Beasiswa LPDP : Menentukan Kampus Tujuan

Yeaaayyy. Alhamdulillah. Sujud Syukur setelah melihat nama di deretan calon penerima beasiswa LPDP yang lolos seleksi wawancara. Momen itu terjadi hampir setahun silam (Juni 2014) dan sampai saat ini masih belum berangkat juga. Barangkali banyak yang aneh, hehe. Bilangnya jadi kuliah ke Todai tapi belum berangkat-berangkat juga dari tahun kemaren. Baiklah, mungkin di tulisan kali ini saya mau cerita hal yang sebenarnya terjadi.

logo-uot

Todai ??
. Saya pun kaget sebenarnya kenapa akhirnya bisa memilih universitas ini. Jadi awalnya saya sempat galau sebelum submit aplikasi ke sistem LPDP. Mau ngambil jurusan apa dan di universitas mana ?. Saya sempat ganti beberapa kali universitas dan jurusan di form pendaftaran LPDP, diantaranya (yang saya inget) : Kyoto University, Manchester University, Edinburgh University, dll hingga akhirnya The Univ. of Tokto (todai). Modal nekat saja masukin todai dan terus di submit. Saat itu juga memang batas submit berkas sudah dekat, jadi memang terkesan agak gegebah dan tanpa mikir panjang juga milih hal tersebut.

Manchester_University_Logo_(2)Impian singkat ke Manchester University. Waktu berlanjut terus. Setelah diumumkan lolos tahap interview, saya mulai bergerilya mencari info universitas yang masih buka pendaftaran untuk masternya. Coba cari sana sini, dan akhirnya menyerah karena memang rata-rata untuk intake yang 2014 akhir, semua pendaftarannya sudah ditutup. Terlebih saat itu memang belum punya sertifikat TOEFL iBT atau IELTS untuk daftar kampus. Ya mau bagaimana lagi, berarti harus mengikhlaskan untuk tahun depan saja. Ritme nyari kampus pun mulai agak santai jadinya. Paling kerjaan cuma buka web kampus-kampus, kalau merasa tertarik terus buka akun untuk pendaftaran di web-nya (misalnya : Manchester Univ. dan Edinburgh, Oxford pun sama). Jadi, saya pernah punya akun pendaftaran disitu hehe. Walaupun di berkas aplikasi LPDP tertulis Todai, namun dulu rasanya kok “sreg” dengan Manchester Univ. ya. Nah, sempet tuh ngebet banget pengen kesana juga. Ini salah satu pengaruhnya dari anak PK LPDP 22 yang “sekampung” pergi ke Inggris, terus mereka dengan enaknya ngomongin EuroTrip bareng kalo pas liburan nanti. Iman saya kan juga goyah kalo urusan begituan, jalan-jalan hahahaha. Nah, kalo mau kesana berarti harus kudu punya IELTS yang cukup nih. Fokus kembali beralih ke IELTS. Sembari mempersiapkan IELTS ceritanya (karena nggak mau buang-buang duit buat tes kalo nggak lulus), ada tawaran lain yang datang.

university-of-florida-3d-printingFlorida University, “tawaran yang ditolak”. Dosen Pembimbing S1 saya menawarkan ke Florida karena memang Beliau sedang ada kerja sama riset dengan salah satu Prof. disana. Kebetulan lagi, di bidang riset saya S1 kemarin, senyawa bioaktif gitu. Tapi, setelah saya pertimbangkan, kalo mau masuk univ.nya memang tidak ada pilihan lain kecuali lulus tes. Daaaan, seperti yang banyak diketahui ujian masuk ke kampus Amerika itu agak lebay, pake iBT lah, GRE lah, GMAT lah dll. Terlebih jurusannya adalah Kimia Medisinal. Ampuuuunnn, nggak kuat euy. Jadi, mohon maaf saya katakan ke Dosen saya, “Saya dengan berat hati menolak untuk ke sana. Terima kasih atas bantuan dan kebaikan Bapak”.

Karena biaya IELTS yang lumayan mahal, saya jadi menunda-nunda untuk tes, karena memang belum siap juga. Nah, berniat memanfaatkan waktu kosong itu, saya mengajukan untuk magang di Nano Center Indonesia yang kebetulan lagi ada pembukaan magang. Disitulah, orientasi kampus tujuan saya kembali berubah. Kembali lagi ke Jepang hehehe. Salah satu alasannya adalah karena ada beberapa peluang yang berniat digarap selagi di Jepang nanti. Akhirnya IELTS pun nggak perlu-perlu amat jadi nggak jadi. Uang di kantong (orang tua) AMAN. hahaha.

wpid-kyushu-u_logo22.jpg

Kyo-dai (Kyoto University) atau Kyu-dai (Kyushu University). Balik ke Jepang lagi deh hehe. Awalnya saya tertarik di Kyoto untuk mengambil Master di bid. Pertanian karena memang cukup bagus, dan yang paling penting ada program Internasionalnya (berbahasa Inggris). Soalnya LPDP tidak akan menyediakan waktu untuk kursus bahasa (jika kuliahnya nanti dalam bahasa Jepang), inilah bedanya dengan Monbusho (Monbukagakusho). Tidak ada masa Research Student di beasiswa LPDP. Pokoknya berangkat dan langsung kuliah, waktu maksimal 2 tahun teng teng teng. Aduh, tidak jelas juga kenapa minat ke Kyo-dai cuma kemudian malah pindah ke lain hati lagi Kyu-dai. Salah satunya mungkin karena didoktrin, di Fukuoka itu enak, nggak terlalu dingin, dan dekat dengan mitra kita hahaha. Iya, mungkin itu alasannya.

Akhirnya saya mulai cari-cari program Master di Kyu-dai. Daaan, ternyata menemukan yang dicari, semuanya sempurna. Programnya dalam Bahasa Inggris, Pendaftarannya nggak ribet, pake TOEIC pun bisa (hemat uang, daripada buat IELTS), Pilihan jurusannya juga banyak, dan saya pernah ke sana hehe. Dan ternyata memang Kyudai-lah jodohnya. Saya masukkan aplikasi ke Sensei, tak lama kemudian Surat Sakti pun keluar (LoA). Yang sudah lama dinantikan, akhirnya datang juga.

wpid-img_20150506_115544.jpg

NB : Cerita detil tentang aplikasi di Kyushu University dan mengontak Sensei, akan diceritakan di tulisan terpisah. Terima Kasih.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s