Artikel

Tulisan-tulisan yang cendrung ilmiah untuk menambah wawasan dan dan menguak kebenaran

Bahan Non-Halal di Chips Jepang

Setelah nulis soal “Cara menemukan makanan halal di Jepang Part 1 dan Part 2, saya mencoba sedikit mengeksplor makanan-makanan di supermarket dekat Asrama (sebut saja HalloDay). ternyata jika tahu mana kanji bahan makanan yang boleh dikonsumsi dan tidak akan sangat memudahkan lho. Selain itu, sekarang juga banyak terbantu aplikasi Google Translate karena bisa dengan mudah membaca tulisan kanji dari foto. Berikut hasil eksplorasinya untuk Chips/Keripik :

IMG_0893 (480x640)

Snack yang mengandung : ekstrak ayam, ekstrak daging, dan daging babi

Keripik/Chips – Umumnya keripik ditambahkan berbagai macam ekstrak (エキス) untuk menambah cita rasa, misalnya ekstrak ayam, ekstrak daging, ekstrak rumput laut, ekstrak ikan dsb. Nah, untuk jenis ini, bahan yang perlu diperhatikan adalah tentu saja ekstrak daging (hewan sembelihan karena sangat diragukan kehalalannya, misalnya ekstrak ayam (チキンエキス- chikin ekisu), meat extract (ミートエキス), ekstrak daging babi (豚肉), ekstrak daging sapi (牛肉) dan lainnya.

IMG_0895 (480x640)

Snak yang mengandung : kaldu ayam

Selain itu, bahan lain yang perlu diperhatikan adalah : kaldu atau konsome (コンソメ). Meski agak jarang ditemukan kalo di snack/chips tapi sebaiknya juga perlu diperhatikan. Saya menemukan salah satu produk snack yang mengandung kaldu/konsome tersebut. Konsome umunya ada di produk kayak mie cup, dan berbagai produk yang diseduh gitu.

Perlu diingat juga, walaupun pada beberapa snack biasanya jelas-jelas ada gambar udang, ikan, atau seafood lainnya, untuk komposisi lebih detil harus dipastikan terlebih dulu. Saya pernah kejadian, udah seneng-senengnya beli keripik rasa udang di Supermarket. Karena ada gambar udang di depannya jadi langsung pede gitu nyomot itu snack. Eh, pas mau dimakan di lab, baru nyadar dikomposisinya ada kanji 豚肉 alias daging babi. Pfffff ^%$#@#%^&&*))()*%&^%$^%&&. Apa boleh buat jadinya, saya langsung kasih snack itu ke teman Jepang di Lab sambil ngomong saya salah beli hehehe. Terus dia juga bingung, “kok bisa snack ini ada babinya ya ?”. Nah lho, harusnya saya yang nanya gituan haha.

Ternyata Begini Proses Bir Suntory Dibuat

Bir adalah minuman yang asing bagi saya, asing banget, tentu karena saya muslim. Jangankan minum, nyium baunya aja kepala udah pusing nggak karu-karuan. Pernah tuh, pas abis sport meeting di Lab saya, anak-anak Jepang pada party sambil minum alkohol, saya pun izin pulang duluan gara-gara nggak kuat baunya. Nah, kemarin 21 Nopember 2015, DOI-Sensei ngajak semua anak di kelas “Advanced Technology in Agriculture” ke Suntory Beer Factory, Kumamoto dan Kichijien Fruit Farm. La la la, semuanya senang karena kita anak-anak baru yang perlu banyak jalan-jalan di Jepang. Apalagi ini gratisan gini. Ikoouu…

suntory5

Sampai di Suntory Beer Factory, Kumamoto Plant

Dari Hakozaki ke Kumamoto kurang lebih ditempuh 2 jam mengunakan bus kampus. Tujuan pertama kami adalah Suntory Beer Factory, Kumamoto. Sewaktu masuk kawasan, “wuih gede ya pabriknya. Emang bisnis bir menggiurkan #eh”. Sesampai di dalam gedung, ada photobooth gitu yang menarik banyak hati untuk foto disana. Nah, tapi eh tapi gambar latarnya itu tuh produknya mereka “Bir Premium Malt”. Eh ini apa-apa nggak ya foto pake latar begituan. Ada temen yang malah pake property gelas Bir gitu. Hmm, itu mah udah kelewat batas kalo saya juga pake. Teman saya, Juma Kissuse muslim Tanzania, ogah foto situ. Ah, saya foto ajalah, dan akhirnya inilah fotonya, pake senyum dikit.

Suntory

Saya, lagi makai nametag PINK

Tidak lama setelah itu, karena setelah sesi Factory Visit ada sesi minum bir gratis, setiap pengunjung diberikan kalung untuk menandakan mana yang boleh minum bir, mana yang tidak minum bir dan mana yang masih di bawah umur. Saya dan beberap teman lainnya yang tidak minum bir diberi nametag PINK, sementara yang lainnya diberi nametag kuning.

Bahan-bahan untuk membuat Bir “Premium Malt’s”

Bahan-bahan pembuat Bir

Bahan-bahan pembuat Bir (Sumber : http://www.suntory.com/beer/premium/en/about)

Dalam sesi ini kami dijelaskan bagaimana Bir “Premium Malt” kebanggaan Suntory ini dibuat. Sebenarnya tidak banyak bahan untuk membuat bir yang memabukkan lho : hanya perlu 3 jenis bahan saja, yaitu : Barley, Aroma Hops, dan Air. Barley/Malt adalah sumber starch atau pati, bahan yang akan difermentasi, Aroma Hop/Hops merupakan bagian dari bunga (Lupulin grand) yang digunakan untuk memberi aroma khas dan rasa pahit pada bir. Untuk Barley, kami diminta satu per satu untuk coba memakan bijinya yang kering. Setelah itu ditanya bagimana rasanya ? “Hmm, enak ya. Manis”. Serius lho, rasanya memang manis, beda kalo lagi gigit beras hihihi. Setalah itu, kami juga diminta mencium aroma dari aroma hop, nggak disuruh nyicip karena rasanya pahit banget. Bentuk aroma hopnya sudah dalam bentuk pellet berwarna hijau daun gitu. (more…)

Kunjungan ke Fukuoka Slauhter House/ Rumah Potong Hewan

Kunjungan ke Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Fukuoka (福岡市) merupakan salah satu bagian dari kuliah “M05 Current Topics in Agriculture and Food Environment” yang saya ambil semester ini. Pengajar di kuliah ini adalah Prof. NAKAMURA Mako, dari Animal Science, Fakultas Pertanian. Hmm, rasanya akan jadi kesempatan langka untuk mengunjungi tempat seperti ini, apalagi yang katanya RPH terbesar ke-2 di Jepang ini, setelah Tokyo. Di seluruh Jepang ada kurang lebih 28 RPH dari Sendai sampai Sasebo (Pref. Nagasaki). Namun hanya ada 10 yang mungkin tergolong sebagai Central Market, yaitu di Sendai, Saitama, Tokyo, Yokohama, Nagoya, Osaka, Kyoto, Hiroshima, dan Fukuoka. Sebanyak 18 sisanya ada di kota kecil lainnya di Jepang.

Mengapa keberadaaan RPH penting di Jepang ?

IMG_0261 (1)

Pintu Masuk RPH Fukuoka

IMG_0260 (1)

Foto bersama setelah jalan-jalan keliling RPH

Oh ya, sebelum banyak cerita soal keadaan RPH Fukuoka ini, ada hal yang membuat keberadaan RPH penting nih. Di Jepang ada undang-undang yang mewajibkan hewan-hewan ternak seperti sapi, babi, kuda, domba dan kambing dipotong di RPH, dilarang selain disini (undang-undang nomor berapa pasal berapa dan ayat berapa, aye kagak ngerti ye maaf, hehe). Alasannya karena hewan-hewan tersebut dikonsumsi oleh banyak orang sehingga aspek kesehatan dan prosesnya harus dalam pengawasan pemerintah. Jika dipotong sembarangan (tanpa pengawasan) dan ternyata hewan tersebut berpenyakit, maka akan banyak yang kena dampak hal ini. Nah, untuk hewan-hewan liar seperti rusa, babi liar dan lainnya, dibolehkan untuk dipotong sendiri. Karena hewan liar tersebut hanya dalam jumlah kecil, dampaknya pun hanya ke sebagian kecil masyarakat yang mengkonsumsinya. Nah, untuk Kota Fukuoka sendiri ada 19 Inspector/ pengawas yang bertugas memantau kesehatan hewan-hewan sebelum dipotong. Jadi sudah kebayang kan gimana kepedulian Jepang soal keamanan makanan.

Rata-rata per harinya RPH Fukuoka ini memproses 120 Sapi dan 600 babi, namun jika peak season seperti Natal dan acara lainnya, jumlah hewan yang dipotong bisa dua kali lipat. Umur sapi yang dipotong disini berkisar 30 bulan, sedangkan 6 bulan untuk babi. Setiap sapi akan diberikan barcode untuk proses pelacakan sampai daging tersebut dijual di supermarket, sedang untuk babi tidak ada barcode seperti itu. Jadi daging yang dijual di supermarket bisa dilacak dari sapi jenis apa, dipotong tanggal berapa dan lainnya. Nah, karena Fukuoka termasuk pasar yang besar untuk daging, para peternak di sekitar Kyushu lebih suka menjual ternaknya di RPH Fukuoka karena banyak pembeli dan harganya pun bisa lebih mahal. Bagaimana mekanisme yang terjadi dari mulai sapi/babi dari peternak sampai ke supermarket dan ke meja makan ? Beginilah kisahnya, hehe.

Distribusi Daging

Ada 195 pembeli tersertifikasi (certified buyers) di RPH ini jadi tidak semua orang bisa masuk dan ikut dalam pembelian/ pelelangan disini. Kebanyakan untuk babi tidak masuk ke pelelangan (auction room) karena sudah dibeli sebelum masuk di RPH, hanya sekitar 30 % dari babi yang masuk proses lelang. Lain hal dengan sapi, kebanyakan sapi justru masuk lelang dan hanya sebagian kecil yang sudah dibeli sebelum masuk RPH.

Proses selama di RPH Fukuoka

Awalnya saya mengira alat dan ruangan untuk memotong sapi dan babi sama, ternyata yang saya temukan (more…)

Menemukan Makanan Halal di Jepang [1]

Makan memakan adalah urusan paling vital bagi mahluk hidup heterotrof macam kita-kita ini #tsaaah. Duh balik lagi bahasanya, ceritanya udah mulai jadi mahasiswa lagi jadi bahasa-bahasa aneh gitu inget lagi hahaha. Tapi, sebagai muslim tentu tidak boleh sembarang makan saja, apalagi di negara yang mayoritas non-muslim seperti Jepang. “Yaelah bro, urusan makan aja ribet bener, makan ya makan aja ! Yang dimakan juga bakal dikeluarin kali Bro. Woles. Peace Love and Gaol aja hahha” Boleh aja sih berpendapat gitu, tapi kalo semua yang dimakan ente keluarin, ya apa gunanya makan, hahaha. Yang jadi masalah soalnye barang haram bukan cuma singgah bentar dan bikin kenyang di perut tapi bakal jadi darah daging (buka buku pelajaran SMP lagi ya ahahahah), Nah lho. Bisa berabe kan kalo makan sembarangan.

Kalo di Indonesia urusan begini mudah saja, karena dari warung kecil sampai restoran besar menyediakan menu halal, kadang disertai sertifikat dari MUI. Nah, kalo di Jepang gimana ? Saya akan berbagi pengalaman pribadi bagaimana mengidentifikasi dan menemukan produk dan makanan halal untuk ‘bertahan hidup’ selama di Jepang. Bagaimana menemukan makanan HALAL, berikut beberapa tips dan ceritanya :

  • Menemukan restoran halal dengan bantuan apps melalui smartphone. Ada beberapa apps tentang muslim dan berbagai hal terkait termasuk soal makanan. Apps ini bisa diunduh di Playstore : HalalMinds (menyediakan scan barkode pada produk), Halal Gourmet Japan (Menyediakan info restoran halal di seluruh Jepang berikut kriterianya, misalnya hanya chefnya muslim, atau tidak menyajikan alkohol, dll). Jika bergantung pada apps tersebut rasanya masih belum cukup, karena pasti ada keterbatasan. Di apps HalalMinds misalnya, waktu scan produk bisa makan waktu lama, dan tidak ditemukan. Selain itu, ada beberapa produk yang tidak ada info atau N/A. Salah satu Resto halal di dekat Kashiihama Kaikan (Asrama Kashiihama) adalah warung makanan Turki di Mall AEON yang menjual makanan halal nasi dan kebab dengan harga paling murah 500 Yen, mahal sih tapi porsinya lumayan juga lah. Ini gambarnya.

Mr. Kebab, andalan pas awal-awal hidup di Fukuoka. Alhamdulillah sudah 1 kali dapat Kebab Gratisan hahaha

Hasil scan produk “Milk Tea” dari Apps Halal Minds. Salah satu produk teh yang umum ditemukan di Vending Machine sekitar Kampus

  • Memasak sendiri. Ini cara yang paling aman, tapi tidak praktis hehe. Bahan-bahan makanan yang halal bisa ditemukan di Toko Halal, atau di supermarket biasa tapi pilihlah bahan seafood misalnya : udang, cumi, ikan yang masih mentah dan belum diolah. Biasanya sudah dipack unyu-unyu dalam ukuran ekonomis ala mahasiswa gitu, harganya 200-400 JPY per pack. Tapiiiii, saya satu kamar sama dua mahasiswa Cina yang hobi masak babi, pernah satu kali masak bareng (sebelahan maksdunya) dia masak babi, saya masak ikan, jarak penggorengan nggak sampai satu jengkal, mana pake acara minyaknya muncrat-muncrat lagii. Nasiiib nasiiib

Calon Bapak (yang baik) #tsaaah. Dapur di Asrama kece badai, PW banget buat masak

  • Makan di kantin halal kampus. Kalo di kampus-kampus yang punya banyak mahasiswa internasional biasanya ada kantin halalnya, di Kyushu Univ. ada kantin yang namanya Nabi-san (katanya yang punya namanya Nabil). Di kantin ini ada beberapa menu yang disajikan, model bento gitu tapi. Harganya berkisar 390-600 JPY per porsi. Abis beli disitu, terus nyari tempat duduk di taman, kadang makan sama anak-anak Afganistan.

(more…)

Tokyooo : Eid Adha dan lain-lain

Sebenarnya ini soal memanfaatkan peluang, tsaaah. Kayak berat banget dah bahasannya. Jadi waktu minta jatah tiket ke Jepang via travel penyedia beasiswa, saya dikasih tiket dari Jakarta-Fukuoka tapi kudu transit dulu di Tokyo. Kalo dari Indonesia memang kayaknya nggak ada penerbangan langsung ke Fukuoka, jadi harus transit entahkah di Singapura, Incheon (Korsel) atau Filipina dan lainnya. Saya awalnya nggak nyangka akan dipesankan pesawat dengan transit di Tokyo, tapi karena sudah dibuka peluang demikian, saatnya disikaaattt (baca : dimanfaatkan dengan cara yang benar, hehe). Saya konfirmasi ke pihak travel agar penerbangan dipisah, dan akhirnya dapat tiket dengan jadwal : Jakarta-Tokyo 21 Sept malam, Tokyo-Fukuoka 25 Sept pagi. Yokatta, Alhamdulilah tanggal 24 Sept berarti di Tokyo dan bisa ikut sholat Eid di Sekolah Republik Indonesia Tokyo, SRIT. Daaan, selain itu, bisa juga sedikit kenalan dengan Ibu kota Jepang ini. Banyak sekali tempat yang sering dilihat waktu dulu jaman-jamannya suka nonton Dorama Jepang haha. Baiklah berikut sedikit cerita selama di Tokyo 22 Sept-25 Sept 2015.

blog621 September 2015. Tidak banyak yang bisa diceritakan karena memang baru berangkat dari Indonesia pukul 23.30. Malam itu dianter oleh beberapa teman BIO46 : Masrukhin dan Fajar (dua-duanya anak LPDP), dan temen kantor di Nano Center : Fauzan (merangkat supir), Ulin, dan Uud. Saya nggak sampai nangis keluar air mata, cuma agak sedih aja dari beberapa hari sebelumnya karena kayaknya kali ini berangkat ke luar negerinya agak lama dari yang biasa. Ayah dan Ibu nggak nganter sampai Soetta, cuma sampai Hananjoedin (Bandara di Belitung). Mereka nganter tapi sekaligus ikut seharian nunggu karena penerbangan di-delay dan hampir batal karena kabut asap di Belitung, huhu.

22 September 2015. Sampai di Bandara Haneda, Tokyo sekitar pukul 8.20 JST, perjalanan cuma sekitar 6 jam lebih. Dan bagi saya kayak numpang tidur aja di Garuda, haha. Nonton film on-flight aja cuma sebiji, Terminator Genesys, that’s it. Selebihnya adalah bobok ganteng malam hari. Ya wajarlah ya itu kan memang jadwal normal untuk tidur. Apa yang dilakukan di Haneda ? Saat ketemu Imigrasi sebelum ke pengambilan bagasi, saya ditanya beberapa hal oleh petugas Imigrasi, salah satunya adalah “Mau izin baito juga sekalian ?”  soalnya mahasiswa diperbolehkan baito. Saya sebelumnya nggak ngira bakal ditanya gituan, jadi agak sedikit gelapan juga. Soalnya pake bahasa Jepang gitu. Setlah nunggu beberapa saat, Taraaa.. Resident Card keluar. Tak lama pun koper biru 30 kg-an (bagasi saya) terlihat, dan sayang langsung keluar. Di lobi luar, saya leha-leha dulu di tempat duduk. Eh, Pak Polisi dateng nyamperin, nanya-nanya soal status di Jepang, cara menghubungi polisi di perlu dan lainnya. Bahasa Inggrisnya bagus, tumben haha. Memanfaatkan WIFI bandara yang lumayan kenceng, saya update dan ngasih kabar kalo sudah sampai ke keluarga di rumah. Kebetulan sekali. ada kenalan di Indonesia, Pak Ivan, yang juga sedang menuju bandara mau ke Indonesia. Akhirnya kami ketemu, beberapa saat sebelum saya memutuskan untuk naik bus ke Kita-Senju Sta. (more…)

Beasiswa LPDP : Pindah Universitas Tujuan Belajar

LPDPTopik berikutnyaaa… Setelah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari kampus pilihan hati (cie cie #apasih hahahah), “Kyushu University (Kyudai)”, saya kemudian harus memikirkan untuk Permohonan Pindah Universitas ke LPDP. Kenapa ? Jika tidak ada pengajuan pindah universitas maka, LPDP masih menganggap kampus tujuan saya adalah sama seperti apa yang saya submit waktu pendaftaran dulu “The Univ. of Tokyo (Todai)”. Mekanisme untuk mengubah ini dengan mengajukan Permohonan Pindah universitas. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk pengajuan tersebut antara lain :

  1. Surat Permohonan Pindah dari Awardee (tidak ada format surat yang baku)
  2. Letter of Acceptance (dari kampus yang baru)
  3. TOEFL/ IELTS (mungkin perlu banget untuk yang pindah dari DN ke LN)
  4. Dokumen pendukung lainnya (misalnya surat rekomendasi atau lainnya

Alhamdulillah, semuanya tak perlu repot-repot dikirim via POS namun cukup dengan email saja ke PIC-nya. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk kampus tujuan. Umumnya jika kampus tujuan yang baru memiliki ranking yang lebih tinggi (biasanya mengacu pada QS university) maka proses pindah akan lebih mudah disetujui. Nah, kalau kasusnya kita akan berpindah dari kampus yang rankingnya tinggi ke ranking yang lebih rendah, saya dapet kabar bahwa ini akan sedikit “menegangkan”. Bisa saja disetujui, atau malah tidak, bahkan awardee bisa juga dipanggil ke LPDP untuk menjelaskan secara langsung perihal kepindahannya tersebut. Iiih, sereem kan ya. Tapi, dari pengalaman saya dan rekan-rekan lainnya yang mengajukan pindah dari kampus tinggi ke rendah rankingnnya, selama alasannya masuk akal dan banyak, hehe, rasanya akan lancar-lancar saja.

Untuk kasus saya yang pindah dari Todai ke Kyudai dengan ranking yang jauh beda (hampir 100 poin bedanya), saya mengutarakan beberapa alasan antara lain : Tidak berhasil menembus Todai karena program studi yang saya inginkan di Todai, ternyata tidak ada kelas internasionalnya (trus kenapa ente pilih kemaren Dhil ? (-_-#) hehehe), Kyushu Univ juga salah satu National University yang TOP di Jepang, mereka mempunyai kelas Int’l yang sudah dari tahun 1990an, saya sudah memiliki LoA dari kampus yang baru (Kyudai), sudah mendapatkan pembimbing (sensei) dengan profil akademik yang sangat baik, dan lain sebagainya. Itulah alasan-alasan kuat saya untuk mengajukan pindah unversitas.

Di beberapa kasus lainnya, ada beberapa awardee yang bahkan pindah dari kampus lama ke kampus yang baru namun tidak ada di list kampus tujuan belajar dari LPDP. Nah, ini kan akan lebih rempong sepertinya. Namun, karena alasan dan tujuan mereka memilih kampus yang baru tersebut tepat dan dapat dipertanggungjawabkan, misalnya : Universitas yang baru memang tidak terkenal, namun untuk salah satu program studi misalnya Penerbangan (Aviation), kampus ini adalah salah satu yang terbaik di dunia. Setelah itu Anda menyertakan surat rekomendasi/ pendukung pernyataan tersebut, maka alasan tersebut sangat masuk akal untuk diterima dan permohonan pindah Anda disetujui. Jadi, jangan takut jika suatu saat mengalami kasus seperti ini Kawan, LPDP tuh baik banget hehehe #promosi.

wpid-screenshot_2015-05-20-16-38-18.png

Surat Persetujuan Pindah Kampus

Saya mengajukan permohonan pindah pada tanggal 7 Mei dan Alhamdulillah disetujui pada tanggal 19 Mei-nya. Besoknya saya menerima email surat diatas. Nah, setelah pindah kampus disetujui kemudian akan langsung dikirimkan template untuk memperoleh Letter of Guarantee (surat sakti dari LPDP) dan kontak beasiswa yang harus ditandatangani. And, it means that you are getting closer to the day of your departure, please try not to cry, LOL.

(Updated 3 Des 2015)

Karena banyak yang meminta contoh surat pengajuan pindah universitas saya via email, untuk kemudahan kita semua saya sediakan link untuk download langsung di sini. Ini dia filenya (.docx) Surat Permohonan Pindah Universitas_Mohammad Fadhillah_PK22. Ucapan terima kasih cukup dengan cara meninggalkan komentar di blog ini agar saya tahu siapa yang men-download file tersebut.

Pada kasus saya, saya tidak buat Surat Rekomendasi dari pihak mana pun, jadi maaf saya tidak punya formatnya. Salam.

Beasiswa LPDP : Menentukan Kampus Tujuan

Yeaaayyy. Alhamdulillah. Sujud Syukur setelah melihat nama di deretan calon penerima beasiswa LPDP yang lolos seleksi wawancara. Momen itu terjadi hampir setahun silam (Juni 2014) dan sampai saat ini masih belum berangkat juga. Barangkali banyak yang aneh, hehe. Bilangnya jadi kuliah ke Todai tapi belum berangkat-berangkat juga dari tahun kemaren. Baiklah, mungkin di tulisan kali ini saya mau cerita hal yang sebenarnya terjadi.

logo-uot

Todai ??
. Saya pun kaget sebenarnya kenapa akhirnya bisa memilih universitas ini. Jadi awalnya saya sempat galau sebelum submit aplikasi ke sistem LPDP. Mau ngambil jurusan apa dan di universitas mana ?. Saya sempat ganti beberapa kali universitas dan jurusan di form pendaftaran LPDP, diantaranya (yang saya inget) : Kyoto University, Manchester University, Edinburgh University, dll hingga akhirnya The Univ. of Tokto (todai). Modal nekat saja masukin todai dan terus di submit. Saat itu juga memang batas submit berkas sudah dekat, jadi memang terkesan agak gegebah dan tanpa mikir panjang juga milih hal tersebut.

Manchester_University_Logo_(2)Impian singkat ke Manchester University. Waktu berlanjut terus. Setelah diumumkan lolos tahap interview, saya mulai bergerilya mencari info universitas yang masih buka pendaftaran untuk masternya. Coba cari sana sini, dan akhirnya menyerah karena memang rata-rata untuk intake yang 2014 akhir, semua pendaftarannya sudah ditutup. Terlebih saat itu memang belum punya sertifikat TOEFL iBT atau IELTS untuk daftar kampus. Ya mau bagaimana lagi, berarti harus mengikhlaskan untuk tahun depan saja. Ritme nyari kampus pun mulai agak santai jadinya. Paling kerjaan cuma buka web kampus-kampus, kalau merasa tertarik terus buka akun untuk pendaftaran di web-nya (misalnya : Manchester Univ. dan Edinburgh, Oxford pun sama). Jadi, saya pernah punya akun pendaftaran disitu hehe. Walaupun di berkas aplikasi LPDP tertulis Todai, namun dulu rasanya kok “sreg” dengan Manchester Univ. ya. Nah, sempet tuh ngebet banget pengen kesana juga. (more…)