Anak Belitung pergi ke Bitung (1)

image

Ini waktu jalan pagi-pagi abis dari Masjid ke Pasar Ikan di Pelabuhan Perikanan Samudra Bitung

Belitung dan Bitung memang beda tipis, tapi letaknya lumayan jauh. Kalau Belitung cuma 50 menit dari Soetta, kalau Bitung, kira-kira 4,5 jam dengan udara + 1,5 jam lewat darat. Karena kami menggunakan pesawat terbang, jadi mendarat di Manado dulu, bandara Sam Ratulangi. Manado adalah tempat pertama saya menginjakkan kaki di wilayah Indonesia timur. Ada perbedaan zona waktu 1 jam dari bagian barat. Saya kemudian menyadari betapa Indonesia ini luas bangeettt. Kalau kata orang di eropa naik kereta beberapa jam sudah bisa beda negara, di Indonesia naik pesawat berjam-jam masih disitu-situ aja. Hehe. Perjalanan ke Manado dari Jakarta memakan waktu sekitar 4 jam lebih. Kami berangkat jam 5 pagi WIB dan sampai di Bandara Sam Ratulangi jam 9.30 WITA. Perjalanan yang membosankan itu kembali saya habiskan dengan duduk manis di kursi sebelah pintu darurat (30 B) tanpa sekalipun berdiri. Ya kerjaannya cuma tidur, bangun, dengerin musik, tertidur lagi, bangun lagi, perut keroncongan, minta suplai makanan dari temen, kembali tidur, bangun dan akhirnya sampai. Mirip waktu perjalanan ke Icheon kemarin, duduuuk terus di kursi. Hahaha. Abisnya mager (malas gerak) banget.

Setelah sampai dan ngambil bagasi, kita ternyata dapat jemputan dari rekan PT Perikanan Nusantara Cab. Bitung. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil menuju Manado sebentar, kemudian ke Bitung, sekitar 1,5 jam dari Manado. Selama perjalanan dari bandara ke kota Manado, hingga dari Manado ke Bitung, gereja-gereja beraneka ragam berjejer di sepanjang jalan. Mungkin sama halnya dengan masjid yang banyak di temui di daerah yang populasi muslimnya banyak. Awalnya saya berasumsi sekitar 80-90% disini adalah Nasrasi. Eh, ternyata hal tersebut salah. Penjelasannya ada di bawah hehe.

image

Gereja GMIM di Lapangan, dekat Bandara Sam Ratulangi

Minggu sore, setelah pekerjaan di Bitung selesai. Jam 3 sore kami berangkat dari Bitung kami menuju Manado. Perjalanan sekitar 1,5 jam dengan mobil, akses jalan yang bagus, namun ada beberapa titik yang rusak. Kali ini kebetulan Pak Indra, salah satu tim dulu lahir dan pernah tinggal di Manado, sampai kelas 3 SD. Jadi, waktu ada kesempatan ke Manado, Beliau langsung ngajak mengunjungi SD dan rumahnya dulu.

Kalau soal nyari makanan yang aman (baca: halal) memang perlu sedikit perjuangan. Di beberapa daerah, misalnya sepanjang jalan protokol Manado-Bitung, memang didominasi kaum Nasrani, jadi memang agak susah menemukan warung makan yang halal. Setelah bertemu Mas Risno, orang asli Makassar namun sudah dari lahir di Bitung, barulah sedikit tahu daerah mana yang bisa dijadikan pusat kuliner bagi orang muslim, di belakang BNI Bitung dan di pusat kuliner Pasar tua, selain itu di Kanopi juga bisa.

Sambil makan cotto makassar di daerah Kanopi (Istilah Mas Risno), kami ngobrol lumayan lama. Ternyata kebetulan Beliau juga aktif di pramuka dan pernah ikut di beberapa raimuna nasional. Salah satu pertanyaan kami, seberapa banyak persentase muslim disini ? Katanya hampir sama, setengah-setengah, tapi memang terkonsentrasi tidak di sepanjang jalan protokol, tapi di beberapa daerah tertentu. Kalau untuk konflik SARA sendiri katanya sampai saat ini tidak pernah terjadi. Tingkat toleransi beragamanya sangat tinggi. Jika Idul Fitri, teman-teman Nasrani biasanya ikut mengamankan Masjid, begitu pun sebaliknya. Jika nuansa Natal, maka dari mulai toko CD sampai nyanyian di angkot bernuansa natal dan jika Idul Fitri juga demikian. Sepertinya sekian dulu cerita di Bitung.

Advertisements

4 comments

  1. Wah udah menginjakkan kaki di Manado aja nih si Fadhil…
    Enak ya dil bisa kerja sambil jalan-jalan, semoga pasca mahasiswa nanti bisa juga merasakan hal yg sama kaya dirimu dil…

  2. Hehe, kebetulan ada urusan kerjaan aja Bang Jefri. Masih kalah lah klo dibandingkan traveler sejati mcem Jefri. Semoga segera lulus pendidikan profesinya.

  3. Wah keren banget ya bang bisa punya pekerjaan yang mengajak kita travelling menjejali pelosok-pelosok Indonesia. Tulisannya keren, kisah travellingnya juga keren.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s