Halal Food

Menemukan Makanan Halal di Jepang [2]

Tulisan Part 2 ini akan banyak membahas soal Kanji untuk menemukan makanan halal di Supermarket atau tempat belanja lainnya. Berikut adalah kanji-kanji yang harus dihapal dan diingat untuk bahan yang harus dihindar karena lebih mudah menghapal yang harus dihindari daripada menghapal bahan-bahan yang boleh dikonsumsi, haha. Pada beberapa produk biasanya bisa jadi mengandung beberapa bahan berikut :

Komposisi (原材料名) Romaji Arti Produk
ショートニング shortening shortening roti dan coklat
動物ショートニング Shortening (from animal) shortening Pada beberapa kue (cake)
ビーフエキス Beef Extract Ekstrak sapi Potato chips (keripik kentang)
鶏エキス Chicken Extract Ekstrak ayam Biskuit, kripik-kripik
肉エキス Meat Extract Ekstrak daging Mie seafood
ラード (豚の脂肪から精製) Lard Lemak babi Roti dan mie soba
ビーフコンソメ Beef Consomme Kaldu daging Potato chips (keripik kentang)
コンソメパウダー Consomme powder Kaldu bubuk
コンソメ Consomme Kaldu
洋酒 Western Liquor Arak barat Pada beberapa coklat
Sake Arak Jepang Kue
リクオール Liquor Minuman keras Es krim
洋酒漬レーズン Raisin moistened with Western wine Pada beberapa coklat
アルコール Alcohol Alkohol Pada beberapa shoyu (soy sauce)
ブランデー Brandy
ラム酒 Western wine Anggur barat Pada beberapa coklat
ビーフカレ Beef Curry Kari sapi Potato chips (keripik kentang)
レシチン Leichitin* Pada beberapa ramen dan coklat
トン骨ラーメン Tonkotsu ramen
みりん Red Sake Mirin
ワイン Wine anggur Coklat, hot cake, es krim
ゼラチン Gelatin Gelatin (terbuat dari tulang babi) Coklat, es krim, onigiri dan beberapa produk 711
Bahan yang perlu diperhatikan :
ショートニング Biasa berasal dari sumber hewani (動物性 or 動物)
油脂 Bisa berasal dari tumbuhan seperti (植物性 or 植物)
マーガリン Jika berasal dari tumbuhan  (植物性マーガリン)

(sumber : i-s.ppisendai.org/halal-haram/)

Nah selain itu, ada beberapa kanji yang umum ditemukan dan sangat baik jika tahu maknanya. Kadang, saya juga penasaran sih. Jadi, walaupun tidak ada kanji aneh-aneh seperti di atas, tapi kalo satu pun saya nggak tahu arti komposisinya jadi ragu-ragu juga, apa bisa dimakan atau nggaknya. Yuk, kita coba baca komposisi(原材料)dari salah satu snack “favorit” saya berikut :

IMG_20151014_14204

Kanji Romaji Arti
名称 meishou Tipe produk
クーッキ kukki Cookies
原材料名 Genzairyō-mei Komposisi
小麦粉 komugiko Tepung terigu
砂糖 sato Gula
ショートニング shortening mentega
植物油脂 Shokubutsu yushi Minyak sayur dan lemak
カカオマス kakaomasu Massa kakao
全粉乳 zenfun’nyu Susu bubuk
全卵 zentamago Telur utuh
ココアバター Kokoa bata Kokoa butter
食塩 shokuen Garam makan
膨脹剤 Bochozai Pengembang
乳化剤 (大豆由来) Nyūkazai (daizu yurai) Emulsifier (dari kedelai)
香料 Koryo Flavouring
内容量 Naiyōryō Jumlah total (dalam kemasan)
消費期限 Shōhi kigen Tanggal kadaluarasa
保存方法 Hozon hōhō Cara penyimpanan

Nah di Cookies ini, hal yang perlu diperhatikan hanya ショートニング (shortening) karena memang umumnya shortening tidak dijelaskan sumber asalnya, tidak seperti emulsifier (乳化剤) yang sudah disebutkan berasal dari kedelai. Oleh karena itu, untuk memastikan produk ini bisa dimakan atau tidak, kita harus mengontak perusahaannya (biasanya via telpon) atau melihat referensi dari fanpage Halal Food yang sudah saya sebutkan di tulisan sebelumnya. Kalau ternyata produk ini belum dikonfirmasi boleh atau tidak, lebih baik ditinggalkan. Yang lain masih banyak, jangan khawatir. Ini cuma snack kok bukan jodoh, hidup jangan dibuat susah, hahhaa.

Sekedar cerita saja, saya kadang suka bagi-bagi snack di Lab, dan mereka juga sebaliknya. Nah, beberapa kali saya harus menolak atau “menyimpan” snack mereka karena meragukan. Sampai akhirnya saya sampaikan bahan-bahan yang tidak boleh dikonsumsi oleh muslim, misalnya shortening dan emulsifier (karena kemungkinan besar berasal dari babi). Setelah saya sampaikan demikian, berikutnya mereka cek dulu sebelum beli snack agar bisa dibagi-bagi ke semua orang termasuk yang muslim. Sekian.

Part 1 : http://mfadhillah.com/2015/10/23/menemukan-makanan-halal-di-jepang/

Artikel lain yang bermanfaat :

http://www.survivingnjapan.com/2012/04/ultimate-guide-to-reading-food-labels.html

Advertisements

Menemukan Makanan Halal di Jepang [1]

Makan memakan adalah urusan paling vital bagi mahluk hidup heterotrof macam kita-kita ini #tsaaah. Duh balik lagi bahasanya, ceritanya udah mulai jadi mahasiswa lagi jadi bahasa-bahasa aneh gitu inget lagi hahaha. Tapi, sebagai muslim tentu tidak boleh sembarang makan saja, apalagi di negara yang mayoritas non-muslim seperti Jepang. “Yaelah bro, urusan makan aja ribet bener, makan ya makan aja ! Yang dimakan juga bakal dikeluarin kali Bro. Woles. Peace Love and Gaol aja hahha” Boleh aja sih berpendapat gitu, tapi kalo semua yang dimakan ente keluarin, ya apa gunanya makan, hahaha. Yang jadi masalah soalnye barang haram bukan cuma singgah bentar dan bikin kenyang di perut tapi bakal jadi darah daging (buka buku pelajaran SMP lagi ya ahahahah), Nah lho. Bisa berabe kan kalo makan sembarangan.

Kalo di Indonesia urusan begini mudah saja, karena dari warung kecil sampai restoran besar menyediakan menu halal, kadang disertai sertifikat dari MUI. Nah, kalo di Jepang gimana ? Saya akan berbagi pengalaman pribadi bagaimana mengidentifikasi dan menemukan produk dan makanan halal untuk ‘bertahan hidup’ selama di Jepang. Bagaimana menemukan makanan HALAL, berikut beberapa tips dan ceritanya :

  • Menemukan restoran halal dengan bantuan apps melalui smartphone. Ada beberapa apps tentang muslim dan berbagai hal terkait termasuk soal makanan. Apps ini bisa diunduh di Playstore : HalalMinds (menyediakan scan barkode pada produk), Halal Gourmet Japan (Menyediakan info restoran halal di seluruh Jepang berikut kriterianya, misalnya hanya chefnya muslim, atau tidak menyajikan alkohol, dll). Jika bergantung pada apps tersebut rasanya masih belum cukup, karena pasti ada keterbatasan. Di apps HalalMinds misalnya, waktu scan produk bisa makan waktu lama, dan tidak ditemukan. Selain itu, ada beberapa produk yang tidak ada info atau N/A. Salah satu Resto halal di dekat Kashiihama Kaikan (Asrama Kashiihama) adalah warung makanan Turki di Mall AEON yang menjual makanan halal nasi dan kebab dengan harga paling murah 500 Yen, mahal sih tapi porsinya lumayan juga lah. Ini gambarnya.

Mr. Kebab, andalan pas awal-awal hidup di Fukuoka. Alhamdulillah sudah 1 kali dapat Kebab Gratisan hahaha

Hasil scan produk “Milk Tea” dari Apps Halal Minds. Salah satu produk teh yang umum ditemukan di Vending Machine sekitar Kampus

  • Memasak sendiri. Ini cara yang paling aman, tapi tidak praktis hehe. Bahan-bahan makanan yang halal bisa ditemukan di Toko Halal, atau di supermarket biasa tapi pilihlah bahan seafood misalnya : udang, cumi, ikan yang masih mentah dan belum diolah. Biasanya sudah dipack unyu-unyu dalam ukuran ekonomis ala mahasiswa gitu, harganya 200-400 JPY per pack. Tapiiiii, saya satu kamar sama dua mahasiswa Cina yang hobi masak babi, pernah satu kali masak bareng (sebelahan maksdunya) dia masak babi, saya masak ikan, jarak penggorengan nggak sampai satu jengkal, mana pake acara minyaknya muncrat-muncrat lagii. Nasiiib nasiiib

Calon Bapak (yang baik) #tsaaah. Dapur di Asrama kece badai, PW banget buat masak

  • Makan di kantin halal kampus. Kalo di kampus-kampus yang punya banyak mahasiswa internasional biasanya ada kantin halalnya, di Kyushu Univ. ada kantin yang namanya Nabi-san (katanya yang punya namanya Nabil). Di kantin ini ada beberapa menu yang disajikan, model bento gitu tapi. Harganya berkisar 390-600 JPY per porsi. Abis beli disitu, terus nyari tempat duduk di taman, kadang makan sama anak-anak Afganistan.

(more…)

Makan apa selama di China ?

Hidangan makanan di restoran China

Hidangan makanan di restoran China

Saya mulai tulisan ini dengan sebuah ayat : Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Al-Baqarah: 173).

Saya sempat cerita di Blog ini, saya dan teman hampir makan barang haram (baca: daging babi). Saat sudah mengantri dan mengambil nasi, di depan mata sudah ada banyak hidangan dengan aroma menggoda. Hampir semuanya adalah masakan daging. Saya mulai berpikir, ada yang janggal. “Ini daging apa ?” saya bertanya ke panitia. Panitia yang saya tanyai kemudian bertanya kembali kepada sesam panitia lainnya, lalu memberitahu saya. Semua hidangan daging disini BABI. “Shock”. “Oh gitu, makasih kalo gitu”. Sepertinya makan malam ini hanya terhenti di menu pertama dan yang paling utama “nasi”. Saya kira sudah cukup. Yang penting HALAL. Lagipula ini bukan keadaan darurat sehingga saya hrus memaksakan memakan barang haram itu. Sementara, saya mengkonfirmasi dulu ke panitia, teman yang lain sudah menyendok hidangan itu ke piringnya masing-masing. Setelah tahu semuanya jadi tidak semangat gitu, hehe. Panitia memang tidak siap dengan peserta muslim tahun ini jadi hal seperti ini wajar saya terjadi.  Itu sedikit cerita saya dan teman-teman di Hong Kong tahun 2012 lalu.

Nah, tahun 2013 ini saya kembali mendapat kesempatan (Alhamdulillah Ya Allah) untuk ke China dalam Program Pertukaran Pemuda Antar Negara Indonedia-China. Di beberapa kesempatan materi ke tentang China di Pre Depature Training saya selalu lupa menanyakan hal yang satu ini dan paling penting “Makanan”. (more…)

Halal Food in Hong Kong

Seven young boys and three girls landed at Hong Kong International Airport on 4 November 2012 and I was one of them. What would they do ?? We would followed the Asia Regional iGEM competition (Synthetic Biology competition) the first team from Indonesia which ever followed that competition so far and at that time also we were the only one team from Indonesia. The competition was held in Hong Kong, HKUST Clear Water Bay Campus on 6-7 November 2012. In Fact, for almost all of us, that time was the first time traveling abroad, outside Indonesia, but we didnt need to worry about because among us there’s the head of travelling Hendri Sutanto and a member of team who have finished reading Hong Kong guide book Uno Rasango. We absolutely relied on them guys.

The adventure began on the first time we arrived at the Hong Kong Airport. Before we left Indonesia, We had booked and contacted the hostel in Hong Kong, Kowloon and also ask them to picked us up. All of us did imagined that our English wiould help us much there, because Hong Kong was formerly occupied for long period by United Kingdom so English language might be would familiar there. Then, we know that opinion was incorrect from day one we arrived there. How come ?? As soon as we arrived at the Airport we phoned again the hostel-man to pick us up, but the man who pick the phone was different from a man when we booked the room before. He was not able to speak English at all, and unfortunately no one of us can speak Cantonese or Mandarin. About an hour later finally and luckily He found us on the airport waiting room. ahaaa, finally. Kowloon We’re cominggg.Image

For 5 days in Hong Kong we stayed in F.M.S Guest House that located on National Court 240, Nathan Road, Kowloon Hongkong. That’s the cheapest and the nearest hostel we found around Kowloon, LOL. First time we arrived at the hostel and looked around then breathed in, “hmm, This is Hong Kong and its special smell”. On the night, we went outside to find some food for dinner and enjoyed first night in Hong Kong. “What are we going to eat guys ?” these words were on our head at that time. Food and drinks are everywhere but “Is that Halal or not ?”. Halal food was really crucial because nine of us are moslem. We realized that in Hong Kong was not similar to Indonesia where easily could find halal food and the halal food were labelled. And so.. “What are we going to eat guys ?” this question appeared again. “What about fast-food over there ?” “Aa, not bad idea”. So at that night we decided to have a dinner on McD because all of us thought that that was “the safest place avoiding Haram Food”. The menus we chose were just like fried chicken, beef burger, and others which has been identified made of halal animals.ImageThat experience was the first time for us dealing with halal-haram food that would happened in non-muslims majority countries, like China. For us (muslims), it is obligatory to eat ONLY halal food either which comes from halal things or comes from halal action to gain it, for example Muslims should only eat meat from livestock slaughtered by a sharp knife from their necks, and Bismillah, must be mentioned. So, we were not only have to survive there, but also we must keep firm our believe (iman) to Allah as Muslims. For five days in Hong Kong, unluckily we never found a Halal Restaurant around the place we stayed in, Kowloon may be because we didnt have time to go around to find it and all were afraid to get lost there. LOL

On day three in Hong Kong, we checked the competition location on HKUST campus at Clear Water Bay. We have to take there times MTR (Mass Transit Railways) and once bus trip to get there. It seemed would took a long time to get there, but because of the marvelous transportation our trip only about half an hour. On the day two of the competition, all team were invited to have a dinner on that campus. All the team lined up to take the dinner themselves and so did we. “For saveral days, we have never eaten freely such delicious food and cooked rice on the table there”. “Okay, It is our turn to take the food for ourselves”. “But, wait wait wait, are you sure this is Halal food ?” “wait a second, I will ask the committee”. “So, what (did) he said abou this food ?” “Not good guys, all the meat here are bacon/pork”. “Ohoooo”. “Well, dont worry We have Hendri right, he love that so much”. “Go give these to Hendri over there”. “We wait for the vegetarian food, We wait for the vegetarian food, it will be served for us soon”. “Be patient guys”. “Anyways will take this cooked rice only for tonight, I miss this so much” and I did miss Indonesia at that time.

Anyway, That was the first time for me dealing with Halal Food. I am Proud to be Muslim.