Menemukan Makanan Halal di Jepang [1]

Makan memakan adalah urusan paling vital bagi mahluk hidup heterotrof macam kita-kita ini #tsaaah. Duh balik lagi bahasanya, ceritanya udah mulai jadi mahasiswa lagi jadi bahasa-bahasa aneh gitu inget lagi hahaha. Tapi, sebagai muslim tentu tidak boleh sembarang makan saja, apalagi di negara yang mayoritas non-muslim seperti Jepang. “Yaelah bro, urusan makan aja ribet bener, makan ya makan aja ! Yang dimakan juga bakal dikeluarin kali Bro. Woles. Peace Love and Gaol aja hahha” Boleh aja sih berpendapat gitu, tapi kalo semua yang dimakan ente keluarin, ya apa gunanya makan, hahaha. Yang jadi masalah soalnye barang haram bukan cuma singgah bentar dan bikin kenyang di perut tapi bakal jadi darah daging (buka buku pelajaran SMP lagi ya ahahahah), Nah lho. Bisa berabe kan kalo makan sembarangan.

Kalo di Indonesia urusan begini mudah saja, karena dari warung kecil sampai restoran besar menyediakan menu halal, kadang disertai sertifikat dari MUI. Nah, kalo di Jepang gimana ? Saya akan berbagi pengalaman pribadi bagaimana mengidentifikasi dan menemukan produk dan makanan halal untuk ‘bertahan hidup’ selama di Jepang. Bagaimana menemukan makanan HALAL, berikut beberapa tips dan ceritanya :

  • Menemukan restoran halal dengan bantuan apps melalui smartphone. Ada beberapa apps tentang muslim dan berbagai hal terkait termasuk soal makanan. Apps ini bisa diunduh di Playstore : HalalMinds (menyediakan scan barkode pada produk), Halal Gourmet Japan (Menyediakan info restoran halal di seluruh Jepang berikut kriterianya, misalnya hanya chefnya muslim, atau tidak menyajikan alkohol, dll). Jika bergantung pada apps tersebut rasanya masih belum cukup, karena pasti ada keterbatasan. Di apps HalalMinds misalnya, waktu scan produk bisa makan waktu lama, dan tidak ditemukan. Selain itu, ada beberapa produk yang tidak ada info atau N/A. Salah satu Resto halal di dekat Kashiihama Kaikan (Asrama Kashiihama) adalah warung makanan Turki di Mall AEON yang menjual makanan halal nasi dan kebab dengan harga paling murah 500 Yen, mahal sih tapi porsinya lumayan juga lah. Ini gambarnya.

Mr. Kebab, andalan pas awal-awal hidup di Fukuoka. Alhamdulillah sudah 1 kali dapat Kebab Gratisan hahaha

Hasil scan produk “Milk Tea” dari Apps Halal Minds. Salah satu produk teh yang umum ditemukan di Vending Machine sekitar Kampus

  • Memasak sendiri. Ini cara yang paling aman, tapi tidak praktis hehe. Bahan-bahan makanan yang halal bisa ditemukan di Toko Halal, atau di supermarket biasa tapi pilihlah bahan seafood misalnya : udang, cumi, ikan yang masih mentah dan belum diolah. Biasanya sudah dipack unyu-unyu dalam ukuran ekonomis ala mahasiswa gitu, harganya 200-400 JPY per pack. Tapiiiii, saya satu kamar sama dua mahasiswa Cina yang hobi masak babi, pernah satu kali masak bareng (sebelahan maksdunya) dia masak babi, saya masak ikan, jarak penggorengan nggak sampai satu jengkal, mana pake acara minyaknya muncrat-muncrat lagii. Nasiiib nasiiib

Calon Bapak (yang baik) #tsaaah. Dapur di Asrama kece badai, PW banget buat masak

  • Makan di kantin halal kampus. Kalo di kampus-kampus yang punya banyak mahasiswa internasional biasanya ada kantin halalnya, di Kyushu Univ. ada kantin yang namanya Nabi-san (katanya yang punya namanya Nabil). Di kantin ini ada beberapa menu yang disajikan, model bento gitu tapi. Harganya berkisar 390-600 JPY per porsi. Abis beli disitu, terus nyari tempat duduk di taman, kadang makan sama anak-anak Afganistan.

(more…)

Advertisements

Alhamdulillah, Sah.. Jadi Mahasiswa Master

blog7Gimana Para saksi Sah ? Sah ?. Sah !! Alhamdulillah. Barakallahu … Akhirnya sah juga jadi mahasiswa master di Kyushu University. Lebih dari satu tahun menunggu momen-momen ini. Dulu lulus LPDP Juni 2014, kemudian dapat LoA dai kampus April 2015, baru mulai kuliah Oktober 2015. Yah, memang sesuatu sekali. Makanya jangan membiarkan orang menunggu #apasih. Maksudnya buatlah waktu menunggu itu produktif, jadi tak kerasa eh udah abis aja satu tahun. “Jangan bahagia dulu Dhil, ini baru dimulai. Didepan belum tahu bakal kayak apa”. Hahaha, nasihatin diri sendiri.

Oh ya, sedikit cerita tentang minggu pertama di Fukuoka. Saya mendarat di Fukuoka (dari Tokyo) sekitar pukul 12 JST katanya ngaret kurang lebih 30 menit karena lalu lintas yang padat di bandara Fukuoka (福岡空港). Awalnya pas di Bandara Haneda sempat was-was karena ada tulisan maksimum bagasi hanya 20 kg, sedangkan bagasi saya udah 26 kg sendiri. 大丈夫かな? (Apa-apa nggak ya ?) Ya, kalo memang harus bayar apa boleh buat. Eh, ternyata pas check in, mbak-mbaknya nggak mempermasalahkan gituan. Yasudah, amaan. Satu hal lagi, maaf kalo sedikit curcol. ternyata ANA tidak lebih bagus dari Garuda, dikira teh sama. masak penerbangan 2 jam nggak dikasih snack apapun, cuma minuman aja #fiuh. Hidup keras, mana nggak jajan di bawah pun. Alhasil selama penerbangan jadi waktu tidur aja haha.

Nah, ada hal yang aneh sedikit. Pas turun nih, langsung tuh kan ngikutin arus orang keluar, belok sana sini lurus, soalnya dikira mau ngambil bagasi bareng. Dari lantai satu naik ke lantai dua. Kok, aneh ya ? jarang banget ngambil bagasi di lantai 2, dimana-mana biasanya malah turun. Eh, kok pada masuk ke restoran sih. Wah, wah kacau, ini kagak bener. Akhirnya langsung turun ke bawah dan nanya Bapak Satpam, sambil nunjukin boarding pass dan bilang “(荷物は” Nimotsu wa ?” artinya “bagasi ?”. Pak Satpam pun langsung manggil crew ANA yang di darat, mbak-mbak crew ANAnya langsung menghampiri sambil bilang, “Tinggal satu ini”. Lah perasaan penumpangnya hampir penuh, dan dari pesawat pun langsung turun nggak kemana-mana, kok udah pada selesai aja ngambil bagasinya ya. Jangan-jangan pada nggak bawa bagasi mungkin ya. Semuanya masuk kabin jadi lebih praktis nggak nunggu-nunggu. Oh ya, karena saya pake penerbangan domestik jadi sampai juga di terminal domestik, perlu naik shuttle bus bandara untuk ke Terminal Internasionalnya, karena welcome counter Kyushu Univ. (Kyudai) ada disana.

IMG_20151003_133632

Teman sekamar di Kashiihama A304 (Dua-duanya dari China)

Di Welcome counter Kyudai, harus lapor dan nunjukkan email untuk layanan shuttle bus gratis dari bandara ke Kaikan (会館)di Kashiihama, Higashi-ku. Kurang lebih hanya 30 menit dari bandara ke asrama dan langsung bisa masuk ke kamar setelah selesai registrasi. Saya dapat kamar shared room ber-3 dengan orang yang tidak dikenal sebelumnya, dan juga tidak bisa minta dengan siapanya. Pasrah aja ditaro satu kamar sama siapa aja, mudah-mudahan dapet yang normal-normal aja, hahaha. Tak lama setelah masuk dan ngecek kamar, eh ada yang datang. Lho ternyata Mba Fitri, Alhamdulillah dapat tutor (yang ngajarin bertahan hidup awal-awal di fukuoka) orang Indonesia dan kebetulan satu lab juga. Yokatta desu ne !! よかったですね。Bisa komunikasi dan nanya dengan mudah. Beberapa jam setelah itu, ternyata baru tahu, Mba Fitri nggak ikut upacara wisuda gara-gara hari itu harus ke asrama. Merasa bersalah. Hari itu malah langsung diajak jalan-jalan, bayar tagihan asrama, dan kebetulan ada tiket nonton gratis di Bioskop Canal City Hakata, nonton film “Pendekar Tongkat Emas”. Hari itu hari terakhir rangkaian festival film Fukuoka apa gitu., dan film Indonesia salah satunya ikutan juga. Besoknya juga diajak lagi ke Barbeque di Kampus Ito, bareng KUMSA (Kyushu University Muslim Student Association) dan saudara-saudara dari Fukuoka Masjid, masih dalam suasana Eid Adha. Bertemu saudara muslim di daerah minoritas itu memang “sesuatu” banget, mau dari negera mana pun, warna kulit apa pun, we are all brother because of the shahadah.

blog9

Diskusi dengan Pengurus Masjid Fukuoka tentang rencana kedatangan D. Zakir Naik di Fukuoka

blog10

Asiknya bakar-bakar, abis dibakar langsung disantapp

Senin (28/09) pagi saya ke Lab bertemu Sensei dan kebetulan ada morning seminar untuk semua member di lab Microb Tech. Saya diminta perkenalan diri di depan sebagai pendatang baru di lab. Saya selipkan beberapa kata-kata dalam bahasa Jepang, sengaja untuk memberi kesan ke mahasiswa Jepang dan senseinya. And It works, banyak yang terkesan haha. Padahal cuma bilang “Ohayou gozaimasu おはようございます” di awal dan bilang “Kore kara yoroshiku onegaiitashimasu これからよろしくお願いいたします” di akhir. Artinya “Selamat pagi” dan “Mulai sekarang, (saya) mohon bantuan rekan-rekan semua”. Saya pakai bentuk yang halus haha, biar lebih berkesan.

blog8Setelah hari Senin, saya mahasiswa baru masih harus menjalani beberapa orientasi seperti : orientasi dari International Center (国際センター), dari Sekolah Pascasarjana, dari Perpustakaan pusat dan dari Asrama Internasional tempat kami tinggal. Tapi semuanya hanya kayak kuliah kok, nggak ada perploncoan ala-ala sekolah jaman barbar gitu haha.

Nah, Kamis (01/10), hari pertama di bulan Oktober, sekitar pukul 11.30 JST kami resmi disambut oleh President Kyushu University, Presiden Kubo, di Shiiki Hall, Kampus Ito. Untuk periode ini ada sekitar 400 mahasiswa asing yang masuk, termasuk yang program sarjananya.

Ja ne, sekian dulu update untuk kali ini. Mudah-mudahan akan lebih rajin nulis selama di Jepang. Banyak hal yang masih diriset di kepala soal tulisan tentang Jepang. Ada niat mau merutinkan untuk nerbitkan tulisan disini tapi khawatir belum bisa konsisten sih. Jadi sementara ini masih bergantung mood menulis aja. Maafkan. Sekian.

Tokyooo : Eid Adha dan lain-lain

Sebenarnya ini soal memanfaatkan peluang, tsaaah. Kayak berat banget dah bahasannya. Jadi waktu minta jatah tiket ke Jepang via travel penyedia beasiswa, saya dikasih tiket dari Jakarta-Fukuoka tapi kudu transit dulu di Tokyo. Kalo dari Indonesia memang kayaknya nggak ada penerbangan langsung ke Fukuoka, jadi harus transit entahkah di Singapura, Incheon (Korsel) atau Filipina dan lainnya. Saya awalnya nggak nyangka akan dipesankan pesawat dengan transit di Tokyo, tapi karena sudah dibuka peluang demikian, saatnya disikaaattt (baca : dimanfaatkan dengan cara yang benar, hehe). Saya konfirmasi ke pihak travel agar penerbangan dipisah, dan akhirnya dapat tiket dengan jadwal : Jakarta-Tokyo 21 Sept malam, Tokyo-Fukuoka 25 Sept pagi. Yokatta, Alhamdulilah tanggal 24 Sept berarti di Tokyo dan bisa ikut sholat Eid di Sekolah Republik Indonesia Tokyo, SRIT. Daaan, selain itu, bisa juga sedikit kenalan dengan Ibu kota Jepang ini. Banyak sekali tempat yang sering dilihat waktu dulu jaman-jamannya suka nonton Dorama Jepang haha. Baiklah berikut sedikit cerita selama di Tokyo 22 Sept-25 Sept 2015.

blog621 September 2015. Tidak banyak yang bisa diceritakan karena memang baru berangkat dari Indonesia pukul 23.30. Malam itu dianter oleh beberapa teman BIO46 : Masrukhin dan Fajar (dua-duanya anak LPDP), dan temen kantor di Nano Center : Fauzan (merangkat supir), Ulin, dan Uud. Saya nggak sampai nangis keluar air mata, cuma agak sedih aja dari beberapa hari sebelumnya karena kayaknya kali ini berangkat ke luar negerinya agak lama dari yang biasa. Ayah dan Ibu nggak nganter sampai Soetta, cuma sampai Hananjoedin (Bandara di Belitung). Mereka nganter tapi sekaligus ikut seharian nunggu karena penerbangan di-delay dan hampir batal karena kabut asap di Belitung, huhu.

22 September 2015. Sampai di Bandara Haneda, Tokyo sekitar pukul 8.20 JST, perjalanan cuma sekitar 6 jam lebih. Dan bagi saya kayak numpang tidur aja di Garuda, haha. Nonton film on-flight aja cuma sebiji, Terminator Genesys, that’s it. Selebihnya adalah bobok ganteng malam hari. Ya wajarlah ya itu kan memang jadwal normal untuk tidur. Apa yang dilakukan di Haneda ? Saat ketemu Imigrasi sebelum ke pengambilan bagasi, saya ditanya beberapa hal oleh petugas Imigrasi, salah satunya adalah “Mau izin baito juga sekalian ?”  soalnya mahasiswa diperbolehkan baito. Saya sebelumnya nggak ngira bakal ditanya gituan, jadi agak sedikit gelapan juga. Soalnya pake bahasa Jepang gitu. Setlah nunggu beberapa saat, Taraaa.. Resident Card keluar. Tak lama pun koper biru 30 kg-an (bagasi saya) terlihat, dan sayang langsung keluar. Di lobi luar, saya leha-leha dulu di tempat duduk. Eh, Pak Polisi dateng nyamperin, nanya-nanya soal status di Jepang, cara menghubungi polisi di perlu dan lainnya. Bahasa Inggrisnya bagus, tumben haha. Memanfaatkan WIFI bandara yang lumayan kenceng, saya update dan ngasih kabar kalo sudah sampai ke keluarga di rumah. Kebetulan sekali. ada kenalan di Indonesia, Pak Ivan, yang juga sedang menuju bandara mau ke Indonesia. Akhirnya kami ketemu, beberapa saat sebelum saya memutuskan untuk naik bus ke Kita-Senju Sta. (more…)

Beasiswa LPDP : Pindah Universitas Tujuan Belajar

LPDPTopik berikutnyaaa… Setelah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari kampus pilihan hati (cie cie #apasih hahahah), “Kyushu University (Kyudai)”, saya kemudian harus memikirkan untuk Permohonan Pindah Universitas ke LPDP. Kenapa ? Jika tidak ada pengajuan pindah universitas maka, LPDP masih menganggap kampus tujuan saya adalah sama seperti apa yang saya submit waktu pendaftaran dulu “The Univ. of Tokyo (Todai)”. Mekanisme untuk mengubah ini dengan mengajukan Permohonan Pindah universitas. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk pengajuan tersebut antara lain :

  1. Surat Permohonan Pindah dari Awardee (tidak ada format surat yang baku)
  2. Letter of Acceptance (dari kampus yang baru)
  3. TOEFL/ IELTS (mungkin perlu banget untuk yang pindah dari DN ke LN)
  4. Dokumen pendukung lainnya (misalnya surat rekomendasi atau lainnya

Alhamdulillah, semuanya tak perlu repot-repot dikirim via POS namun cukup dengan email saja ke PIC-nya. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk kampus tujuan. Umumnya jika kampus tujuan yang baru memiliki ranking yang lebih tinggi (biasanya mengacu pada QS university) maka proses pindah akan lebih mudah disetujui. Nah, kalau kasusnya kita akan berpindah dari kampus yang rankingnya tinggi ke ranking yang lebih rendah, saya dapet kabar bahwa ini akan sedikit “menegangkan”. Bisa saja disetujui, atau malah tidak, bahkan awardee bisa juga dipanggil ke LPDP untuk menjelaskan secara langsung perihal kepindahannya tersebut. Iiih, sereem kan ya. Tapi, dari pengalaman saya dan rekan-rekan lainnya yang mengajukan pindah dari kampus tinggi ke rendah rankingnnya, selama alasannya masuk akal dan banyak, hehe, rasanya akan lancar-lancar saja.

Untuk kasus saya yang pindah dari Todai ke Kyudai dengan ranking yang jauh beda (hampir 100 poin bedanya), saya mengutarakan beberapa alasan antara lain : Tidak berhasil menembus Todai karena program studi yang saya inginkan di Todai, ternyata tidak ada kelas internasionalnya (trus kenapa ente pilih kemaren Dhil ? (-_-#) hehehe), Kyushu Univ juga salah satu National University yang TOP di Jepang, mereka mempunyai kelas Int’l yang sudah dari tahun 1990an, saya sudah memiliki LoA dari kampus yang baru (Kyudai), sudah mendapatkan pembimbing (sensei) dengan profil akademik yang sangat baik, dan lain sebagainya. Itulah alasan-alasan kuat saya untuk mengajukan pindah unversitas.

Di beberapa kasus lainnya, ada beberapa awardee yang bahkan pindah dari kampus lama ke kampus yang baru namun tidak ada di list kampus tujuan belajar dari LPDP. Nah, ini kan akan lebih rempong sepertinya. Namun, karena alasan dan tujuan mereka memilih kampus yang baru tersebut tepat dan dapat dipertanggungjawabkan, misalnya : Universitas yang baru memang tidak terkenal, namun untuk salah satu program studi misalnya Penerbangan (Aviation), kampus ini adalah salah satu yang terbaik di dunia. Setelah itu Anda menyertakan surat rekomendasi/ pendukung pernyataan tersebut, maka alasan tersebut sangat masuk akal untuk diterima dan permohonan pindah Anda disetujui. Jadi, jangan takut jika suatu saat mengalami kasus seperti ini Kawan, LPDP tuh baik banget hehehe #promosi.

wpid-screenshot_2015-05-20-16-38-18.png

Surat Persetujuan Pindah Kampus

Saya mengajukan permohonan pindah pada tanggal 7 Mei dan Alhamdulillah disetujui pada tanggal 19 Mei-nya. Besoknya saya menerima email surat diatas. Nah, setelah pindah kampus disetujui kemudian akan langsung dikirimkan template untuk memperoleh Letter of Guarantee (surat sakti dari LPDP) dan kontak beasiswa yang harus ditandatangani. And, it means that you are getting closer to the day of your departure, please try not to cry, LOL.

(Updated 3 Des 2015)

Karena banyak yang meminta contoh surat pengajuan pindah universitas saya via email, untuk kemudahan kita semua saya sediakan link untuk download langsung di sini. Ini dia filenya (.docx) Surat Permohonan Pindah Universitas_Mohammad Fadhillah_PK22. Ucapan terima kasih cukup dengan cara meninggalkan komentar di blog ini agar saya tahu siapa yang men-download file tersebut.

Pada kasus saya, saya tidak buat Surat Rekomendasi dari pihak mana pun, jadi maaf saya tidak punya formatnya. Salam.

Beasiswa LPDP : Mencari Sensei di Kyudai

wpid-kyushu-u_logo22.jpgLanjutt. Kali ini saya sedikit cerita soal mencari sensei di Kyudai kemarin. Baiklah…. (mulai cerita) Setelah menemukan jurusan program studi Master yang pas di Kyudai, selanjutnya saya mencermati profil-profil calon Sensei yang akan saya kontak. Prodi yang awalnya saya pilih adalah Bioresource Sciences, mata kuliah di dalamnya berisi setengah tentang pertanian (Agricultural Bioresources) selebihnya tentang (Animal and Aquatic Bioresources). Karena sempat beberapa kali membahas tentang Ikan Sidat di kerjaan, saya jadi punya keinginan untuk studi lebih lanjut tentang itu. Saya pun memutuskan untuk mengontak salah satu Prof. yang punya bidang keahlian seputar topik tersebut. Saya mengirimkan surel (email) ke Beliau yang kira-kira menyebutkan beberapa poin penting : perkenalan, ketertarikan dan alasannya, ingin bergabung di Lab-nya, dan terakhir tentang beasiswa yang sudah saya miliki. Hari demi hari saya menunggu balasan dari email itu. Seminggu kemudian baru ada email balasan masuk dan mengatakan bahwa di Lab tersebut tidak ada kajian tentang topik yang saya inginkan, silakan coba mencari ke Lab lain. Saya disarankan demikian. Saya coba kembali berdiskusi bahwasannya soal topik saya bisa menyesuaikan dengan kajian di Lab saat ini, jika saya memang diterima di Lab tersebut nantinya. Kami saling berbalas email, namun yang saya sayangkan adalah saya selalu menunggu email balasan yang baru sampai kira-kira > 4hari, kadang bahkan sampai 1 minggu dari Sensei ini. Sementara itu, batas pendaftaran di Kyudai untuk gel. 1 akan ditutup akhir Maret 2015. Kalo kondisi diskusinya begitu, pasti bakal lewat deadline nantinya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengontak ke program studi lainnya, sebelahan sama yang lama.

Pindah haluan ke Bioscience and Biotechnology. Karena basic saya di Biologi/ Mikrobiologi saya mencoba nyari-nyari Lab yang seputar itu, tapi yang agak keren dikit namanya. Akhirnya nemu Lab. Microbial Technology, dengan Prof. Sonomoto sebagai kepala Lab-nya. Saya layangkan email kembali. (Oh ya, email ini sudah dikoreksi oleh dua orang lulusan NTU Singapura haha, terharu banget. Thanks to Mr. Radyum Ikono dan Mr. Ridwan Salim Sanad). Redaksi emailnya seperti ini :

Email Subject : Prospective Master Student with External Funding

Dear Prof. Sonomoto,
 My name is Mohammad Fadhillah. I am holding a Bachelor of Science
 (B.Sc) degree from Department of Biology, Bogor Agricultural University (IPB), Indonesia, completed it in February, 2014. My undergraduate research topic was related to microbiology field. I have visited your laboratory's website and also read your papers related to microbial utilization of renewable resources. I am really interested to study more about it.  It is an honor for me if I can join your laboratory and conduct a research under your supervision.
I am awarded Master Scholarship by Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). The scholarship will cover all expenses during the study. If my application accepted, I am ready to begin the course on this coming September 2015.
For your consideration, hereby I enclosed my Curriculum Vitae and Sponsor Letter from LPDP. I am looking forward to hear from you soon. Thank you very much.
Best Regards,
 Mohammad Fadhillah

Sekitar jam 8 atau jam 9 malam saya kirimkan email itu, besok paginya saya dapat balasan email ini : (more…)

Menyusuri Maluku Utara : Ternate-Bacan-Obi-Gomumu

Setalah misi penerapan teknologi nanobubble di kapal penangkap (pajeko) sebelumnya dinyatakan belum berhasil (karena tidak ada tangkapan ikan untuk diuji), well misi selanjutnya berarti masih akan di kapal-kapal juga hehe. Kali ini bukan armada penangkap tapi penampung tuna yang biasanya berlayar ke ke Pulau Obi, Halmahera Selatan. Kapal penampung KM Samodra 43 sudah dipersiapkan untuk berlayar kira-kira Rabu malam, tanggal 14 Januari 2015. Trip kali ini dipimpin oleh Capt. Jaka beserta 5 orang ABK lainnya.

wpid-img_20150119_104353_shot2shot9.jpg

Bersama ABK KM Samodra 43 dan 44 di Pelabuhan Panambuan, Bacan

Dari tim Nano Center sendiri saya, Mba Antin, dan Pak Ade awalnya berencana untuk ikut langsung dari Bitung dengan kapal ini. Namun, dengan beberapa pertimbangan akhirnya kami tidak ikut bersama kapal dari pelabuhan bitung, namun akan bergabung nanti di Bacan dan selanjutnya sampai ke Obi. Kami bertiga menuju Bacan via Ternate, jadi sebelumnya kami berangkat ke Ternate dengan pesawat Garuda kecil (pengalaman pertama naik pesawat garuda segede ini). Perjalanan Manado-Ternate kira-kira cuma 30-40 menit, bentar banget. Merasa beruntung sekali bisa menginjakkan kaki di Bumi Ternate, yang sebenarnya sudah sering dengar namanya dari buku sejarah SMP (kayaknya). Ternate dan Tidore, salah satu kerjaaan kesultanan Islam di Nusantara. Masih ingat kan ?? hehe. Kami sampai di Ternate sekitar pukul 1 siang, Kamis, 15 Januari 2015. Ternyata ternate sudah masuk WIT, bukan WITA lagi (baru nyadar) jadi kami mesti bergegas untuk mengejar kapal cepat ke Bacan yang katanya berangkat jam 2 siang dari Terante. Alhamdulillah masih ada kapal cepat, dan ternyata baru berangkat sekitar jam 4 karena pas penumpang sepi. Kapal cepat Ternate-Bacan mirip seperti kapal cepat Bangka-Belitung Xpress Bahari.

wpid-img_20150201_132239.jpg

Cincin Batu Bacan Doko

Sampailah di Pulau Bacan Malam harinya sekitar pukul 8 atau 9 malam, sudah agak larut malam. Dari pelabuhan Babang kami pun masih harus ngangkot menuju Panambuan, lokasi Kantor Unit perikanan Nusantara di Bacan. Dari Babang ke Panambung kira-kira 1 jam lebih, dengan angkot carteran. Sayangnya, kami tertahan di Bacan selama kurang lebih 1 minggu karena ada dokumen kapal KM 43 yang tidak lengkap sehingga tidak diizinkan untuk melanjutkan ke Obi. Kerjaan selama di bacan, ya gitu-gitu aja sih hehe. Kalo pas lagi ngomongin batu (bacan) saya ikut nimbrung aja, biar nggak ngerti-ngerti dikit. Pas ditanya harga, wow, pengen nangis rasanya. Satu batu kecil aja bisa nyampe ratusan ribu bahkan jutaan. (more…)

Beasiswa LPDP : Menentukan Kampus Tujuan

Yeaaayyy. Alhamdulillah. Sujud Syukur setelah melihat nama di deretan calon penerima beasiswa LPDP yang lolos seleksi wawancara. Momen itu terjadi hampir setahun silam (Juni 2014) dan sampai saat ini masih belum berangkat juga. Barangkali banyak yang aneh, hehe. Bilangnya jadi kuliah ke Todai tapi belum berangkat-berangkat juga dari tahun kemaren. Baiklah, mungkin di tulisan kali ini saya mau cerita hal yang sebenarnya terjadi.

logo-uot

Todai ??
. Saya pun kaget sebenarnya kenapa akhirnya bisa memilih universitas ini. Jadi awalnya saya sempat galau sebelum submit aplikasi ke sistem LPDP. Mau ngambil jurusan apa dan di universitas mana ?. Saya sempat ganti beberapa kali universitas dan jurusan di form pendaftaran LPDP, diantaranya (yang saya inget) : Kyoto University, Manchester University, Edinburgh University, dll hingga akhirnya The Univ. of Tokto (todai). Modal nekat saja masukin todai dan terus di submit. Saat itu juga memang batas submit berkas sudah dekat, jadi memang terkesan agak gegebah dan tanpa mikir panjang juga milih hal tersebut.

Manchester_University_Logo_(2)Impian singkat ke Manchester University. Waktu berlanjut terus. Setelah diumumkan lolos tahap interview, saya mulai bergerilya mencari info universitas yang masih buka pendaftaran untuk masternya. Coba cari sana sini, dan akhirnya menyerah karena memang rata-rata untuk intake yang 2014 akhir, semua pendaftarannya sudah ditutup. Terlebih saat itu memang belum punya sertifikat TOEFL iBT atau IELTS untuk daftar kampus. Ya mau bagaimana lagi, berarti harus mengikhlaskan untuk tahun depan saja. Ritme nyari kampus pun mulai agak santai jadinya. Paling kerjaan cuma buka web kampus-kampus, kalau merasa tertarik terus buka akun untuk pendaftaran di web-nya (misalnya : Manchester Univ. dan Edinburgh, Oxford pun sama). Jadi, saya pernah punya akun pendaftaran disitu hehe. Walaupun di berkas aplikasi LPDP tertulis Todai, namun dulu rasanya kok “sreg” dengan Manchester Univ. ya. Nah, sempet tuh ngebet banget pengen kesana juga. (more…)