Melaut ke Utara Sulawesi Utara

Akhir-akhir ini entah kenapa semangat untuk nulis blog makin nggak karu-karuan, malesnya minta ampun. Padahal niatnya setiap bulan minimal ada 4 tulisan yang rutin publish tiap minggunya. Apa daya permirsa, beginilah adanya. Mohon maaf jika ada yang berkunjung dan tulisannya masih yang itu-itu aja. Oke, oke. Kali ini saya akan cerita sedikit pengalaman menyusuri laut Utara Sulawesi Utara bersama pajeko Maranatha 19 GT.

IMG_20141213_142212

Pemandangan saat berangkat, keluar dari pelabuhan Bitung. Kereen Parah

Sekitar pukul 3 sore WITA hari Sabtu, 13 Desember 2014, saya dan ABK kapal mulai mengemasi barang-barang di atas kapal. Sebentar lagi akan lepas landas, eh, maksudnya akan berangkat. Tujuan kami di sekitar kepulauan Sangihe (atau biasa disebut Sanger), wilayah utara provinsi Sulawesi utara dan juga Indonesia. Di trip ini kalau ditotal semuanya semua orang yang ada di kapal itu ada 25 orang, dipimpin oleh Capt. Yoksan. Untuk saya pribadi, ini pengalaman pertama naik kapal jaring ikan. Sebelumnya memang pernah, tapi cuma kapal kecil yang muat beberapa orang dan melaut tidak jauh-jauh dari muara sungai atau naik kapal untuk nyebrang dari Pulau Belitung ke Pulau Lengkuas. Pastinya dulu tidak pernah ada di kapal sampai satu hari satu malam, paling hanya beberapa jam. Nah, kalau yang kali ini, Alhamdulillah sesuatu sekali ya, 6 hari luntang-lantung di laut. Maaf agak melebar, jadi balik ke cerita awal perjalanan lagi. Lokasi tujuan kira-kira baru akan sampai hari Minggu siang, besoknya. Lokasinya bukan pulau, tapi rumpon ikan di tengah laut.

Saya ikut kapal ini sebenarnya membawa salah satu misi mulia, hehe. Kami, Nano Center Indonesia  dan PT. Perikanan Nusantara sedang melakukan penerapan teknologi untuk mempertahankan kesegaran dan mutu ikan. Setelah dikonfirmasi di darat, teknologi ini akan dikonfirmasi lebih lanjut di lapangan langsung, salah satunya di kapal penangkap dan penampung. Itulah sebabnya saya ikut kapal ini, hehe.

IMG_20141214_122445

Darmaga keren di Pulau Lipang, Kab. Sangihe

Dari sejak berangkat hingga hari minggu sore, alhamdulillah saya tidak mabok laut. Malu juga euy kalau pas naik kapal terus mabok laut, dilihatin ABK sekapal hahaha. Tapi ya, karena ikut kapal jaring jadi setiap sore (sebelum matahari tenggelam), kapal yang awalnya bersandar di darmaga pulau Lipang menuju rumpon yang adanya di tengah laut. Di tengah laut kadang gelombang nggak bersahabat, kapal jadi miring sana miring sini. Ini yang bikin pertahanan tubuh roboh. Jadi pas malem-malem, karena harus instalasi alat di palka kapal, saya harus bolak balik ke depan dan belakang saat kondisi kapal lagi oleng. Satu kali masih oke, dua kali bolak-balik mulai puyeng, selanjutnya nggak kuat. Akhirnya muntah-muntah beberapa kali. Oh, rasanya nggak enak banget. Malam itu, sungguh tak terlupakan. Bukan saja karena malam harinya itu muntah tapi menjelang larut pun ternyata susah tidur. Kapal kecil ini miring ke kanan, kemudian miring ke kiri membuat kepala sering kejedot kayu. Apalagi saat ombak tambah besar, tambah tidak bisa tidur pulalah saya. Tapi, seberapapun beratnya malam itu, pagi tetap datang dan kurang beruntungnya kondisi ikan tidak bagus jadi jaring tidak jadi dilepas. Kami kembali merapat ke darmaga Pulau Lipang.

IMG_20141216_142949

Sama anak-anak Pulau Lipang di Kamar Kemudi

IMG_20141217_152125

Main ke Sekolah SD Inpres P. Lipang

Sesampainya di darmaga, untuk menghilangkan kejemuan di kapal, saya jalan-jalan ke desa. Saya pun kenalan dengan anak-anak sana, ini dia mereka, namanya Abrari, Defitra dan Eka. Mereka tampak akrab sekali dengan suasana darmaga dan pantai. Saya ngobrol-ngobrol ala anak kecil, dan nanya sekolah mereka. Mereka bilang ada di bukit sana, ada SD dan SMP. “Ada Pengajar Muda juga lho kak. Namanya ….. (saya lupa) ngajar kelasku, kelas 5” kata Eka. Wah, jempol untuk relawan muda IM yang berdedikasi untuk mengajar di pulau ini. Kata anak-anak itu, itu sudah pengajar yang kedua. Nanti akan digantikan satu orang lagi lalu kemudian programnya selesai di Lipang ini.

Setelah selesai bercakap-cakap di Darmaga Lipang yang megah ini, saya minta diajak jalan-jalan sambil beli cookies di warung desa. Setelah dari warung, sekalian saja saya ke sekolahnya. Ada rasa penasaran bagaimana kondisi sekolah di Pulau seperti ini. Dari gedung fisik sekolah nampak lumayan layak, Alhamdulillah cukup senang melihatnya. Di Pulau ini, sekolah formal hanya ada sampai SMP, jika ingin melanjutkan ke SMA maka harus ke Pulau sebelah, ke Tahuna. Kalau ingin kuliah, mereka biasanya ke Manado dan lainnya. Dari nada bicaranya, anak-anak ini nampak masih punya semangat yang tinggi untuk sekolah, walaupun Eka merupakan anak yatim piatu yang sekarang tinggal bersama neneknya. Hebatt !!. Oh ya, di Pulau ini mayoritas penduduknya adalah muslim, jadi impian mereka adalah ingin mempunyai masjid yang cukup besar sehingga bisa memuat banyak orang untuk ibadah. Semoga Masjidnya lekas terbangun. Sudah dari setahun yang lalu dan kondisinya masih seperti ini.

Beberapa hari kami bersandar di Pulau ini sampai Capt. memutuskan untuk pulang ke Bitung, tanpa membawa satu pun hasil tangkapan. Pertimbangannya adalah kondisi es di palka yang sudah susut dan bahan bakar yang hanya cukup untuk jalan pulang saja. Rencana nanti, sebelum masuk Bitung, kapal ini akan mengontak kapal lampu agar bisa masang jaring. Ya, minimal dapat hasil untuk ikan makan ABK daripada tidak sama sekali. Kami bertolak dari Darmaga Lipang kira-kira pukul 1 siang, singgah sebentar ke Tahuna untuk mengantar penduduk yang ingin menyebrang dari Lipang ke Tahuna Barulah kemudian kapal menuju Bitung. Hari itu tertanggal 18 Desember 2014, hari Kamis, kami bertolak kembali ke Bitung.

IMG_20141219_054225

Ikan Malalugis (Layang) hasil menjaring

IMG_20141219_060426

Kalau ini namanya ikan tude

Sebelum masuk pelabuhan Bitung, sekitar pukul 4 pagi tanggal 19 Desember, kapal kami merapat ke kapal lampu dan akhirnya jaring pun turun. Saya berkesempatan ikut menarik jaring bersama ABK lainnya, menyaksikan ikan yang masuk ke jaring, sambil nanya ke Bapak-bapak sebelah “Pak, ini ikan apa ya ?” hehe. Baru saya tahu sebutan ikan daerah sana, ada Malalugis (ikan layang), Deho, Tude, Maesang dan lainnya. Hasil tangkapan subuh itu tidak banyak, hanya sekitar 6 keranjang, 300 kg. Karena memakai jasa kapal lampu, maka 30% hasil diberikan ke mereka. Dari situ saya baru sadar kenapa, kapal sejenis pajeko ini butuh ABK yang banyak, penangkapan dengan jaring seperti ini memang butuh banyak tenaga, untuk menarik jaring dsb. Hari sudah mulai pagi, dan jaring sudha di atas kapal, dan dari haluan sudah mulai terlihat pelabuhan Bitung. Petualangan 6 hari ke utara Sulawesi Utara selesai. Pengalaman yang menegangkan sekaligus “menyenangkan”.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s