Cerita-cerita

500 Yen untuk Makan Jeruk Sepuasnya

8

Apel Fuji

5

Jeruk Akaneko

Kichiji-en (吉次園) adalah tempat lain yang dikunjungi selain Pabrik Bir Suntory yang saya ceritakan sebelumnya. Nah, Kichiji-en itu adalah, bukan pabrik bir lagi pastinya, kebun buah yang bisa metik sendiri. Kichiji-en” terletak di Kota Kumamoto, Kita-ku, merupakan area pertanian yang menyediakan pengalaman unik memetik buah langsung dari pohonnya dan bisa langsung dimakan di tempat. Kichijien merupakan perkebunan organik yang menerapkan sistem organic dan eco-farmer serta tidak menggunakan pestisida. Kebayang nih, kagak punya atau pernah beli tanah sama sekali di jepang, kagak bisa nanam buah, kagak punya duit (ngenes banget dah) hahaha, tapi bisa metik buah macam di kebun sendiri, langsung dimakan pulak. Bukan satu dua biji tapi sampe sepuasnya selama 1 jam. Ehhmm, ya tapi nggak gratis lah pastinya ya. Keterlaluan banget kalo gratis mah, cukup bayar 500 yen untuk jeruk dan 800 yen untuk apel.

Sebelum dipersilakan masuk ke kebunnya, pengunjung harus bayar 500 yen dulu di kasir, kemudian baru dikasih peralatan memetik jeruk : gunting buah dan plastik putih. Kalo gunting kan jelas tuh buat apaan ya, nah plastik ini banyak yang salah tafsir. Ada yang bilang nanti kalo bawa pulang paling banyak satu plastik ini. Agak masuk akal sih, jadi saya percaya aja haha. Nah, ternyata setelah dijelaskan dari Mba-mbak tukang kebunnya, plastik itu untuk tempat sampah kuliat jeruk yang abis dimakan. Kalo mau bawa pulang jeruk harganya 400 yen per Kg-nya. Nggak gratis ya ternyata haha. Yahh. Kirain teh. Nah, selama satu jam, pengunjung (yang sudah bayar 500 yen) bisa makan jeruk sepuasnya, mau berapa biji pun boleh, kalo kuat sih. Oke, petik satu, nyam nyam makan, dua, tiga, empat, lima, enam, mata udah sepet. Oke, angkat tangan. Udah cukup kayaknya dah.

Cara memetik jeruk yang baik dan benar (diperagakan oleh model majalah …)

Selain jeruk, bulan Nopember seperti saat itu ada juga buah lain yang bisa dipetik, Apel. Variates Apel yang ditanam disini adalah Fuji, katanya salah satu yang terkenal di Jepang. Kalau ingin makan Apel sepuasnya di kebun, sebanyak apapun selama satu jam harganya agak sedikit mahal sih 800 yen. Kalo ingin dibawa pulang, tergantung beratnya, 65 yen/100 g. Hmm, mahal sih dibandingkan dengan sama yang sudah siap angkut di supermarket. Tapi, kalau ingin merasakan sensasi memetik apel seperti di kebun sendiri, boleh dicoba lah. Nah, buah apel nggak sebanyak buah jeruk lho, selain itu letaknya juga tinggi-tinggi jadi butuh sedikit tenaga ekstra.

Di kebun ini ada beberapa jenis buah yang bisa dipetik, tapi tergantung musimnya. Jenis buah-buahannya antara lain : apel, jeruk, stroberi, persimmon, pear, dan anggur. Harganya bervariasi antara tiap buah, dan tentunya berbeda juga untuk anak-anak dan orang dewasa. Ini jadwal tahunan Kichiji-en jika suatu saat berminat ke sana :

7

Menemukan Makanan Halal di Jepang [2]

Tulisan Part 2 ini akan banyak membahas soal Kanji untuk menemukan makanan halal di Supermarket atau tempat belanja lainnya. Berikut adalah kanji-kanji yang harus dihapal dan diingat untuk bahan yang harus dihindar karena lebih mudah menghapal yang harus dihindari daripada menghapal bahan-bahan yang boleh dikonsumsi, haha. Pada beberapa produk biasanya bisa jadi mengandung beberapa bahan berikut :

Komposisi (原材料名) Romaji Arti Produk
ショートニング shortening shortening roti dan coklat
動物ショートニング Shortening (from animal) shortening Pada beberapa kue (cake)
ビーフエキス Beef Extract Ekstrak sapi Potato chips (keripik kentang)
鶏エキス Chicken Extract Ekstrak ayam Biskuit, kripik-kripik
肉エキス Meat Extract Ekstrak daging Mie seafood
ラード (豚の脂肪から精製) Lard Lemak babi Roti dan mie soba
ビーフコンソメ Beef Consomme Kaldu daging Potato chips (keripik kentang)
コンソメパウダー Consomme powder Kaldu bubuk
コンソメ Consomme Kaldu
洋酒 Western Liquor Arak barat Pada beberapa coklat
Sake Arak Jepang Kue
リクオール Liquor Minuman keras Es krim
洋酒漬レーズン Raisin moistened with Western wine Pada beberapa coklat
アルコール Alcohol Alkohol Pada beberapa shoyu (soy sauce)
ブランデー Brandy
ラム酒 Western wine Anggur barat Pada beberapa coklat
ビーフカレ Beef Curry Kari sapi Potato chips (keripik kentang)
レシチン Leichitin* Pada beberapa ramen dan coklat
トン骨ラーメン Tonkotsu ramen
みりん Red Sake Mirin
ワイン Wine anggur Coklat, hot cake, es krim
ゼラチン Gelatin Gelatin (terbuat dari tulang babi) Coklat, es krim, onigiri dan beberapa produk 711
Bahan yang perlu diperhatikan :
ショートニング Biasa berasal dari sumber hewani (動物性 or 動物)
油脂 Bisa berasal dari tumbuhan seperti (植物性 or 植物)
マーガリン Jika berasal dari tumbuhan  (植物性マーガリン)

(sumber : i-s.ppisendai.org/halal-haram/)

Nah selain itu, ada beberapa kanji yang umum ditemukan dan sangat baik jika tahu maknanya. Kadang, saya juga penasaran sih. Jadi, walaupun tidak ada kanji aneh-aneh seperti di atas, tapi kalo satu pun saya nggak tahu arti komposisinya jadi ragu-ragu juga, apa bisa dimakan atau nggaknya. Yuk, kita coba baca komposisi(原材料)dari salah satu snack “favorit” saya berikut :

IMG_20151014_14204

Kanji Romaji Arti
名称 meishou Tipe produk
クーッキ kukki Cookies
原材料名 Genzairyō-mei Komposisi
小麦粉 komugiko Tepung terigu
砂糖 sato Gula
ショートニング shortening mentega
植物油脂 Shokubutsu yushi Minyak sayur dan lemak
カカオマス kakaomasu Massa kakao
全粉乳 zenfun’nyu Susu bubuk
全卵 zentamago Telur utuh
ココアバター Kokoa bata Kokoa butter
食塩 shokuen Garam makan
膨脹剤 Bochozai Pengembang
乳化剤 (大豆由来) Nyūkazai (daizu yurai) Emulsifier (dari kedelai)
香料 Koryo Flavouring
内容量 Naiyōryō Jumlah total (dalam kemasan)
消費期限 Shōhi kigen Tanggal kadaluarasa
保存方法 Hozon hōhō Cara penyimpanan

Nah di Cookies ini, hal yang perlu diperhatikan hanya ショートニング (shortening) karena memang umumnya shortening tidak dijelaskan sumber asalnya, tidak seperti emulsifier (乳化剤) yang sudah disebutkan berasal dari kedelai. Oleh karena itu, untuk memastikan produk ini bisa dimakan atau tidak, kita harus mengontak perusahaannya (biasanya via telpon) atau melihat referensi dari fanpage Halal Food yang sudah saya sebutkan di tulisan sebelumnya. Kalau ternyata produk ini belum dikonfirmasi boleh atau tidak, lebih baik ditinggalkan. Yang lain masih banyak, jangan khawatir. Ini cuma snack kok bukan jodoh, hidup jangan dibuat susah, hahhaa.

Sekedar cerita saja, saya kadang suka bagi-bagi snack di Lab, dan mereka juga sebaliknya. Nah, beberapa kali saya harus menolak atau “menyimpan” snack mereka karena meragukan. Sampai akhirnya saya sampaikan bahan-bahan yang tidak boleh dikonsumsi oleh muslim, misalnya shortening dan emulsifier (karena kemungkinan besar berasal dari babi). Setelah saya sampaikan demikian, berikutnya mereka cek dulu sebelum beli snack agar bisa dibagi-bagi ke semua orang termasuk yang muslim. Sekian.

Part 1 : http://mfadhillah.com/2015/10/23/menemukan-makanan-halal-di-jepang/

Artikel lain yang bermanfaat :

http://www.survivingnjapan.com/2012/04/ultimate-guide-to-reading-food-labels.html

Beasiswa LPDP : Gathering di Uminonakamichi

cropped-img_20151018_1610311.jpg

Apakah kamu suka bunga ? Atau kamu sedang berbunga-bunga ? hahaha. Nggak ada hubungannya dengan dua pertanyaan itu sih di postingan ini. Saya hanya mau cerita dan berbagi foto pas acara Gathering Awardee LPDP Kyushu University (Kyudai) di Uminonakamichi (pasti blibet nyebutnya ya, haha) hari Minggu, 18 Oktober 2015. Umi-no-naka-michi (海ノ中道). Laut di tengah jalan, kalau diartikan langsung, bener nggak ya. Kalo dilihat dari petanya sih bener juga, haha. Ternyata cuma daratan kecil yang dikelilingin laut di teluk Hakata (Hakata Bay). Total Awardee LPDP aktif di Kyudai : 16 orang, dan di kesempatan ini Alhamdulilah bisa terkumpul 15 orang yang berasal dari berbagai kampus. 15 orang itu adalah : Fadhil (saya sendiri), Mas Reza, Mas Ardi, Mas Haris, Mas Dalton, Mas Febby, Mas Ristiyanto, dan mas Arif Budiyanto (koordinator LPDP Kyusai). Sementara itu di grup sebelah : Bu Mustikasari, Mbak Widya, Mbak Intan, Mbak Wana, Mbak Tya, Mbak Annisa, dan Mba Indah. Kami kumpul di lokasi sekitar pukul 1 siang, ada yang naik kereta, mobil dan motor. Saya sendiri diajak salah satu awardee naik mobilnya, Alhamdulillah euy. Nggak perlu muter-muter dulu naik kereta ke sono hehe.

Screenshot 2015-10-24 17.35.57 (640x302)

Jika di hari-hari biasanya masuk ke sini harus bayar tiket sekitar 350 Yen katanya, nah pas banget hari itu ternyata GRATIS euy alias 無料 (muryo). Asssiiikk. Mahasiswa gitu loh, yang namanya gratisan pasti paling demen. Denger-denger katanya gara-gara tim baseball SoftBank menang kejuaraan apa gitu, jadi pada banyak diskon dan gratisan.

Acara gathering diawali dengan makan bersama, kemudian perkenalan dan ngobrol-ngobrol santai, sholat dan jalan-jalan ke taman bunga dan sebagian lagi kebun binatang. Tidak ada agenda khusus sebenarnya, hanya kumpul-kumpul dan kenalan biasa sesama awardee sekaligus sharing jika ada permasalahan terkait akademik dan beasiswa. Selebihnya acara bebas, bebas untuk foto-foto dan bernarsis ria.

1445262318471 (640x480)

1445262308914 (640x480)

 

Ke tempat ginian sangat tidak direkomendasikan kalo tanpa pasangan, sementara yang lain bawa dan dengan teganya foto-foto berduaan. Hiks. Pengennya tuh disini, hahhaa. Well, walaupun nggak terlalu ngerti bunga ini itu yang jelas tempat ini tenang banget, enak buat jalan-jalan menghilangkan penat, eits jangan lupa bawa bento karena di dalam susah cari makanan yang halal apalagi makanan murah. Sekian. Jangan baper ya. Hahaha

Beasiswa LPDP : Mencari Sensei di Kyudai

wpid-kyushu-u_logo22.jpgLanjutt. Kali ini saya sedikit cerita soal mencari sensei di Kyudai kemarin. Baiklah…. (mulai cerita) Setelah menemukan jurusan program studi Master yang pas di Kyudai, selanjutnya saya mencermati profil-profil calon Sensei yang akan saya kontak. Prodi yang awalnya saya pilih adalah Bioresource Sciences, mata kuliah di dalamnya berisi setengah tentang pertanian (Agricultural Bioresources) selebihnya tentang (Animal and Aquatic Bioresources). Karena sempat beberapa kali membahas tentang Ikan Sidat di kerjaan, saya jadi punya keinginan untuk studi lebih lanjut tentang itu. Saya pun memutuskan untuk mengontak salah satu Prof. yang punya bidang keahlian seputar topik tersebut. Saya mengirimkan surel (email) ke Beliau yang kira-kira menyebutkan beberapa poin penting : perkenalan, ketertarikan dan alasannya, ingin bergabung di Lab-nya, dan terakhir tentang beasiswa yang sudah saya miliki. Hari demi hari saya menunggu balasan dari email itu. Seminggu kemudian baru ada email balasan masuk dan mengatakan bahwa di Lab tersebut tidak ada kajian tentang topik yang saya inginkan, silakan coba mencari ke Lab lain. Saya disarankan demikian. Saya coba kembali berdiskusi bahwasannya soal topik saya bisa menyesuaikan dengan kajian di Lab saat ini, jika saya memang diterima di Lab tersebut nantinya. Kami saling berbalas email, namun yang saya sayangkan adalah saya selalu menunggu email balasan yang baru sampai kira-kira > 4hari, kadang bahkan sampai 1 minggu dari Sensei ini. Sementara itu, batas pendaftaran di Kyudai untuk gel. 1 akan ditutup akhir Maret 2015. Kalo kondisi diskusinya begitu, pasti bakal lewat deadline nantinya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengontak ke program studi lainnya, sebelahan sama yang lama.

Pindah haluan ke Bioscience and Biotechnology. Karena basic saya di Biologi/ Mikrobiologi saya mencoba nyari-nyari Lab yang seputar itu, tapi yang agak keren dikit namanya. Akhirnya nemu Lab. Microbial Technology, dengan Prof. Sonomoto sebagai kepala Lab-nya. Saya layangkan email kembali. (Oh ya, email ini sudah dikoreksi oleh dua orang lulusan NTU Singapura haha, terharu banget. Thanks to Mr. Radyum Ikono dan Mr. Ridwan Salim Sanad). Redaksi emailnya seperti ini :

Email Subject : Prospective Master Student with External Funding

Dear Prof. Sonomoto,
 My name is Mohammad Fadhillah. I am holding a Bachelor of Science
 (B.Sc) degree from Department of Biology, Bogor Agricultural University (IPB), Indonesia, completed it in February, 2014. My undergraduate research topic was related to microbiology field. I have visited your laboratory's website and also read your papers related to microbial utilization of renewable resources. I am really interested to study more about it.  It is an honor for me if I can join your laboratory and conduct a research under your supervision.
I am awarded Master Scholarship by Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). The scholarship will cover all expenses during the study. If my application accepted, I am ready to begin the course on this coming September 2015.
For your consideration, hereby I enclosed my Curriculum Vitae and Sponsor Letter from LPDP. I am looking forward to hear from you soon. Thank you very much.
Best Regards,
 Mohammad Fadhillah

Sekitar jam 8 atau jam 9 malam saya kirimkan email itu, besok paginya saya dapat balasan email ini : (more…)

Menyusuri Maluku Utara : Ternate-Bacan-Obi-Gomumu

Setalah misi penerapan teknologi nanobubble di kapal penangkap (pajeko) sebelumnya dinyatakan belum berhasil (karena tidak ada tangkapan ikan untuk diuji), well misi selanjutnya berarti masih akan di kapal-kapal juga hehe. Kali ini bukan armada penangkap tapi penampung tuna yang biasanya berlayar ke ke Pulau Obi, Halmahera Selatan. Kapal penampung KM Samodra 43 sudah dipersiapkan untuk berlayar kira-kira Rabu malam, tanggal 14 Januari 2015. Trip kali ini dipimpin oleh Capt. Jaka beserta 5 orang ABK lainnya.

wpid-img_20150119_104353_shot2shot9.jpg

Bersama ABK KM Samodra 43 dan 44 di Pelabuhan Panambuan, Bacan

Dari tim Nano Center sendiri saya, Mba Antin, dan Pak Ade awalnya berencana untuk ikut langsung dari Bitung dengan kapal ini. Namun, dengan beberapa pertimbangan akhirnya kami tidak ikut bersama kapal dari pelabuhan bitung, namun akan bergabung nanti di Bacan dan selanjutnya sampai ke Obi. Kami bertiga menuju Bacan via Ternate, jadi sebelumnya kami berangkat ke Ternate dengan pesawat Garuda kecil (pengalaman pertama naik pesawat garuda segede ini). Perjalanan Manado-Ternate kira-kira cuma 30-40 menit, bentar banget. Merasa beruntung sekali bisa menginjakkan kaki di Bumi Ternate, yang sebenarnya sudah sering dengar namanya dari buku sejarah SMP (kayaknya). Ternate dan Tidore, salah satu kerjaaan kesultanan Islam di Nusantara. Masih ingat kan ?? hehe. Kami sampai di Ternate sekitar pukul 1 siang, Kamis, 15 Januari 2015. Ternyata ternate sudah masuk WIT, bukan WITA lagi (baru nyadar) jadi kami mesti bergegas untuk mengejar kapal cepat ke Bacan yang katanya berangkat jam 2 siang dari Terante. Alhamdulillah masih ada kapal cepat, dan ternyata baru berangkat sekitar jam 4 karena pas penumpang sepi. Kapal cepat Ternate-Bacan mirip seperti kapal cepat Bangka-Belitung Xpress Bahari.

wpid-img_20150201_132239.jpg

Cincin Batu Bacan Doko

Sampailah di Pulau Bacan Malam harinya sekitar pukul 8 atau 9 malam, sudah agak larut malam. Dari pelabuhan Babang kami pun masih harus ngangkot menuju Panambuan, lokasi Kantor Unit perikanan Nusantara di Bacan. Dari Babang ke Panambung kira-kira 1 jam lebih, dengan angkot carteran. Sayangnya, kami tertahan di Bacan selama kurang lebih 1 minggu karena ada dokumen kapal KM 43 yang tidak lengkap sehingga tidak diizinkan untuk melanjutkan ke Obi. Kerjaan selama di bacan, ya gitu-gitu aja sih hehe. Kalo pas lagi ngomongin batu (bacan) saya ikut nimbrung aja, biar nggak ngerti-ngerti dikit. Pas ditanya harga, wow, pengen nangis rasanya. Satu batu kecil aja bisa nyampe ratusan ribu bahkan jutaan. (more…)

Melaut ke Utara Sulawesi Utara

Akhir-akhir ini entah kenapa semangat untuk nulis blog makin nggak karu-karuan, malesnya minta ampun. Padahal niatnya setiap bulan minimal ada 4 tulisan yang rutin publish tiap minggunya. Apa daya permirsa, beginilah adanya. Mohon maaf jika ada yang berkunjung dan tulisannya masih yang itu-itu aja. Oke, oke. Kali ini saya akan cerita sedikit pengalaman menyusuri laut Utara Sulawesi Utara bersama pajeko Maranatha 19 GT.

IMG_20141213_142212

Pemandangan saat berangkat, keluar dari pelabuhan Bitung. Kereen Parah

Sekitar pukul 3 sore WITA hari Sabtu, 13 Desember 2014, saya dan ABK kapal mulai mengemasi barang-barang di atas kapal. Sebentar lagi akan lepas landas, eh, maksudnya akan berangkat. Tujuan kami di sekitar kepulauan Sangihe (atau biasa disebut Sanger), wilayah utara provinsi Sulawesi utara dan juga Indonesia. Di trip ini kalau ditotal semuanya semua orang yang ada di kapal itu ada 25 orang, dipimpin oleh Capt. Yoksan. Untuk saya pribadi, ini pengalaman pertama naik kapal jaring ikan. Sebelumnya memang pernah, tapi cuma kapal kecil yang muat beberapa orang dan melaut tidak jauh-jauh dari muara sungai atau naik kapal untuk nyebrang dari Pulau Belitung ke Pulau Lengkuas. Pastinya dulu tidak pernah ada di kapal sampai satu hari satu malam, paling hanya beberapa jam. Nah, kalau yang kali ini, Alhamdulillah sesuatu sekali ya, 6 hari luntang-lantung di laut. Maaf agak melebar, jadi balik ke cerita awal perjalanan lagi. Lokasi tujuan kira-kira baru akan sampai hari Minggu siang, besoknya. Lokasinya bukan pulau, tapi rumpon ikan di tengah laut.

Saya ikut kapal ini sebenarnya membawa salah satu misi mulia, hehe. Kami, Nano Center Indonesia  dan PT. Perikanan Nusantara sedang melakukan penerapan teknologi untuk mempertahankan kesegaran dan mutu ikan. Setelah dikonfirmasi di darat, teknologi ini akan dikonfirmasi lebih lanjut di lapangan langsung, salah satunya di kapal penangkap dan penampung. Itulah sebabnya saya ikut kapal ini, hehe.

IMG_20141214_122445

Darmaga keren di Pulau Lipang, Kab. Sangihe

Dari sejak berangkat hingga hari minggu sore, alhamdulillah saya tidak mabok laut. Malu juga euy kalau pas naik kapal terus mabok laut, dilihatin ABK sekapal hahaha. Tapi ya, karena ikut kapal jaring jadi setiap sore (sebelum matahari tenggelam), kapal yang awalnya bersandar di darmaga pulau Lipang menuju rumpon yang adanya di tengah laut. Di tengah laut kadang gelombang nggak bersahabat, kapal jadi miring sana miring sini. Ini yang bikin pertahanan tubuh roboh. Jadi pas malem-malem, karena harus instalasi alat di palka kapal, saya harus bolak balik ke depan dan belakang saat kondisi kapal lagi oleng. Satu kali masih oke, dua kali bolak-balik mulai puyeng, selanjutnya nggak kuat. Akhirnya muntah-muntah beberapa kali. Oh, rasanya nggak enak banget. Malam itu, sungguh tak terlupakan. Bukan saja karena malam harinya itu muntah tapi menjelang larut pun ternyata susah tidur. Kapal kecil ini miring ke kanan, kemudian miring ke kiri membuat kepala sering kejedot kayu. Apalagi saat ombak tambah besar, tambah tidak bisa tidur pulalah saya. Tapi, seberapapun beratnya malam itu, pagi tetap datang dan kurang beruntungnya kondisi ikan tidak bagus jadi jaring tidak jadi dilepas. Kami kembali merapat ke darmaga Pulau Lipang.

IMG_20141216_142949

Sama anak-anak Pulau Lipang di Kamar Kemudi

IMG_20141217_152125

Main ke Sekolah SD Inpres P. Lipang

Sesampainya di darmaga, untuk menghilangkan kejemuan di kapal, saya jalan-jalan ke desa. Saya pun kenalan dengan anak-anak sana, ini dia mereka, namanya Abrari, Defitra dan Eka. Mereka tampak akrab sekali dengan suasana darmaga dan pantai. Saya ngobrol-ngobrol ala anak kecil, dan nanya sekolah mereka. Mereka bilang ada di bukit sana, ada SD dan SMP. “Ada Pengajar Muda juga lho kak. Namanya ….. (saya lupa) ngajar kelasku, kelas 5” kata Eka. Wah, jempol untuk relawan muda IM yang berdedikasi untuk mengajar di pulau ini. Kata anak-anak itu, itu sudah pengajar yang kedua. Nanti akan digantikan satu orang lagi lalu kemudian programnya selesai di Lipang ini.

Setelah selesai bercakap-cakap di Darmaga Lipang yang megah ini, saya minta diajak jalan-jalan sambil beli cookies di warung desa. Setelah dari warung, sekalian saja saya ke sekolahnya. Ada rasa penasaran bagaimana kondisi sekolah di Pulau seperti ini. Dari gedung fisik sekolah nampak lumayan layak, Alhamdulillah cukup senang melihatnya. Di Pulau ini, sekolah formal hanya ada sampai SMP, jika ingin melanjutkan ke SMA maka harus ke Pulau sebelah, ke Tahuna. Kalau ingin kuliah, mereka biasanya ke Manado dan lainnya. Dari nada bicaranya, anak-anak ini nampak masih punya semangat yang tinggi untuk sekolah, walaupun Eka merupakan anak yatim piatu yang sekarang tinggal bersama neneknya. Hebatt !!. Oh ya, di Pulau ini mayoritas penduduknya adalah muslim, jadi impian mereka adalah ingin mempunyai masjid yang cukup besar sehingga bisa memuat banyak orang untuk ibadah. Semoga Masjidnya lekas terbangun. Sudah dari setahun yang lalu dan kondisinya masih seperti ini.

Beberapa hari kami bersandar di Pulau ini sampai Capt. memutuskan untuk pulang ke Bitung, tanpa membawa satu pun hasil tangkapan. Pertimbangannya adalah kondisi es di palka yang sudah susut dan bahan bakar yang hanya cukup untuk jalan pulang saja. Rencana nanti, sebelum masuk Bitung, kapal ini akan mengontak kapal lampu agar bisa masang jaring. Ya, minimal dapat hasil untuk ikan makan ABK daripada tidak sama sekali. Kami bertolak dari Darmaga Lipang kira-kira pukul 1 siang, singgah sebentar ke Tahuna untuk mengantar penduduk yang ingin menyebrang dari Lipang ke Tahuna Barulah kemudian kapal menuju Bitung. Hari itu tertanggal 18 Desember 2014, hari Kamis, kami bertolak kembali ke Bitung.

IMG_20141219_054225

Ikan Malalugis (Layang) hasil menjaring

IMG_20141219_060426

Kalau ini namanya ikan tude

Sebelum masuk pelabuhan Bitung, sekitar pukul 4 pagi tanggal 19 Desember, kapal kami merapat ke kapal lampu dan akhirnya jaring pun turun. Saya berkesempatan ikut menarik jaring bersama ABK lainnya, menyaksikan ikan yang masuk ke jaring, sambil nanya ke Bapak-bapak sebelah “Pak, ini ikan apa ya ?” hehe. Baru saya tahu sebutan ikan daerah sana, ada Malalugis (ikan layang), Deho, Tude, Maesang dan lainnya. Hasil tangkapan subuh itu tidak banyak, hanya sekitar 6 keranjang, 300 kg. Karena memakai jasa kapal lampu, maka 30% hasil diberikan ke mereka. Dari situ saya baru sadar kenapa, kapal sejenis pajeko ini butuh ABK yang banyak, penangkapan dengan jaring seperti ini memang butuh banyak tenaga, untuk menarik jaring dsb. Hari sudah mulai pagi, dan jaring sudha di atas kapal, dan dari haluan sudah mulai terlihat pelabuhan Bitung. Petualangan 6 hari ke utara Sulawesi Utara selesai. Pengalaman yang menegangkan sekaligus “menyenangkan”.