Cerita-cerita

Saya Indonesia, Saya makan sayur dan buah cukup

Di tengah suasana politik yang menghangat ini, saya sedikit membicarakan isu lain yang juga tidak kalah menarik kita beri perhatian. Untuk itu tulisan ini diberi judul “Saya Indonesia, Saya makan sayur dan buah cukup”, sedikit dari modifikasi slogan yang sempat ngtren beberapa waktu lalu. Jika melihat data yang dipublikasi dari berbagai lembaga serta trennya, Indonesia termasuk ke dalam negara dengan konsumsi sayur dan buah rendah. Beberapa data misalnya yang bisa kita jadikan acuan yaitu data survei nasional BPS tahun 2016 yang menyebutkan rata-rata konsumsi sayur dan buah nasional hanya 173 g saja. Hal ini jauh lebih kecil dari angka kecukupan gizi yang direkomendasikan yaitu 400 g perkapita perhari oleh WHO dan juga Kementerian Kesehatan Indonesia. Hal yang mencengangkan lainnya adalah angka konsumsi tersebut mengalami tren penurunan sejak 5 tahun terakhir yaitu 3,5 persen untuk buah dan 5,3 persen untuk sayur.

Data konsumsi buah dan sayur per kapita sehari tingkat Provinsi di Indonesia (BPS 2016)

Melihat angka ini tentu saya terlebih dahulu berkaca dengan kondisi diri sendiri. Saya lahir dan besar di kultur masyarakat yang sehari-harinya banyak mengkonsumsi protein hewani terutama hasil laut. Di daerah saya, Belitung, bercocok tanam sayur dan buah bukan aktivitas yang umum, kecuali berkebun lada. Oleh sebab itu semasa kecil saya sangat suka sekali ikan dan berbagai jenis tangkapan laut lain sebagai lauk bersantap. Kalau orang Indonesia belum makan tanpa nasi, maka dulu seperti belum makan kalau belum ada ikan, pastinya juga nasi. Konsumsi sayur hanya pelengkap, tidak selalu harus ada. Pola makan seperti ini akhirnya melekat dan terbawa sampai saat ini. Ketika saya akhirnya tahu tentang pentingnya sayur dan buah, saya mulai dengan sadar mencari cara agar bisa minimal mulai merutinkan konsumsi sayur dan buah setiap harinya. Berikut beberapa langkah yang saya lakukan untuk memperbaiki konsumsi buah dan sayur saya sehari-hari :
1. Mulailah dengan alasan yang kuat, Mengapa mengkonsumsi sayur dan buah itu penting ? Jika tidak dilakukan dengan pemahaman yang baik, maka mungkin semangat untuk konsisten menerapkan langkah selanjutnya akan cepat surut
2. Temukan menu berbasis sayur yang kita sukai atau sedikit disukai. Usahakan untuk menyelipkannya di antara menu harian. Misalnya seperti saya, di antara menu sayuran lain saya paling suka pecel bukan pecel lele. Nah, saat itulah saya bisa banyak makan sayur dibanding makan dengan menu lainnya.
3. Buat makanan olahan berbasis sayur. Mungkin setelah diolah dengan berbagai citabrasa baru kita bisa makan sayur lebih banyak, menu kreatif bisa jadi solusinya. Saat ini banyak dikembangkan menu berbasis vegetarian namun tampilannya layaknya menu normal lainnya, bisa berbentuk pizza, kebab, mie dan lainnya. Untuk buah biasanya jika bosan dikonsumsi langsung bisa dikreasikan dengan membuat jus atau smoothies.
4. Setelah kita menemukan beberapa menu yang sudah pas di lidah, masukkan ke menu mingguan dengan variasi yang diinginkan. Mulailah untuk jadi kebiasaan.

Nah mungkin langsung muncul pertanyaan, apa mungkin kita hidup tanpa makan sayur atau makan daging ? Mereka yang hidup tanpa makan daging atau pangan hewani (vegetarian) sebenarnya bisa. Pun sebaliknya. Ada suatu suku Inuit di Kanada bagian utara yang hidup di daerah salju yang sangat sulit untuk bercocok tanam seperti sayur-sayuran, sehingga makanan utamanya adalah pangan hewani. Ini soal keseimbangan dan nutrisi tertentu yang kita peroleh dari makanan. Vegan misalnya cendrung rentan kekurangan vitamin B12, zat besi, zinc, dan kalsium. Sementara itu, tanpa diet sayur, kita juga akan kekurangan asupan serat dan karbohidrat. Nah, dengan memiliki sumber makanan beragam, maka nutrisi kita akan mudah terpenuhi. Siap untuk makan sayur dan buah cukup ?!!

#gobion2018#cappanahmerah#generasimakansayurdanbuah

Tipe-tipe Sensei di Jepang

Dua bulan setelah kembali dari masa-masa hidup di negeri ‘mimpi’ dan kini saya sedang menikmati momen-momen bersama keluarga dan istri di kampung halaman. Sesekali merenung, banyak kali menghayal, haha. Biar hujan emas di negeri orang, mandi hujan air di kampung sendiri jauh lebih nikmat. Tsah. Oke, para pembaca, itu sedikit intro-nya.

Mungkin akan ada beberapa serial tulisan yang belum saya selesaikan tentang Jepang dan cerita-ceritanya, termasuknya novel yang niatnya ingin diselesaikan sebelum beres Master, ternyata belum juga. Di tulisan ini, saya akan berbagi sedikit cerita mengenai Sensei atau Pak Guru atau juga Professor di kampus Jepang. Kenapa penting ya ? Biar nanti pas ke Jepang nggak kaget kenapa suasana di lab horor banget tak seindah yang dibayangkan sebelum berangkat dulu ? atau tak seindah foto-foto kakak-kakak di Instagram itu lho ?.

Siapakah Sensei ? Umumnya mahasiswa di Jepang akan menyebut pembimbing/ supervisor mereka selama studi. Di lab biasanya ada Sensei besar (daisensei), sensei associate, dan sensei assitant (yang belum boleh membimbing mahasiswa). Di Lab saya dulu Daisensei bisa membimbing sampe mungkin 20 orang mahasiswa, sarjana, master, dan doktor. Keadaan di lab lain mungkin berbeda-beda. Nah, untuk hal tentang tipikal Sensei bisa dibilang juga sangat variatif. Berikut saya sarikan dari beberapa cerita dan pengalaman langsung saya dan kawan-kawan sewaktu menempuh studi di Kyushu University dulu.

  • Sensei Santai. Ini tipe sensei saya banget sih. Kami di lab diwajibkan hadir setiap minggu hari senin pagi, jadwalnya asa-kai (pertemuan pagi) atau kenkyu-kai (pertemuan penelitian), lalu jadwal diskusi wajib untuk grup riset hanya sebulan sekali. Namun, jika ada masalah atau ingin konsultasi di luar itu bisa langsung ke ruangan Beliau. Tidak hanya ke mahasiswa sarjana dan master aja lho, doktor juga gitu, walaupun doktor memang syarat lulusnya lebih sulit dibanding sarjana dan master. Tapi, untuk hal-hal yang menjadi prasyarat studi, sensei saya care banget, kadang-kadang langsung datengin saya pas di lab atau email. Hmm, saya jadi ngerasa labnya terlalu santai dan nggak ada tantangan haha. gaya.
  • Sensei baik hati dan pengertian. Ada sensei yang seperti Bapak bagi mahasiswanya, bahkan sampai kadang ngundang kita dan keluarga di rumahnya. Mendukung kegiatan kita, bahkan nanyain soal keuangan apa masih aman atau nggak bulan ini. Kawan saya ada yang diantar sensei belanja di hari pertama sampai di Jepang. Mereka ngerti bahwa kita jauh dari kampung halaman dengan semua tradisi dan budaya yang beda, khawatir kita punya masalah beradaptasi di Jepang. Sebagai mahasiswa yang mayoritas muslim dari Indonesia biasanya akan berhadapan dengan isu soal agama disana. Sebagian sensei yang sudah punya wawasan yang luas bahkan kerjasama dengan universitas dari negara Islam mereka umumnya sudah paham. Bahkan ada Sensei yang bela-belain cari informasi tentang Islam sebelum si mahasiswa muslim pertama nyampe di labnya. Biar dia tahu apa yang boleh dan nggak. So sweet nggak tuh.
  • Sensei yang terlalu ‘rajin’. Rajin disini maksudnya ya rajin haha. Misalnya, ngadain pertemuan lab tiap hari jam 9 teng teng, terus diskusi dengan mahasiswanya setiap minggu, keluar dari lab dikit ditanyain mau kemana. Mau pulang kampung dibatesin atau malah dilarang karena alasan macem-macem. Di bawah bimbingan sensei kayak gini, S2 pun berasa jadi S3 lho. Umumnya yang S2 itu merem aja lulus di Jepang, bisa melek aja susah lulus haha. Tapi jarang banget kasus S2 molor waktu studinya di Jepang selama ngikutin saran-saran sensei.
  • Sensei ala Bos kantoran. Saya pun kadang nggak nyangka ada sensei yang ngejadiin mahasiswanya kayak laborannya dia. Disuruh handle banyak proyekannya. Hasil dikit dicemberutin, email nggak dibalas ngambekan, nge-email larut malem dan pagi buta. Kadang suka nggak ngertiin kalo mahasiswanya juga masih manusia. Ada curhatan malah yang bilang ke saya “Dulu pas saya ketemu di Indonesia kayaknya ini Sensei baik banget lho, nawarin saya buat PhD di labnya”. Dan sekarang semuanya, ya sudahlah”
  • Sensei PHP. literally senseinya emang seorang pemberi harapan palsu. Kasus telat masa studi di Jepang biasanya hanya dialami oleh mahasiswa Doktoral aja, kenapa ? karena syarat untuk lulus ketat, bisa 2 paper (baca: artikel ilmiah), dan ikut konferensi berapa kali gitu. “Oke, kalau sudah cukup syarat kamu bisa ujian/sidang dan lulus” kata senseinya di awal masa studi. Setelah semuanya beres di tahun ke-3 (tahun akhir bagi doktor umumnya), “Kamu kalo ini ja kurang deh, intinya bisa lulus” Kata senseinya. Masih mending kalo Senseinya ngasih tahu dimana kurangnya, paper kah, konferensi kah atau apa. Ada yang cuma ngsih kode, kamu kurang di kontribusi. Hah, maksuudddmu ?? yang jelas dong ?? Nah saya juga ikutan esmosi karena kawan saya ini sampai 4 tahun lebih masih belum selesai. Ini kejadian nyata ya guys bukan fiktif. Saya dengar 2-3 kasus seperti ini di Kampus saya dulu.
  • Sensei yang ah sudahlah. Ada sensei yang nggak mau ngelulusin mahasiswanya aja. Ditanya kenapa juga nggak mau jawab. “Pokoknya kamu saya selesaikan studinya di lab ini tanpa gelar”. Jangan sampai ketemu sensei yang gini dah. Kisah nyata juga. Nggak detil sih cuma kasunya hampir sama kayak sensei PHP diatas.

Nah itu dia 6 tipikal sensei, sebenarnya nggak seserhana itu sih cuma sengaja saya bikin simpel aja. Bagaimana biar dapat memperkirakan sensei yang mana yang akan kita dekati. Setelah mencari dengan cari ini (sudah saya posting di tulisan sebelumnya), berikut hal lain yang harus dicari perhatikan :

  • Adakah mahasiswa Internasional di Labnya saat ini ? cari dari daftar mahasiswa di web labnya atau di artikel yang pernah diterbitkannya
  • Adakah mahasiswa muslim ? lebih bagus jika dari Indonesia ?. Jika ada nah tanyakan tentang hal semua uneg-uneg kita. Tanyakan juga gimana Senseinya.
  • Jika memang harus, buat kesepakatan di awal apa yang harus dipenuhi agar bisa lulus. Ditanda tangani dan bila perlu dicap agar berkekuatan hukum. Deal-dealnya harus jelas di awal.
  • Jangan ragu untuk berdebat, kadang sebagian Sensei ingin melihat kekuatan argumentasi kita dan keberanian kita.

Itu saja mungkin, khawatir kepanjangan dan tak bermakna. Silakan komen bagi yang ingin menambahkan. Ini semua murni dari opini saya saja.

NET CJ : Hang Out di NET10

Ini sedikit cerita lama setelah turun gunung waktu itu. Seperti biasa, setelah muncak Gn Taisen (Oktober 2016 lalu) saya langsung cuss unggah video pendakian Gunung Taisen ke NET CJ. Yang beda dari video kali ini adalah saya masukin beberapa “piece to camera” karena sempat ngerekam beberapa video mode swafoto gitu. Setelah diunggah ke NET CJ, sedikit cuplikannya saya unggah juga di Instagram dan nyolek temen dari NET TV juga, berharap ditampilin gitu haha. Dari minggu ke minggu, kok belum ada kabar juga ya meski statusnya udah “waiting for publish” di videonya. Malah video yang lain yang tayang duluan. Yah berarti harus sabar, mungkin yang bagus-bagus ditayangkan pada waktunya wkwkwkkwk. Berprasangka baik.

Setelah hampir sebulan, akhirnya saya dapat email dari NET CJ yang mengabarkan bahwa video yang saya unggah akan ditayangkan di NET 10 Hangout, akan ada wawancara juga dengan penyiarnya. Tapi waktunya hari Jum’at 18 November 2016 pukul 10:25.WIB. Awalnya udah sempet bilang Oke karena lihat waktunya yang pas. Ternyata setelah mikir-mikir itu kan WIB jadi kalo JST jadinya 12:25, Oh no itu waktunya jumatan (tepatnya jam 13:00) sih. Akhirnya saya pastikan akan berapa lama wawancara dsb, dan akhirnya saya Oke dengan waktunya.

 “Kita akan live (siaran langsung) pukul 10:25 WIB tapi siap-siap dari pukul 9:00 ya“. NET10 mulai tayang tepat pukul 10:00 soalnya. Saya sendiri siapkan 2 perangkat, HP dan PC. Saya coba pakai HP dulu karena biasanya kameranya lebih jelas dibandingkan PC. Dari NET CJ juga minta tolong diperhatikan soal latar dan pelapalan suara saat diwawancara. Akhirnya saya siap-siapkan semuanya. Untuk latar saya tempet beberapa koleksi kartupos di dinding. Oh ya, sebelum wawancara mereka akan ngasih petunjuk, apa-apa yang akan ditanyakan dan dibicarakan dll. Detil pokoknya.

NET3

Nah pas udah break sebelum wawancara, saya sempat diajak ngobrol sama penyiar Zizi dan Zein, mereka sempat nanya-nanya beberapa pertanyaan. “Momiji itu bunga atau apa ya ?” Zizi sempat nanya. Anehnya nih, karena ini terhubung dengan tayangan NET saat itu, saya nggak bisa ngeliat mereka, tapi mereka bisa lihat saya. Agak kagok juga sih. Saat video kiriman saya sudah ditayangkan, saya sudah siap-siap diwawancara. Tapi entah kenapa pas waktu itu HP yang dipakai buat hangout di NET10 langsung mati tiba-tiba. Yah, gimana ini. Saya masih liat tayangan di PC lihat Zizi dan Zein ngebahas soal video yang saya kirim, untuk mengulur waktu karena saya terputus dari jaringan. Panik mode on haha. Saya akhirnya langsung kontak kembali pakai PC dan akhirnya langsung nyambung. Tanpa ada kata-kata saya langsung diwawancara. Saat jeda sebelum saya tersambung kembali, ada satu video NET CJ lain yang diputar, sebelum akhirnya wawancara dengan saya dimulai.

NEt1

Lumayan deg-degan juga sih diwawancara gitu walaupun bentar dan remeh-temeh haha, soal jalan-jalan dong bukan diminta tanggapan soal isu ini itu haha. Yang agak susah bagi saya adalah menjaga eye contact dengan penyiar seolah-olah kita ngobrol santai dengan mereka. Selain itu, kebiasaan selalu ngeliat layar juga nggak bagus karena keliatan banget kita ngeliat ke arah lain. Terakhir, emang udah bawaan lain saya nggak bisa buka mulut penuh kalo ngomong apalagi terlihat supel gitu hahaa. Gitu aja deh ceritanya. Soal honor video, sama aja kok antara video yang tayang biasa dan video yang tayang sambil ngehang out di NET10. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba jadi CJist.

[embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=2pXoostQNH0%5B/embedyt%5D

Warna-warni puncak Gn Taisen, Pref. Oita

Fukuoka, 23 Oktober 2016. Suhu yang sudah mulai turun namun belum terlalu dingin. Waktu-waktu seperti ini orang masih banyak menyebutnya 涼しい・suzushii (sejuk) dibandingkan 寒い・samui (dingin). Sejak dua minggu lalu, kami ber-13 merencanakan untuk naik gunung (登山・tozan) Taisen di Pref Oita. Gunung ini tidak terlalu tinggi, hanya 1786.2 mdpl namun banyak dicari pendaki karena indah pemandangannya saat musim gugur. Ada daun yang berubah warna jadi merah, kuning, oren, dari ketinggian terlihat bertumpuk-tumpuk dan berselang seling. Meski cuaca saat pendakian  terpantau tidak akan cerah, malah kemungkinan akan hujan dan sepanjang hari akan berawan. Karena persiapan sudah dilakukan beberapa waktu lalu, termasuk rental mobil pun sudah deal akhirnya kita tetap jadi berangkat. Berharap semoga ada kesempatan untuk mengagumi warna-warni Gn.Taisen dari puncaknya.

Kami memulai perjalanan dari Higashi-ku pukul 3.00 JST pagi, saya, Pak Andi, Mas Infal, Mas Dana dan Haekal adalah rombongan dari hakozaki. Dari Higashi-ku kami menuju ke Tenjin buat ngambil mobil yang udah di rental dari Nippon Rental Car, Nissan Serena dengan harga 16.000JPY plus 2000 JPY asuransinya. Karena semuanya ada 13 orang jadi kami berangkat dengan dua mobil. Setelah menjemput beberapa orang di bagian Nishi-ku, akhirnya sekitar pukul 4 pagi rombongan meluncur via TOL menuju Oita. Setelah melalui perjalanan cukup panjang, bahkan sampai salah keluar pintu tol, dan mampir sebentar di rest area Saga-ken untuk sholat Subuh, kami tiba di lokasi pendakian pukul 7:30. Sekitar pukul 7:45 tim bergerak memulai pendakian untuk sampai ke camping ground terlebih dulu. Di awal medan yang dihadapi cukup menantang, ada tanjakan curam ke atas untuk jarak tempuh 15 menitan. Setelah itu cukup landai dan datar sampai ke camping groundnya. Di tengah perjalanan tim sempat rehat sejenak dan berhenti di air terjun, berjarak 70 menit dari titik awal pendakian. Pukul 10 barulah kami sampai di lokasi camping ground yang tersedia toilet (tapi kondisinya kurang bersih), tempat BBQ yang keren, lengkap dengan suplai air bersihnya. Beberapa tenda kecil masih terlihat disana, sepertinya ada yang menginap untuk summit attack paginya. Di camp ground kami rehat sejenak, menikmati bekal ringan yang dibawa, beberapa teguk air, nasi kepal dengan abon, roti sandwich homemade, serta camilan lainnya. Suasana masih gerimis meski tidak begitu lebat, selama perjalanan dan di rumah BBQ kami selalu bertemu dengan pendaki lain, kebanyakan orang Jepang sendiri, dari bahasanya.

taisen-6

Rehat di Air terjun

taisen-4

Menikmati bentou di puncak Taisen

Waktu tidak banyak, kami harus tiba kembali ke titik awal sebelum petang datang, sekitar pukul 11 kami mulai pendakian ke puncak. Disini lah momen yang ditunggu-tunggu, melihat warna-warni momiji dari puncak. Medan pendakian ke puncak tidak terlalu terjal namun cukup menantang. Di beberapa titik ada pos penanda. Saat berada di tempat tinggi, pemandangan warna-warni momiji kian jelas terlihat. Hampir tepat pukul 13 siang akhirnya sampailah di puncak Gunung ini. LUAR BIASA INDAHNYA. “Asli, baru kali ini terkagum-kagum sampai level kayak gini”. Makin dipandang makin cantik. Pas banget kabut bergeser waktu kami sampai puncak, sekitar 20-10 menit lamanya. Meski tidak begitu cerah, tapi pemandangan tidak tertutup kabut sejenak. Puas dengan foto-foto dan ngambil beberapa shoot untuk video, kami turun ke bawah untuk nyari tempat melepas penat sambil membuka bekal makan. Seketika, cuaca pun jadi kembali berkabut lebat, angin juga terasa makin kencang. Sampai kami beranjak pulang, cuaca dari puncak sudah kembali tertutup kabut tebal lagi. Alhamdulilah masih rejeki untuk lihat pemandangan dari atas, momen yang langka untuk hari itu.

taisen-5

Girang karena sampe puncak

Pukul 2:35 kami beranjak meninggalkan puncak, kemudian singgah kembali ke camping ground untuk rehat sekaligus sholat, pukul 7 malam tim kembali ke Fukuoka. Malam di musim gugur datang lebih cepat, pukul 5-6 hari sudah gelap kami masih berada di lokasi pendakian. Beruntung sebagian ada yang membawa HP jadi masih ada penerangan selama perjalanan. Alhamdulillah semua tim selamat dan sukses mencapai puncak. Ini kompilasi video pendakian dari awal sampai turun. Enjoy !!

Kisah 1 Tahun di Jepang #1

Tahun 2015 lalu, sekitar pukul 11 siang saya datang ke Fukuoka, setelah beberapa hari sebelumnya di Tokyo. Saat itu, Kyushu University menyediakan penjemputan gratis dari bandara ke asrama yang dituju dengan mengunakan mobil van berukuran sedang. Sempat saya sapa beberapa kawan Internasional yang kebetulan bareng, ada yang dari China dan Vietnam. Memang saat itu bukan kali pertama datang ke Fukuoka, namun tentu akan jadi kali pertama di Fukuoka untuk beberapa waktu yang lebih lama dari sebelumnya, 2 tahun ke depan.

Jujur saya agak bingung merangkum momen satu tahun dalam bentuk apa, momen yang mana yang harus diceritakan. Dan akhirnya daripada tulisan ini terlalu lama ada di draft dan terlalu jauh dari September, maka saya ceritakan beberapa kisah yang ini saja.

Cerita di depan pintu Lift. Ketika saya hendak turun dari lantai 9 kemudian saya naik lift hingga lantai 1. Di lantai satu, ketika pintu sudah mulai terbuka, ada seorang Ibu muda dan anaknya yang berumur 2-3 tahun hendak berlari masuk ke dalam lift. Pintu baru saja terbuka, dan saya baru mau beranjak keluar. Ibu itu menarik lengan anaknya dengan lembut sambil berkata “出る人が先 / Deru hito ga saki / Dahulukan (orang) yang keluar.

Pak Pos dan Undelivered Notice. Di Jepang, perangkat pos masih berlaku, apa saja itu, misalnya : Kotak pos yang berwarna merah di pinggir jalan (sering disebut “ポスト・posuto), mailbox / kotak surat (bukan kata-kata di lagu dangdut koplo Indonesia lho ya). Kotak surat saya yang bernomor 101 setiap 2 bulan pemerintah kota mengirim majalah “福岡だより/ Fukuoka da yori” yang saya sebenarnya tidak pernah mendaftar. Juga sering penuh dengan iklan, mulai dari iklan WIFI, iklan rumah (bordil), iklan Laundry, iklan restoran baru, iklan macem-macem yang saya tak bisa baca haha. Dan tentunya yang paling penting yang dikirim Pak Pos adalah tagihan air dan listrik saya, juga notifikasi dari Bank Fukuoka jika LPDP mengirim bantuan hidup setiap 3 bulan sekali, semua berbentuk 葉書・hagaki/ kartu pos. Kalau sedang belanja Online, sebut saja di Amazon, kadang pengirimannya suka dateng pas siang saat saya masih di kampus. Yang ditinggal Pak Pos jika saya tidak di rumah adalah Undelivered Notice, bahwa ada barang kiriman atas nama Mohammad Fadhillah namun tidak sedang di rumah saat barangnya sampai. Diselipkan selembar kertas kecil warna kuning. Jika ingin meminta dikirim lagi, telpon ke nomor yang tertera disitu dan bisa minta mau dikirim jam berapa agar tidak PHP Pak Posnya haha. Saya telpon dan minta diantar jam 7-9 malam. Dari Masjid bergegas ke rumah agar nggak kelewatan lagi. 19:03 Pak Posnya mencet bel dan ngetuk pintu. Paketpun diterima. Terima kasih Pak Pos, Pak posnya kadang naik motor yamaha jadul warna agak merah dan kadang juga pakai truk lho. Nggak sepedaan kayak dulu puisi jaman SD haha

Setahun tanpa mobil dan motor. Dulu waktu di Bogor lumayan sering naik motor dan sesekali nyupir mobil sendiri. Masih ingat waktu ada mahasiswa pertukaran dari Jepang dulu, mau diajak bonceng pake motor dari temen, dia sontak bilang “Eh, ini naiknya di mana ?”. Saat temen saya cerita itu, dalam hati saya bilang, parah banget sih nih orang Jepang, padahal motor dari mereka semua tapi nggak tau cara naik motor. Usut punya usut, barulah tahu ternyata di Jepang sangat jarang orang pake motor. Kalo pun pake paling Scooter yang cc-nya rendah paling banter 40-50 km/jam. Karena joknya kecil, mustahil banget kalo boncengan. Karena kondisi apato (baca : kosan) yang hanya 3 menit dari lab, rasanya males banget kalau harus beli motor. Kalaupun jauh ya nyepeda bentar atau naik bus atau kereta. Mobil ? Hmm, kayaknya belum butuh-butuh amat lah ya. Belum ada keluarga juga hehe. Kalo pun sudah punya mobil, parkirannya itu cuy yang nggak santai, paling murah 100/jam dan nggak semua tempat. Kalo parkir sembarangan ya siap-siap aja ditilang 15.000 JPY / 1,8 juta rupiah.

Ditegur Polisi pake TOA mobil patroli. “二人乗り方、降りなさい、危ないです!!/ Futari nori kata, orinasai, abunai desu / Yang lagi boncengan berdua, segera turun, bahaya !”. Buseet ditegur pak Polisi pake TOA. Pengalaman buruk banget, apalagi keliatan banget kalo kami 外人/gaijin・orang asing-nya. Itu saat saya sama temen boncengan naik jalan kecil di sekitar kampus Maidashi Univ. Kyushu. Niatnya pengen cepet tapi yaaa, malu deh. Di Jepang dilarang boncengan pake sepeda, kecuali anak-anak atau hewan piaraan dan sejenisnya. Maksimal beban di boncengan itu cuma antara 18-23 kg, makanya dilarang.

Dompet yang hilang. Waktu mau pada foto di perpustakaan Kampus pas Hari Kartini kemaren, saya sepedaan dari lab sekitar 1-2 menit ke perpus. Trus, karena harus masuk perpus dengan kartu mahasiswa, jadi pas udah di depan gate saya rogoh saku jaket. “Lho kok nggak ada dompetku. Hmm, apa jangan-jangan ketinggalan di lab ya ?”. Trus balik ke lab cari di tas, dan nggak ada juga. Mungkin di rumah, ya sudah lah. Akhirnya masuk menyelinap ke perpus haha. Usut punya usut, ternyata di rumahpun tak ada. DOMPET HILANG, tapi yakin kececer di kampus. Dengan agak panik saya nanya temen Cina, dan katanya coba tunggu biasanya ada email dari polisi, atau tanya ke Student Section. Daaan, akhirnya seseorang menemukannya tergeletak di parkir sepeda, pas ujan-ujan, dan ditaro di COOP (koperasi kampus). Pas saya cek kesana, Alhamdulillah. “Tolong sebutkan tanggal lahirnya. Oh ya …..”. “Ini dompetnya, maaf tadi dibuka untuk liat student cardnya. Terima kasih”. #Terharu

—————————————————————————(BERSAMBUNG)

NET CJ : Langkah-langkah menjadi Citizen Journalist NET TV

Sampai saat ini sebenarnya baru 3 video (update Okt’16 sudah 6 video dan 1 kali hang out) yang masuk ke NET CJ dan sampai ditayangkan, tapi karena ada beberapa kawan yang lumayan tertarik untuk melakukan hal yang sama, jadi saya tulis hal-hal terkait CJ NET di sini. Untuk memulai menjadi CJ, pertama kali adalah :

  1. Unduh aplikasinya di HP dan buat akun. Apps CJ NET tersedia di iOS maupun Playstore. Sebernarnya bisa juga mengunggah video langsung ke web : http://sg.netcj.co.id/ namun karena basisnya CJ adalah perangkat yang mobile jadi lebih nyaman kalau upload dari HP (menurut pengalaman saya pribadi)
  2. Bagaimana dengan editing ? Editing nyaris tidak butuh. Cukup dengan menggabung beberapa shot saja yang sekuensial dari yang paling umum sampai paling khusus, lebih baik jika dibubuhkan narasi yang sesuai saat mengunggah nanti. Hal ini akan memudahkan redaksi NET CJ untuk mengolah videonya. Bagaimana soal dubbing atau isi suara ? semuanya dilakukan oleh redaksi, bahkan kadang beberapa shot yang tidak perlu juga akan dipotong
  3. Berapa lama durasi videonya ? Karena umumnya yang ditanyangkan berdurasi sekitar 1-2 menit (paling banyak 1 menit) jadi ungah video yang lebih dari itu karena mungkin ada yang akan dipotong, tidak semuanya masuk.
  4. Tampil di WEB dan di TV apa bedanya ? Mungkin ini akan sedikit membingungkan bagi yang baru bergabung, berikut bedanya. Tentu tidak semua video yang diunggah ke NET CJ akan disetujui/ approved. Prosesnya adalah seperti ini, ketika selesai mengunggah video, video akan terlihat di kolom “DRAFT” dengan judul dan gambal display yang kita pilih, status video itu adalah “waiting for approval“. Setelah dilakukan pengecekan konten oleh redaksi, mungkin saja video tersebut akan naik status menjadi “waiting for publish“. Setelah beberapa saat (hari mungkin), akan ada notifikasi via email bahwa video telah dipublikasi / “published“. Video yang dipublikasi sudah mengalami proses editing dari pihak redaksi jadi bisa saja berbeda dengan yang kita unggah. Begitu juga dengan judulnya, akan dibuat lebih catchy oleh tim redaksinya. Jika hanya ditampilkan di WEB, maka nasib video sudah selesai, artinya video tersebut tidak sampai tayang dan dibayar. Tapi, jika berhasil ditayangkan akan ada notifikasi via email seperti berikut :

img_4921-1

Bagaimana cara melihat video yang tayang ? Setiap harinya NET akan mengunggah setiap video yang tampil di akun youtube mereka : OfficialNETNews. Silakan temukan video NET CJ-mu yang berhasil tayang disana jika tidak bisa melihatnya secara langsung. Selain itu, notifikasi lainnya tentang videomu juga bisa dilihat di twitter @NET_CJ. Mereka akan nge-twit gambar display videomu dan juga menyebutkan nama kontributornya. (NB : featured image diatas adalah gambar video saya yang ke-2, tayang yang ke 2 kalinya, hoho)

Terkait besar honor dan lainnya sudah pernah saya tulis di tulisan sebelumnya, silakan : Semangat Citizen Jurnalist Reborn!

Tentang diwawancara di Hang Out NET 10 juga bisa diakses di sini Ngehang out di NET10

Jika videomu tidak tampil, jangan bersedih. Member NET CJ ada 90.000 orang lebih lho, jadi memang lumayan juga saingannya. Tetap semangat dan tetap berkarya. Iseng-iseng lumayan, hehe. Selamat berkarya !!

NET CJ : Semangat Citizen Journalist reborn !

Awal cerita sebenarnya saya sudah mengunduh apps NETCJ di HP kira-kira bulan Februari 2016. Saat itu ada seorang teman yang mengunggah video soal badai salju di Fukuoka, fenomena yang jarang banget terjadi, dan akhirnya ditayangkan di program NET10. Selain ditanyangkan tentu dapat honorarium juga. Wah kece kan, kece honornya yang pasti sih haha. Akhirnya saya pun ikut-ikutan upload video juga. Saya unggah video mochitsuki. Isinya campuran antara gambar dan video potrait dan lanskap. Setelah diupload, sampai Agustus 2016 nggak diapproved sama sekali. Wajarlah haha.

Setelah itu, akhirnya semangat Citizen Jurnalism pun memudar. Padahal dari Februari-Agustus 2016 banyak tempat yang dikunjungi seperti : 1) Shirakawa-Go Gifu, 2) Nabana no Sato-Mie, 3) Kastil Osaka, 4) Nokonoshima-Fukuoka, 5) Pasar Ikan Karato-Yamaguchi, 6) Hanami-Maizuru Fukuoka, 7) Ramadhan dan Lebaran-Fukuoka, 8) Taman bunga matahari-Yanagawa, 9) Gempa Kyushu- Kumamoto 10) Kelas membuat Sushi-Fukuoka dan lainnya. Sebagian malah sudah lupa haha. Dari sekian banyak momen dan kegiatan travelling itu, hanya 2-3 yang lengkap didokumentasi dalam bentuk video. Sisanya hanya jepret-jepret foto saja.

Balik jadi terobsesi NET CJ lagi. Pada 1 Agustus 2016 lalu, di Kota Fukuoka ada event menarik dan mungkin terbesar. Katanya 450.000 orang akan datang menyaksikan acara ini. Ya apalagi kalau bukan Hanabi Matsuri atau Festival Kembang Api. Dengan orientasi yang beda, bukan untuk liputan NetCJ lagi, saya memang prepared banget untuk shooting vlog. Kan sekarang jamannya vlog, mau ikut-ikutan juga ceritanya. Ya ampun labil emang ternyata. Akhirnya Vlog-pun jadi, dan viewnya sampai hari ini (13/8) belum sampe 100 views. Oke, nggak bakat disitu ternyata, harus cari jalan hidup lain 😄

Disampaing shooting vlog yang dominanya shooting sambil selfi, saya juga ngambil beberapa wideshoot sekitaran. Setelah upload vlog, barulah kepikiran untuk upload sekalian ke NETCJ. Beberapa hari setelah upload kemudian dapet notifikasi email dari redaksi NETCJ seperti ini :


Wih, serius nih ? Padahal videonya ala kadarnya banget. Maklum nggak niat buat liputan tapi buat vlog. Dan beneran ternyata, ada video saya di youtube NET News Official (Gambar yang paling atas). Setelah itu barulah jadi semangat lagi nyari-nyari video di HP buat diupload lagi. Ada video pas lagi nonton Jleague, pas di museum robot Fukuoka dan video pasar ikan Karato di Yamaguchi. Yang pasar ikan itu, malamnya diupload eh, besoknya tayang lagi. Wow banget. Sementara dua video lain, yang video nonton Jleague sampai sekarang belum diapprove, mungkin karena semua shootnya jauh pas nonton bola, dan yang satunya lagi di museum robot berstatus “waiting for publish”


Honornya berape sih ? Pasti banyak yang penasaran soal hal yang paling penting ini. Berikut saya kopikan dari artikel di Jawapos :

Dalam negeri. Kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di Indonesia Baik hardnews maupun news feature yang tayang di Net TV akan mendapat honor Rp 250 ribu.

Luar negeri. kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah Asia akan mendapat honor Rp 500 ribu. Kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah Eropa dan Amerika, Afrika, Korea Selatan, Jepang dan Arab Saudi nantinya diganjar bonus Rp 1 juta.

Sedangkan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah manapun, akan dibayar serendah-rendahnya Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.

Berapa jumlah saingan/member NETCJ saat ini ? Saat ini kayaknya sudah mencapai 100.000 member dari 75 negara. Setiap harinya ratusan video diupload, dan tentu tidak semua akan tayang di NET news. Namun kans cukup besar jika memang nilai beritanya unik dan keren, apalagi jika di luar negeri yang tidak ramai WNInya, bisa banyak bahan untuk dieksplor. Lumayan biar rekening di Indonsia keiisi dan nggak sekedar dapet foto selfi kali abis dari jalan-jalan. Ayoo