fukuoka

Warna-warni puncak Gn Taisen, Pref. Oita

Fukuoka, 23 Oktober 2016. Suhu yang sudah mulai turun namun belum terlalu dingin. Waktu-waktu seperti ini orang masih banyak menyebutnya 涼しい・suzushii (sejuk) dibandingkan 寒い・samui (dingin). Sejak dua minggu lalu, kami ber-13 merencanakan untuk naik gunung (登山・tozan) Taisen di Pref Oita. Gunung ini tidak terlalu tinggi, hanya 1786.2 mdpl namun banyak dicari pendaki karena indah pemandangannya saat musim gugur. Ada daun yang berubah warna jadi merah, kuning, oren, dari ketinggian terlihat bertumpuk-tumpuk dan berselang seling. Meski cuaca saat pendakian  terpantau tidak akan cerah, malah kemungkinan akan hujan dan sepanjang hari akan berawan. Karena persiapan sudah dilakukan beberapa waktu lalu, termasuk rental mobil pun sudah deal akhirnya kita tetap jadi berangkat. Berharap semoga ada kesempatan untuk mengagumi warna-warni Gn.Taisen dari puncaknya.

Kami memulai perjalanan dari Higashi-ku pukul 3.00 JST pagi, saya, Pak Andi, Mas Infal, Mas Dana dan Haekal adalah rombongan dari hakozaki. Dari Higashi-ku kami menuju ke Tenjin buat ngambil mobil yang udah di rental dari Nippon Rental Car, Nissan Serena dengan harga 16.000JPY plus 2000 JPY asuransinya. Karena semuanya ada 13 orang jadi kami berangkat dengan dua mobil. Setelah menjemput beberapa orang di bagian Nishi-ku, akhirnya sekitar pukul 4 pagi rombongan meluncur via TOL menuju Oita. Setelah melalui perjalanan cukup panjang, bahkan sampai salah keluar pintu tol, dan mampir sebentar di rest area Saga-ken untuk sholat Subuh, kami tiba di lokasi pendakian pukul 7:30. Sekitar pukul 7:45 tim bergerak memulai pendakian untuk sampai ke camping ground terlebih dulu. Di awal medan yang dihadapi cukup menantang, ada tanjakan curam ke atas untuk jarak tempuh 15 menitan. Setelah itu cukup landai dan datar sampai ke camping groundnya. Di tengah perjalanan tim sempat rehat sejenak dan berhenti di air terjun, berjarak 70 menit dari titik awal pendakian. Pukul 10 barulah kami sampai di lokasi camping ground yang tersedia toilet (tapi kondisinya kurang bersih), tempat BBQ yang keren, lengkap dengan suplai air bersihnya. Beberapa tenda kecil masih terlihat disana, sepertinya ada yang menginap untuk summit attack paginya. Di camp ground kami rehat sejenak, menikmati bekal ringan yang dibawa, beberapa teguk air, nasi kepal dengan abon, roti sandwich homemade, serta camilan lainnya. Suasana masih gerimis meski tidak begitu lebat, selama perjalanan dan di rumah BBQ kami selalu bertemu dengan pendaki lain, kebanyakan orang Jepang sendiri, dari bahasanya.

taisen-6

Rehat di Air terjun

taisen-4

Menikmati bentou di puncak Taisen

Waktu tidak banyak, kami harus tiba kembali ke titik awal sebelum petang datang, sekitar pukul 11 kami mulai pendakian ke puncak. Disini lah momen yang ditunggu-tunggu, melihat warna-warni momiji dari puncak. Medan pendakian ke puncak tidak terlalu terjal namun cukup menantang. Di beberapa titik ada pos penanda. Saat berada di tempat tinggi, pemandangan warna-warni momiji kian jelas terlihat. Hampir tepat pukul 13 siang akhirnya sampailah di puncak Gunung ini. LUAR BIASA INDAHNYA. “Asli, baru kali ini terkagum-kagum sampai level kayak gini”. Makin dipandang makin cantik. Pas banget kabut bergeser waktu kami sampai puncak, sekitar 20-10 menit lamanya. Meski tidak begitu cerah, tapi pemandangan tidak tertutup kabut sejenak. Puas dengan foto-foto dan ngambil beberapa shoot untuk video, kami turun ke bawah untuk nyari tempat melepas penat sambil membuka bekal makan. Seketika, cuaca pun jadi kembali berkabut lebat, angin juga terasa makin kencang. Sampai kami beranjak pulang, cuaca dari puncak sudah kembali tertutup kabut tebal lagi. Alhamdulilah masih rejeki untuk lihat pemandangan dari atas, momen yang langka untuk hari itu.

taisen-5

Girang karena sampe puncak

Pukul 2:35 kami beranjak meninggalkan puncak, kemudian singgah kembali ke camping ground untuk rehat sekaligus sholat, pukul 7 malam tim kembali ke Fukuoka. Malam di musim gugur datang lebih cepat, pukul 5-6 hari sudah gelap kami masih berada di lokasi pendakian. Beruntung sebagian ada yang membawa HP jadi masih ada penerangan selama perjalanan. Alhamdulillah semua tim selamat dan sukses mencapai puncak. Ini kompilasi video pendakian dari awal sampai turun. Enjoy !!

Beralih ke VLOG ??

Tahun lalu, masih inget niat buat ngisi blog perminggu satu tulisan, alhasil kalau dilihat di menu “All post” di dashboard yang tertahun 2016 ada sebanyak 22 postingan, dimana lebih detilnya adalah 10 terbit/dipublikasi dan sisanya masih nunggu di draft, bahkan sebagian cuma judul doank trus masuk draft. Oh nasib emang, niat sudah bagus, eksekusinya udah dimulai cuma konsistensi yang amburadul haha. Klise memang ya, makanya amalan (kebaikan) yang istiqomah/konsisiten itu emang susah dan makanya Allah mencintainya #tsaaah.

Mengamati tren media sosial kini, kayaknya memang begitu dinamis. Sekitar tahun 2013, seingat saya, mungkin sebagian sudah mulai jenuh dengan fesbuk dimana temen bisa 3-4 ribu tapi paling yang benar-benar kenal hanya ratusan. Ditambah lagi dengan akun-akun “temen” yang suka ngeshare link dan berita hoax baik itu soal agama, politik, berita nggak karuan, masukin ke grup nggak jelas dan lainnya. Setelah sempat jenuh, eh ternyata fesbuk berinovasi terus dan meluncurkan video baik autoplay video yang sering kita liat di timeline kita ataupun 360 dan live video. Fesbuk mengklaim ada 100 juta jam penayangan video per hari oleh usernya via HP. Akhirnya bisa dikatakan fesbuk mulai kembali jadi tempat “nongkrong” banyak orang.

Facebook users watch an average of 100 million hours of video on mobile every day. Daily views have increased from 1 billion to 8 billion in one year’s time. Text posts, meanwhile, are declining year on year (Facebook VP Nicola Mendelsohn)

Anggap saja hari ini banyak yang lebih menyukai media penyampaian via video, dibandingkan 100 baris tulisan kecil-kecil yang juga seringkali dishare via WA, scroll scroll beress haha. Mungkin ini juga sebab Instagram mulai dapat tempat di hati para “pegiat media sosial” haha.

Gimana ? lumayan ilmiah kan alasan saya kenapa nggak ngeblog lagi hahahha #plak. Mengingat, menimbang, mengurangi timbangan, dan memperhatikan hal itu makanya saya juga coba beralih ke dunia VLOG. Ya tapi gitu deh, di dunia VLOG ini banyak yang harus dikerjakan bukan hanya riset soal bahan yang akan ditulis, tapi juga peralatan dan proses syuting, editing, dan semua ini bikin pening. Asik-asik aja lah, sesekali ngeBlog, sesekali ngeVlog.

Ngapain sih pusing-pusing bikin Blog atau Vlog ? ya seru-seruan aja deh. Mudah-mudahan cerita nggak jelas kadang bisa menghibur atau siapa tahu bisa mengispirasi wkwkwkkwk. Berkarya itu jangan takut, ia akan menemukan nasibnya sendiri. #tsah

Udah ah, intinya dari yang paling inti tulisan ini adalah ingin mempromosikan vlog #4 terbaru saya yaitu hanabian di Ohori koen Fukuoka, ini dia selamat menikmati ya.

Sudahkah bersyukur terlahir sebagai muslim ?

Suatu malam, Alhamdulillah pas lagi bener nih, sebut saja lagi duduk-duduk nunggu waktu Isya di Masjid. Seorang berwajah khas Jepang sedang asyik juga ngutak-ngatik PC-nya dan baca-baca majalah. Sekali-sekali tak lirik karena memang niat mau bikin Vlog soal wawancara sama orang Jepang soal puasa/ Ramadhan dan Eid. Eh, tapi agak sungkan dan malu. Dia juga lagi sibuk keliatannya jadi kayaknya nunggu agak santai baru mau disamperin. Tidak berapa lama, Dia ngambil Quran dari rak dekat saya duduk, dan setelah itu duduk di kursi. Dia nanya saya dan kami ngobrol beberapa saat pake bahasa Inggris dan Jepang. Sebut saya namanya Abe

Abe : Kamu bisa baca Al-Quran bahasa Arab ? Mengerti ?

Saya : Bisa, Alhamdulillah. Ngerti karena ada artinya disampingnya. 読めますか。(Bisa baca ?)

Abe : Bahasa arab susah ya. Brother Ishak bilang dia belajar dari SD sampai sekarang baru bisa. Tata bahasanya susah dibanding Inggris dan Jepang.

Saya : Iya, semuanya punya gender/jenis kelamin. Ini kursi misalnya cowok, karpet ini misalnya cewek, buku itu cowok dsb. Saya juga nggak bisa ngomong bahasa Arab sih. Gimana puasanya kemarin ? Berapa hari ? Ah, saya mau nanya-nanya soal puasa tapi sambil direkam video dan dimasukkan ke youtube, boleh ?

Abe : Puasa itu berat ya. Kalo tidak makan tidak apa-apa, tapi saya tidak tahan kalo tidak minum. Saya cuma bisa 10 hari. Maaf, saya tidak bisa di-video, soalnya saya juga diam-diam masuk Islam, keluarga saya tidak tahu.

Saya : Ah, maaf maaf. (Aduh jadi merasa bersalah, padahal gara-gara mau bikin Vlog jadi nggak mikir sampe kesana. Keterlaluan emang kadang-kadang nih).

———————————————————————————————————————-

Kami ngobrol ngalor-ngidul soal makanan, apa yang hal yang paling sulit setelah jadi muslim di Jepang ? kenapa orang Islam di Masjid ini terkesan berkelompok secara komunitas gitu ? apa beda muslim sunni dan shia/syiah ? Beberapa hal yang menarik sbb :

————————————————————————————————————————

Abe : Mengapa muslim tidak boleh makan babi ? padahal babi kan tidak kotor

Saya : Hmm, (udah nyangka akan ada orang Jepang yang bakal nnaya gini). Jadi gini, di Quran ada beberapa ayat yang melarang untuk makan babi. Menurut saya, Babi memang tidak kotor, untuk kasus di Jepang, karena saya pernah liat Rumah Potongnya langsung. Disamping sebagian alasan dilarangnya babi, saya lebih suka kalo itu adalah ujian dari Allah. Dilarang jelas ada manfaatnya, meski mungkin kita belum tahu sekarang. Untuk di Jepang, saya juga sulit percaya kalo dikatakan babi itu banyak penyakit, kotor, dsb.

Abe : Hmm, begitu ya. Makanan Jepang, seperti ramen banyak yang memakai babi. Saya sudah tidak makan babi juga minum alkohol tapi kadang sulit menjelaskan kalo pas acara kantor.

Saya : Jangan menyerah. Kamu tahu tidak, jika saya tidak terlahir muslim, belum tentu saya akan jadi muslim atau tidak seperti kamu. Saya iri dengan orang yang belajar mencari tahu dan masuk Islam. 今までいイスラム教について勉強しています、(saya juga masih terus belajar soal Islam)

Abe : なるほどね。死ぬまで終わらない。(Hmm, begitu. Sampai mati belum akan selesai ya)

Saya : そうです。(Benar). Apa hal yang paling sulit setelah jadi muslim ?

Abe : Makanan

Saya : Hmm, memang sulit ya.

———————————————————————————————————————–

Abe : kamu sudah menikah ? berapa umurmu ?

Saya : Belum. saya 24. kamu ?

Abe : 29 tahun

Dia kemudian menanyakan soal bagaimana kalau orang yang ingin dinikahi bukan muslim. Pertanyaan yang saya juga sebenarnya sulit menjawab.

Saya : Kalo kita menikahi seseorang (muslim), kita akan bersamanya sampai ke surga, InsyaAllah. Tapi yang hanya bisa ke surga hanya muslim, jadi jika ingin bersama sampai nanti, karena itu hendak menikah dengan yang muslim

Saya kemudian berpikir, seberapa banyak sih peduli dengan agama di Jepang. seberapa banyak yang tertarik dan masuk Islam dan kemudian masih konsisten sampai-sampai ingin menikah dengan orang Jepang yang muslim. Hmm, bukan hal yang mudah pastinya.

Terkahir, yang membuat saya agak terharu adalah, dia menunjukkan foto di salah satu grup muslim Fukuoka,

Abe : Kemaren ada acara apa ya ? Ini foto-fotonya

Foto-foto wajah yang nampak sumringah. Foto dimana semua muslim berbahagia dan berhari raya. Setelah sebulan penuh berpuasa, sholat Eid, takbiran, makan-makan, berkumpul dengan saudara dan bercengkrama hangat. Ternyata Dia tidak tahu sama sekali soal itu. Jelas saya, tidak semua orang bisa hadir hari itu, karena memang tidak libur. Hmm, berat memang perjuangannya, semoga Allah merahmati dan memudahkan jalannya.

Dia datang ke Masjid yang letaknya hampir 2 jam dengan kereta dari tempat tinggalnya di Kitakyushu. Yang cuma ngesot ke masjid 5 menit sampe ini cengok, biasanya masih banyak alasan. Abe-san, 諦めないでください (Jangan menyeraaah !!!)

 

 

 

Indahnya Ramadhan di Fukuoka

Riak-riak gembira dalam hati, yang tak bisa dipungkiri. Karena yang ditunggu setahun lamanya kini hadir kembali. -MF

Tahun ini memang bukan tahun pertama saya menjalani Ramadhan di tanah rantau, karena memang saya sejak kuliah sarjana dulu sudah merantau ke Bogor. Tapi, tahun ini jadi tahun pertama merasakan Ramadhan di negeri orang, Jepang. Dalam hati ada rasa penasaran, disamping juga was-was. Kira-kira apa ye tantangannya disini ? Kalau di Bogor dulu ya paling cuma kangen-kangen dikit dengan keluarga, makanan melimpah, kolak aneka jenisnya, cincau aneka warnanya semua deh pokoknya haha. Terlebih akhir Ramadhan pasti pulang kampung sih, jadi terobati lah kangennya. Nah di Jepang ini mungkin saya akan menemui banyak hal-hal dan juga pengalaman baru. Hmm, berikut sedikit ceritanya :

  • Lama Puasa

Karena puasa kali ini jatuh pada 6 Juni, atau awal-awal musim panas maka suhu sudah beranjak 25+ setiap harinya, kadang pun hujan juga sering turun. Beruntungnya tahun ini sudah tidak pada puncak musim panas jadi suhu segitu udah bersyukur banget. Selain itu, kalau di Indonesia (karena Khatulistiwa), panjang siang dan malam hampir sama setiap tahunnya, nah di negara sub-tropis beda, walaupun di kota Fukuoka, Jepang nggak ekstrim banget. Dulu pas musim dingin, sholat subuh jama’ah di Masjid 6:30 AM, nah sekarang 4:00 AM, lumayan kan bedanya. Praktisnya puasa jadi lebih lama, lebih lama 2 jam dari Indonesia yaitu dari : 3:25 AM sampai 7:30 PM (16 jam).

  • Tantangan Puasa ??

Jika tantangan puasa itu karena banyak orang makan disekitar kita padahal kita sedang puasa ? Hmm, rasanya nggak secemen itu sih, haha. Ya kali umur udah segini masih tergoda aja sama yang kayak gitu. Yang paling riskan adalah pemandangan yang “kurang enak” kalau di kampus. Banyak mahasiswi yang berpakaian sexy, membuka aurat, “bebas untuk dilihat” asal jangan protes kalo pahala puasa nggak bersisa haha. Jangankan musim panas gini, musim dingin aja banyak yang masih pake rok mini padahal saya udah pake jeans dan pake pakaian hangat di dalem. Kalo dipikir-pikir sih “sakti juga nih anak-anak Jepang yang pakai pakaian gitu”. #prok prok.

Dalam bahasa Jepang, puasa/shaum disebut “danjiki atau 断食”. Di lab, karena sudah familiar denga muslim yang berpuasa jadi sudah pada ngerti ngapain muslim nggak makan sebulan penuh. Pernah saya iseng nanya kawan sebelah “ラマダン断食やってみますか – mau nyoba puasa ?” Ia jawab “無理だ – nggak mungkin (nggak bakal kuat)” haha.

Jadi apa tantangan puasanya woii !! Orang biasanya bakal nanya gini nih, kayaknya kalo di luar negeri tanpa tantangan kurang seru gitu, haha. Kurang menantang #apasih. Alhamdulillah nggak ada tantangan berarti sih, malah sangat enjoy puasa disini (kalo nggak percaya liat video di bawah ya). Perkara nggak bisa makan masakan Indonesia, kadang kami (di seputaran Hakozaki) juga sering ngumpul dan masak-masak. Alhamdulliah 33x

  • Nikmatnya dekat dengan Masjid

Di Indonesia saking biasa dan banyaknya masjid di sekitar kita, kalo liat Masjid jadi biasa aja. Nah disini karena satu kota cuma ada 1 masjid, jadi betapa bersyukurnya kalo apartemen dekat dengan masjid dan lab juga. Namanya “Masjid Fukuoka Al Nour“, didirikan tahun 2009 yang diinisiasi oleh alumni dan mahasiswa Kyushu University. Oleh karena itu tempatnya hanya 5 menit dari kampus Hakozaki, Kyushu University sepedaan atau 15 menit jalan kaki.

Oh ya, kampus yang terdekat dengan Masjid ini ya kampus saya saat ini : Kampus Hakozaki, kalau kampus ya yang lain lumayan jauh. Apalagi sekarang kampus utama Kyushu University sudah dipindah ke daerah Itoshima (beda kota), berjarak lebih dari 1 jam ke sana dari Hakozaki. Karena satu Kota hanya ada 1 masjid, jadi kawan-kawan di Ito dan lainnya biasanya mengunakan ruangan kampus sebagai Mushola, pastinya tidak semeriah dan semewah di masjid sih. Makanya bersyukur banget dapet kampus di Hakozaki, walaupun sudah mulai semak haha.

Jika di kampung dulu, kalo sholat jama’ah sebelahan saya ya pasti tetangga-tetangga, di sini Alhamdulillah, saya bisa merasakan berada di komunitas Internasional, berdampingan dengan muslim dari Mesir, Pakistan, India, Syria, Tunisia, Bangladesh, Libya dll. Inilah gambaran kecil persaudaraan muslim di dunia. Tentu dengan karakter tiap orang dan bangsa yang beda-beda, namun selama “syahadah” kita sama, maka kita bersaudara 🙂

Fukuoka Masjid 2

Sholat berjamaah di ruang utama (Credit to Fukuoka Masjid Facebook Fanpage)

Di Masjid ini juga banyak digelar kegiatan untuk memeriahkan bulan Ramadhan yaitu : Iftar harian, Grand Iftar mingguan, Sholat Tarawih, Ceramah/kuliah, Tadarrus Quran, dll. Ahamdulillah, begitu banyak kegiatan untuk semakin mengais pahala di bulan ini.

  • Ramadhan bulan penghematan

Di Masjid “kampung” kami setiap hari ada “Buka puasa (Iftar) bersama” yang tidak kurang 100 orang hadir dan makan bersama. Dengan menu ayam dan seringnya kambing, mahasiswa mana yang tidak senang haha. Makin dekat dengan Masjid makin hemat kantong selama Ramadhan haha

Fukuoka Masjid 3

Suasana Iftar (Buka Puasa) di Masjid Fukuoka. (Credit to Fukuoka Masjid Facebook Fanpage)

Tentu tidak datang dan makan, komunitas Indonesia juga punya kewajiban piket pada pekan pertama bulan Ramadhan dan juga mengadakan Grand Iftar di hari Minggu pertama. Ah, Indahnya memang serasa lebih syahdu. Sejatinya memang bumi luas ini adalah hamparan sajadah untuk senantiasa mendekatkan diri padaNya.

Silakan cek video ala ala Muslim Traveler yang saya bikin ini. Niatnya untuk dikasihkan ke LPDP untuk menyemarakkan “Ramadhan di Kantor LPDP”. Mudah-mudahan menarik dan bermanfaat.

*Taping/ ngerekam suaranya berkali-kali, beda posisi dan beda mood makanya jadi berubah-ubah hehe

**Foto diambil dari akun Facebook Masjid Fukuoka

Seperti Salju di Pulau Kyushu …

Oktober 2015 lalu, Pulau Kyushu sempat dikabarkan akan mengalami musim dingin yang lebih hangat dari biasanya. Salah satu penyebabnya adalah karena fenomena El Nino di pesisir pantai Peru. Siapa sangka, pada bulan Januari 2016, tanggal 23-25 justru suhu di Fukuoka turun hingga -5 (walaupun feels like -13 sebenarnya). Selain itu diprakirakan akan turun salju dengan intensitas yang cukup tinggi.

Tentu ya, saya sebagai seorang yang datang dari negeri tropis merasa penasaran “kayak apa sih es serut jatoh dari langit yang bernama salju itu ?” Beberapa waktu sebelum salju lebat turun memang ada beberapa yang bilang wah ada salju, ada salju. Buru-buru dah saya lihat ke luar. Ah mana, cuma air hujan aja. Beberapa kali sampe meratiin lama tuh air hujan di luar. Meski di Jepang ternyata susah juga ya lihat salju hahaha.

Seperti salju di pulau Kyushu… memang tidak disangka sebelumnya. Sepulang dari kampus 23 Januari malam, dari bis terlihat ada tumpukan salju di pinggir jalan dan di atas mobil. Hujan salju makin deras dan juga angin melanda Kyushu hingga besoknya. Besok paginya, dari jendela asrama lantai 3, terlihat salju sudah menumpuk. Wah, mirip di Hokkaido, kenapa kalo inget salju asosiasinya langsung daerah Hokkaido ya haha. Mungkin saking mainstreamnya turun salju disana.

Apakah momen ini akan terlewat begitu saja ? Tentu tidak. Salju turun selebat itu di Pulau Kyushu merupakan fenomena 40 tahun terakhir katanya. Saya sempat ngobrol-ngobrol sebelum kejadian itu dengan seorang Senpai yang sudah tinggal 10 tahun di Fukuoka “Pernah nggak sih salju numpuk disini ?” sambil sepedaan ke kampus Hakozaki. “Ya ada, tapi paling tipis, disekitar itu” sambil nunjuk pinggir jalan dekat semak-semak. Hahhaaha. Bisa kebayang kan jadi yang 10 tahun aja bilangnya gitu. Lagi Mr. Khaleed asal Mesir, teman Lab saya pernah bilang “Di Fukuoka cuma dingin aja, padahal saya juga pengen liat salju“. Ia sudah 5 tahun di Fukuoka. Hmm, sebegitunya kah. Memang ya, Dirimu seperti salju di Pulau Kyushu.. #mulaibaper dah.

IMG_1804

Mandi salju di Kuil Hakozaki, antara nekat dan norak hahaa

Minggu, 24 Januari, karena nggak kuat dirayu salju yang turun lebat di luar, akhirnya saya ikut keluar merasakan dihujani kenangan salju langsung. “Ah, dingin sedikit kagak ape lah. Namanya juga perjuangan #tsaaah“. Di taman dekat asrama ternyata ada juga anak-anak Vietnam yang lagi sibuk teriak-teriak sambil foto-foto. Well, ada teman ber-norak ria disini. I was not alone there, LOL. Setengah jam kemudian, badan mulai kaku. Ujung jari mulai sakit. Buru-buru lari ke asrama karena kalo pingsan disitu, nggak lucu banget haha.

Apps chatting bunyi terus seharian, anak-anak PPI Fukuoka saling bagi-bagi foto salju dan ada gile buat main salju di luar bareng-bareng. Akhirnya tempatnya yang memungkinkan diakses bus adalah Hakozaki Shire (Kuil Shinto Hakozaki). Jadwal bus nggak terprediksi waktu itu, saya nunggu bus hampir 20 menit sendiri di halte, udah mau beku dan terbang ditiup angin. Bus juga pake ban rantai hari itu, mungkin itu namanya ban salju ye. Maaf saya nggak tahu, norak banget dah. Sampai di Hakozaki Shrine, disana udah ada Dilla dan Mbak Tya. Setelah video dan foto berbagai pose akhirnya kita cuma bertahan kurang lebih satu jam disana, setelah itu kabur nyari perlindungan ahahaa. Ternyata baru tahu kalo di temperatur sub-zero gitu yang paling sensitif adalah ujung-ujung jari dan kuping. Lain waktu, kalo main ke daerah dingin udah pengalaman lah minimal hahaha. 本当に楽しかったです

[Video] Belajar Membuat Mochi Khas Jepang

Di Jepang, ada tradisi membuat mochi yang disebut “mochitsuki (餅つき)” biasanya diadakan di akhir tahun antara tanggal 25-28 Desember. Membuat mochi sebenarnya sangat simpel lho, saya juga baru tahu setelah di sini. Bahan yang diperlukan hanya : beras ketan/mochi (もち米) (yang lebih lengket teskturnya dari beras biasanya), pasta kacang merah untuk isi mochi/ anko (あんこ) dan tepung kacang kedelai atau kinako (きなこ) jika ingin menikmati mochi dengan rasa yang berbeda. Untuk peralatan yang  membuat mochi sendiri dibutuhkan : palu besar (kine) dan mangkuk besar yang terbuat dari kayu atau batu (usu).

 

Secara tradisional Jepang, mochi dibuat dengan cara merendam beras ketan semalaman (overnight), kemudian dimasak dengan cara dikukus. Setalah terlihat matang, beras tersebut dipindahkan ke usu dan dihaluskan dengan palu besar (kine) sampai tekstur berubah dan seragam. Setelah itu, adonan mochi dipidahkan ke meja yang ditaburi tepung agar adonan tidak menempel. Adonan mochi dibagi menjadi bagian kecil-kecil dan diisi anko di dalamnya. Kemudian mochi khas Jepang sudah bisa dinikmati. Bagian paling menarik saat membuat mochi adalah saat menghaluskan beras menjadi adonan mochi dengan palu. Ada 3 orang yang memukul adonan secara bergantian namun tentu harus dengan irama dan koordinasi yang baik agar tidak saling pukul *lho. Kok malah kayak tawuran haha. Jika ingin mencoba menikmati mochi dengan cara yang lain, bisa juga menaburkan kinako (tepung kacang kedelai) atau dengan daikon oroshi atau dengan sup zouni. Silakan pilih mana yang disuka.

Di Indonesia, saya akrab sekali dengan suara ini “Om mochi om, Om mochi om“. Dimanakah biasanya mendengar orang menjajakan mochi ?. Puncak atau Sukabumi kan ya, kadang-kadang di Bogor juga ada sih. Nggak tahu kalo di daerah lain juga ada. Saya belum pernah ketemu sih. Soal mochi, meski nggak suka banget, tapi ada beberapa kali pernah nyoba mochi khas Indonesia itu. Enak tapi belum pernah sengaja beli, seinget saya cuma “ngerampok” punya temen yang beli haha.

Saya dan beberapa teman berkesempatan untuk ikut acara mochitsuki, 27 Desember 2015 kemarin di Nata. Lokasinya tidak jauh dari Asrama Mahasiswa Internasional Kyushu Univ. Kashiihama hanya berjarak 3 statiun JR saja. Berikut video singkatnya :

Sensasi Makan Kerang di Kakigoya, Itoshima

Kakigoya (oyster huts) adalah istilah untuk pondok semipermanen yang dibuat untuk menikmati kaki (bukan bau kaki haha). Kaki adalah kerang dalam bahasa Jepang. Itoshima-shi, salah satu kota di Prefektur Fukuoka merupakan tempat yang sangat terkenal seantero Jepang untuk spot-spot kakigoya. Biasanya kakigoya buka dari bulan November sampai Maret saja, jadi daripada musim dingin nggak jelas mau ngapain, ini salah satu tempat yang bisa dikunjungi sambil manasin badan dan ngabisin duit haha.

Hari itu, Rabu 30 Desember 2015, saya dan belasan orang lain berencana ke Kakigoya, di daerah Kishishima. Ide ini sebenarnya dari Mbak Tya, setelah ngobrol ngobrol ngalor-ngidul di LINE akhirnya ada 15 orang yang ikut. Di daerah Kishishima ini, ada sekitar 14 kakigoya dengan menu yang macam-macam. Pastinya menu utamanya adalah kerang-kerangan, tapi ada juga yang menawarkan menu lain seperti sosis, kepiting, udang, jagung, miso dll.

IMG_1086 (640x480)

Berbagai menu yang ditawarkan di Kakigoya, Kishishima

Oh ya, Kakigoya ini persis ada di pinggir darmaga kecil tempat sandar perahu-perahu kecil para nelayan di Kishishima. Kebanyakan kakigoya ini dimilik keluarga yang punya boat/perahu kecil lho. Kerangnya pun fresh langsung diambil dari laut dan dibawa ke situ. Sebelumnya kerang itu dibersihkan dan ditimbang dulu sebelum dihidangkan ke pengunjung.

Sebenarnya sih, masih jauh enakan makan kerang di Indonesia. Ya iya lah. Disini tradisi makan kerang cuma dikemas agak menarik sehingga mengundang orang untuk datang dan merasakan sensasinya. Sebelum bakar-bakar, pihak tokonya menyiapkan baju/jaket agar bau asap tidak nempel ke baju pengunjung. Nah, untuk kerang kaki harga per kg-nya sekitar 1000 Yen lebih, dan per kg ada sekitar 8-9 biji kerang. Jenis kerang lainnya, tentu saja harganya bervariasi dan pastinya lebih MAHAL. Saya sendiri kayaknya cuma makan 5-6 kerang kaki, dan tahu lah ya bagaimana dagingnya si kerang, apalagi kalo sudah dibakar. Sensasi makan kerang disini adalah bisa seseruan bareng orang-orang terdekat/ teman-teman, tapi jangan berharap kenyang kalo cuma bawa uang pas-pasan. Tempat dan suasananya juga yang asik juga jadi salah satu daya tarik untuk berkunjung kemari. Di Jepang umumnya kerang juga dijual di supermarket-supermarket, tapi jika belum pernah kemari, tidak ada salahnya dicoba, menikmati kerang segar dan langsung dipanggang sendiri. Nyam nyam, serupuuut.

IMG_1047 (640x480)

Tim pemburu Kerang yang datang dari Hakozaki, Maidashi dan Itoshima

Sempat kepikiran, pengembangan pariwisata itu kudu kreatif banget. Kayak gini nih, pengamasan yang beda aja bisa punya nilai tambah yang tinggi. Di Belitung, tempat asal saya, pariwisata masih jadi sektor yang digencakan pemerintah, tapi nampaknya belum sekreatif Bali dan tempat lainnya. Mungkin ide-ide seperti ini bisa dicoba nih. #sok bijak.