Author: mfadhillah

Saya Indonesia, Saya makan sayur dan buah cukup

Di tengah suasana politik yang menghangat ini, saya sedikit membicarakan isu lain yang juga tidak kalah menarik kita beri perhatian. Untuk itu tulisan ini diberi judul “Saya Indonesia, Saya makan sayur dan buah cukup”, sedikit dari modifikasi slogan yang sempat ngtren beberapa waktu lalu. Jika melihat data yang dipublikasi dari berbagai lembaga serta trennya, Indonesia termasuk ke dalam negara dengan konsumsi sayur dan buah rendah. Beberapa data misalnya yang bisa kita jadikan acuan yaitu data survei nasional BPS tahun 2016 yang menyebutkan rata-rata konsumsi sayur dan buah nasional hanya 173 g saja. Hal ini jauh lebih kecil dari angka kecukupan gizi yang direkomendasikan yaitu 400 g perkapita perhari oleh WHO dan juga Kementerian Kesehatan Indonesia. Hal yang mencengangkan lainnya adalah angka konsumsi tersebut mengalami tren penurunan sejak 5 tahun terakhir yaitu 3,5 persen untuk buah dan 5,3 persen untuk sayur.

Data konsumsi buah dan sayur per kapita sehari tingkat Provinsi di Indonesia (BPS 2016)

Melihat angka ini tentu saya terlebih dahulu berkaca dengan kondisi diri sendiri. Saya lahir dan besar di kultur masyarakat yang sehari-harinya banyak mengkonsumsi protein hewani terutama hasil laut. Di daerah saya, Belitung, bercocok tanam sayur dan buah bukan aktivitas yang umum, kecuali berkebun lada. Oleh sebab itu semasa kecil saya sangat suka sekali ikan dan berbagai jenis tangkapan laut lain sebagai lauk bersantap. Kalau orang Indonesia belum makan tanpa nasi, maka dulu seperti belum makan kalau belum ada ikan, pastinya juga nasi. Konsumsi sayur hanya pelengkap, tidak selalu harus ada. Pola makan seperti ini akhirnya melekat dan terbawa sampai saat ini. Ketika saya akhirnya tahu tentang pentingnya sayur dan buah, saya mulai dengan sadar mencari cara agar bisa minimal mulai merutinkan konsumsi sayur dan buah setiap harinya. Berikut beberapa langkah yang saya lakukan untuk memperbaiki konsumsi buah dan sayur saya sehari-hari :
1. Mulailah dengan alasan yang kuat, Mengapa mengkonsumsi sayur dan buah itu penting ? Jika tidak dilakukan dengan pemahaman yang baik, maka mungkin semangat untuk konsisten menerapkan langkah selanjutnya akan cepat surut
2. Temukan menu berbasis sayur yang kita sukai atau sedikit disukai. Usahakan untuk menyelipkannya di antara menu harian. Misalnya seperti saya, di antara menu sayuran lain saya paling suka pecel bukan pecel lele. Nah, saat itulah saya bisa banyak makan sayur dibanding makan dengan menu lainnya.
3. Buat makanan olahan berbasis sayur. Mungkin setelah diolah dengan berbagai citabrasa baru kita bisa makan sayur lebih banyak, menu kreatif bisa jadi solusinya. Saat ini banyak dikembangkan menu berbasis vegetarian namun tampilannya layaknya menu normal lainnya, bisa berbentuk pizza, kebab, mie dan lainnya. Untuk buah biasanya jika bosan dikonsumsi langsung bisa dikreasikan dengan membuat jus atau smoothies.
4. Setelah kita menemukan beberapa menu yang sudah pas di lidah, masukkan ke menu mingguan dengan variasi yang diinginkan. Mulailah untuk jadi kebiasaan.

Nah mungkin langsung muncul pertanyaan, apa mungkin kita hidup tanpa makan sayur atau makan daging ? Mereka yang hidup tanpa makan daging atau pangan hewani (vegetarian) sebenarnya bisa. Pun sebaliknya. Ada suatu suku Inuit di Kanada bagian utara yang hidup di daerah salju yang sangat sulit untuk bercocok tanam seperti sayur-sayuran, sehingga makanan utamanya adalah pangan hewani. Ini soal keseimbangan dan nutrisi tertentu yang kita peroleh dari makanan. Vegan misalnya cendrung rentan kekurangan vitamin B12, zat besi, zinc, dan kalsium. Sementara itu, tanpa diet sayur, kita juga akan kekurangan asupan serat dan karbohidrat. Nah, dengan memiliki sumber makanan beragam, maka nutrisi kita akan mudah terpenuhi. Siap untuk makan sayur dan buah cukup ?!!

#gobion2018#cappanahmerah#generasimakansayurdanbuah

Tipe-tipe Sensei di Jepang

Dua bulan setelah kembali dari masa-masa hidup di negeri ‘mimpi’ dan kini saya sedang menikmati momen-momen bersama keluarga dan istri di kampung halaman. Sesekali merenung, banyak kali menghayal, haha. Biar hujan emas di negeri orang, mandi hujan air di kampung sendiri jauh lebih nikmat. Tsah. Oke, para pembaca, itu sedikit intro-nya.

Mungkin akan ada beberapa serial tulisan yang belum saya selesaikan tentang Jepang dan cerita-ceritanya, termasuknya novel yang niatnya ingin diselesaikan sebelum beres Master, ternyata belum juga. Di tulisan ini, saya akan berbagi sedikit cerita mengenai Sensei atau Pak Guru atau juga Professor di kampus Jepang. Kenapa penting ya ? Biar nanti pas ke Jepang nggak kaget kenapa suasana di lab horor banget tak seindah yang dibayangkan sebelum berangkat dulu ? atau tak seindah foto-foto kakak-kakak di Instagram itu lho ?.

Siapakah Sensei ? Umumnya mahasiswa di Jepang akan menyebut pembimbing/ supervisor mereka selama studi. Di lab biasanya ada Sensei besar (daisensei), sensei associate, dan sensei assitant (yang belum boleh membimbing mahasiswa). Di Lab saya dulu Daisensei bisa membimbing sampe mungkin 20 orang mahasiswa, sarjana, master, dan doktor. Keadaan di lab lain mungkin berbeda-beda. Nah, untuk hal tentang tipikal Sensei bisa dibilang juga sangat variatif. Berikut saya sarikan dari beberapa cerita dan pengalaman langsung saya dan kawan-kawan sewaktu menempuh studi di Kyushu University dulu.

  • Sensei Santai. Ini tipe sensei saya banget sih. Kami di lab diwajibkan hadir setiap minggu hari senin pagi, jadwalnya asa-kai (pertemuan pagi) atau kenkyu-kai (pertemuan penelitian), lalu jadwal diskusi wajib untuk grup riset hanya sebulan sekali. Namun, jika ada masalah atau ingin konsultasi di luar itu bisa langsung ke ruangan Beliau. Tidak hanya ke mahasiswa sarjana dan master aja lho, doktor juga gitu, walaupun doktor memang syarat lulusnya lebih sulit dibanding sarjana dan master. Tapi, untuk hal-hal yang menjadi prasyarat studi, sensei saya care banget, kadang-kadang langsung datengin saya pas di lab atau email. Hmm, saya jadi ngerasa labnya terlalu santai dan nggak ada tantangan haha. gaya.
  • Sensei baik hati dan pengertian. Ada sensei yang seperti Bapak bagi mahasiswanya, bahkan sampai kadang ngundang kita dan keluarga di rumahnya. Mendukung kegiatan kita, bahkan nanyain soal keuangan apa masih aman atau nggak bulan ini. Kawan saya ada yang diantar sensei belanja di hari pertama sampai di Jepang. Mereka ngerti bahwa kita jauh dari kampung halaman dengan semua tradisi dan budaya yang beda, khawatir kita punya masalah beradaptasi di Jepang. Sebagai mahasiswa yang mayoritas muslim dari Indonesia biasanya akan berhadapan dengan isu soal agama disana. Sebagian sensei yang sudah punya wawasan yang luas bahkan kerjasama dengan universitas dari negara Islam mereka umumnya sudah paham. Bahkan ada Sensei yang bela-belain cari informasi tentang Islam sebelum si mahasiswa muslim pertama nyampe di labnya. Biar dia tahu apa yang boleh dan nggak. So sweet nggak tuh.
  • Sensei yang terlalu ‘rajin’. Rajin disini maksudnya ya rajin haha. Misalnya, ngadain pertemuan lab tiap hari jam 9 teng teng, terus diskusi dengan mahasiswanya setiap minggu, keluar dari lab dikit ditanyain mau kemana. Mau pulang kampung dibatesin atau malah dilarang karena alasan macem-macem. Di bawah bimbingan sensei kayak gini, S2 pun berasa jadi S3 lho. Umumnya yang S2 itu merem aja lulus di Jepang, bisa melek aja susah lulus haha. Tapi jarang banget kasus S2 molor waktu studinya di Jepang selama ngikutin saran-saran sensei.
  • Sensei ala Bos kantoran. Saya pun kadang nggak nyangka ada sensei yang ngejadiin mahasiswanya kayak laborannya dia. Disuruh handle banyak proyekannya. Hasil dikit dicemberutin, email nggak dibalas ngambekan, nge-email larut malem dan pagi buta. Kadang suka nggak ngertiin kalo mahasiswanya juga masih manusia. Ada curhatan malah yang bilang ke saya “Dulu pas saya ketemu di Indonesia kayaknya ini Sensei baik banget lho, nawarin saya buat PhD di labnya”. Dan sekarang semuanya, ya sudahlah”
  • Sensei PHP. literally senseinya emang seorang pemberi harapan palsu. Kasus telat masa studi di Jepang biasanya hanya dialami oleh mahasiswa Doktoral aja, kenapa ? karena syarat untuk lulus ketat, bisa 2 paper (baca: artikel ilmiah), dan ikut konferensi berapa kali gitu. “Oke, kalau sudah cukup syarat kamu bisa ujian/sidang dan lulus” kata senseinya di awal masa studi. Setelah semuanya beres di tahun ke-3 (tahun akhir bagi doktor umumnya), “Kamu kalo ini ja kurang deh, intinya bisa lulus” Kata senseinya. Masih mending kalo Senseinya ngasih tahu dimana kurangnya, paper kah, konferensi kah atau apa. Ada yang cuma ngsih kode, kamu kurang di kontribusi. Hah, maksuudddmu ?? yang jelas dong ?? Nah saya juga ikutan esmosi karena kawan saya ini sampai 4 tahun lebih masih belum selesai. Ini kejadian nyata ya guys bukan fiktif. Saya dengar 2-3 kasus seperti ini di Kampus saya dulu.
  • Sensei yang ah sudahlah. Ada sensei yang nggak mau ngelulusin mahasiswanya aja. Ditanya kenapa juga nggak mau jawab. “Pokoknya kamu saya selesaikan studinya di lab ini tanpa gelar”. Jangan sampai ketemu sensei yang gini dah. Kisah nyata juga. Nggak detil sih cuma kasunya hampir sama kayak sensei PHP diatas.

Nah itu dia 6 tipikal sensei, sebenarnya nggak seserhana itu sih cuma sengaja saya bikin simpel aja. Bagaimana biar dapat memperkirakan sensei yang mana yang akan kita dekati. Setelah mencari dengan cari ini (sudah saya posting di tulisan sebelumnya), berikut hal lain yang harus dicari perhatikan :

  • Adakah mahasiswa Internasional di Labnya saat ini ? cari dari daftar mahasiswa di web labnya atau di artikel yang pernah diterbitkannya
  • Adakah mahasiswa muslim ? lebih bagus jika dari Indonesia ?. Jika ada nah tanyakan tentang hal semua uneg-uneg kita. Tanyakan juga gimana Senseinya.
  • Jika memang harus, buat kesepakatan di awal apa yang harus dipenuhi agar bisa lulus. Ditanda tangani dan bila perlu dicap agar berkekuatan hukum. Deal-dealnya harus jelas di awal.
  • Jangan ragu untuk berdebat, kadang sebagian Sensei ingin melihat kekuatan argumentasi kita dan keberanian kita.

Itu saja mungkin, khawatir kepanjangan dan tak bermakna. Silakan komen bagi yang ingin menambahkan. Ini semua murni dari opini saya saja.

NET CJ : Hang Out di NET10

Ini sedikit cerita lama setelah turun gunung waktu itu. Seperti biasa, setelah muncak Gn Taisen (Oktober 2016 lalu) saya langsung cuss unggah video pendakian Gunung Taisen ke NET CJ. Yang beda dari video kali ini adalah saya masukin beberapa “piece to camera” karena sempat ngerekam beberapa video mode swafoto gitu. Setelah diunggah ke NET CJ, sedikit cuplikannya saya unggah juga di Instagram dan nyolek temen dari NET TV juga, berharap ditampilin gitu haha. Dari minggu ke minggu, kok belum ada kabar juga ya meski statusnya udah “waiting for publish” di videonya. Malah video yang lain yang tayang duluan. Yah berarti harus sabar, mungkin yang bagus-bagus ditayangkan pada waktunya wkwkwkkwk. Berprasangka baik.

Setelah hampir sebulan, akhirnya saya dapat email dari NET CJ yang mengabarkan bahwa video yang saya unggah akan ditayangkan di NET 10 Hangout, akan ada wawancara juga dengan penyiarnya. Tapi waktunya hari Jum’at 18 November 2016 pukul 10:25.WIB. Awalnya udah sempet bilang Oke karena lihat waktunya yang pas. Ternyata setelah mikir-mikir itu kan WIB jadi kalo JST jadinya 12:25, Oh no itu waktunya jumatan (tepatnya jam 13:00) sih. Akhirnya saya pastikan akan berapa lama wawancara dsb, dan akhirnya saya Oke dengan waktunya.

 “Kita akan live (siaran langsung) pukul 10:25 WIB tapi siap-siap dari pukul 9:00 ya“. NET10 mulai tayang tepat pukul 10:00 soalnya. Saya sendiri siapkan 2 perangkat, HP dan PC. Saya coba pakai HP dulu karena biasanya kameranya lebih jelas dibandingkan PC. Dari NET CJ juga minta tolong diperhatikan soal latar dan pelapalan suara saat diwawancara. Akhirnya saya siap-siapkan semuanya. Untuk latar saya tempet beberapa koleksi kartupos di dinding. Oh ya, sebelum wawancara mereka akan ngasih petunjuk, apa-apa yang akan ditanyakan dan dibicarakan dll. Detil pokoknya.

NET3

Nah pas udah break sebelum wawancara, saya sempat diajak ngobrol sama penyiar Zizi dan Zein, mereka sempat nanya-nanya beberapa pertanyaan. “Momiji itu bunga atau apa ya ?” Zizi sempat nanya. Anehnya nih, karena ini terhubung dengan tayangan NET saat itu, saya nggak bisa ngeliat mereka, tapi mereka bisa lihat saya. Agak kagok juga sih. Saat video kiriman saya sudah ditayangkan, saya sudah siap-siap diwawancara. Tapi entah kenapa pas waktu itu HP yang dipakai buat hangout di NET10 langsung mati tiba-tiba. Yah, gimana ini. Saya masih liat tayangan di PC lihat Zizi dan Zein ngebahas soal video yang saya kirim, untuk mengulur waktu karena saya terputus dari jaringan. Panik mode on haha. Saya akhirnya langsung kontak kembali pakai PC dan akhirnya langsung nyambung. Tanpa ada kata-kata saya langsung diwawancara. Saat jeda sebelum saya tersambung kembali, ada satu video NET CJ lain yang diputar, sebelum akhirnya wawancara dengan saya dimulai.

NEt1

Lumayan deg-degan juga sih diwawancara gitu walaupun bentar dan remeh-temeh haha, soal jalan-jalan dong bukan diminta tanggapan soal isu ini itu haha. Yang agak susah bagi saya adalah menjaga eye contact dengan penyiar seolah-olah kita ngobrol santai dengan mereka. Selain itu, kebiasaan selalu ngeliat layar juga nggak bagus karena keliatan banget kita ngeliat ke arah lain. Terakhir, emang udah bawaan lain saya nggak bisa buka mulut penuh kalo ngomong apalagi terlihat supel gitu hahaa. Gitu aja deh ceritanya. Soal honor video, sama aja kok antara video yang tayang biasa dan video yang tayang sambil ngehang out di NET10. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba jadi CJist.

[embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=2pXoostQNH0%5B/embedyt%5D

Arabic With Husna – BayyinahTV

Husna ? Don’t get confused with about the title, I am not learning Arabic with a girl named “Husna” haha. Arabic with Husna (AWH) is one of the featured course prepared by Bayyinah TV from the very scratch until the level you can apply the i’rab in quranic text (nahw) along with the word morphology (sarf). But why Arabic ? This should be clear first. Well, learning anything must be begin with such we called a motivation. In my humble opinion, speaking Arabic is not a necessity for muslims, but understanding arabic (classical arabic) indeed a need for us. We may live in some part of the world without even having arabian guys as friends yet or dealing with sort of arabic things but wherever we are, as long as Muslim we must be familiar with the Quran. Well, don’t argue a lot why Allah revealed His final book in Arabic, not in English or even Indonesian. Just start your journey in Arabic and go back to Quran, InsyaAllah you will get the most convincing answer. Sure, It works, you’ll find it out yourself.

Those (in featured image) are the reasons to learn Arabic. Well-summarized by the Islamic Online University. Then, ponder upon this ayah, which Allah said in Quran (54:17):

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

(And We have certainly made the Qur’an easy for remembrance, so is there any who will remember?)

Where to start ?

Recently I got amazed by the lectures of Ustadh Nouman Ali Khan. I knew him before, yet I did not know for sure the main topic of his lectures is. After watching some videos in youtube and facebook, I found the way He explained what is the hidden gems in Ayah (verse) of Quran was really interesting, until the sense or nuance that beyond our reach just by reading the translation which is commonly available. How ? well the most must-have tool is the knowledge of Arabic. I am the one who have never been exposed to Arabic learning until now (age 25) from kindergarten to bachelor and even until pursuing master degree here in Japan. I learnt arabic until some extent to know how to read with tajweed or tartil. That is all (Alhamdullillah).

Sometimes or many times we may feel while making shalah (praying) standing behind the Imam (leader of the Shalah) and soon as He begins to read long ayah from various Surah (chapter) in the Quran, soon we begin to feel like lost in middle of somewhere and our mind starts drawing away from the body, thinking about something. Might be, the stuffs that are we looked for before making shalah haha. I often, if not always feel like that.

After getting to know that Bayyinah Institute, founded by Ustadh Nouman, provided some free learning materials for beginner in Arabic language. I started to listen and download all the materials which are available here (http://bayyinah.com/elearning/). Then after sometime, I realized that those material only covers to the middle of understanding the Quran. Many thing are still hanging on after finishing those stuffs. So, I again looked for any resources that accessible and, of course, if it is possible free of charge or at least the price is reasonable enough for my budget. Then my seeking ended up with Bayyinah TV program “Arabic with Husna (AWH)”. This series are not free, yet it is affordable enough compared to “Access Program (AP) 1“, a part-time learning program in Arabic also provided by Bayyinah Institute.

Well, in AWH you’ll walk alone at your own pace in your journey of learning, while in the AP, there are intense contacts either with the teacher or mentors who is ready to help for 14 weeks (3 months). Subscribing Bayyinah TV will only cost you 11 USD per month or 112 USD annually while being a AP student, you need 697 USD. For you who can afford that price, of course it is much better to learn with other students along with the help of tutors and teacher, otherwise there is always an alternative way you can take.

What is available in AWH and Bayyinah TV ?

Screenshot 2017-03-09 20.24.56

Bayyinah TV Dashboard // Course Bar

Bayyinah TV provide hundreds of videos under some topics. As for AWH is it put under the course bar, with other course you can also take, such as Qoida Nooraniyah, Quran cover to cover an others.

As far as I concern, since AWH program is the program where Ustadh Nouman himself teach his eldest daughter, Husna khan (under 15 yo may be) :

  1. The level of language is so digistable and easy to understand.
  2. Furthermore, AWH is also well-crafted by Bayyinah TV so in every videos you can find downloadable handout as a summary and also for drills below the particular video.
  3. There also comment space to ask about something unclear for you and the BayyinahTV staff will reply.
  4. And regarding the level of course, AWH can bring you to the high level of understanding Quranic arabic, as I mentioned above, you can apply the i’rab and sarf for the Quranic text you read.
  5. By finishing AWH until unit 15, in my view, it almost equal with taking Access Program 2. Once you feel ready enough you can continue your journey to Access 3 (reading comprehension). Here is the purpose of AWH as written in their FAQ program :

“Arabic with Husna intends to take the student to very advanced Arabic. This means that by the end of the series, you will have the ability to explain Arabic in Arabic InshaAllah! In terms of the understanding of the Arabic language upon completion, the student will have knowledge of both classical Arabic (used for Qur’an studies) and modern Arabic (used for modern conversational Arabic).”

 

AWH

The list of the units, from 1-15 unit

Screenshot 2017-03-09 22.17.57

AWH unit 14 // Irregular Sarf

Oh, I have made this post so loong. Well, it is the time to stop. Good luck guys. Pack your bag and start the journey !

Warna-warni puncak Gn Taisen, Pref. Oita

Fukuoka, 23 Oktober 2016. Suhu yang sudah mulai turun namun belum terlalu dingin. Waktu-waktu seperti ini orang masih banyak menyebutnya 涼しい・suzushii (sejuk) dibandingkan 寒い・samui (dingin). Sejak dua minggu lalu, kami ber-13 merencanakan untuk naik gunung (登山・tozan) Taisen di Pref Oita. Gunung ini tidak terlalu tinggi, hanya 1786.2 mdpl namun banyak dicari pendaki karena indah pemandangannya saat musim gugur. Ada daun yang berubah warna jadi merah, kuning, oren, dari ketinggian terlihat bertumpuk-tumpuk dan berselang seling. Meski cuaca saat pendakian  terpantau tidak akan cerah, malah kemungkinan akan hujan dan sepanjang hari akan berawan. Karena persiapan sudah dilakukan beberapa waktu lalu, termasuk rental mobil pun sudah deal akhirnya kita tetap jadi berangkat. Berharap semoga ada kesempatan untuk mengagumi warna-warni Gn.Taisen dari puncaknya.

Kami memulai perjalanan dari Higashi-ku pukul 3.00 JST pagi, saya, Pak Andi, Mas Infal, Mas Dana dan Haekal adalah rombongan dari hakozaki. Dari Higashi-ku kami menuju ke Tenjin buat ngambil mobil yang udah di rental dari Nippon Rental Car, Nissan Serena dengan harga 16.000JPY plus 2000 JPY asuransinya. Karena semuanya ada 13 orang jadi kami berangkat dengan dua mobil. Setelah menjemput beberapa orang di bagian Nishi-ku, akhirnya sekitar pukul 4 pagi rombongan meluncur via TOL menuju Oita. Setelah melalui perjalanan cukup panjang, bahkan sampai salah keluar pintu tol, dan mampir sebentar di rest area Saga-ken untuk sholat Subuh, kami tiba di lokasi pendakian pukul 7:30. Sekitar pukul 7:45 tim bergerak memulai pendakian untuk sampai ke camping ground terlebih dulu. Di awal medan yang dihadapi cukup menantang, ada tanjakan curam ke atas untuk jarak tempuh 15 menitan. Setelah itu cukup landai dan datar sampai ke camping groundnya. Di tengah perjalanan tim sempat rehat sejenak dan berhenti di air terjun, berjarak 70 menit dari titik awal pendakian. Pukul 10 barulah kami sampai di lokasi camping ground yang tersedia toilet (tapi kondisinya kurang bersih), tempat BBQ yang keren, lengkap dengan suplai air bersihnya. Beberapa tenda kecil masih terlihat disana, sepertinya ada yang menginap untuk summit attack paginya. Di camp ground kami rehat sejenak, menikmati bekal ringan yang dibawa, beberapa teguk air, nasi kepal dengan abon, roti sandwich homemade, serta camilan lainnya. Suasana masih gerimis meski tidak begitu lebat, selama perjalanan dan di rumah BBQ kami selalu bertemu dengan pendaki lain, kebanyakan orang Jepang sendiri, dari bahasanya.

taisen-6

Rehat di Air terjun

taisen-4

Menikmati bentou di puncak Taisen

Waktu tidak banyak, kami harus tiba kembali ke titik awal sebelum petang datang, sekitar pukul 11 kami mulai pendakian ke puncak. Disini lah momen yang ditunggu-tunggu, melihat warna-warni momiji dari puncak. Medan pendakian ke puncak tidak terlalu terjal namun cukup menantang. Di beberapa titik ada pos penanda. Saat berada di tempat tinggi, pemandangan warna-warni momiji kian jelas terlihat. Hampir tepat pukul 13 siang akhirnya sampailah di puncak Gunung ini. LUAR BIASA INDAHNYA. “Asli, baru kali ini terkagum-kagum sampai level kayak gini”. Makin dipandang makin cantik. Pas banget kabut bergeser waktu kami sampai puncak, sekitar 20-10 menit lamanya. Meski tidak begitu cerah, tapi pemandangan tidak tertutup kabut sejenak. Puas dengan foto-foto dan ngambil beberapa shoot untuk video, kami turun ke bawah untuk nyari tempat melepas penat sambil membuka bekal makan. Seketika, cuaca pun jadi kembali berkabut lebat, angin juga terasa makin kencang. Sampai kami beranjak pulang, cuaca dari puncak sudah kembali tertutup kabut tebal lagi. Alhamdulilah masih rejeki untuk lihat pemandangan dari atas, momen yang langka untuk hari itu.

taisen-5

Girang karena sampe puncak

Pukul 2:35 kami beranjak meninggalkan puncak, kemudian singgah kembali ke camping ground untuk rehat sekaligus sholat, pukul 7 malam tim kembali ke Fukuoka. Malam di musim gugur datang lebih cepat, pukul 5-6 hari sudah gelap kami masih berada di lokasi pendakian. Beruntung sebagian ada yang membawa HP jadi masih ada penerangan selama perjalanan. Alhamdulillah semua tim selamat dan sukses mencapai puncak. Ini kompilasi video pendakian dari awal sampai turun. Enjoy !!

Jepang dan khas di setiap musimnya

Setelah hidup satu tahun di Jepang, Alhamdulilah sudah melewati semua musimnya dari mulai musim gugur (秋・aki), musim dingin (冬・fuyu), musim semi (春・haru) dan musim panas (夏・natsu). Ada cerita di setiap musimnya, mana yang paling keren kira-kira ? Berikut cerita versi saya mengenai yang khas dari setiap musimnya, cekidot :

  1. Musim semi (Maret-Mei). Musim ini sepertinya jadi musim terfavorit versi saya deh. Selain suhunya nggak dingin banget juga nggak panas amat, banyak bunga bermekaran, semak belukar kembali bergairah haha. Eh, ini bener lho. Kampus mulai semak kembali.  Yang paling ditunggu dan paling ikonik di musim ini adalah “Sakura“. Bicara sakura ya pasti bicara hanami, hari-hari dimana orang berpiknik ria dibawah pohon sakura yang sedang 満開・mankai atau full-blooming. Beberapa hari sebelum sakura mekar biasanya sudah ada prediksinya, Wilayah selatan pasti akan lebih cepat dibandingkan yang utara. Di Fukuoka lokasi piknik Hanami ini salah satunya di Taman Maizuru di dekat runtuhan kastil Fukuoka. Persis di bawah pohon-pohon sakura orang menggelar karpet dan duduk sambil BBQ dan minum-minum serta ngobrol-ngobrol ringan. Saat-saat tersebut ada ungkapan yang populer : 花より団子・Hana yori Dango arti harfiahnya “kue dango lebih baik dari bunga (sakura)” secara filosofis artinya people are more interested in the practical over the aesthetic. Oh ya, karena saking populernya sakura ini, banyak lagu di Jepang yang berlirikkan sakura. Keindahan sakura juga tidak hanya bisa dinikmati siang hari saja saat Hanami, namun juga malam hari karena sebagian tempat punya sakura illumination atau sakura light-up selama bunga sakura mekar. Musim semi dan sakura itu tak terpisahkan.
  2. Musim Panas (Juni-Agustus). Walaupun dari negara tropis, tapi selama musim panas di Jepang saya merasa beda dengan panas di Indonesia. Sampe-sampe anginnya pun ikut panas. Kalau di Indonesia walaupun panas kayak apa, anginnya tetap sejuk (iya nggak sih ?). Pokoknya ada yang beda sama musim panas Jepang deh. Saat suhu diatas 30 C biasanya mulai gerah jangankan di luar di dalem ruangan juga, kalau pas masuk apato (baca:kosan) berasa masuk oven banget. Waktu musim panas datang, nyanyian serangga khas musim panas pun bisa terdengar, ya itu dia serangga tonggeret (ada di gambar). Suaranya khas banget bahkan sampe kadang jadi berisik saking pada semangatnya. Di musim panas ini, biasanya orang ke pantai. Ini dia waktunya berpiknik ke pantai. Sampai-sampai UNICLO, salah satu perusahaan fashion Jepang mengeluarkan summer-set edisi pantai. Selain itu, ada banyak festival di musim panas ini. Kalau di Fukuoka ada festival Gion Yamakasa, festival Hojoya, dan lainnya sampai yang paling besar adalah 花火大会祭り・Hanabi taikai Matsuri / Festival kembang api. Musim panas kemarin, saya ikut nonton bareng kawan-kawan Indo di Taman Ohori 1 Agustus 2016. Acara itu disponsori oleh Nishi Nihon Foundation. Selama 2 jam kembang apinya nggak putus-putus. Saat hanabi matsuri ini, anak-anak gadis biasanya datang memakai yukata/ kimono musim panas. Saat hanabi ini adalah saat terbanyak saya lihat orang Jepang berkumpul, bayangkan saja di taman Ohori dan sekitarnya bisa dikunjungi sampai 450.000 orang, super duper ramee. Jika sakura mekar di musim semi saja, di musim panas ada bunga Matahari yang juga sangat ditunggu-tunggu.musim-panas
  3. Musim Gugur (September-November). Musim gugur saatnya kembali membongkar pakaian musim dingin yang sudah disimpan saat selesai musim semi lalu. Suhu yang mulai turun dari 30an C jadi sekitar 20 bahkan dibawah itu, makin lama makin dingin. Apa yang khas dari musim gugur, jelas saja daun yang berguguran, namun sebelum gugur ia berganti warna menjadi kuning, jingga, merah dan perpaduannya. Adalah pohon mapple (sering disebut momiji), pohon Icho (sejenis ginko), dan juga pohon Nanakamado yang warnanya mencolok di daerah-daerah daratan tinggi. Mencoloknya warna musim gugur akan jadi kesan tersendiri tentang Jepang. Selain itu, di musim gugur ada juga bunga jadi khasnya : bunga cosmos コスモス花 dan beberapa bunga lainnya. musim-gugur
  4. Musim Dingin (Desember-Februari). Musim dingin ibarat musim yang sepi dan mati. Suhu dibawah 10 C sampai di bawah 0 C, jangankan rumput dan pohon segan untuk hidup, manusia pun pada malas ke luar rumah. Bila keluar rumah mesti dengan jaket tebal dan sarung tangan juga penutup kepala. Yang khas di Jepang untuk musim dingin adalah “illumination” (bukan : aliran illuminati ya hehe). Illumination artinya pencahayaan di pohon dengan berbagai pernak-pernik dan style. Lampu-lampu dibuat seakan jadi daun-daun yang bersinar di pohon. Kalo di Fukuoka biasanya di Hakata yang sering ada illumination. Waktu main ke Nabana no sato, di Pref. Mie juga dulu pernah liat atraksi illumination di taman, terowongan cahaya, dan banyak lainnya. Sebagian menyebut bunga yang khas di musim dingin adalah bunga Ume. Sekilas seperti sakura tapi warnanya lebih pink dari sakura. Di Fukuoka biasanya mekar di akhir musim dingin, sebelum masuk musim semi. musim-dingin-copy

Kisah 1 Tahun di Jepang #1

Tahun 2015 lalu, sekitar pukul 11 siang saya datang ke Fukuoka, setelah beberapa hari sebelumnya di Tokyo. Saat itu, Kyushu University menyediakan penjemputan gratis dari bandara ke asrama yang dituju dengan mengunakan mobil van berukuran sedang. Sempat saya sapa beberapa kawan Internasional yang kebetulan bareng, ada yang dari China dan Vietnam. Memang saat itu bukan kali pertama datang ke Fukuoka, namun tentu akan jadi kali pertama di Fukuoka untuk beberapa waktu yang lebih lama dari sebelumnya, 2 tahun ke depan.

Jujur saya agak bingung merangkum momen satu tahun dalam bentuk apa, momen yang mana yang harus diceritakan. Dan akhirnya daripada tulisan ini terlalu lama ada di draft dan terlalu jauh dari September, maka saya ceritakan beberapa kisah yang ini saja.

Cerita di depan pintu Lift. Ketika saya hendak turun dari lantai 9 kemudian saya naik lift hingga lantai 1. Di lantai satu, ketika pintu sudah mulai terbuka, ada seorang Ibu muda dan anaknya yang berumur 2-3 tahun hendak berlari masuk ke dalam lift. Pintu baru saja terbuka, dan saya baru mau beranjak keluar. Ibu itu menarik lengan anaknya dengan lembut sambil berkata “出る人が先 / Deru hito ga saki / Dahulukan (orang) yang keluar.

Pak Pos dan Undelivered Notice. Di Jepang, perangkat pos masih berlaku, apa saja itu, misalnya : Kotak pos yang berwarna merah di pinggir jalan (sering disebut “ポスト・posuto), mailbox / kotak surat (bukan kata-kata di lagu dangdut koplo Indonesia lho ya). Kotak surat saya yang bernomor 101 setiap 2 bulan pemerintah kota mengirim majalah “福岡だより/ Fukuoka da yori” yang saya sebenarnya tidak pernah mendaftar. Juga sering penuh dengan iklan, mulai dari iklan WIFI, iklan rumah (bordil), iklan Laundry, iklan restoran baru, iklan macem-macem yang saya tak bisa baca haha. Dan tentunya yang paling penting yang dikirim Pak Pos adalah tagihan air dan listrik saya, juga notifikasi dari Bank Fukuoka jika LPDP mengirim bantuan hidup setiap 3 bulan sekali, semua berbentuk 葉書・hagaki/ kartu pos. Kalau sedang belanja Online, sebut saja di Amazon, kadang pengirimannya suka dateng pas siang saat saya masih di kampus. Yang ditinggal Pak Pos jika saya tidak di rumah adalah Undelivered Notice, bahwa ada barang kiriman atas nama Mohammad Fadhillah namun tidak sedang di rumah saat barangnya sampai. Diselipkan selembar kertas kecil warna kuning. Jika ingin meminta dikirim lagi, telpon ke nomor yang tertera disitu dan bisa minta mau dikirim jam berapa agar tidak PHP Pak Posnya haha. Saya telpon dan minta diantar jam 7-9 malam. Dari Masjid bergegas ke rumah agar nggak kelewatan lagi. 19:03 Pak Posnya mencet bel dan ngetuk pintu. Paketpun diterima. Terima kasih Pak Pos, Pak posnya kadang naik motor yamaha jadul warna agak merah dan kadang juga pakai truk lho. Nggak sepedaan kayak dulu puisi jaman SD haha

Setahun tanpa mobil dan motor. Dulu waktu di Bogor lumayan sering naik motor dan sesekali nyupir mobil sendiri. Masih ingat waktu ada mahasiswa pertukaran dari Jepang dulu, mau diajak bonceng pake motor dari temen, dia sontak bilang “Eh, ini naiknya di mana ?”. Saat temen saya cerita itu, dalam hati saya bilang, parah banget sih nih orang Jepang, padahal motor dari mereka semua tapi nggak tau cara naik motor. Usut punya usut, barulah tahu ternyata di Jepang sangat jarang orang pake motor. Kalo pun pake paling Scooter yang cc-nya rendah paling banter 40-50 km/jam. Karena joknya kecil, mustahil banget kalo boncengan. Karena kondisi apato (baca : kosan) yang hanya 3 menit dari lab, rasanya males banget kalau harus beli motor. Kalaupun jauh ya nyepeda bentar atau naik bus atau kereta. Mobil ? Hmm, kayaknya belum butuh-butuh amat lah ya. Belum ada keluarga juga hehe. Kalo pun sudah punya mobil, parkirannya itu cuy yang nggak santai, paling murah 100/jam dan nggak semua tempat. Kalo parkir sembarangan ya siap-siap aja ditilang 15.000 JPY / 1,8 juta rupiah.

Ditegur Polisi pake TOA mobil patroli. “二人乗り方、降りなさい、危ないです!!/ Futari nori kata, orinasai, abunai desu / Yang lagi boncengan berdua, segera turun, bahaya !”. Buseet ditegur pak Polisi pake TOA. Pengalaman buruk banget, apalagi keliatan banget kalo kami 外人/gaijin・orang asing-nya. Itu saat saya sama temen boncengan naik jalan kecil di sekitar kampus Maidashi Univ. Kyushu. Niatnya pengen cepet tapi yaaa, malu deh. Di Jepang dilarang boncengan pake sepeda, kecuali anak-anak atau hewan piaraan dan sejenisnya. Maksimal beban di boncengan itu cuma antara 18-23 kg, makanya dilarang.

Dompet yang hilang. Waktu mau pada foto di perpustakaan Kampus pas Hari Kartini kemaren, saya sepedaan dari lab sekitar 1-2 menit ke perpus. Trus, karena harus masuk perpus dengan kartu mahasiswa, jadi pas udah di depan gate saya rogoh saku jaket. “Lho kok nggak ada dompetku. Hmm, apa jangan-jangan ketinggalan di lab ya ?”. Trus balik ke lab cari di tas, dan nggak ada juga. Mungkin di rumah, ya sudah lah. Akhirnya masuk menyelinap ke perpus haha. Usut punya usut, ternyata di rumahpun tak ada. DOMPET HILANG, tapi yakin kececer di kampus. Dengan agak panik saya nanya temen Cina, dan katanya coba tunggu biasanya ada email dari polisi, atau tanya ke Student Section. Daaan, akhirnya seseorang menemukannya tergeletak di parkir sepeda, pas ujan-ujan, dan ditaro di COOP (koperasi kampus). Pas saya cek kesana, Alhamdulillah. “Tolong sebutkan tanggal lahirnya. Oh ya …..”. “Ini dompetnya, maaf tadi dibuka untuk liat student cardnya. Terima kasih”. #Terharu

—————————————————————————(BERSAMBUNG)