NET CJ : Langkah-langkah menjadi Citizen Journalist NET TV

Sampai saat ini sebenarnya baru 3 video (update Okt’16 sudah 6 video dan 1 kali hang out) yang masuk ke NET CJ dan sampai ditayangkan, tapi karena ada beberapa kawan yang lumayan tertarik untuk melakukan hal yang sama, jadi saya tulis hal-hal terkait CJ NET di sini. Untuk memulai menjadi CJ, pertama kali adalah :

  1. Unduh aplikasinya di HP dan buat akun. Apps CJ NET tersedia di iOS maupun Playstore. Sebernarnya bisa juga mengunggah video langsung ke web : http://sg.netcj.co.id/ namun karena basisnya CJ adalah perangkat yang mobile jadi lebih nyaman kalau upload dari HP (menurut pengalaman saya pribadi)
  2. Bagaimana dengan editing ? Editing nyaris tidak butuh. Cukup dengan menggabung beberapa shot saja yang sekuensial dari yang paling umum sampai paling khusus, lebih baik jika dibubuhkan narasi yang sesuai saat mengunggah nanti. Hal ini akan memudahkan redaksi NET CJ untuk mengolah videonya. Bagaimana soal dubbing atau isi suara ? semuanya dilakukan oleh redaksi, bahkan kadang beberapa shot yang tidak perlu juga akan dipotong
  3. Berapa lama durasi videonya ? Karena umumnya yang ditanyangkan berdurasi sekitar 1-2 menit (paling banyak 1 menit) jadi ungah video yang lebih dari itu karena mungkin ada yang akan dipotong, tidak semuanya masuk.
  4. Tampil di WEB dan di TV apa bedanya ? Mungkin ini akan sedikit membingungkan bagi yang baru bergabung, berikut bedanya. Tentu tidak semua video yang diunggah ke NET CJ akan disetujui/ approved. Prosesnya adalah seperti ini, ketika selesai mengunggah video, video akan terlihat di kolom “DRAFT” dengan judul dan gambal display yang kita pilih, status video itu adalah “waiting for approval“. Setelah dilakukan pengecekan konten oleh redaksi, mungkin saja video tersebut akan naik status menjadi “waiting for publish“. Setelah beberapa saat (hari mungkin), akan ada notifikasi via email bahwa video telah dipublikasi / “published“. Video yang dipublikasi sudah mengalami proses editing dari pihak redaksi jadi bisa saja berbeda dengan yang kita unggah. Begitu juga dengan judulnya, akan dibuat lebih catchy oleh tim redaksinya. Jika hanya ditampilkan di WEB, maka nasib video sudah selesai, artinya video tersebut tidak sampai tayang dan dibayar. Tapi, jika berhasil ditayangkan akan ada notifikasi via email seperti berikut :

img_4921-1

Bagaimana cara melihat video yang tayang ? Setiap harinya NET akan mengunggah setiap video yang tampil di akun youtube mereka : OfficialNETNews. Silakan temukan video NET CJ-mu yang berhasil tayang disana jika tidak bisa melihatnya secara langsung. Selain itu, notifikasi lainnya tentang videomu juga bisa dilihat di twitter @NET_CJ. Mereka akan nge-twit gambar display videomu dan juga menyebutkan nama kontributornya. (NB : featured image diatas adalah gambar video saya yang ke-2, tayang yang ke 2 kalinya, hoho)

Terkait besar honor dan lainnya sudah pernah saya tulis di tulisan sebelumnya, silakan : Semangat Citizen Jurnalist Reborn!

Tentang diwawancara di Hang Out NET 10 juga bisa diakses di sini Ngehang out di NET10

Jika videomu tidak tampil, jangan bersedih. Member NET CJ ada 90.000 orang lebih lho, jadi memang lumayan juga saingannya. Tetap semangat dan tetap berkarya. Iseng-iseng lumayan, hehe. Selamat berkarya !!

NET CJ : Semangat Citizen Journalist reborn !

Awal cerita sebenarnya saya sudah mengunduh apps NETCJ di HP kira-kira bulan Februari 2016. Saat itu ada seorang teman yang mengunggah video soal badai salju di Fukuoka, fenomena yang jarang banget terjadi, dan akhirnya ditayangkan di program NET10. Selain ditanyangkan tentu dapat honorarium juga. Wah kece kan, kece honornya yang pasti sih haha. Akhirnya saya pun ikut-ikutan upload video juga. Saya unggah video mochitsuki. Isinya campuran antara gambar dan video potrait dan lanskap. Setelah diupload, sampai Agustus 2016 nggak diapproved sama sekali. Wajarlah haha.

Setelah itu, akhirnya semangat Citizen Jurnalism pun memudar. Padahal dari Februari-Agustus 2016 banyak tempat yang dikunjungi seperti : 1) Shirakawa-Go Gifu, 2) Nabana no Sato-Mie, 3) Kastil Osaka, 4) Nokonoshima-Fukuoka, 5) Pasar Ikan Karato-Yamaguchi, 6) Hanami-Maizuru Fukuoka, 7) Ramadhan dan Lebaran-Fukuoka, 8) Taman bunga matahari-Yanagawa, 9) Gempa Kyushu- Kumamoto 10) Kelas membuat Sushi-Fukuoka dan lainnya. Sebagian malah sudah lupa haha. Dari sekian banyak momen dan kegiatan travelling itu, hanya 2-3 yang lengkap didokumentasi dalam bentuk video. Sisanya hanya jepret-jepret foto saja.

Balik jadi terobsesi NET CJ lagi. Pada 1 Agustus 2016 lalu, di Kota Fukuoka ada event menarik dan mungkin terbesar. Katanya 450.000 orang akan datang menyaksikan acara ini. Ya apalagi kalau bukan Hanabi Matsuri atau Festival Kembang Api. Dengan orientasi yang beda, bukan untuk liputan NetCJ lagi, saya memang prepared banget untuk shooting vlog. Kan sekarang jamannya vlog, mau ikut-ikutan juga ceritanya. Ya ampun labil emang ternyata. Akhirnya Vlog-pun jadi, dan viewnya sampai hari ini (13/8) belum sampe 100 views. Oke, nggak bakat disitu ternyata, harus cari jalan hidup lain 😄

Disampaing shooting vlog yang dominanya shooting sambil selfi, saya juga ngambil beberapa wideshoot sekitaran. Setelah upload vlog, barulah kepikiran untuk upload sekalian ke NETCJ. Beberapa hari setelah upload kemudian dapet notifikasi email dari redaksi NETCJ seperti ini :


Wih, serius nih ? Padahal videonya ala kadarnya banget. Maklum nggak niat buat liputan tapi buat vlog. Dan beneran ternyata, ada video saya di youtube NET News Official (Gambar yang paling atas). Setelah itu barulah jadi semangat lagi nyari-nyari video di HP buat diupload lagi. Ada video pas lagi nonton Jleague, pas di museum robot Fukuoka dan video pasar ikan Karato di Yamaguchi. Yang pasar ikan itu, malamnya diupload eh, besoknya tayang lagi. Wow banget. Sementara dua video lain, yang video nonton Jleague sampai sekarang belum diapprove, mungkin karena semua shootnya jauh pas nonton bola, dan yang satunya lagi di museum robot berstatus “waiting for publish”


Honornya berape sih ? Pasti banyak yang penasaran soal hal yang paling penting ini. Berikut saya kopikan dari artikel di Jawapos :

Dalam negeri. Kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di Indonesia Baik hardnews maupun news feature yang tayang di Net TV akan mendapat honor Rp 250 ribu.

Luar negeri. kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah Asia akan mendapat honor Rp 500 ribu. Kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah Eropa dan Amerika, Afrika, Korea Selatan, Jepang dan Arab Saudi nantinya diganjar bonus Rp 1 juta.

Sedangkan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah manapun, akan dibayar serendah-rendahnya Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.

Berapa jumlah saingan/member NETCJ saat ini ? Saat ini kayaknya sudah mencapai 100.000 member dari 75 negara. Setiap harinya ratusan video diupload, dan tentu tidak semua akan tayang di NET news. Namun kans cukup besar jika memang nilai beritanya unik dan keren, apalagi jika di luar negeri yang tidak ramai WNInya, bisa banyak bahan untuk dieksplor. Lumayan biar rekening di Indonsia keiisi dan nggak sekedar dapet foto selfi kali abis dari jalan-jalan. Ayoo

Beralih ke VLOG ??

Tahun lalu, masih inget niat buat ngisi blog perminggu satu tulisan, alhasil kalau dilihat di menu “All post” di dashboard yang tertahun 2016 ada sebanyak 22 postingan, dimana lebih detilnya adalah 10 terbit/dipublikasi dan sisanya masih nunggu di draft, bahkan sebagian cuma judul doank trus masuk draft. Oh nasib emang, niat sudah bagus, eksekusinya udah dimulai cuma konsistensi yang amburadul haha. Klise memang ya, makanya amalan (kebaikan) yang istiqomah/konsisiten itu emang susah dan makanya Allah mencintainya #tsaaah.

Mengamati tren media sosial kini, kayaknya memang begitu dinamis. Sekitar tahun 2013, seingat saya, mungkin sebagian sudah mulai jenuh dengan fesbuk dimana temen bisa 3-4 ribu tapi paling yang benar-benar kenal hanya ratusan. Ditambah lagi dengan akun-akun “temen” yang suka ngeshare link dan berita hoax baik itu soal agama, politik, berita nggak karuan, masukin ke grup nggak jelas dan lainnya. Setelah sempat jenuh, eh ternyata fesbuk berinovasi terus dan meluncurkan video baik autoplay video yang sering kita liat di timeline kita ataupun 360 dan live video. Fesbuk mengklaim ada 100 juta jam penayangan video per hari oleh usernya via HP. Akhirnya bisa dikatakan fesbuk mulai kembali jadi tempat “nongkrong” banyak orang.

Facebook users watch an average of 100 million hours of video on mobile every day. Daily views have increased from 1 billion to 8 billion in one year’s time. Text posts, meanwhile, are declining year on year (Facebook VP Nicola Mendelsohn)

Anggap saja hari ini banyak yang lebih menyukai media penyampaian via video, dibandingkan 100 baris tulisan kecil-kecil yang juga seringkali dishare via WA, scroll scroll beress haha. Mungkin ini juga sebab Instagram mulai dapat tempat di hati para “pegiat media sosial” haha.

Gimana ? lumayan ilmiah kan alasan saya kenapa nggak ngeblog lagi hahahha #plak. Mengingat, menimbang, mengurangi timbangan, dan memperhatikan hal itu makanya saya juga coba beralih ke dunia VLOG. Ya tapi gitu deh, di dunia VLOG ini banyak yang harus dikerjakan bukan hanya riset soal bahan yang akan ditulis, tapi juga peralatan dan proses syuting, editing, dan semua ini bikin pening. Asik-asik aja lah, sesekali ngeBlog, sesekali ngeVlog.

Ngapain sih pusing-pusing bikin Blog atau Vlog ? ya seru-seruan aja deh. Mudah-mudahan cerita nggak jelas kadang bisa menghibur atau siapa tahu bisa mengispirasi wkwkwkkwk. Berkarya itu jangan takut, ia akan menemukan nasibnya sendiri. #tsah

Udah ah, intinya dari yang paling inti tulisan ini adalah ingin mempromosikan vlog #4 terbaru saya yaitu hanabian di Ohori koen Fukuoka, ini dia selamat menikmati ya.

Sudahkah bersyukur terlahir sebagai muslim ?

Suatu malam, Alhamdulillah pas lagi bener nih, sebut saja lagi duduk-duduk nunggu waktu Isya di Masjid. Seorang berwajah khas Jepang sedang asyik juga ngutak-ngatik PC-nya dan baca-baca majalah. Sekali-sekali tak lirik karena memang niat mau bikin Vlog soal wawancara sama orang Jepang soal puasa/ Ramadhan dan Eid. Eh, tapi agak sungkan dan malu. Dia juga lagi sibuk keliatannya jadi kayaknya nunggu agak santai baru mau disamperin. Tidak berapa lama, Dia ngambil Quran dari rak dekat saya duduk, dan setelah itu duduk di kursi. Dia nanya saya dan kami ngobrol beberapa saat pake bahasa Inggris dan Jepang. Sebut saya namanya Abe

Abe : Kamu bisa baca Al-Quran bahasa Arab ? Mengerti ?

Saya : Bisa, Alhamdulillah. Ngerti karena ada artinya disampingnya. 読めますか。(Bisa baca ?)

Abe : Bahasa arab susah ya. Brother Ishak bilang dia belajar dari SD sampai sekarang baru bisa. Tata bahasanya susah dibanding Inggris dan Jepang.

Saya : Iya, semuanya punya gender/jenis kelamin. Ini kursi misalnya cowok, karpet ini misalnya cewek, buku itu cowok dsb. Saya juga nggak bisa ngomong bahasa Arab sih. Gimana puasanya kemarin ? Berapa hari ? Ah, saya mau nanya-nanya soal puasa tapi sambil direkam video dan dimasukkan ke youtube, boleh ?

Abe : Puasa itu berat ya. Kalo tidak makan tidak apa-apa, tapi saya tidak tahan kalo tidak minum. Saya cuma bisa 10 hari. Maaf, saya tidak bisa di-video, soalnya saya juga diam-diam masuk Islam, keluarga saya tidak tahu.

Saya : Ah, maaf maaf. (Aduh jadi merasa bersalah, padahal gara-gara mau bikin Vlog jadi nggak mikir sampe kesana. Keterlaluan emang kadang-kadang nih).

———————————————————————————————————————-

Kami ngobrol ngalor-ngidul soal makanan, apa yang hal yang paling sulit setelah jadi muslim di Jepang ? kenapa orang Islam di Masjid ini terkesan berkelompok secara komunitas gitu ? apa beda muslim sunni dan shia/syiah ? Beberapa hal yang menarik sbb :

————————————————————————————————————————

Abe : Mengapa muslim tidak boleh makan babi ? padahal babi kan tidak kotor

Saya : Hmm, (udah nyangka akan ada orang Jepang yang bakal nnaya gini). Jadi gini, di Quran ada beberapa ayat yang melarang untuk makan babi. Menurut saya, Babi memang tidak kotor, untuk kasus di Jepang, karena saya pernah liat Rumah Potongnya langsung. Disamping sebagian alasan dilarangnya babi, saya lebih suka kalo itu adalah ujian dari Allah. Dilarang jelas ada manfaatnya, meski mungkin kita belum tahu sekarang. Untuk di Jepang, saya juga sulit percaya kalo dikatakan babi itu banyak penyakit, kotor, dsb.

Abe : Hmm, begitu ya. Makanan Jepang, seperti ramen banyak yang memakai babi. Saya sudah tidak makan babi juga minum alkohol tapi kadang sulit menjelaskan kalo pas acara kantor.

Saya : Jangan menyerah. Kamu tahu tidak, jika saya tidak terlahir muslim, belum tentu saya akan jadi muslim atau tidak seperti kamu. Saya iri dengan orang yang belajar mencari tahu dan masuk Islam. 今までいイスラム教について勉強しています、(saya juga masih terus belajar soal Islam)

Abe : なるほどね。死ぬまで終わらない。(Hmm, begitu. Sampai mati belum akan selesai ya)

Saya : そうです。(Benar). Apa hal yang paling sulit setelah jadi muslim ?

Abe : Makanan

Saya : Hmm, memang sulit ya.

———————————————————————————————————————–

Abe : kamu sudah menikah ? berapa umurmu ?

Saya : Belum. saya 24. kamu ?

Abe : 29 tahun

Dia kemudian menanyakan soal bagaimana kalau orang yang ingin dinikahi bukan muslim. Pertanyaan yang saya juga sebenarnya sulit menjawab.

Saya : Kalo kita menikahi seseorang (muslim), kita akan bersamanya sampai ke surga, InsyaAllah. Tapi yang hanya bisa ke surga hanya muslim, jadi jika ingin bersama sampai nanti, karena itu hendak menikah dengan yang muslim

Saya kemudian berpikir, seberapa banyak sih peduli dengan agama di Jepang. seberapa banyak yang tertarik dan masuk Islam dan kemudian masih konsisten sampai-sampai ingin menikah dengan orang Jepang yang muslim. Hmm, bukan hal yang mudah pastinya.

Terkahir, yang membuat saya agak terharu adalah, dia menunjukkan foto di salah satu grup muslim Fukuoka,

Abe : Kemaren ada acara apa ya ? Ini foto-fotonya

Foto-foto wajah yang nampak sumringah. Foto dimana semua muslim berbahagia dan berhari raya. Setelah sebulan penuh berpuasa, sholat Eid, takbiran, makan-makan, berkumpul dengan saudara dan bercengkrama hangat. Ternyata Dia tidak tahu sama sekali soal itu. Jelas saya, tidak semua orang bisa hadir hari itu, karena memang tidak libur. Hmm, berat memang perjuangannya, semoga Allah merahmati dan memudahkan jalannya.

Dia datang ke Masjid yang letaknya hampir 2 jam dengan kereta dari tempat tinggalnya di Kitakyushu. Yang cuma ngesot ke masjid 5 menit sampe ini cengok, biasanya masih banyak alasan. Abe-san, 諦めないでください (Jangan menyeraaah !!!)

 

 

 

Hikmah Lebaran di Tanah Rantau

Memang tidak ada nikmat yang bisa menggantikan nikmat berkumpul dengan keluarga besar di hari raya Eid Fitri. Namun kadang kita harus melalui jalan yang tak senantiasa rata dan nyaman, ada dan pasti akan ada saatnya kesempatan untuk berkumpul itu kita kan rindu-rindukan. Entah terpisahkan umur, jarak, waktu, dan kesempatan. Tidak saling berkabar bukan alasan, namun semua pasti sepakat, nikmat bertemu langsung pasti tak kan terbanding dengan saling bertatap via gadget, bukan pengganti, melainkan hanya sekadar pengobat rindu saja.

Eid Fitri 1

“Foto Keluarga” saat semua jauh dari keluarga

Walau sudah merantau sejak 2009 dulu ke Pulau Jawa, tapi hamir setiap tahun ada momen puasa dan lebaran bersama keluarga besar di Belitung. Jika memang 3/4 Ramadhan di Bogor, maka 1/4 pun rasanya lebih dari cukup bahagia jika bisa dihabiskan di rumah hingga hari raya menjelang.

Di Jepang, Alhamdulilah sudah dua Eid dilalui, pertama Eid Adha di Tokyo, waktu itu sempat diminta untuk mimpin takbiran hehe. Saya saat itu sengaja mengatur tiket agar bisa sampai di Jepang pas 1 hari sebelum sholat Eid, ingin merasakan suasana yang beda. Lagipula di Indonesia juga Eid Adha tidak dirayakan semeriah Eid Fitri, dan jarang pulang kampung juga jadinya.

Nah, setelah 9 bulan sejak saat itu, Alhamdulilah dapat merasakan suasana Ramadhan dan Eid di “kampung” Hakozaki, Fukuoka. Rasa-rasanya lebih Indah Ramadhan di sini lho daripada di Indonesia. Kok bisa ya ? Masjid aktif banget, banyak kegiatan setiap harinya. Wajah-wajah sumringah dari saudara seiman dari berbagai bangsa dan ras. Iftar (buka puasa) disediakan setiap hari, di 10 terakhir Ramadhan juga ada Qiyamullail dan Sahur bareng (gratis lagi). Ada lomba tahfizd dan cerdas cermat, macem-macem lah.

Tahun ini Eid Fitri jatuh pada tanggal 6 Juli 2016, dan hari itu saya ada jadwal kuliah dan group discussion bareng para Sensei. Waduh berabe urusan kan, mana mulai Sholat Eid jam 9 pulak. Tapi ternyata beberapa hari sebelum itu, kuliah sudah dicancel, kata Sensei memang tidak ada tatap muka. Nah, tinggal diskusi nih berarti. Agenda makan-makan lontong bareng kawan-kawan bakal terancam kalo diskusi tetap lanjut, tapi diskusi ini hukumnya wajib karena ini momen sensei ngevaluasi progres kita. Akhirnya saya putuskan untuk ikut diskusi dulu lah, jadi pas acara makan-makan saya kabur bentar dan nyiapin naskah 20 menit terus diprint dan capcus ke ruang diskusi. Di ruang diskusi saya bisik-bisik dengan group leader kami, “Tan-san, saya boleh duluan presentasi nggak ? Mau cabut soalnya. Hari ini “muslim holiday”. Miss Tan (Orang China) bilang “Ah, Okay. No problem. You will be the first then let the sensei know you want to leave early from discussion“. Mamata-san, peneliti India, bisik ke saya, “You have festival today right ? You dont go ?”. Setelah selesai diskusi dan dikasih saran ini itu, Sensei juga agak stress kali ye liat kemajuan ini anak kok nggak maju-maju haha. Akhirnya, saya bilang mau pulang dulu kemudian Sensei bilang “Ah, I understand. This is the end of Ramadan nee. This (day) must be so important for you. You can go now“. Yattaaaaa ~~~. Capcus lah langsung ke tempat acara makan-makan. Sebelumnya memang semua yang muslim udah izin untuk libur hari itu dengan nulis di papan pengumuman di lab.

Eid Fitri 2

Foto makan-makan selepas sholat Eid. Kite ngapling “Culture Cafe” disaat orang-orang sibuk di lab masing-masing. Kalo di luar panasnya minta maaf soalnya

Hikmahnya dari lebaran di sini adalah betapa bersyukurnya jika dimudahkan oleh orang disekitar kita untuk merayakan apa yang kita yakini, dalam ibadah maupun hari raya. Tentu tidak seperti di Indonesia yang sebelum dan sesudah Eid ada banyak libur, di sini mah nggak ada bedanya. Karena hidup di negara muslim mayoritas jadi seakan-akan saya tidak tahu bagaimana yang dirasakan kaum non-muslim lain saat merayakan hari raya mereka. Ternyata hari raya, apapun itu, memang sangat spesial, tentu bagi setiap pemeluknya. Jika kita tidak menyakini maka cukuplah dengan berempati dengan yang sedang merayakan, permudahlah urusannya agar Ia bisa merayakannya dengan hikmat dan bahagia.

Jika kita tidak bersaudara dalam iman, kita masih bersaudara dalam kemanusiaan

Fukuoka  2 Syawal 1437 H

Indahnya Ramadhan di Fukuoka

Riak-riak gembira dalam hati, yang tak bisa dipungkiri. Karena yang ditunggu setahun lamanya kini hadir kembali. -MF

Tahun ini memang bukan tahun pertama saya menjalani Ramadhan di tanah rantau, karena memang saya sejak kuliah sarjana dulu sudah merantau ke Bogor. Tapi, tahun ini jadi tahun pertama merasakan Ramadhan di negeri orang, Jepang. Dalam hati ada rasa penasaran, disamping juga was-was. Kira-kira apa ye tantangannya disini ? Kalau di Bogor dulu ya paling cuma kangen-kangen dikit dengan keluarga, makanan melimpah, kolak aneka jenisnya, cincau aneka warnanya semua deh pokoknya haha. Terlebih akhir Ramadhan pasti pulang kampung sih, jadi terobati lah kangennya. Nah di Jepang ini mungkin saya akan menemui banyak hal-hal dan juga pengalaman baru. Hmm, berikut sedikit ceritanya :

  • Lama Puasa

Karena puasa kali ini jatuh pada 6 Juni, atau awal-awal musim panas maka suhu sudah beranjak 25+ setiap harinya, kadang pun hujan juga sering turun. Beruntungnya tahun ini sudah tidak pada puncak musim panas jadi suhu segitu udah bersyukur banget. Selain itu, kalau di Indonesia (karena Khatulistiwa), panjang siang dan malam hampir sama setiap tahunnya, nah di negara sub-tropis beda, walaupun di kota Fukuoka, Jepang nggak ekstrim banget. Dulu pas musim dingin, sholat subuh jama’ah di Masjid 6:30 AM, nah sekarang 4:00 AM, lumayan kan bedanya. Praktisnya puasa jadi lebih lama, lebih lama 2 jam dari Indonesia yaitu dari : 3:25 AM sampai 7:30 PM (16 jam).

  • Tantangan Puasa ??

Jika tantangan puasa itu karena banyak orang makan disekitar kita padahal kita sedang puasa ? Hmm, rasanya nggak secemen itu sih, haha. Ya kali umur udah segini masih tergoda aja sama yang kayak gitu. Yang paling riskan adalah pemandangan yang “kurang enak” kalau di kampus. Banyak mahasiswi yang berpakaian sexy, membuka aurat, “bebas untuk dilihat” asal jangan protes kalo pahala puasa nggak bersisa haha. Jangankan musim panas gini, musim dingin aja banyak yang masih pake rok mini padahal saya udah pake jeans dan pake pakaian hangat di dalem. Kalo dipikir-pikir sih “sakti juga nih anak-anak Jepang yang pakai pakaian gitu”. #prok prok.

Dalam bahasa Jepang, puasa/shaum disebut “danjiki atau 断食”. Di lab, karena sudah familiar denga muslim yang berpuasa jadi sudah pada ngerti ngapain muslim nggak makan sebulan penuh. Pernah saya iseng nanya kawan sebelah “ラマダン断食やってみますか – mau nyoba puasa ?” Ia jawab “無理だ – nggak mungkin (nggak bakal kuat)” haha.

Jadi apa tantangan puasanya woii !! Orang biasanya bakal nanya gini nih, kayaknya kalo di luar negeri tanpa tantangan kurang seru gitu, haha. Kurang menantang #apasih. Alhamdulillah nggak ada tantangan berarti sih, malah sangat enjoy puasa disini (kalo nggak percaya liat video di bawah ya). Perkara nggak bisa makan masakan Indonesia, kadang kami (di seputaran Hakozaki) juga sering ngumpul dan masak-masak. Alhamdulliah 33x

  • Nikmatnya dekat dengan Masjid

Di Indonesia saking biasa dan banyaknya masjid di sekitar kita, kalo liat Masjid jadi biasa aja. Nah disini karena satu kota cuma ada 1 masjid, jadi betapa bersyukurnya kalo apartemen dekat dengan masjid dan lab juga. Namanya “Masjid Fukuoka Al Nour“, didirikan tahun 2009 yang diinisiasi oleh alumni dan mahasiswa Kyushu University. Oleh karena itu tempatnya hanya 5 menit dari kampus Hakozaki, Kyushu University sepedaan atau 15 menit jalan kaki.

Oh ya, kampus yang terdekat dengan Masjid ini ya kampus saya saat ini : Kampus Hakozaki, kalau kampus ya yang lain lumayan jauh. Apalagi sekarang kampus utama Kyushu University sudah dipindah ke daerah Itoshima (beda kota), berjarak lebih dari 1 jam ke sana dari Hakozaki. Karena satu Kota hanya ada 1 masjid, jadi kawan-kawan di Ito dan lainnya biasanya mengunakan ruangan kampus sebagai Mushola, pastinya tidak semeriah dan semewah di masjid sih. Makanya bersyukur banget dapet kampus di Hakozaki, walaupun sudah mulai semak haha.

Jika di kampung dulu, kalo sholat jama’ah sebelahan saya ya pasti tetangga-tetangga, di sini Alhamdulillah, saya bisa merasakan berada di komunitas Internasional, berdampingan dengan muslim dari Mesir, Pakistan, India, Syria, Tunisia, Bangladesh, Libya dll. Inilah gambaran kecil persaudaraan muslim di dunia. Tentu dengan karakter tiap orang dan bangsa yang beda-beda, namun selama “syahadah” kita sama, maka kita bersaudara 🙂

Fukuoka Masjid 2

Sholat berjamaah di ruang utama (Credit to Fukuoka Masjid Facebook Fanpage)

Di Masjid ini juga banyak digelar kegiatan untuk memeriahkan bulan Ramadhan yaitu : Iftar harian, Grand Iftar mingguan, Sholat Tarawih, Ceramah/kuliah, Tadarrus Quran, dll. Ahamdulillah, begitu banyak kegiatan untuk semakin mengais pahala di bulan ini.

  • Ramadhan bulan penghematan

Di Masjid “kampung” kami setiap hari ada “Buka puasa (Iftar) bersama” yang tidak kurang 100 orang hadir dan makan bersama. Dengan menu ayam dan seringnya kambing, mahasiswa mana yang tidak senang haha. Makin dekat dengan Masjid makin hemat kantong selama Ramadhan haha

Fukuoka Masjid 3

Suasana Iftar (Buka Puasa) di Masjid Fukuoka. (Credit to Fukuoka Masjid Facebook Fanpage)

Tentu tidak datang dan makan, komunitas Indonesia juga punya kewajiban piket pada pekan pertama bulan Ramadhan dan juga mengadakan Grand Iftar di hari Minggu pertama. Ah, Indahnya memang serasa lebih syahdu. Sejatinya memang bumi luas ini adalah hamparan sajadah untuk senantiasa mendekatkan diri padaNya.

Silakan cek video ala ala Muslim Traveler yang saya bikin ini. Niatnya untuk dikasihkan ke LPDP untuk menyemarakkan “Ramadhan di Kantor LPDP”. Mudah-mudahan menarik dan bermanfaat.

*Taping/ ngerekam suaranya berkali-kali, beda posisi dan beda mood makanya jadi berubah-ubah hehe

**Foto diambil dari akun Facebook Masjid Fukuoka

Gempa Kumamoto 2016

Malam itu (41/04/2016), saya yakin semua orang sedang beraktivitas dengan tenang seperti biasa. Saya saat itu tu bersama beberapa kawan sedang khidmat belajar bahasa Jepang di salah satu apato (apartemen) kawan di daerah Hakozaki. sekitar pukul 9:30 JST malam itu, semua HP serentak berbunyi, “teeet teeet teeet, jishin desu, jishin desu” artinya “gempa, gempa”. Karena saat itu pusat gempa bukan di sekitar Kota Fukuoka, jadi peringatan itu sampai dulu beberapa detik sebelum gempa. Efeknya kaget dulu baru panik. Line warga Indonesia Fukuoka pun langsung ramai. Maklum walaupun sama-sama dari negara cincin api tapi tidak semua orang Indonesia pernah menarasakan gempa. Saya sendiri pernah dulu tahun 2009, paling cuma 2 atau 3 SR pas lagi tiduran di kamar asrama IPB, waktu itu saya langsung loncat jendela hahaha.

img_4007

Gempa bisa diupdate dari apps di handphone (Yurekure)

Seperti yang sudah pernah saya lihat waktu orientasi mahasiswa baru dulu di kampus, kalo gempa hal yang pertama dilakukan adalah ngumpet di kolong meja, atau mencari bantal untuk nutupin kepala. Sementara kalo banyangan saya di Indonesia, pasti yang pertama dilakukan adalah kabur ke lapangan.Itulah bedanya Jepang dan Indonesia, saking seringnya gempa disini, pada saat kekuatan gempa mencapai angka tertentu baru diminta untuk keluar.

Sejak hari itu saja selalu update website JMA (Japan Meteorogical Agency) untuk update info tentang gempa yang terjadi di Kumamoto dan sekitarnya. Yang paling besar adalah 7.3 SR, sampai ke Fukuoka sekitar 4 SR. Sampai April kemaren, gempa yang sudah terukur lebih dari 1000 kali dengan intensitas 1-4 di Kumamoto, korban jiwa pun sampai lebih dari 50 orang. Alhamdulillah, tidak ada WNI yang jadi korban, namun banyak sekali yang mengalami trauma karena gempa yang terus-terusan.

WNI di Fukuoka, baik dari upaya sendiri maupun bersama Masjid Fukuoka beberapa kali ikut terlibat menyalurkan bantuan ke daerah terdampak, tentu juga KBRI. Tim bantuan KBRI katanya jadi negara pertama yang datang memberikan bantuan ke Kumamoto. Sebagian WNI yang di Kumamoto pulang ke Indonesia, sebagian lagi mengungsi ke daerah sekitar yang lebih aman, seperti Fukuoka, Hiroshima, juga ada yang samapi ke KBRI Tokyo. Sebagian tidak bisa kembali ke rumah karena saluran gas dan air masih terputus, juga banyak rumah yang rusak akibat gempa.

Nah, beberapa saat setelah gempa mulai menurun dan keadaan mulai membaik, konbini (convenience stores) dan supermarket mulai buka, makanan sudah bisa didapat namun karena banyaknya kepedulian dari warga sekitar, maka bantuan terus datang. Salah seorang kawan dari Kumamoto bercerita, di Masjid Kumamoto mereka terus membuka pos untuk mendistribusikan bantuan namun tidak ada warga yang mau menerima bantuan itu. Mungkin mereka menganggap diri mereka bukan orang yang berhak menerimanya, apalagi barang-barang itu sudah bisa dibeli sendiri di toko. Kalau di Indonesia, ceritanya pasti beda, hehe. Semoga banyak hikmah yang bisa diambil dari bencana ini.