jepang

Tipe-tipe Sensei di Jepang

Dua bulan setelah kembali dari masa-masa hidup di negeri ‘mimpi’ dan kini saya sedang menikmati momen-momen bersama keluarga dan istri di kampung halaman. Sesekali merenung, banyak kali menghayal, haha. Biar hujan emas di negeri orang, mandi hujan air di kampung sendiri jauh lebih nikmat. Tsah. Oke, para pembaca, itu sedikit intro-nya.

Mungkin akan ada beberapa serial tulisan yang belum saya selesaikan tentang Jepang dan cerita-ceritanya, termasuknya novel yang niatnya ingin diselesaikan sebelum beres Master, ternyata belum juga. Di tulisan ini, saya akan berbagi sedikit cerita mengenai Sensei atau Pak Guru atau juga Professor di kampus Jepang. Kenapa penting ya ? Biar nanti pas ke Jepang nggak kaget kenapa suasana di lab horor banget tak seindah yang dibayangkan sebelum berangkat dulu ? atau tak seindah foto-foto kakak-kakak di Instagram itu lho ?.

Siapakah Sensei ? Umumnya mahasiswa di Jepang akan menyebut pembimbing/ supervisor mereka selama studi. Di lab biasanya ada Sensei besar (daisensei), sensei associate, dan sensei assitant (yang belum boleh membimbing mahasiswa). Di Lab saya dulu Daisensei bisa membimbing sampe mungkin 20 orang mahasiswa, sarjana, master, dan doktor. Keadaan di lab lain mungkin berbeda-beda. Nah, untuk hal tentang tipikal Sensei bisa dibilang juga sangat variatif. Berikut saya sarikan dari beberapa cerita dan pengalaman langsung saya dan kawan-kawan sewaktu menempuh studi di Kyushu University dulu.

  • Sensei Santai. Ini tipe sensei saya banget sih. Kami di lab diwajibkan hadir setiap minggu hari senin pagi, jadwalnya asa-kai (pertemuan pagi) atau kenkyu-kai (pertemuan penelitian), lalu jadwal diskusi wajib untuk grup riset hanya sebulan sekali. Namun, jika ada masalah atau ingin konsultasi di luar itu bisa langsung ke ruangan Beliau. Tidak hanya ke mahasiswa sarjana dan master aja lho, doktor juga gitu, walaupun doktor memang syarat lulusnya lebih sulit dibanding sarjana dan master. Tapi, untuk hal-hal yang menjadi prasyarat studi, sensei saya care banget, kadang-kadang langsung datengin saya pas di lab atau email. Hmm, saya jadi ngerasa labnya terlalu santai dan nggak ada tantangan haha. gaya.
  • Sensei baik hati dan pengertian. Ada sensei yang seperti Bapak bagi mahasiswanya, bahkan sampai kadang ngundang kita dan keluarga di rumahnya. Mendukung kegiatan kita, bahkan nanyain soal keuangan apa masih aman atau nggak bulan ini. Kawan saya ada yang diantar sensei belanja di hari pertama sampai di Jepang. Mereka ngerti bahwa kita jauh dari kampung halaman dengan semua tradisi dan budaya yang beda, khawatir kita punya masalah beradaptasi di Jepang. Sebagai mahasiswa yang mayoritas muslim dari Indonesia biasanya akan berhadapan dengan isu soal agama disana. Sebagian sensei yang sudah punya wawasan yang luas bahkan kerjasama dengan universitas dari negara Islam mereka umumnya sudah paham. Bahkan ada Sensei yang bela-belain cari informasi tentang Islam sebelum si mahasiswa muslim pertama nyampe di labnya. Biar dia tahu apa yang boleh dan nggak. So sweet nggak tuh.
  • Sensei yang terlalu ‘rajin’. Rajin disini maksudnya ya rajin haha. Misalnya, ngadain pertemuan lab tiap hari jam 9 teng teng, terus diskusi dengan mahasiswanya setiap minggu, keluar dari lab dikit ditanyain mau kemana. Mau pulang kampung dibatesin atau malah dilarang karena alasan macem-macem. Di bawah bimbingan sensei kayak gini, S2 pun berasa jadi S3 lho. Umumnya yang S2 itu merem aja lulus di Jepang, bisa melek aja susah lulus haha. Tapi jarang banget kasus S2 molor waktu studinya di Jepang selama ngikutin saran-saran sensei.
  • Sensei ala Bos kantoran. Saya pun kadang nggak nyangka ada sensei yang ngejadiin mahasiswanya kayak laborannya dia. Disuruh handle banyak proyekannya. Hasil dikit dicemberutin, email nggak dibalas ngambekan, nge-email larut malem dan pagi buta. Kadang suka nggak ngertiin kalo mahasiswanya juga masih manusia. Ada curhatan malah yang bilang ke saya “Dulu pas saya ketemu di Indonesia kayaknya ini Sensei baik banget lho, nawarin saya buat PhD di labnya”. Dan sekarang semuanya, ya sudahlah”
  • Sensei PHP. literally senseinya emang seorang pemberi harapan palsu. Kasus telat masa studi di Jepang biasanya hanya dialami oleh mahasiswa Doktoral aja, kenapa ? karena syarat untuk lulus ketat, bisa 2 paper (baca: artikel ilmiah), dan ikut konferensi berapa kali gitu. “Oke, kalau sudah cukup syarat kamu bisa ujian/sidang dan lulus” kata senseinya di awal masa studi. Setelah semuanya beres di tahun ke-3 (tahun akhir bagi doktor umumnya), “Kamu kalo ini ja kurang deh, intinya bisa lulus” Kata senseinya. Masih mending kalo Senseinya ngasih tahu dimana kurangnya, paper kah, konferensi kah atau apa. Ada yang cuma ngsih kode, kamu kurang di kontribusi. Hah, maksuudddmu ?? yang jelas dong ?? Nah saya juga ikutan esmosi karena kawan saya ini sampai 4 tahun lebih masih belum selesai. Ini kejadian nyata ya guys bukan fiktif. Saya dengar 2-3 kasus seperti ini di Kampus saya dulu.
  • Sensei yang ah sudahlah. Ada sensei yang nggak mau ngelulusin mahasiswanya aja. Ditanya kenapa juga nggak mau jawab. “Pokoknya kamu saya selesaikan studinya di lab ini tanpa gelar”. Jangan sampai ketemu sensei yang gini dah. Kisah nyata juga. Nggak detil sih cuma kasunya hampir sama kayak sensei PHP diatas.

Nah itu dia 6 tipikal sensei, sebenarnya nggak seserhana itu sih cuma sengaja saya bikin simpel aja. Bagaimana biar dapat memperkirakan sensei yang mana yang akan kita dekati. Setelah mencari dengan cari ini (sudah saya posting di tulisan sebelumnya), berikut hal lain yang harus dicari perhatikan :

  • Adakah mahasiswa Internasional di Labnya saat ini ? cari dari daftar mahasiswa di web labnya atau di artikel yang pernah diterbitkannya
  • Adakah mahasiswa muslim ? lebih bagus jika dari Indonesia ?. Jika ada nah tanyakan tentang hal semua uneg-uneg kita. Tanyakan juga gimana Senseinya.
  • Jika memang harus, buat kesepakatan di awal apa yang harus dipenuhi agar bisa lulus. Ditanda tangani dan bila perlu dicap agar berkekuatan hukum. Deal-dealnya harus jelas di awal.
  • Jangan ragu untuk berdebat, kadang sebagian Sensei ingin melihat kekuatan argumentasi kita dan keberanian kita.

Itu saja mungkin, khawatir kepanjangan dan tak bermakna. Silakan komen bagi yang ingin menambahkan. Ini semua murni dari opini saya saja.

Warna-warni puncak Gn Taisen, Pref. Oita

Fukuoka, 23 Oktober 2016. Suhu yang sudah mulai turun namun belum terlalu dingin. Waktu-waktu seperti ini orang masih banyak menyebutnya 涼しい・suzushii (sejuk) dibandingkan 寒い・samui (dingin). Sejak dua minggu lalu, kami ber-13 merencanakan untuk naik gunung (登山・tozan) Taisen di Pref Oita. Gunung ini tidak terlalu tinggi, hanya 1786.2 mdpl namun banyak dicari pendaki karena indah pemandangannya saat musim gugur. Ada daun yang berubah warna jadi merah, kuning, oren, dari ketinggian terlihat bertumpuk-tumpuk dan berselang seling. Meski cuaca saat pendakian  terpantau tidak akan cerah, malah kemungkinan akan hujan dan sepanjang hari akan berawan. Karena persiapan sudah dilakukan beberapa waktu lalu, termasuk rental mobil pun sudah deal akhirnya kita tetap jadi berangkat. Berharap semoga ada kesempatan untuk mengagumi warna-warni Gn.Taisen dari puncaknya.

Kami memulai perjalanan dari Higashi-ku pukul 3.00 JST pagi, saya, Pak Andi, Mas Infal, Mas Dana dan Haekal adalah rombongan dari hakozaki. Dari Higashi-ku kami menuju ke Tenjin buat ngambil mobil yang udah di rental dari Nippon Rental Car, Nissan Serena dengan harga 16.000JPY plus 2000 JPY asuransinya. Karena semuanya ada 13 orang jadi kami berangkat dengan dua mobil. Setelah menjemput beberapa orang di bagian Nishi-ku, akhirnya sekitar pukul 4 pagi rombongan meluncur via TOL menuju Oita. Setelah melalui perjalanan cukup panjang, bahkan sampai salah keluar pintu tol, dan mampir sebentar di rest area Saga-ken untuk sholat Subuh, kami tiba di lokasi pendakian pukul 7:30. Sekitar pukul 7:45 tim bergerak memulai pendakian untuk sampai ke camping ground terlebih dulu. Di awal medan yang dihadapi cukup menantang, ada tanjakan curam ke atas untuk jarak tempuh 15 menitan. Setelah itu cukup landai dan datar sampai ke camping groundnya. Di tengah perjalanan tim sempat rehat sejenak dan berhenti di air terjun, berjarak 70 menit dari titik awal pendakian. Pukul 10 barulah kami sampai di lokasi camping ground yang tersedia toilet (tapi kondisinya kurang bersih), tempat BBQ yang keren, lengkap dengan suplai air bersihnya. Beberapa tenda kecil masih terlihat disana, sepertinya ada yang menginap untuk summit attack paginya. Di camp ground kami rehat sejenak, menikmati bekal ringan yang dibawa, beberapa teguk air, nasi kepal dengan abon, roti sandwich homemade, serta camilan lainnya. Suasana masih gerimis meski tidak begitu lebat, selama perjalanan dan di rumah BBQ kami selalu bertemu dengan pendaki lain, kebanyakan orang Jepang sendiri, dari bahasanya.

taisen-6

Rehat di Air terjun

taisen-4

Menikmati bentou di puncak Taisen

Waktu tidak banyak, kami harus tiba kembali ke titik awal sebelum petang datang, sekitar pukul 11 kami mulai pendakian ke puncak. Disini lah momen yang ditunggu-tunggu, melihat warna-warni momiji dari puncak. Medan pendakian ke puncak tidak terlalu terjal namun cukup menantang. Di beberapa titik ada pos penanda. Saat berada di tempat tinggi, pemandangan warna-warni momiji kian jelas terlihat. Hampir tepat pukul 13 siang akhirnya sampailah di puncak Gunung ini. LUAR BIASA INDAHNYA. “Asli, baru kali ini terkagum-kagum sampai level kayak gini”. Makin dipandang makin cantik. Pas banget kabut bergeser waktu kami sampai puncak, sekitar 20-10 menit lamanya. Meski tidak begitu cerah, tapi pemandangan tidak tertutup kabut sejenak. Puas dengan foto-foto dan ngambil beberapa shoot untuk video, kami turun ke bawah untuk nyari tempat melepas penat sambil membuka bekal makan. Seketika, cuaca pun jadi kembali berkabut lebat, angin juga terasa makin kencang. Sampai kami beranjak pulang, cuaca dari puncak sudah kembali tertutup kabut tebal lagi. Alhamdulilah masih rejeki untuk lihat pemandangan dari atas, momen yang langka untuk hari itu.

taisen-5

Girang karena sampe puncak

Pukul 2:35 kami beranjak meninggalkan puncak, kemudian singgah kembali ke camping ground untuk rehat sekaligus sholat, pukul 7 malam tim kembali ke Fukuoka. Malam di musim gugur datang lebih cepat, pukul 5-6 hari sudah gelap kami masih berada di lokasi pendakian. Beruntung sebagian ada yang membawa HP jadi masih ada penerangan selama perjalanan. Alhamdulillah semua tim selamat dan sukses mencapai puncak. Ini kompilasi video pendakian dari awal sampai turun. Enjoy !!

Jepang dan khas di setiap musimnya

Setelah hidup satu tahun di Jepang, Alhamdulilah sudah melewati semua musimnya dari mulai musim gugur (秋・aki), musim dingin (冬・fuyu), musim semi (春・haru) dan musim panas (夏・natsu). Ada cerita di setiap musimnya, mana yang paling keren kira-kira ? Berikut cerita versi saya mengenai yang khas dari setiap musimnya, cekidot :

  1. Musim semi (Maret-Mei). Musim ini sepertinya jadi musim terfavorit versi saya deh. Selain suhunya nggak dingin banget juga nggak panas amat, banyak bunga bermekaran, semak belukar kembali bergairah haha. Eh, ini bener lho. Kampus mulai semak kembali.  Yang paling ditunggu dan paling ikonik di musim ini adalah “Sakura“. Bicara sakura ya pasti bicara hanami, hari-hari dimana orang berpiknik ria dibawah pohon sakura yang sedang 満開・mankai atau full-blooming. Beberapa hari sebelum sakura mekar biasanya sudah ada prediksinya, Wilayah selatan pasti akan lebih cepat dibandingkan yang utara. Di Fukuoka lokasi piknik Hanami ini salah satunya di Taman Maizuru di dekat runtuhan kastil Fukuoka. Persis di bawah pohon-pohon sakura orang menggelar karpet dan duduk sambil BBQ dan minum-minum serta ngobrol-ngobrol ringan. Saat-saat tersebut ada ungkapan yang populer : 花より団子・Hana yori Dango arti harfiahnya “kue dango lebih baik dari bunga (sakura)” secara filosofis artinya people are more interested in the practical over the aesthetic. Oh ya, karena saking populernya sakura ini, banyak lagu di Jepang yang berlirikkan sakura. Keindahan sakura juga tidak hanya bisa dinikmati siang hari saja saat Hanami, namun juga malam hari karena sebagian tempat punya sakura illumination atau sakura light-up selama bunga sakura mekar. Musim semi dan sakura itu tak terpisahkan.
  2. Musim Panas (Juni-Agustus). Walaupun dari negara tropis, tapi selama musim panas di Jepang saya merasa beda dengan panas di Indonesia. Sampe-sampe anginnya pun ikut panas. Kalau di Indonesia walaupun panas kayak apa, anginnya tetap sejuk (iya nggak sih ?). Pokoknya ada yang beda sama musim panas Jepang deh. Saat suhu diatas 30 C biasanya mulai gerah jangankan di luar di dalem ruangan juga, kalau pas masuk apato (baca:kosan) berasa masuk oven banget. Waktu musim panas datang, nyanyian serangga khas musim panas pun bisa terdengar, ya itu dia serangga tonggeret (ada di gambar). Suaranya khas banget bahkan sampe kadang jadi berisik saking pada semangatnya. Di musim panas ini, biasanya orang ke pantai. Ini dia waktunya berpiknik ke pantai. Sampai-sampai UNICLO, salah satu perusahaan fashion Jepang mengeluarkan summer-set edisi pantai. Selain itu, ada banyak festival di musim panas ini. Kalau di Fukuoka ada festival Gion Yamakasa, festival Hojoya, dan lainnya sampai yang paling besar adalah 花火大会祭り・Hanabi taikai Matsuri / Festival kembang api. Musim panas kemarin, saya ikut nonton bareng kawan-kawan Indo di Taman Ohori 1 Agustus 2016. Acara itu disponsori oleh Nishi Nihon Foundation. Selama 2 jam kembang apinya nggak putus-putus. Saat hanabi matsuri ini, anak-anak gadis biasanya datang memakai yukata/ kimono musim panas. Saat hanabi ini adalah saat terbanyak saya lihat orang Jepang berkumpul, bayangkan saja di taman Ohori dan sekitarnya bisa dikunjungi sampai 450.000 orang, super duper ramee. Jika sakura mekar di musim semi saja, di musim panas ada bunga Matahari yang juga sangat ditunggu-tunggu.musim-panas
  3. Musim Gugur (September-November). Musim gugur saatnya kembali membongkar pakaian musim dingin yang sudah disimpan saat selesai musim semi lalu. Suhu yang mulai turun dari 30an C jadi sekitar 20 bahkan dibawah itu, makin lama makin dingin. Apa yang khas dari musim gugur, jelas saja daun yang berguguran, namun sebelum gugur ia berganti warna menjadi kuning, jingga, merah dan perpaduannya. Adalah pohon mapple (sering disebut momiji), pohon Icho (sejenis ginko), dan juga pohon Nanakamado yang warnanya mencolok di daerah-daerah daratan tinggi. Mencoloknya warna musim gugur akan jadi kesan tersendiri tentang Jepang. Selain itu, di musim gugur ada juga bunga jadi khasnya : bunga cosmos コスモス花 dan beberapa bunga lainnya. musim-gugur
  4. Musim Dingin (Desember-Februari). Musim dingin ibarat musim yang sepi dan mati. Suhu dibawah 10 C sampai di bawah 0 C, jangankan rumput dan pohon segan untuk hidup, manusia pun pada malas ke luar rumah. Bila keluar rumah mesti dengan jaket tebal dan sarung tangan juga penutup kepala. Yang khas di Jepang untuk musim dingin adalah “illumination” (bukan : aliran illuminati ya hehe). Illumination artinya pencahayaan di pohon dengan berbagai pernak-pernik dan style. Lampu-lampu dibuat seakan jadi daun-daun yang bersinar di pohon. Kalo di Fukuoka biasanya di Hakata yang sering ada illumination. Waktu main ke Nabana no sato, di Pref. Mie juga dulu pernah liat atraksi illumination di taman, terowongan cahaya, dan banyak lainnya. Sebagian menyebut bunga yang khas di musim dingin adalah bunga Ume. Sekilas seperti sakura tapi warnanya lebih pink dari sakura. Di Fukuoka biasanya mekar di akhir musim dingin, sebelum masuk musim semi. musim-dingin-copy

NET CJ : Langkah-langkah menjadi Citizen Journalist NET TV

Sampai saat ini sebenarnya baru 3 video (update Okt’16 sudah 6 video dan 1 kali hang out) yang masuk ke NET CJ dan sampai ditayangkan, tapi karena ada beberapa kawan yang lumayan tertarik untuk melakukan hal yang sama, jadi saya tulis hal-hal terkait CJ NET di sini. Untuk memulai menjadi CJ, pertama kali adalah :

  1. Unduh aplikasinya di HP dan buat akun. Apps CJ NET tersedia di iOS maupun Playstore. Sebernarnya bisa juga mengunggah video langsung ke web : http://sg.netcj.co.id/ namun karena basisnya CJ adalah perangkat yang mobile jadi lebih nyaman kalau upload dari HP (menurut pengalaman saya pribadi)
  2. Bagaimana dengan editing ? Editing nyaris tidak butuh. Cukup dengan menggabung beberapa shot saja yang sekuensial dari yang paling umum sampai paling khusus, lebih baik jika dibubuhkan narasi yang sesuai saat mengunggah nanti. Hal ini akan memudahkan redaksi NET CJ untuk mengolah videonya. Bagaimana soal dubbing atau isi suara ? semuanya dilakukan oleh redaksi, bahkan kadang beberapa shot yang tidak perlu juga akan dipotong
  3. Berapa lama durasi videonya ? Karena umumnya yang ditanyangkan berdurasi sekitar 1-2 menit (paling banyak 1 menit) jadi ungah video yang lebih dari itu karena mungkin ada yang akan dipotong, tidak semuanya masuk.
  4. Tampil di WEB dan di TV apa bedanya ? Mungkin ini akan sedikit membingungkan bagi yang baru bergabung, berikut bedanya. Tentu tidak semua video yang diunggah ke NET CJ akan disetujui/ approved. Prosesnya adalah seperti ini, ketika selesai mengunggah video, video akan terlihat di kolom “DRAFT” dengan judul dan gambal display yang kita pilih, status video itu adalah “waiting for approval“. Setelah dilakukan pengecekan konten oleh redaksi, mungkin saja video tersebut akan naik status menjadi “waiting for publish“. Setelah beberapa saat (hari mungkin), akan ada notifikasi via email bahwa video telah dipublikasi / “published“. Video yang dipublikasi sudah mengalami proses editing dari pihak redaksi jadi bisa saja berbeda dengan yang kita unggah. Begitu juga dengan judulnya, akan dibuat lebih catchy oleh tim redaksinya. Jika hanya ditampilkan di WEB, maka nasib video sudah selesai, artinya video tersebut tidak sampai tayang dan dibayar. Tapi, jika berhasil ditayangkan akan ada notifikasi via email seperti berikut :

img_4921-1

Bagaimana cara melihat video yang tayang ? Setiap harinya NET akan mengunggah setiap video yang tampil di akun youtube mereka : OfficialNETNews. Silakan temukan video NET CJ-mu yang berhasil tayang disana jika tidak bisa melihatnya secara langsung. Selain itu, notifikasi lainnya tentang videomu juga bisa dilihat di twitter @NET_CJ. Mereka akan nge-twit gambar display videomu dan juga menyebutkan nama kontributornya. (NB : featured image diatas adalah gambar video saya yang ke-2, tayang yang ke 2 kalinya, hoho)

Terkait besar honor dan lainnya sudah pernah saya tulis di tulisan sebelumnya, silakan : Semangat Citizen Jurnalist Reborn!

Tentang diwawancara di Hang Out NET 10 juga bisa diakses di sini Ngehang out di NET10

Jika videomu tidak tampil, jangan bersedih. Member NET CJ ada 90.000 orang lebih lho, jadi memang lumayan juga saingannya. Tetap semangat dan tetap berkarya. Iseng-iseng lumayan, hehe. Selamat berkarya !!

NET CJ : Semangat Citizen Journalist reborn !

Awal cerita sebenarnya saya sudah mengunduh apps NETCJ di HP kira-kira bulan Februari 2016. Saat itu ada seorang teman yang mengunggah video soal badai salju di Fukuoka, fenomena yang jarang banget terjadi, dan akhirnya ditayangkan di program NET10. Selain ditanyangkan tentu dapat honorarium juga. Wah kece kan, kece honornya yang pasti sih haha. Akhirnya saya pun ikut-ikutan upload video juga. Saya unggah video mochitsuki. Isinya campuran antara gambar dan video potrait dan lanskap. Setelah diupload, sampai Agustus 2016 nggak diapproved sama sekali. Wajarlah haha.

Setelah itu, akhirnya semangat Citizen Jurnalism pun memudar. Padahal dari Februari-Agustus 2016 banyak tempat yang dikunjungi seperti : 1) Shirakawa-Go Gifu, 2) Nabana no Sato-Mie, 3) Kastil Osaka, 4) Nokonoshima-Fukuoka, 5) Pasar Ikan Karato-Yamaguchi, 6) Hanami-Maizuru Fukuoka, 7) Ramadhan dan Lebaran-Fukuoka, 8) Taman bunga matahari-Yanagawa, 9) Gempa Kyushu- Kumamoto 10) Kelas membuat Sushi-Fukuoka dan lainnya. Sebagian malah sudah lupa haha. Dari sekian banyak momen dan kegiatan travelling itu, hanya 2-3 yang lengkap didokumentasi dalam bentuk video. Sisanya hanya jepret-jepret foto saja.

Balik jadi terobsesi NET CJ lagi. Pada 1 Agustus 2016 lalu, di Kota Fukuoka ada event menarik dan mungkin terbesar. Katanya 450.000 orang akan datang menyaksikan acara ini. Ya apalagi kalau bukan Hanabi Matsuri atau Festival Kembang Api. Dengan orientasi yang beda, bukan untuk liputan NetCJ lagi, saya memang prepared banget untuk shooting vlog. Kan sekarang jamannya vlog, mau ikut-ikutan juga ceritanya. Ya ampun labil emang ternyata. Akhirnya Vlog-pun jadi, dan viewnya sampai hari ini (13/8) belum sampe 100 views. Oke, nggak bakat disitu ternyata, harus cari jalan hidup lain 😄

Disampaing shooting vlog yang dominanya shooting sambil selfi, saya juga ngambil beberapa wideshoot sekitaran. Setelah upload vlog, barulah kepikiran untuk upload sekalian ke NETCJ. Beberapa hari setelah upload kemudian dapet notifikasi email dari redaksi NETCJ seperti ini :


Wih, serius nih ? Padahal videonya ala kadarnya banget. Maklum nggak niat buat liputan tapi buat vlog. Dan beneran ternyata, ada video saya di youtube NET News Official (Gambar yang paling atas). Setelah itu barulah jadi semangat lagi nyari-nyari video di HP buat diupload lagi. Ada video pas lagi nonton Jleague, pas di museum robot Fukuoka dan video pasar ikan Karato di Yamaguchi. Yang pasar ikan itu, malamnya diupload eh, besoknya tayang lagi. Wow banget. Sementara dua video lain, yang video nonton Jleague sampai sekarang belum diapprove, mungkin karena semua shootnya jauh pas nonton bola, dan yang satunya lagi di museum robot berstatus “waiting for publish”


Honornya berape sih ? Pasti banyak yang penasaran soal hal yang paling penting ini. Berikut saya kopikan dari artikel di Jawapos :

Dalam negeri. Kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di Indonesia Baik hardnews maupun news feature yang tayang di Net TV akan mendapat honor Rp 250 ribu.

Luar negeri. kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah Asia akan mendapat honor Rp 500 ribu. Kategori bukan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah Eropa dan Amerika, Afrika, Korea Selatan, Jepang dan Arab Saudi nantinya diganjar bonus Rp 1 juta.

Sedangkan berita ekslusif dengan area peliputan di wilayah manapun, akan dibayar serendah-rendahnya Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.

Berapa jumlah saingan/member NETCJ saat ini ? Saat ini kayaknya sudah mencapai 100.000 member dari 75 negara. Setiap harinya ratusan video diupload, dan tentu tidak semua akan tayang di NET news. Namun kans cukup besar jika memang nilai beritanya unik dan keren, apalagi jika di luar negeri yang tidak ramai WNInya, bisa banyak bahan untuk dieksplor. Lumayan biar rekening di Indonsia keiisi dan nggak sekedar dapet foto selfi kali abis dari jalan-jalan. Ayoo

Beralih ke VLOG ??

Tahun lalu, masih inget niat buat ngisi blog perminggu satu tulisan, alhasil kalau dilihat di menu “All post” di dashboard yang tertahun 2016 ada sebanyak 22 postingan, dimana lebih detilnya adalah 10 terbit/dipublikasi dan sisanya masih nunggu di draft, bahkan sebagian cuma judul doank trus masuk draft. Oh nasib emang, niat sudah bagus, eksekusinya udah dimulai cuma konsistensi yang amburadul haha. Klise memang ya, makanya amalan (kebaikan) yang istiqomah/konsisiten itu emang susah dan makanya Allah mencintainya #tsaaah.

Mengamati tren media sosial kini, kayaknya memang begitu dinamis. Sekitar tahun 2013, seingat saya, mungkin sebagian sudah mulai jenuh dengan fesbuk dimana temen bisa 3-4 ribu tapi paling yang benar-benar kenal hanya ratusan. Ditambah lagi dengan akun-akun “temen” yang suka ngeshare link dan berita hoax baik itu soal agama, politik, berita nggak karuan, masukin ke grup nggak jelas dan lainnya. Setelah sempat jenuh, eh ternyata fesbuk berinovasi terus dan meluncurkan video baik autoplay video yang sering kita liat di timeline kita ataupun 360 dan live video. Fesbuk mengklaim ada 100 juta jam penayangan video per hari oleh usernya via HP. Akhirnya bisa dikatakan fesbuk mulai kembali jadi tempat “nongkrong” banyak orang.

Facebook users watch an average of 100 million hours of video on mobile every day. Daily views have increased from 1 billion to 8 billion in one year’s time. Text posts, meanwhile, are declining year on year (Facebook VP Nicola Mendelsohn)

Anggap saja hari ini banyak yang lebih menyukai media penyampaian via video, dibandingkan 100 baris tulisan kecil-kecil yang juga seringkali dishare via WA, scroll scroll beress haha. Mungkin ini juga sebab Instagram mulai dapat tempat di hati para “pegiat media sosial” haha.

Gimana ? lumayan ilmiah kan alasan saya kenapa nggak ngeblog lagi hahahha #plak. Mengingat, menimbang, mengurangi timbangan, dan memperhatikan hal itu makanya saya juga coba beralih ke dunia VLOG. Ya tapi gitu deh, di dunia VLOG ini banyak yang harus dikerjakan bukan hanya riset soal bahan yang akan ditulis, tapi juga peralatan dan proses syuting, editing, dan semua ini bikin pening. Asik-asik aja lah, sesekali ngeBlog, sesekali ngeVlog.

Ngapain sih pusing-pusing bikin Blog atau Vlog ? ya seru-seruan aja deh. Mudah-mudahan cerita nggak jelas kadang bisa menghibur atau siapa tahu bisa mengispirasi wkwkwkkwk. Berkarya itu jangan takut, ia akan menemukan nasibnya sendiri. #tsah

Udah ah, intinya dari yang paling inti tulisan ini adalah ingin mempromosikan vlog #4 terbaru saya yaitu hanabian di Ohori koen Fukuoka, ini dia selamat menikmati ya.

Sudahkah bersyukur terlahir sebagai muslim ?

Suatu malam, Alhamdulillah pas lagi bener nih, sebut saja lagi duduk-duduk nunggu waktu Isya di Masjid. Seorang berwajah khas Jepang sedang asyik juga ngutak-ngatik PC-nya dan baca-baca majalah. Sekali-sekali tak lirik karena memang niat mau bikin Vlog soal wawancara sama orang Jepang soal puasa/ Ramadhan dan Eid. Eh, tapi agak sungkan dan malu. Dia juga lagi sibuk keliatannya jadi kayaknya nunggu agak santai baru mau disamperin. Tidak berapa lama, Dia ngambil Quran dari rak dekat saya duduk, dan setelah itu duduk di kursi. Dia nanya saya dan kami ngobrol beberapa saat pake bahasa Inggris dan Jepang. Sebut saya namanya Abe

Abe : Kamu bisa baca Al-Quran bahasa Arab ? Mengerti ?

Saya : Bisa, Alhamdulillah. Ngerti karena ada artinya disampingnya. 読めますか。(Bisa baca ?)

Abe : Bahasa arab susah ya. Brother Ishak bilang dia belajar dari SD sampai sekarang baru bisa. Tata bahasanya susah dibanding Inggris dan Jepang.

Saya : Iya, semuanya punya gender/jenis kelamin. Ini kursi misalnya cowok, karpet ini misalnya cewek, buku itu cowok dsb. Saya juga nggak bisa ngomong bahasa Arab sih. Gimana puasanya kemarin ? Berapa hari ? Ah, saya mau nanya-nanya soal puasa tapi sambil direkam video dan dimasukkan ke youtube, boleh ?

Abe : Puasa itu berat ya. Kalo tidak makan tidak apa-apa, tapi saya tidak tahan kalo tidak minum. Saya cuma bisa 10 hari. Maaf, saya tidak bisa di-video, soalnya saya juga diam-diam masuk Islam, keluarga saya tidak tahu.

Saya : Ah, maaf maaf. (Aduh jadi merasa bersalah, padahal gara-gara mau bikin Vlog jadi nggak mikir sampe kesana. Keterlaluan emang kadang-kadang nih).

———————————————————————————————————————-

Kami ngobrol ngalor-ngidul soal makanan, apa yang hal yang paling sulit setelah jadi muslim di Jepang ? kenapa orang Islam di Masjid ini terkesan berkelompok secara komunitas gitu ? apa beda muslim sunni dan shia/syiah ? Beberapa hal yang menarik sbb :

————————————————————————————————————————

Abe : Mengapa muslim tidak boleh makan babi ? padahal babi kan tidak kotor

Saya : Hmm, (udah nyangka akan ada orang Jepang yang bakal nnaya gini). Jadi gini, di Quran ada beberapa ayat yang melarang untuk makan babi. Menurut saya, Babi memang tidak kotor, untuk kasus di Jepang, karena saya pernah liat Rumah Potongnya langsung. Disamping sebagian alasan dilarangnya babi, saya lebih suka kalo itu adalah ujian dari Allah. Dilarang jelas ada manfaatnya, meski mungkin kita belum tahu sekarang. Untuk di Jepang, saya juga sulit percaya kalo dikatakan babi itu banyak penyakit, kotor, dsb.

Abe : Hmm, begitu ya. Makanan Jepang, seperti ramen banyak yang memakai babi. Saya sudah tidak makan babi juga minum alkohol tapi kadang sulit menjelaskan kalo pas acara kantor.

Saya : Jangan menyerah. Kamu tahu tidak, jika saya tidak terlahir muslim, belum tentu saya akan jadi muslim atau tidak seperti kamu. Saya iri dengan orang yang belajar mencari tahu dan masuk Islam. 今までいイスラム教について勉強しています、(saya juga masih terus belajar soal Islam)

Abe : なるほどね。死ぬまで終わらない。(Hmm, begitu. Sampai mati belum akan selesai ya)

Saya : そうです。(Benar). Apa hal yang paling sulit setelah jadi muslim ?

Abe : Makanan

Saya : Hmm, memang sulit ya.

———————————————————————————————————————–

Abe : kamu sudah menikah ? berapa umurmu ?

Saya : Belum. saya 24. kamu ?

Abe : 29 tahun

Dia kemudian menanyakan soal bagaimana kalau orang yang ingin dinikahi bukan muslim. Pertanyaan yang saya juga sebenarnya sulit menjawab.

Saya : Kalo kita menikahi seseorang (muslim), kita akan bersamanya sampai ke surga, InsyaAllah. Tapi yang hanya bisa ke surga hanya muslim, jadi jika ingin bersama sampai nanti, karena itu hendak menikah dengan yang muslim

Saya kemudian berpikir, seberapa banyak sih peduli dengan agama di Jepang. seberapa banyak yang tertarik dan masuk Islam dan kemudian masih konsisten sampai-sampai ingin menikah dengan orang Jepang yang muslim. Hmm, bukan hal yang mudah pastinya.

Terkahir, yang membuat saya agak terharu adalah, dia menunjukkan foto di salah satu grup muslim Fukuoka,

Abe : Kemaren ada acara apa ya ? Ini foto-fotonya

Foto-foto wajah yang nampak sumringah. Foto dimana semua muslim berbahagia dan berhari raya. Setelah sebulan penuh berpuasa, sholat Eid, takbiran, makan-makan, berkumpul dengan saudara dan bercengkrama hangat. Ternyata Dia tidak tahu sama sekali soal itu. Jelas saya, tidak semua orang bisa hadir hari itu, karena memang tidak libur. Hmm, berat memang perjuangannya, semoga Allah merahmati dan memudahkan jalannya.

Dia datang ke Masjid yang letaknya hampir 2 jam dengan kereta dari tempat tinggalnya di Kitakyushu. Yang cuma ngesot ke masjid 5 menit sampe ini cengok, biasanya masih banyak alasan. Abe-san, 諦めないでください (Jangan menyeraaah !!!)