib yang kembali dipersatukan saat lebaran tiba, khususnya lebaran Eidul Fitri. Masakan itu adalah masakan yang paling populer saat lebaran
  2. Sholat Eid – Sholat Eid adalah sholat paling ramai sepanjang tahun karena kalo biasanya sholat fardhu berjamaah hanya satu atau dua shaf, pas Ramadhan nambah sekitar 4-5 kali lipat, nah pada saat sholat Eid bisa berpuluh kali lipat. Bahkan, kadang baru tahu bahwa kampung ini seramai itu ya. Masjidnya tidak cukup, jadi banyak yang sholat di emperan masjid.
  3. Ziarah Kubur – Entah kenapa banyak yang melakukan ziarah kubur di hari Eid Fitri, mungkin karena khawatir yang sudah di alam lain kesepian.
  4. Kue Lebaran – Hampir di setiap rumah ada kue lebaran dan kebanyakan jenisnya sama. Makin elit status sosial dan ekonomi keluarganya makin banyak kue lebaran yang berjejer di meja ruang tamunya, mungkin 10 tau 20 toples. Biasanya hari awal-awal lebaran kue lebaran nggak diapa-apain, tapi kalo udah kesini-sini yang waktu itu terasa nggak enak jadi enak, haha. Dasar ya, udah kelaperan itu sih namanya.
  5. Tawaran makan berat H+1 dan 2. Kalo berlebaran ke rumah sanak keluarga dan kerabat serta rekan kerja di hari lebaran pertama dan kedua biasanya masih banyak makanan berat yang disuguhkan ke tamu misalnya, ketupat dkk, bakso, tekwan dll. Jadi, siapkan perut yang kosong saat berlebaran hari itu ya
  6. Lebaran Duit/Angpao. Ini tradisi anak-anak jaman sekarang haha, waktu saya masih anak-anak juga gitu dulu. Di musim lebaran ini, banyak bapak-bapak yang menukarkan uangnya jadi uang recehan untuk ngasih anak-anak yang berlebaran ke rumah. Anak-anak ini biasanya datang berombongan, karena malu kalo sendiri. Biasanya mereka belum mau punya walaupun sudah banyak makan kue lebaran di rumah itu. Baru mau pulang kau sudah dapet uang deh. Kalau jaman saya dulu, uang yang biasa dikasih itu besaran 1000 dan 2000, sekarang sudah 5000 dan 10.000. Kenaikan ini mungkin akibat inflasi dan nilai tukar rupiah yang anjlok dengan dolar AS haha.
  7. Minuman khas lebaran : Fanta, Sprite, Coca Cola. Waktu dulu masih kecil, tiga minuman itu yang paling populer. Nggak tahu kalo di daerah lain. Dulu, rasanya belum sah lebaran tanpa ketiga minuman itu. Tapi sekarang banyak yang sudah beralih ke minuman seperti teh botol dan sejenisnya. Beberapa tahun terakhir saya juga udah nggak doyan tuh minuman softdrink-softdrink gitu, apalagi Fanta soalnya bikin bekar merah di pipi berbentuk setengah lingkaran gelas hahaha.
  8. Plesiran. H+3 kesananya umumnya digunakan orang di Belitung untuk pelesiran. kalo dulu banter-banter ke pantai-pantai lah di daerah baratnya. Kalo sekarang udah banyak yang menawarkan wisata ke pulau sebrang, pulau-pulau kecil di sekitar Belitung, salah satu yang terkenal adalah Pulau Lengkuas.

Mungkin itu saja cerita Ramadhan dan Lebaran kali ini. Indahnya kehangatan bersama keluarga (walaupun belum berkeluarga). Mohon maaf lahir batin atas kesalahan saya kepada sahabat sekalian, Semoga Allah perkenankan kembali berjumpa dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan yang lebih baik.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s