Artikel

Tulisan-tulisan yang cendrung ilmiah untuk menambah wawasan dan dan menguak kebenaran

Pastikan Bawa 10 Hal ini Sebelum Berangkat Studi Ke Luar Negeri

blog5

Tokyo Tower 2015 (Dokumentasi Pribadi)

Apakah kamu berencana berangkat studi ke luar negeri dalam waktu dekat ?? Eitss, jangan lupa siapkan 10 hal ini sebelum kamu menyesal saat sampai di negara tujuan di hari pertama, maaf curcol ya haha. Kebanyakan mungkin tidak tahu apa yang akan dihadapi di negara tujuan, apalagi pengalaman pertama akhirnya banyak yang lupa untuk ikut dimasukkan koper saat berangkat. Tulisan ini tidak mencakup hal seperti : paspor dan fotokopinya, atau berkas-berkas kuliah, dll. Ini dia 10 hal yang tidak boleh dilupakan versi saya :

  1. Uang Tunai. Jangan anggap remeh soal ini, semakin awal disiapkan akan lebih baik dibandingkan pas hari H baru buru-buru nuker di money changer sambil was-was mau check in. No guys. Jangan seperti itu. Minimal sebulan sebelum berangkat mulai cari tau nilai tukar saat itu, dimana money changer terdekat (kontak via HP aja bisa kok) sambil bandingin satu dan yang lain. Prediksi juga kebutuhan saat nanti di negara tujuan, minimal bawa jumlah yang cukup sampai kiriman datang.
  2. Makanan khas Instant. Sebagian akan menafsirkan makanan khas instant menjadi : mie instant, sambal terasi sachet-an, abon sapi, ikan teri masak apa itu namanya, deuh lupa sorry. Sebagian lain menafsirkan makanan Instant itu berupa rendang sapi, dan makanan “basah” yang awet dalam waktu lebih dari 1-2 minggu. Well, sesuai selera aja sih.
  3. Perlengkapan Ibadah misalnya Kopiah/Peci, Sajadah, Al-quran kecil, tasbih, mukena dll. Pas buka koper di apartemen baru, eh baru nyadar “Yah, lupa bawa Mukena“, ah ntar aja nyari di AEON Mall ah. Hahhaa, Maaf guys. Di Jepang nggak semudah itu hidup #nangis.
  4. Parfum dan kosmetik secukupnya. Umumnya setiap orang punya selera parfum yang unik dan khas. Percaya nggak sih, nyari deodoran yang pas aja susah di Jepang haha. Sebut saja yang mirip-mirip Rex**a gitu. Aaakk, kebanyakan kan kalo yang nggak biasa ganti-ganti style disini. Tapi, seiring berjalannya waktu, nanti akan nemu cara sendiri kok untuk mengatasi hal tersebut, entah nitip ke temen lah atau beli di Toko Indonesia Online.
  5. Colokan Universal. Saya sampai saat ini nggak tau apa nama “ilmiah”nya benda itu sebenarnya. Sebut saja colokan ya haha. Jangan lupa nih, walaupun bisa beli di negara tujuan nanti, tapi kalau pas di tengah jalan HP/PC mati dan butuh komunikasi kan bisa berabe urusan. (more…)

Dejima, Nagasaki – Sepotong Pulau Penuh Sejarah Part 1

IMG_0915 (800x800)

Dejima saat ini. Atas : Gereja Protestan Pertama di Jepang, Kanan bawah : Penjelasan tentang Gereja (dekat pintu timur (East Gate), Kiri bawah : Miniatur Dejima

Karena kita tidak tahu cerita dibalik suatu benda, bisa jadi kita lantas mengabaikannya. Sebuah jam tangan bisa jadi nilainya berbeda menurut setiap orang, ada yang biasa saja, ada yang sangat berharga (karena pemberian orang tua) dan lainnya. Ya, sama seperti saya. Ketika mengunjungi tempat ini “Dejima (出島)” di Nagasaki, suatu kesan yang muncul setelah melihat tempat ini adalah “Ini apa sih ?“. Cuma ada gereja tua, miniatur bangunan gitu, lapangan badminton yang dulu dipake sama orang belanda, bangunan-bangunan gudang (warehouses). Serasa nggak meaning banget haha. Boleh disimpulkan kunjungan tidak membuat saya excited, tidak seperti tempat sebelumnya Nagasaki Atomic Bomb Museum.  Beberapa hari selepas kunjungan itu, saya pun buka-buka selebaran Dejima yang masih tersimpan rapi. dalam hati “yah lumayan lah buat ngisi-ngisi tulisan di blog kan, haha. Wow, ternyata sepotong pulau itu punya sejarah panjang. Membacanya membuat kita balik ke masa Kapal-kapal asing Portugis dan Belanda yang menyinggahi Jepang sekitar abad 16. Oke, kita sedikit akan menapaktilasi sejarah Jepang. #mulaiserius #lebay

Kedatangan Portugis dan Sekilas tentang Kristenisasi di Jepang

Sejarah mencatat, Pelabuhan Nagasaki mulai dibuka untuk transaksi perdagangan sekitar tahun 1570 M. Tahun 1571, kapal Portugis pertama masuk ke pelabuhan itu. Selain membawa misi perdagangan, bangsa Portugis juga membawa misi penyebaran agama Nasrani. Namun beberapa sumber nyebut, Francis Xavier (dari Basque) disebut sebagai Missionaris Nasrani pertama yang datang ke tanah Jepang pada tahun 1549. Dari tahun 1549 sampai ke tahun 1638 M saat pemberontakan Shimabara meletus, agama Nasrani menyebar di Jepang, dari mulai petani-petani sampai penguasa-penguasa daerah di Jepang hingga pada tahun 1580-an ada 200 gereja yang berdiri dan melayani sekitar 150.000 orang umat Nasrani di Jepang. Sumber lain menyebutkan pada selang itu 760.000 orang Jepang memeluk agama ini. Akan tetapi, saat Shogun Tokugawa mengambil alih kekuasaan di Jepang, penyebaran agama Nasrani mulai dipersempit dan akhirnya dilarang total pada tahun 1614. Untuk tujuan itulah akhirnya pulau “Dejima” yang berbentuk seperti kipas ini dibuat, dengan biaya 400 juta JPY. Shogun pada masa itu, Tokugawa Iemitsu, ingin melokalisasi kaum pendatang Portugis dan penyebar agama Nasrani di pulau itu, mereka tidak bisa dengan bebas lagi menyebarkan agama Nasrani ke penduduk lokal Jepang. (more…)

Bahan Non-Halal di Chips Jepang

Setelah nulis soal “Cara menemukan makanan halal di Jepang Part 1 dan Part 2, saya mencoba sedikit mengeksplor makanan-makanan di supermarket dekat Asrama (sebut saja HalloDay). ternyata jika tahu mana kanji bahan makanan yang boleh dikonsumsi dan tidak akan sangat memudahkan lho. Selain itu, sekarang juga banyak terbantu aplikasi Google Translate karena bisa dengan mudah membaca tulisan kanji dari foto. Berikut hasil eksplorasinya untuk Chips/Keripik :

IMG_0893 (480x640)

Snack yang mengandung : ekstrak ayam, ekstrak daging, dan daging babi

Keripik/Chips – Umumnya keripik ditambahkan berbagai macam ekstrak (エキス) untuk menambah cita rasa, misalnya ekstrak ayam, ekstrak daging, ekstrak rumput laut, ekstrak ikan dsb. Nah, untuk jenis ini, bahan yang perlu diperhatikan adalah tentu saja ekstrak daging (hewan sembelihan karena sangat diragukan kehalalannya, misalnya ekstrak ayam (チキンエキス- chikin ekisu), meat extract (ミートエキス), ekstrak daging babi (豚肉), ekstrak daging sapi (牛肉) dan lainnya.

IMG_0895 (480x640)

Snak yang mengandung : kaldu ayam

Selain itu, bahan lain yang perlu diperhatikan adalah : kaldu atau konsome (コンソメ). Meski agak jarang ditemukan kalo di snack/chips tapi sebaiknya juga perlu diperhatikan. Saya menemukan salah satu produk snack yang mengandung kaldu/konsome tersebut. Konsome umunya ada di produk kayak mie cup, dan berbagai produk yang diseduh gitu.

Perlu diingat juga, walaupun pada beberapa snack biasanya jelas-jelas ada gambar udang, ikan, atau seafood lainnya, untuk komposisi lebih detil harus dipastikan terlebih dulu. Saya pernah kejadian, udah seneng-senengnya beli keripik rasa udang di Supermarket. Karena ada gambar udang di depannya jadi langsung pede gitu nyomot itu snack. Eh, pas mau dimakan di lab, baru nyadar dikomposisinya ada kanji 豚肉 alias daging babi. Pfffff ^%$#@#%^&&*))()*%&^%$^%&&. Apa boleh buat jadinya, saya langsung kasih snack itu ke teman Jepang di Lab sambil ngomong saya salah beli hehehe. Terus dia juga bingung, “kok bisa snack ini ada babinya ya ?”. Nah lho, harusnya saya yang nanya gituan haha.

Ternyata Begini Proses Bir Suntory Dibuat

Bir adalah minuman yang asing bagi saya, asing banget, tentu karena saya muslim. Jangankan minum, nyium baunya aja kepala udah pusing nggak karu-karuan. Pernah tuh, pas abis sport meeting di Lab saya, anak-anak Jepang pada party sambil minum alkohol, saya pun izin pulang duluan gara-gara nggak kuat baunya. Nah, kemarin 21 Nopember 2015, DOI-Sensei ngajak semua anak di kelas “Advanced Technology in Agriculture” ke Suntory Beer Factory, Kumamoto dan Kichijien Fruit Farm. La la la, semuanya senang karena kita anak-anak baru yang perlu banyak jalan-jalan di Jepang. Apalagi ini gratisan gini. Ikoouu…

suntory5

Sampai di Suntory Beer Factory, Kumamoto Plant

Dari Hakozaki ke Kumamoto kurang lebih ditempuh 2 jam mengunakan bus kampus. Tujuan pertama kami adalah Suntory Beer Factory, Kumamoto. Sewaktu masuk kawasan, “wuih gede ya pabriknya. Emang bisnis bir menggiurkan #eh”. Sesampai di dalam gedung, ada photobooth gitu yang menarik banyak hati untuk foto disana. Nah, tapi eh tapi gambar latarnya itu tuh produknya mereka “Bir Premium Malt”. Eh ini apa-apa nggak ya foto pake latar begituan. Ada temen yang malah pake property gelas Bir gitu. Hmm, itu mah udah kelewat batas kalo saya juga pake. Teman saya, Juma Kissuse muslim Tanzania, ogah foto situ. Ah, saya foto ajalah, dan akhirnya inilah fotonya, pake senyum dikit.

Suntory

Saya, lagi makai nametag PINK

Tidak lama setelah itu, karena setelah sesi Factory Visit ada sesi minum bir gratis, setiap pengunjung diberikan kalung untuk menandakan mana yang boleh minum bir, mana yang tidak minum bir dan mana yang masih di bawah umur. Saya dan beberap teman lainnya yang tidak minum bir diberi nametag PINK, sementara yang lainnya diberi nametag kuning.

Bahan-bahan untuk membuat Bir “Premium Malt’s”

Bahan-bahan pembuat Bir

Bahan-bahan pembuat Bir (Sumber : http://www.suntory.com/beer/premium/en/about)

Dalam sesi ini kami dijelaskan bagaimana Bir “Premium Malt” kebanggaan Suntory ini dibuat. Sebenarnya tidak banyak bahan untuk membuat bir yang memabukkan lho : hanya perlu 3 jenis bahan saja, yaitu : Barley, Aroma Hops, dan Air. Barley/Malt adalah sumber starch atau pati, bahan yang akan difermentasi, Aroma Hop/Hops merupakan bagian dari bunga (Lupulin grand) yang digunakan untuk memberi aroma khas dan rasa pahit pada bir. Untuk Barley, kami diminta satu per satu untuk coba memakan bijinya yang kering. Setelah itu ditanya bagimana rasanya ? “Hmm, enak ya. Manis”. Serius lho, rasanya memang manis, beda kalo lagi gigit beras hihihi. Setalah itu, kami juga diminta mencium aroma dari aroma hop, nggak disuruh nyicip karena rasanya pahit banget. Bentuk aroma hopnya sudah dalam bentuk pellet berwarna hijau daun gitu. (more…)

Kunjungan ke Fukuoka Slauhter House/ Rumah Potong Hewan

Kunjungan ke Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Fukuoka (福岡市) merupakan salah satu bagian dari kuliah “M05 Current Topics in Agriculture and Food Environment” yang saya ambil semester ini. Pengajar di kuliah ini adalah Prof. NAKAMURA Mako, dari Animal Science, Fakultas Pertanian. Hmm, rasanya akan jadi kesempatan langka untuk mengunjungi tempat seperti ini, apalagi yang katanya RPH terbesar ke-2 di Jepang ini, setelah Tokyo. Di seluruh Jepang ada kurang lebih 28 RPH dari Sendai sampai Sasebo (Pref. Nagasaki). Namun hanya ada 10 yang mungkin tergolong sebagai Central Market, yaitu di Sendai, Saitama, Tokyo, Yokohama, Nagoya, Osaka, Kyoto, Hiroshima, dan Fukuoka. Sebanyak 18 sisanya ada di kota kecil lainnya di Jepang.

Mengapa keberadaaan RPH penting di Jepang ?

IMG_0261 (1)

Pintu Masuk RPH Fukuoka

IMG_0260 (1)

Foto bersama setelah jalan-jalan keliling RPH

Oh ya, sebelum banyak cerita soal keadaan RPH Fukuoka ini, ada hal yang membuat keberadaan RPH penting nih. Di Jepang ada undang-undang yang mewajibkan hewan-hewan ternak seperti sapi, babi, kuda, domba dan kambing dipotong di RPH, dilarang selain disini (undang-undang nomor berapa pasal berapa dan ayat berapa, aye kagak ngerti ye maaf, hehe). Alasannya karena hewan-hewan tersebut dikonsumsi oleh banyak orang sehingga aspek kesehatan dan prosesnya harus dalam pengawasan pemerintah. Jika dipotong sembarangan (tanpa pengawasan) dan ternyata hewan tersebut berpenyakit, maka akan banyak yang kena dampak hal ini. Nah, untuk hewan-hewan liar seperti rusa, babi liar dan lainnya, dibolehkan untuk dipotong sendiri. Karena hewan liar tersebut hanya dalam jumlah kecil, dampaknya pun hanya ke sebagian kecil masyarakat yang mengkonsumsinya. Nah, untuk Kota Fukuoka sendiri ada 19 Inspector/ pengawas yang bertugas memantau kesehatan hewan-hewan sebelum dipotong. Jadi sudah kebayang kan gimana kepedulian Jepang soal keamanan makanan.

Rata-rata per harinya RPH Fukuoka ini memproses 120 Sapi dan 600 babi, namun jika peak season seperti Natal dan acara lainnya, jumlah hewan yang dipotong bisa dua kali lipat. Umur sapi yang dipotong disini berkisar 30 bulan, sedangkan 6 bulan untuk babi. Setiap sapi akan diberikan barcode untuk proses pelacakan sampai daging tersebut dijual di supermarket, sedang untuk babi tidak ada barcode seperti itu. Jadi daging yang dijual di supermarket bisa dilacak dari sapi jenis apa, dipotong tanggal berapa dan lainnya. Nah, karena Fukuoka termasuk pasar yang besar untuk daging, para peternak di sekitar Kyushu lebih suka menjual ternaknya di RPH Fukuoka karena banyak pembeli dan harganya pun bisa lebih mahal. Bagaimana mekanisme yang terjadi dari mulai sapi/babi dari peternak sampai ke supermarket dan ke meja makan ? Beginilah kisahnya, hehe.

Distribusi Daging

Ada 195 pembeli tersertifikasi (certified buyers) di RPH ini jadi tidak semua orang bisa masuk dan ikut dalam pembelian/ pelelangan disini. Kebanyakan untuk babi tidak masuk ke pelelangan (auction room) karena sudah dibeli sebelum masuk di RPH, hanya sekitar 30 % dari babi yang masuk proses lelang. Lain hal dengan sapi, kebanyakan sapi justru masuk lelang dan hanya sebagian kecil yang sudah dibeli sebelum masuk RPH.

Proses selama di RPH Fukuoka

Awalnya saya mengira alat dan ruangan untuk memotong sapi dan babi sama, ternyata yang saya temukan (more…)

Kunjungan ke Fukuoka Slaughter House/ Rumah Potong Hewan

Kunjungan ke Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Fukuoka (福岡市) merupakan salah satu bagian dari kuliah “M05 Current Topics in Agriculture and Food Environment” yang saya ambil semester ini. Pengajar di kuliah ini adalah Prof. NAKAMURA Mako, dari Animal Science, Fakultas Pertanian. Hmm, rasanya akan jadi kesempatan langka untuk mengunjungi tempat seperti ini, apalagi yang katanya RPH terbesar ke-2 di Jepang ini, setelah Tokyo. Di seluruh Jepang ada kurang lebih 28 RPH dari Sendai sampai Sasebo (Pref. Nagasaki). Namun hanya ada 10 yang mungkin tergolong sebagai Central Market, yaitu di Sendai, Saitama, Tokyo, Yokohama, Nagoya, Osaka, Kyoto, Hiroshima, dan Fukuoka. Sebanyak 18 sisanya ada di kota kecil lainnya di Jepang.

Mengapa keberadaaan RPH penting di Jepang ?

IMG_0261 (1)

Pintu Masuk RPH Fukuoka

Oh ya, sebelum banyak cerita soal keadaan RPH Fukuoka ini, ada hal yang membuat keberadaan RPH penting nih. Di Jepang ada undang-undang yang mewajibkan hewan-hewan ternak seperti sapi, babi, kuda, domba dan kambing dipotong di RPH, dilarang selain disini (undang-undang nomor berapa pasal berapa dan ayat berapa, aye kagak ngerti ye maaf, hehe). Alasannya karena hewan-hewan tersebut dikonsumsi oleh banyak orang sehingga aspek kesehatan dan prosesnya harus dalam pengawasan pemerintah. Jika dipotong sembarangan (tanpa pengawasan) dan ternyata hewan tersebut berpenyakit, maka akan banyak yang kena dampak hal ini. Nah, untuk hewan-hewan liar seperti rusa, babi liar dan lainnya, dibolehkan untuk dipotong sendiri. Karena hewan liar tersebut hanya dalam jumlah kecil, dampaknya pun hanya ke sebagian kecil masyarakat yang mengkonsumsinya. Nah, untuk Kota Fukuoka sendiri ada 19 Inspector/ pengawas yang bertugas memantau kesehatan hewan-hewan sebelum dipotong. Jadi sudah kebayang kan gimana kepedulian Jepang soal keamanan makanan.

Rata-rata per harinya RPH Fukuoka ini memproses 120 Sapi dan 600 babi, namun jika peak season seperti Natal dan acara lainnya, jumlah hewan yang dipotong bisa dua kali lipat. Umur sapi yang dipotong disini berkisar 30 bulan, sedangkan 6 bulan untuk babi. Setiap sapi akan diberikan barcode untuk proses pelacakan sampai daging tersebut dijual di supermarket, sedang untuk babi tidak ada barcode seperti itu. Jadi daging yang dijual di supermarket bisa dilacak dari sapi jenis apa, dipotong tanggal berapa dan lainnya. Nah, karena Fukuoka termasuk pasar yang besar untuk daging, para peternak di sekitar Kyushu lebih suka menjual ternaknya di RPH Fukuoka karena banyak pembeli dan harganya pun bisa lebih mahal. Bagaimana mekanisme yang terjadi dari mulai sapi/babi dari peternak sampai ke supermarket dan ke meja makan ? Beginilah kisahnya, hehe.

Distribusi Daging

Ada 195 pembeli tersertifikasi (certified buyers) di RPH ini jadi tidak semua orang bisa masuk dan ikut dalam pembelian/ pelelangan disini. Kebanyakan untuk babi tidak masuk ke pelelangan (auction room) karena sudah dibeli sebelum masuk di RPH, hanya sekitar 30 % dari babi yang masuk proses lelang. Lain hal dengan sapi, kebanyakan sapi justru masuk lelang dan hanya sebagian kecil yang sudah dibeli sebelum masuk RPH.

Proses selama di RPH Fukuoka

Awalnya saya mengira alat dan ruangan untuk memotong sapi dan babi sama, ternyata yang saya temukan (more…)