fukuoka

Kunjungan ke Fukuoka Slauhter House/ Rumah Potong Hewan

Kunjungan ke Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Fukuoka (福岡市) merupakan salah satu bagian dari kuliah “M05 Current Topics in Agriculture and Food Environment” yang saya ambil semester ini. Pengajar di kuliah ini adalah Prof. NAKAMURA Mako, dari Animal Science, Fakultas Pertanian. Hmm, rasanya akan jadi kesempatan langka untuk mengunjungi tempat seperti ini, apalagi yang katanya RPH terbesar ke-2 di Jepang ini, setelah Tokyo. Di seluruh Jepang ada kurang lebih 28 RPH dari Sendai sampai Sasebo (Pref. Nagasaki). Namun hanya ada 10 yang mungkin tergolong sebagai Central Market, yaitu di Sendai, Saitama, Tokyo, Yokohama, Nagoya, Osaka, Kyoto, Hiroshima, dan Fukuoka. Sebanyak 18 sisanya ada di kota kecil lainnya di Jepang.

Mengapa keberadaaan RPH penting di Jepang ?

IMG_0261 (1)

Pintu Masuk RPH Fukuoka

IMG_0260 (1)

Foto bersama setelah jalan-jalan keliling RPH

Oh ya, sebelum banyak cerita soal keadaan RPH Fukuoka ini, ada hal yang membuat keberadaan RPH penting nih. Di Jepang ada undang-undang yang mewajibkan hewan-hewan ternak seperti sapi, babi, kuda, domba dan kambing dipotong di RPH, dilarang selain disini (undang-undang nomor berapa pasal berapa dan ayat berapa, aye kagak ngerti ye maaf, hehe). Alasannya karena hewan-hewan tersebut dikonsumsi oleh banyak orang sehingga aspek kesehatan dan prosesnya harus dalam pengawasan pemerintah. Jika dipotong sembarangan (tanpa pengawasan) dan ternyata hewan tersebut berpenyakit, maka akan banyak yang kena dampak hal ini. Nah, untuk hewan-hewan liar seperti rusa, babi liar dan lainnya, dibolehkan untuk dipotong sendiri. Karena hewan liar tersebut hanya dalam jumlah kecil, dampaknya pun hanya ke sebagian kecil masyarakat yang mengkonsumsinya. Nah, untuk Kota Fukuoka sendiri ada 19 Inspector/ pengawas yang bertugas memantau kesehatan hewan-hewan sebelum dipotong. Jadi sudah kebayang kan gimana kepedulian Jepang soal keamanan makanan.

Rata-rata per harinya RPH Fukuoka ini memproses 120 Sapi dan 600 babi, namun jika peak season seperti Natal dan acara lainnya, jumlah hewan yang dipotong bisa dua kali lipat. Umur sapi yang dipotong disini berkisar 30 bulan, sedangkan 6 bulan untuk babi. Setiap sapi akan diberikan barcode untuk proses pelacakan sampai daging tersebut dijual di supermarket, sedang untuk babi tidak ada barcode seperti itu. Jadi daging yang dijual di supermarket bisa dilacak dari sapi jenis apa, dipotong tanggal berapa dan lainnya. Nah, karena Fukuoka termasuk pasar yang besar untuk daging, para peternak di sekitar Kyushu lebih suka menjual ternaknya di RPH Fukuoka karena banyak pembeli dan harganya pun bisa lebih mahal. Bagaimana mekanisme yang terjadi dari mulai sapi/babi dari peternak sampai ke supermarket dan ke meja makan ? Beginilah kisahnya, hehe.

Distribusi Daging

Ada 195 pembeli tersertifikasi (certified buyers) di RPH ini jadi tidak semua orang bisa masuk dan ikut dalam pembelian/ pelelangan disini. Kebanyakan untuk babi tidak masuk ke pelelangan (auction room) karena sudah dibeli sebelum masuk di RPH, hanya sekitar 30 % dari babi yang masuk proses lelang. Lain hal dengan sapi, kebanyakan sapi justru masuk lelang dan hanya sebagian kecil yang sudah dibeli sebelum masuk RPH.

Proses selama di RPH Fukuoka

Awalnya saya mengira alat dan ruangan untuk memotong sapi dan babi sama, ternyata yang saya temukan (more…)

Advertisements

Alhamdulillah, Sah.. Jadi Mahasiswa Master

blog7Gimana Para saksi Sah ? Sah ?. Sah !! Alhamdulillah. Barakallahu … Akhirnya sah juga jadi mahasiswa master di Kyushu University. Lebih dari satu tahun menunggu momen-momen ini. Dulu lulus LPDP Juni 2014, kemudian dapat LoA dai kampus April 2015, baru mulai kuliah Oktober 2015. Yah, memang sesuatu sekali. Makanya jangan membiarkan orang menunggu #apasih. Maksudnya buatlah waktu menunggu itu produktif, jadi tak kerasa eh udah abis aja satu tahun. “Jangan bahagia dulu Dhil, ini baru dimulai. Didepan belum tahu bakal kayak apa”. Hahaha, nasihatin diri sendiri.

Oh ya, sedikit cerita tentang minggu pertama di Fukuoka. Saya mendarat di Fukuoka (dari Tokyo) sekitar pukul 12 JST katanya ngaret kurang lebih 30 menit karena lalu lintas yang padat di bandara Fukuoka (福岡空港). Awalnya pas di Bandara Haneda sempat was-was karena ada tulisan maksimum bagasi hanya 20 kg, sedangkan bagasi saya udah 26 kg sendiri. 大丈夫かな? (Apa-apa nggak ya ?) Ya, kalo memang harus bayar apa boleh buat. Eh, ternyata pas check in, mbak-mbaknya nggak mempermasalahkan gituan. Yasudah, amaan. Satu hal lagi, maaf kalo sedikit curcol. ternyata ANA tidak lebih bagus dari Garuda, dikira teh sama. masak penerbangan 2 jam nggak dikasih snack apapun, cuma minuman aja #fiuh. Hidup keras, mana nggak jajan di bawah pun. Alhasil selama penerbangan jadi waktu tidur aja haha.

Nah, ada hal yang aneh sedikit. Pas turun nih, langsung tuh kan ngikutin arus orang keluar, belok sana sini lurus, soalnya dikira mau ngambil bagasi bareng. Dari lantai satu naik ke lantai dua. Kok, aneh ya ? jarang banget ngambil bagasi di lantai 2, dimana-mana biasanya malah turun. Eh, kok pada masuk ke restoran sih. Wah, wah kacau, ini kagak bener. Akhirnya langsung turun ke bawah dan nanya Bapak Satpam, sambil nunjukin boarding pass dan bilang “(荷物は” Nimotsu wa ?” artinya “bagasi ?”. Pak Satpam pun langsung manggil crew ANA yang di darat, mbak-mbak crew ANAnya langsung menghampiri sambil bilang, “Tinggal satu ini”. Lah perasaan penumpangnya hampir penuh, dan dari pesawat pun langsung turun nggak kemana-mana, kok udah pada selesai aja ngambil bagasinya ya. Jangan-jangan pada nggak bawa bagasi mungkin ya. Semuanya masuk kabin jadi lebih praktis nggak nunggu-nunggu. Oh ya, karena saya pake penerbangan domestik jadi sampai juga di terminal domestik, perlu naik shuttle bus bandara untuk ke Terminal Internasionalnya, karena welcome counter Kyushu Univ. (Kyudai) ada disana.

IMG_20151003_133632

Teman sekamar di Kashiihama A304 (Dua-duanya dari China)

Di Welcome counter Kyudai, harus lapor dan nunjukkan email untuk layanan shuttle bus gratis dari bandara ke Kaikan (会館)di Kashiihama, Higashi-ku. Kurang lebih hanya 30 menit dari bandara ke asrama dan langsung bisa masuk ke kamar setelah selesai registrasi. Saya dapat kamar shared room ber-3 dengan orang yang tidak dikenal sebelumnya, dan juga tidak bisa minta dengan siapanya. Pasrah aja ditaro satu kamar sama siapa aja, mudah-mudahan dapet yang normal-normal aja, hahaha. Tak lama setelah masuk dan ngecek kamar, eh ada yang datang. Lho ternyata Mba Fitri, Alhamdulillah dapat tutor (yang ngajarin bertahan hidup awal-awal di fukuoka) orang Indonesia dan kebetulan satu lab juga. Yokatta desu ne !! よかったですね。Bisa komunikasi dan nanya dengan mudah. Beberapa jam setelah itu, ternyata baru tahu, Mba Fitri nggak ikut upacara wisuda gara-gara hari itu harus ke asrama. Merasa bersalah. Hari itu malah langsung diajak jalan-jalan, bayar tagihan asrama, dan kebetulan ada tiket nonton gratis di Bioskop Canal City Hakata, nonton film “Pendekar Tongkat Emas”. Hari itu hari terakhir rangkaian festival film Fukuoka apa gitu., dan film Indonesia salah satunya ikutan juga. Besoknya juga diajak lagi ke Barbeque di Kampus Ito, bareng KUMSA (Kyushu University Muslim Student Association) dan saudara-saudara dari Fukuoka Masjid, masih dalam suasana Eid Adha. Bertemu saudara muslim di daerah minoritas itu memang “sesuatu” banget, mau dari negera mana pun, warna kulit apa pun, we are all brother because of the shahadah.

blog9

Diskusi dengan Pengurus Masjid Fukuoka tentang rencana kedatangan D. Zakir Naik di Fukuoka

blog10

Asiknya bakar-bakar, abis dibakar langsung disantapp

Senin (28/09) pagi saya ke Lab bertemu Sensei dan kebetulan ada morning seminar untuk semua member di lab Microb Tech. Saya diminta perkenalan diri di depan sebagai pendatang baru di lab. Saya selipkan beberapa kata-kata dalam bahasa Jepang, sengaja untuk memberi kesan ke mahasiswa Jepang dan senseinya. And It works, banyak yang terkesan haha. Padahal cuma bilang “Ohayou gozaimasu おはようございます” di awal dan bilang “Kore kara yoroshiku onegaiitashimasu これからよろしくお願いいたします” di akhir. Artinya “Selamat pagi” dan “Mulai sekarang, (saya) mohon bantuan rekan-rekan semua”. Saya pakai bentuk yang halus haha, biar lebih berkesan.

blog8Setelah hari Senin, saya mahasiswa baru masih harus menjalani beberapa orientasi seperti : orientasi dari International Center (国際センター), dari Sekolah Pascasarjana, dari Perpustakaan pusat dan dari Asrama Internasional tempat kami tinggal. Tapi semuanya hanya kayak kuliah kok, nggak ada perploncoan ala-ala sekolah jaman barbar gitu haha.

Nah, Kamis (01/10), hari pertama di bulan Oktober, sekitar pukul 11.30 JST kami resmi disambut oleh President Kyushu University, Presiden Kubo, di Shiiki Hall, Kampus Ito. Untuk periode ini ada sekitar 400 mahasiswa asing yang masuk, termasuk yang program sarjananya.

Ja ne, sekian dulu update untuk kali ini. Mudah-mudahan akan lebih rajin nulis selama di Jepang. Banyak hal yang masih diriset di kepala soal tulisan tentang Jepang. Ada niat mau merutinkan untuk nerbitkan tulisan disini tapi khawatir belum bisa konsisten sih. Jadi sementara ini masih bergantung mood menulis aja. Maafkan. Sekian.

Beasiswa LPDP : Menentukan Kampus Tujuan

Yeaaayyy. Alhamdulillah. Sujud Syukur setelah melihat nama di deretan calon penerima beasiswa LPDP yang lolos seleksi wawancara. Momen itu terjadi hampir setahun silam (Juni 2014) dan sampai saat ini masih belum berangkat juga. Barangkali banyak yang aneh, hehe. Bilangnya jadi kuliah ke Todai tapi belum berangkat-berangkat juga dari tahun kemaren. Baiklah, mungkin di tulisan kali ini saya mau cerita hal yang sebenarnya terjadi.

logo-uot

Todai ??
. Saya pun kaget sebenarnya kenapa akhirnya bisa memilih universitas ini. Jadi awalnya saya sempat galau sebelum submit aplikasi ke sistem LPDP. Mau ngambil jurusan apa dan di universitas mana ?. Saya sempat ganti beberapa kali universitas dan jurusan di form pendaftaran LPDP, diantaranya (yang saya inget) : Kyoto University, Manchester University, Edinburgh University, dll hingga akhirnya The Univ. of Tokto (todai). Modal nekat saja masukin todai dan terus di submit. Saat itu juga memang batas submit berkas sudah dekat, jadi memang terkesan agak gegebah dan tanpa mikir panjang juga milih hal tersebut.

Manchester_University_Logo_(2)Impian singkat ke Manchester University. Waktu berlanjut terus. Setelah diumumkan lolos tahap interview, saya mulai bergerilya mencari info universitas yang masih buka pendaftaran untuk masternya. Coba cari sana sini, dan akhirnya menyerah karena memang rata-rata untuk intake yang 2014 akhir, semua pendaftarannya sudah ditutup. Terlebih saat itu memang belum punya sertifikat TOEFL iBT atau IELTS untuk daftar kampus. Ya mau bagaimana lagi, berarti harus mengikhlaskan untuk tahun depan saja. Ritme nyari kampus pun mulai agak santai jadinya. Paling kerjaan cuma buka web kampus-kampus, kalau merasa tertarik terus buka akun untuk pendaftaran di web-nya (misalnya : Manchester Univ. dan Edinburgh, Oxford pun sama). Jadi, saya pernah punya akun pendaftaran disitu hehe. Walaupun di berkas aplikasi LPDP tertulis Todai, namun dulu rasanya kok “sreg” dengan Manchester Univ. ya. Nah, sempet tuh ngebet banget pengen kesana juga. (more…)