Mengurus Visa Jepang

wpid-dsc_8891.jpg

Issued. Yeay. Japan, I’m comingg

Entah ada angin apa tahu-tahu ada urusan yang membuat saya untuk mengurus visa kunjungan ke Jepang. Walaupun sebelumnya di paspor sudah tertempel visa China, namun saya belum pernah sama sekali mengurus visa sendiri. Ya maklumlah, waktu ke China sebelumnya diurus oleh Pihak Kemenpora yang baik hati. Untuk visa Jepang kali ini, selain harus ngurus buat saya sendiri saya bantu ngurus buat empat orang lainnya. Informasi tentang cara pengajuan visa ya pasti dari website kedutaan besar Jepang. Namun, semakin dibaca jadi malah banyak pertanyaan sendiri yang bingung mau ditanya ke siapa, salah satunya misalnya : Apakah boleh mengurus visa untuk orang lain ? Butuh dokumen apa saja agar bisa mengurus visa orang lain ? Apakah mengajukan visa wisata atau bisnis ? Apa bedanya ? dan sekian pertanyaan lainnya. Sebelumnya saya sudah pernah masuk Kedutaan Jepang untuk urusan beasiswa Monbukagakusho April 2014 kemarin, kurang lebih saya tahu bahwa disekitar itu akan susah menemukan tempat print, fotokopi, cetak foto dsb. Oleh karena itu, niatnya memang ingin mempersiapkan semuanya seOKE mungkin agar tidak boros waktu bolak-balik perbaikan dokumen nanti. Jadi bisa langsung masuk dan lolos. Yaa.. namanya juga harapan (dan doa).

Saya keluar dari Asrama di Bogor sekitar pukul 06.00, Alhamdulillah tidak kena macet parah waktu di angkot menuju stasiun Bogor. Dari stasiun langsung beli tiket ke St. Sudirman. Dari Sudirman sebenarnya lumayan dekat kalo mau jalan ke Kedutaan, kalo angkutan umum yang lewat kedubes ada juga (cuma saya nggak tahu naiknya dari mana). Saya langsung stop taxi saja, waktu dulu pernah nyoba cuma bayar 8000 doank dan waktu itu ternyata masih sama segitu. Sesampainya di depan kedubes Jepang, saya nggak langsung masuk karena dua orang teman masih belum datang. 15 menit kemudian, teman saya belum datang dan saya pun masuk sendiri ke lobi visa karena sebenarnya lagi kebelet juga. Agak asing bagi saya pas masuk, karena memang pertama kali. Lihat orang yang bawa setumpuk dokumen plus buku hijau kecil (paspor hijau), sepertinya itu travel agent yang ngurus banyak aplikasi visa. Wow, apa nggak rempong tuh ?. Melihat orang banyak duduk-duduk di lobi, saya pun ikut duduk. Eh, ternyata orang lain mah sudah ngambil nomor antrean visa, baru duduk. Jadi saya ngambil nomor antrean baru duduk lagi. Saya lupa nomor berapa yang saya ambil, saking seringnya ngambil nomor antrian sehari itu.

wpid-img_20141013_131337.jpg

Bukti penyerahan dokumen visa

Waktu saya masih nunggu giliran dipanggil, Nah dua orang teman saya datang (Pak Suryandaru dan Pak Amin). Karena Pak Amin adalah tamu bagi saya, maka Beliau saya prioritaskan duluan dengan nomor antrian saya. Pas no. saya dipanggil Pak Amin maju dan bawa berkas untuk 3 orang (atasannya). Karena Pak Amin mengurus paspor untuk orang lain maka diminta surat : 1) Surat ket. Bekerja di kantor tersebut, 2) fotokopi KTP. Jgerrr, fotokopi KTP yang mengurus belum disiapkan, akhirnya berkas ditolak. Selain itu, ternyata perlu dokumen Asli untuk semua berkas tanpa terkecuali, walaupun satu surat keterangan bisa digunakan oleh 3 orang, tapi tidak boleh pakai fotokopian, harus yang asli. Nah, untuk berkas 1 dan 2 itu saja masalahnya. Berkas 3 ditolak ‘mentah-mentah’ karena KTP pemohon dari luar wilayah kerja kedutaan Jepang di DKI Jakarta. Maka harus mengurus di daerah yang telah ditentukan.

Kemaren sewaktu ngurus visa Jepang, eh kebetulan ada artis Fedi Nuril dan beberapa orang (mungkin manajernya). Mereka datang agak siang. Eh tiba-tiba salah seorang (yang mungkin manajernya) nanya saya, gimana kalau mau nguru visa Jepang. Saya langsung suruh ngambil nomor antrian dulu trus nunggu dipanggil. Mungkin doi juga lagi mau ke Jepang hoho. Eh, tapi kan katanya ke Jepang mau bebas visa yak, ya mudah-mudahan aja sih. Lebih mudah dan nggak ribet kalau kayak gitu.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengurus visa kunjungan ke Jepang :

  1. Perhatikan benar-benar dokumen-dokumen yang disyaratkan, silakan cek di Web untuk lebih lengkapnya, Visa Kunjungan Bisnis dan Visa kunjungan wisata berbeda di beberapa dokumen
  2. Semua dokumen harus asli, kecuali yang diminta adalah fotokopinya, misalnya KTP.
  3. Perhatikan wilayah yurisdiksi pengurusan visa karena ketika petugas Visa melihat KTP pemohon tidak sesuai dengan wilayah kerja yang dilayani konjen atau kedutaannya, berkas Anda akan ditolak mentah-mentah
  4. Jangan mengurus visa saat mepet-mepet berangkat, karena ada kemungkinan ditolak. Paling telat banget, uruslah visa seminggu sebelum keberangkatan ke Jepang (yang dijadwalkan)
  5. Mengenai Hotel, cukup cantumkan namanya aja, tidak perlu sampai dibook dan sebagainya
  6. Untuk urusan bisnis, pastikan surat dari pengundang di Jepang dapat diterima oleh pihak kedubes/konjen jepang misalnya punya kop, cap dsb
  7. Jika Anda menguruskan orang lain, yaitu atasan Anda di kantor, maka cukup perlu surat tugas dan fotokopo KTP, surat kuasa malah tidak perlu
  8. Nah, ada kasus bahwa masa berlaku paspor kurang dari 6 bulan dan kemudian mengajukan visa. Sebaiknya diperpanjang dulu agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.
  9. Datanglah sepagi mungkin, karena makin siang pemohon visa makin ramai. Waktu masing-masing orang ketika di loket pengajuan Visa bisa berbeda-beda, bisa lama bisa bentar.
  10. Simpan baik-baik bukti penyerahan dokumen yang dikasih setelah menyerahkan berkas di loket visa. Nanti itu akan digunakan untuk mengambil visa

Pengambilan Visa

  1. Waktu pengambilan visa 13.30 sampai 15.00, tapi jika lewat dari itu masih dilayani kok, kemaren kita malah jadi orang terakhir yang ada di ruangan itu karena sempat ada beberapa hal yang dibicarakan sama petugasnya
  2. Sipakan Uang ya jangan lupa
Advertisements

2 comments

  1. Bisa dijelaskan detail pada bagian ini? “Perhatikan wilayah yurisdiksi pengurusan visa karena ketika petugas Visa melihat KTP pemohon tidak sesuai dengan wilayah kerja yang dilayani konjen atau kedutaannya, berkas Anda akan ditolak mentah-mentah”, emang dibagi berapa bagian kerja? makasih pak

  2. Wah baca artikel ini jadi ingat petualangan-petualanganku keluar masuk kedubes Jepang 12 tahun lalu pas masih SMA. Dulu dari rumah naik angkot Rp600 ke stasiun, tiket kereta jurusan Gondangdia Rp3000, terus dari Gondangdia naik bajaj sampai Sarinah Rp4000. Selanjutnya jalan kaki 100 meter ke Kedubes. Ongkos PP kira2 Rp15.200. Haha, murah kan? Sampai dibuat jadwal sebulan sekali minimal, pas kebetulan di sekolah ada libur atau sengaja izin tidak masuk sekolah.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s